
Antony kembali ke hotel, ia menghubungi Alea dan mengirim pesan padanya namun tak ada respon sedikitpun dari Alea, ia menjadi panik, antara Alea benar-benar sakit atau Alea marah padanya karena pengakuan palsunya tentang hubungan mereka pada aunty Sandra dan uncle Edward.
Sekali lagi ia mengirim pesan pada Alea berisi permintaan maafnya soal apa yang terjadi saat makan malam tadi kemudian berjalan dengan lesu ke kamarnya.
Satu jam kemudian, Alea akhirnya membalas pesannya, ia merasa lega karena Alea ternyata tidak marah hanya butuh penjelasan darinya dan lagi Alea bilang dia tengah bosan dengan suasana hotel jadi malam ini dia menginap di tempat lain dan akan kembali besok untuk melakukan pertemuan terakhir mereka sebelum kembali ke Trondheim.
Sebenarnya Antony merasa aneh dengan sikap Alea semenjak malam itu q, namun ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan Alea atau Alea akan ilfeel dengannya, tidak marah dan tersinggung dengan pengakuan palsunya saja ia sudah sangat bersyukur. Ia berjanji akan menjelaskan pada Alea saat mereka bertemu besok setelah pertemuan selesai dan Alea menyetujuinya. Sekali lagi ia bernafas lega, ia sudah sangat nyaman berteman dengan seorang wanita setelah masa lalunya yang berat jadi ia tak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan Alea.
Sementara itu, Alea tengah melamun di balkon hotel setelah selesai bertukar pesan dengan Antony, ia kembali mengingat perkataan Gie tadi saat di toilet restoran, hatinya kembali sakit.
Alea menangis lagi, ia sendirian menanggung beban hatinya, ingin rasanya ia bercerita saat ini pada Lindsay yang selalu mengerti dirinya namun ia takut Lindsay akan terbawa pikiran dan malah tak fokus dengan pekerjaannya di Trondheim.
Kecewa yang dirasanya terhadap Gie makin menumpuk, setelah sepuluh tahun berpisah kini mereka kembali dipertemukan lagi dengan tidak sengaja namun betapa sakitnya pertemuan mereka.
__ADS_1
Apakah ia seburuk itu di mata Gie? Apa yang sebenarnya membuat ia dibenci begitu hebat oleh pria yang merupakan cinta pertamanya itu?
Kembali lagi rasa ingin tahu menghampirinya, apa ia harus bertemu sekali lagi untuk bertanya pada pria brengsek itu?
Lelah merenung tentang masa lalu yang datang lagi menghampirinya, Alea kembali ke kamar setelah menutup pintu balkon. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang lalu memejamkan matanya. Sesaat kemudian ia pun terlelap.
...****************...
Jauh di sana, Gie pun sedang frustasi, ruangannya tampak acak-acakan setelah ia kembali menggila, entah kenapa air mata Alea yang jatuh karena perkataannya tadi terus membayanginya, hatinya sakit teramat sakit ketika ia mengingat kata-kata yang ia lontarkan dihadapan wanita itu. Kembali lagi ia juga mengingat akan tulisan yang ditinggalkannya untuk Alea, kini ia sadar bahwa itu adalah keputusan yang tepat saat ia sangat marah pada Alea, nyatanya sekarang perkataan yang keluar langsung dari mulutnya untuk sang mantan membuatnya benar-benar frustasi. Ada rasa tak terima dari hatinya dengan perkataannya sendiri.
Tak lama kemudian pintu kerjanya diketuk dari luar lalu terbuka, Jack berdiri di depan pintu dan melongo melihat ruang kerja Gie yang tampak seperti kapal pecah. guci-guci pecah, kaca-kaca lemari pecah, sofa terbalik meja pun juga hancur tak berbentuk.
''Ada apa lagi denganmu? Apa kau sedang mengenang masa lalumu setelah terus bertemu dengan mantan kekasihmu itu?'' Tanya Jack, ia paling tahu kalau jika Gie sedang mengingat Alea maka ia akan menggila dengan menghancurkan ruang kerjanya karena hanya Alea saja yang dapat membuat semua moodnya hancur lebih dari ketika ia kalah tender atau masalah besar lain yang menimpanya.
