Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 23 Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Ben dan Arion baru saja turun dari pesawat yang mengantar mereka dari Oslo ke Amerika,


mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Sebelah tangan Ben memegang sebuah tas di dalam isinya adalah makanan khas Trondheim yang dipesan si bumil. Mereka tidak membawa koper karena baik Ben mau pun Arion jika pergi ke Trondheim atau ke Amerika sudah seperti pulang ke rumah sendiri.


Saat sedang berjalan, Ben kebelet pipis dan harus ke toilet jadi dia meminta Arion untuk tunggu sebentar di sebuah bangku yang ada dekat tempat mereka.


''Jangan kemana-mana, boy, daddy hanya pergi sebentar saja, jaga tasnya sayang,'' pesan Ben sebelum pergi ke toilet dan Arion mengangguk patuh.


Setelah Ben pergi, Arion segera mengeluarkan ponselnya dari weistbag yang dipakainya, ia ingin menghubungi mommy Alea memberi kabar bahwa ia dan daddynya telah tiba di bandara. Salah satu mainan Arion berupa bola terjatuh menggelinding jauh darinya saat ia mengeluarkan ponselnya, ia pun segera berlari mengambilnya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, alhasil ia menabrak seseorang yang sedang berjalan di samping kirinya.


Brukk


''Ahhhhh...'' Arion terjatuh ke lantai karena menabrak seseorang.


''Hei anak kecil, kenapa lari-lari di tempat seperti ini? Kenapa juga kau sendirian berkeliaran di tempat ini? Dimana orang tuamu?''Tanya si penabrak yang sedikit kesal dengan Arion sambil memungut mainan bola milik Arion dan menggenggamnya. Rupanya yang Arion tabrak adalah seorang pria.


Arion mengangkat wajahnya untuk melihat wajah pria cerewet yang mengomelinya, kesal juga pada orang dewasa yang songong bukannya menolong malah marah-marah.


Deg!


Sang pria tertegun sesaat, melihat wajah anak kecil tersebut apalagi warna mata green eyesnya itu yang membuatnya teringat akan seseorang.


''Hei uncle jahat, bukannya menolongku malah marah-marah, uncle tuh cocoknya jadi aunty saja! Dasar pria tua menyebalkan!" Sambil bangkit berdiri, Arion balik mengomeli pria yang sudah membuat sifat coolnya hilang dalam sekejap.


Pria yang masih tertegun di tempatnya sambil menatap bocah itu makin terkejut dengan sikap bar-bar anak itu terhadapnya, benar-benar mirip seseorang! Baru saja ia hendak membalas perkataan anak itu, dering ponselnya terdengar.


Drrt


Drrt


Ia segera merogoh ponselnya dan melihat ke layarnya, tertera nama sahabatnya di sana, ia pun langsung berbalik pergi meninggalkan Arion yang masih menatap ke arahnya dengan perasaan yang aneh.


Arion tersadar dari lamunannya saat menyadari ia tidak jadi mengambil mainan yang dipungut oleh pria tersebut. Ia celingukan kesana-kemari mencari pria itu,'' Kemana perginya uncle jahat itu? Yaa.. mainanku ada ditangan uncle jahat itu, di dalam kan ada foto mommy,'' keluh Arion mengacak rambutnya.


''Ada apa Boy? Kenapa berdiri di sini? Tanya Ben yang baru kembali dari toilet.


''Daddy, tadi ada uncle jahat yang membawa pergi mainanku,'' adu Arion.


''Uncle jahat?''


Arion mengangguk saat Ben bertanya padanya yang membuat Ben langsung panik dan memeriksa tubuh Arion.


''Apa uncle jahat itu menyakitimu boy? maafkan daddy yang meninggalkanmu, mana yang sakit sayang?'' Ben masih panik.

__ADS_1


Arion menggeleng, No daddy, Arion tidak apa-apa, tapi mainan Arion yang dibawa pergi olehnya,'' Arion lalu menceritakan kronologinya.