__ADS_1
Gie hanya menatap tajam ke arah Jack lalu kembali meneguk anggur di dalam botol yang dipegangnya.
Jack mulai memungut satu persatu barang-barang yang jatuh berserakan di lantai , dalam hati ia merutuki sikap Gie yang satu ini, paling amat sangat menyebalkan karena membuatnya selalu capek dan lelah membersihkan ruangannya. Saat situasinya seperti ini siapa pun dilarang masuk ke ruangan Gie termasuk bagian housekeeping.
'Dasar bos laknat, Gie sialan, selalu menyusahkan, pasti Alea lagi!' Jack menarik nafasnya, sebenarnya selama sepuluh tahun perpisahan Gie dan Alea, ia tahu bahwa Gie belum bisa melupakan Alea, Gie masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya bersama Alea, banyak hal yang sering dilakukan oleh Gie untuk tetap mengenang wanita cinta pertamanya itu seperti selalu merayakan hari ulang tahun Alea, ia akan membeli kue dan meniup lilin sendiri serta membeli hadiah bahkan ia punya ruangan khusus di hotel ini yang tak diketahui oleh siapapun selain Jack. Di dalamnya berisi semua kenangannya bersama Alea, foto-foto mesra mereka, ada juga layar yang ia pasang di dalamnya seperti bioskop mini untuk menonton video-video kenangan bersama Alea, semua hadiah-hadiah yang ia beli untuk Alea dan juga oleh-oleh yang ia beli saat perjalanan bisnis ia simpan rapi di dalam ruangan itu jadi ketika ia merindukan wanita itu maka ia akan masuk ke dalam ruangan itu menghabiskan waktu berhari-hari di dalam sampai ia puas mengenang Alea baru ia akan keluar, ya ruangan itu sudah seperti rumah ternyaman baginya. Satu lagi, nama hotel yang dimilikinya saat ini adalah gabungan namanya bersama Alea, Legie ( Lea_Gie) yang merupakan salah satu impian Alea yang dulu ingin memiliki sebuah hotel.
Jika ia sedang mengingat sakit hatinya kepada Alea, ruang kerjanya akan menjadi sasaran kemarahan dan kegilaannya, seperti saat ini lagi-lagi pasti karena Alea, ruang kerjanya berantakan luar biasa, kali ini apalagi yang terjadi antaranya dan Alea yang telah bertatap muka setelah sekian purnama mereka berpisah sepertinya ini masalah yang amat besar, pikir Jack, melihat dari kerusakan ruangan yang disebabkan oleh Gie.
Jack sebenarnya ingin bertemu dengan Alea tapi Gie telah mengancamnya untuk tak dekat- dekat dengan Alea di depan ataupun di belakangnya makanya sampai detik ini ia belum menemui Alea. Tapi ia sudah bertekad untuk mencari tahu segalanya tentang penyebab perpisahan mereka berdua setelah melihat keadaan Gie saat ini. Apakah ini hanya sebuah kesalahpahaman seperti dugaannya selama ini atau memang begitu kenyataannya, tak peduli jika nanti Gie akan membunuhnya sekalipun yang penting masalahnya jelas.
''Apa jimat penenang jiwamu sudah tak berfungsi lagi sampai-sampai ruanganmu seperti sedang diserang *******?'' Jack bertanya setelah sibuk dengan pikirannya sendiri dari tadi sambil terus membereskan segala kekacauan yang terjadi di dalam ruang kerja Gie itu.
Gie kembali teringat dengan jimatnya lalu segera mengambilnya dari saku jasnya kemudian menggenggamnya sambil memejamkan matanya. Lagi-lagi hatinya kembali damai dan bayangan wajah bocah itu melintas diingatannya, ah kenapa mereka begitu mirip? pikirnya.
__ADS_1
Jack hanya menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya tiba-tiba tersenyum.
'Dia benar-benar mengidap penyakit bipolar,' batinnya.