Ben terlihat menarik nafas lega,'' sudahlah boy, nanti daddy beli lagi yang baru untukmu,'' bujuk Ben.


''Tapi di dalamnya ada foto mommy, bagaimana kalau uncle jahatnya seorang penyihir, lalu dia menyihir mommy lewat foto itu karena dendam denganku karena menabraknya?'' protes Arion.


Ben terkekeh mendengar perkataan Arion,'' kenapa pikirannya jauh sekali boy, siapa yang mengajarimu tentang hal seperti itu, hm?'' Ben mengacak-ngacak rambut Arion.


''Kata Peter, dad,'' jawab Arion.


''Penyihir itu hanya ada di dunia dongeng, boy. Jadi jangan khawatir lagipula daddy akan menghajar uncle jahat itu jika kita bertemu lagi dengannya, berani sekali dia memarahi putra daddy yang tampan ini.''


''Benarkah? Ya dad, tadi Arion juga ingin menghajarnya tapi uncle jahat itu langsung pergi begitu saja.''


Ben terkekeh lagi,'' ya sudah ayo kita ambil tasnya.''


''Daddy tapi wajah uncle jahat itu tak asing bagiku, dia mirip seseorang, tapi Arion lupa siapa,'' ucap Arion merasa pernah mengenal pria tadi.


Ben mengerut keningnya, ia sedikit berpikir, mirip siapa? Tapi mana ia tahu, ia kan tak berada di TKP tadi,'' sudahlah boy, di dunia ini ada lebih dari satu orang yang wajahnya mirip,'' Ben mencoba memberi penjelasan singkat. Ia pusing juga kalau Ario terus bertanya padanya hal-hal yang di luar pemikirannya, kemudian mereka segera mengambil tas yang berada di bangku dan segera pergi dari situ.


''Daddy, siapa yang akan menjemput kita?Apa mommy Emily yang datang?'' Tanya Arion saat mereka berjalan menuju tempat penjemputan.


''Maaf boy, mommy Emily tidak bisa menjemput kita tetapi asisten Renner yang akan menjemput kita, itu dia orangnya,'' tunjuk Ben yang melihat asistennya sedang melambaikan tangan dan berlari ke arah mereka.


''Selamat sore Renner.''


''Selamat sore uncle Renner, apa kabar uncle?'' Tanya Arion pada asisten daddynya.


''Baik tuan muda,'' jawab assisten Renner dengan senyum kakunya.


Mereka segera beranjak ke tempat parkir, asisten Renner membuka pintu dan mempersilahkan kedua tuannya itu masuk kemudian mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah.


Tiga puluh menit dalam perjalanan, mereka pun tiba di kediaman Ben, saat memasuki halaman terlihat Emily dengan perut buncitnya memakai dress hijau toska yang sangat cantik ditubuhnya sedang berdiri di teras rumah sambil memandang ke arah mobil yang baru masuk dengan penuh senyuman.


Ben keluar dari mobil dan langsung tersenyum melihat istrinya yang dua hari ini dirindukannya itu, merentangkan tangannya agar sang istri masuk ke dalam pelukannya namun bukannya menyambut pelukan suaminya, Emily malah melewatinya begitu saja dan langsung menuju mobil menyambut Arion yang baru turun dan berteriak memanggilnya.


''Mommmmmyyy......I miss you,'' Arion langsung memeluk perut buncit Emily dan mengecupnya.


Emily tersenyum senang melihat Arion yang telah ia anggap anak itu begitu menyayanginya.


''Mommmy babynya menendang tangan Arion,'' Arion senang sekali saat sang baby dalam perut Emily merespon kecupannya.


''Iya sayang, itu tandanya baby kangen kakak Arion dan senang karena kakak Arion mau menciumnya,'' balas Emily.

__ADS_1


''Benarkah mom? Kalau begitu Arion cium lagi,'' Arion kembali mengecup perut Emily.


Sementara Ben merasa kesal dengan istrinya karena dirinya diabaikan oleh sang istri dan malah sibuk dengan Arion, ia sebenarnya sangat paham dengan situasi yang seperti ini karena begitulah jika Emily sedang berkumpul dengan Arion tetapi setidaknya ia diberi pelukan dan ciuman selamat datang sebentar saja.


''Ehm...''


''Sayang, kau melupakan suamimu,'' keluh Ben.


Arion dan Emily menatap ke arah Ben dan terkekeh mendengar keluhan Ben.


Emily tersenyum seraya menggandeng tangan Arion dan menghampiri Ben, ia lalu mengecup bibir sang suami membuat Arion langsung menarik tangannya dari genggaman Emily dan menutup kedua matanya lalu berkata,'' daddy, mommy, kalian menodai mata suci anak dibawah umur!''


Ben dan Emily langsung tertawa mendengar perkataan Arion yang lucu menggemaskan.


''Ayo boy, kita masuk ke dalam,'' ajak Ben sambil merangkul pinggang Emily sedangkan tangan Emily kembali menggenggam tangan Arion diikuti asisten Renner membawakan tas yang dibawa Ben dan Arion.


...****************...


Sudah genap dua hari Arion berada di negeri Paman Sam itu, saat ini ia tengah jalan-jalan bersama Emily di sebuah pusat perbelanjaan di jaga oleh dua pengawal yang diperintahkan Ben mengawasi istri dan putranya karena ia sedang meeting di luar dan lagi istrinya bersikeras untuk pergi berdua dengan Arion karena besok Arion sudah harus kembali ke Trondheim. Arion begitu bahagia akhirnya bisa menikmati es krim coklat kesukaannya dengan leluasa karena tak ada mommy Alea sering melarangnya untuk tak terlalu makan es krim tetapi kalau sedang bersama mommy Emily ia tetap dibebaskan untuk menikmatinya.


''Sayang pelan-pelan makannya, mommy tak akan mengambilnya kok,'' ucap Emily seraya mengusap rambut Arion.


''Ini sangat enak mom sudah lama Arion tak memakannya,'' balas Arion sambil terus mencicipi es krimnya.


Sementara dari jauh seorang pria lagi-lagi dibuat tertegun ketika kembali melihat bocah laki-laki yang menabraknya tempo hari di bandara.


Jantungnya berdebar-debar saat melihat senyuman sang bocah, entah kenapa dia ingin mendekat pada bocah tersebut, ada perasaan tak biasa yang dirasakannya.


Tanpa sengaja kedua mata mereka bertemu.


Arion terkejut melihat pria yang ditabraknya itu,'' uncle jahat itu, kenapa ada di sini? Ya ampun, aku harus minta mainanku kembali,'' gumam Arion pelan lalu segera bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke arah pria yang juga sedang berjalan ke arahnya.


Emily pun ikut bangkit berdiri dan mencekal tangan Arion,'' sayang kau mau kemana?''


''Mommy itu dia uncle jahat yang Arion ceritakan, dia yang telah membawa pergi mainanku,'' tunjuk Arion ke arah pria itu.


Sontak Emily dan kedua pengawal itu melihat ke arah yang Arion tunjuk, namun mereka tidak tahu pria mana yang dimaksud oleh Arion karena ada banyak pengunjung di situ.


''Yang mana boy?'' Tanya Emily penasaran.


Arion yang tadi menatap Emily kembali melihat ke arah yang ditunjuknya tapi ia tak lagi melihat pria itu,'' kemana uncle jahat itu? Tadi Arion melihatnya datang ke arah sini loh mom,'' jawab Arion agak kecewa juga dia karena uncle jahat itu menghilang dan itu artinya mainan kesayangannya yang sering dibawanya kemanapun ia pergi itu benar-benar lenyap.


''Sudahlah boy, ayo kita beli saja,'' bujuk Emily setelah melihat kekecewaan di mata putranya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pergi ke toko mainan dan membeli segala yang Arion inginkan tepatnya yang Emily pilihkan untuk Arion karena bocah itu sudah tak bersemangat lagi dengan mainan baru yang ada, dia hanya mengangguk apa saja yang Emily tawarkan padanya.


__ADS_2