
Masih di kamar Alea.
Mereka bertiga telah keluar dari kamar mandi. Alea sudah tampak lebih segar, pusingnya juga berkurang hanya masih sedikit lemah karena belum sempat mengisi perutnya saat Lindsay membawa makanan tadi karena harus membersihkan diri terlebih dahulu. Matanya masih terlihat bengkak, untung tadi Lindsay sedikit mengompresnya jadi ia sudah bisa melihat sedikit lebih jelas dari sebelumnya.
'' Tuh kan rambut ku basah lagi, padahal baru selesai perawatan di salon!" Ucap Silly menggerutu sambil mengeringkan rambutnya.
Padahal ia juga menikmati kebersamaan mereka di kamar mandi tadi. Sementara itu, Lindsay dan Alea hanya tersenyum menanggapi gerutuan sang sahabat sambil memakai pakaian mereka.
Lindsay menggunakan pakaian Alea karena memang acara mandi mereka tidak direncanakan sebelumnya jadi ia tidak membawa baju ganti. Dress bunga-bunga selutut milik Alea sangat pas dibalut ditubuh indah miliknya karena memang mereka memiliki bentuk tubuh yang hampir sama.
Begitu juga dengan Silly, dia juga tengah memilih salah satu dress milik Alea untuk dipakainya setelah selesai mengeringkan rambutnya.
" Aku pakai yang ini saja, sangat cantik di tubuhku,'' ucap Silly.
Pilihannya jatuh pada dress model Sabrina yang panjang sedikit dibawa lutut berwarna biru toska, sangat cantik untuk dikenakannya.
" Sill, jangan yang itu, Gie baru saja membelikan gaun itu untukku dua hari yang lalu. Tuh, lihatkan masih ada labelnya,'' ujar Alea yang tidak ingin Silly memakai gaun tersebut.
Silly melihat gaun cantik itu dan memang masih terlihat label dan harganya.
'' Wow, Selera Gie, memang tak main-main. Dia bahkan membeli gaun untukmu dari brand ternama dengan harga yang fantastis," Silly berdecak kagum melihat harga gaun tersebut yang fantastis, pantas mahal sesuai bentuk dan kualitas gaunnya. " Baiklah, aku memilih yang lain saja,'' ucap Silly lagi.
'' Cepatlah Sill, Ben pasti sudah bosan menunggu kita atau mungkin dia sudah pulang karena kesal." Lindsay mengingatkan Silly karena memang Sillylah yang belum selesai berpakaian sedangkan ia dan Alea telah selesai berpakaian.
Akhirnya, Silly memilih jumpsuit merah marroon berkaki pendek untuk dipakainya.
Mereka sudah selesai berpakaian dan keluar dari kamar, berjalan menuju ke arah sofa ruang tamu dimana Ben berada.
Ternyata Ben tengah terlelap dengan posisi duduk sambil melipat kedua tangannya di dada.
Lindsay menghampiri Ben, lalu sedikit mengguncang bahunya dengan lembut untuk membangunkannya. Sementara ALea dan Silly sudah duduk manis di kursinya masing-masing.
'' Ben.. bangunlah. kita sudah selesai mandinya. Ayo, saatnya kita makan.'' Ucap Lindsay.
"Hmm...'' Perlahan Ben tersadar, kenapa kalian lama sekali? '' Tanya Ben dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
" Maaf, kami juga ikut mandi karena ALea menyiramku dan Silly.'' ujar Lindsay.
Alea memasang wajah senyum tak bersalahnya seraya berkata,'' maaf Ben, kalau membuatmu bosan menunggu. Aku sudah merasa lebih baik sekarang setelah kalian datang. Terimakasih karena telah mendampingiku di saat tersulitku."
Alea mengucapkan terimakasih dengan mata yang berkaca-kaca lagi.
'' Hufft!'' Ben membuang nafas dengan kasar, lalu berkata,'' hei, kenapa menangis lagi? Katanya sudah lebih baik! Jangan pikirkan apapun sekarang, tadinya aku memang kesal karena kalian lama sekali. Hampir 2 jam loh, kalian di dalam kamar. Wanita memang rumit, tapi sudahlah. Aku lapar sekarang, ayo makan!''
Ben merasa bersalah karena membuat Alea menangis lagi.
ketiganya tergelak mendengar ucapan Ben.
Memang wanita kalau sudah berkumpul akan lupa segalanya termasuk kesedihannya.
Kruuk..
Kruuk..
Kruuk..
Perut Alea berbunyi tandanya ia sudah sangat lapar.
'' Astaga Lea, cacing-cacing diperutmu sudah berdemo. Ayo makanlah!'' Ucap Lindsay sambil membuka satu kotak pizza dan menyodorkannya pada Alea.
Alea menelan ludahnya saat melihat pizza kesukaannya tersaji di depan matanya. Sejenak ia lupa akan masalah yang tengah dihadapinya, lalu mulai memakan pizza tersebut.
''Hmm... pizzanya sangat enak,'' ucap Alea.
Ben, Lindsay dan Silly juga mengambil sepotong pizza dan mulai memakannya sambil menatap geli pada Alea yang terlihat menikmati pizzanya dengan sangat lahap.
'' Ahh... kenapa pizzanya jadi berkali-kali lipat enak, ya?'' Tanya Alea sambil terus mengunyah pizzanya dengan mulut yang penuh.
Ketiga sahabatnya tergelak, mendengar ucapan ALea. Merasa lucu dengan ucapan sahabatnya itu.
'' Pizzanya yang berkali-kali lipat enak, ataukah dirimu yang sangat kelaparan?" Ledek Silly.
Uhuuk...
Uhuuk..
Uhuuk..
__ADS_1
" Makannya pelan-pelan Lea, tuh kan jadinya tersedak, tidak ada yang akan mengambil pizzamu. Ini minum dulu,'' ucap Lindsay seraya membuka minuman kaleng dan memberikannya kepada Alea yang tersedak mendengar ledekan Silly.
''Terimakasih Say,'' ucap Alea.
'' Sill, Jangan terus menggodanya, sudah syukurkan kalau Lea mau makan, ujar Ben.
Silly mengangguk geli menatap pada Alea yang masih terus mengunyah makanannya.
" Benar kata Ben, kalian seharusnya bersyukur karena aku bisa makan sekalipun sedang sangat patah hati. Aku harus mengumpulkan tenagaku untuk mencari Gie dan meminta penjelasan padanya. A-ku...,
Alea berhenti mengunyah sesaat.. menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan untuk menetralkan kembali perasaannya yang mulai terlihat emosional mengingat Gie lagi.
" Hufft... ternyata sesakit ini ya patah hatinya," gumam Alea.
Lindsay dan Silly mengelus kedua tangan Alea sambil menatapnya dengan iba. Sementara Ben hanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.
'' Sebenarnya aku akan berusaha ikhlas jika Gie tak ingin bersamaku lagi meski itu sangat sakit. Mungkin dia sudah mulai bosan denganku, tapi melihat pada surat yang dia tinggalkan untukku, aku pikir dia salah paham tentang sesuatu padaku, entahlah apa itu, aku harus bertemu dan bertanya padanya,'' ucap Alea lagi.
Alea berbicara sambil menerawang membayangkan kebersamaannya bersama Gie sebelumnya. Sangat indah dan manis.
'' Sudahlah jangan diingat terus, ayo makan lagi,'' sambung Lindsay.
Ngomong- ngomong, aku dan Ben belum lihat isi suratnya. Boleh tidak kita melihatnya?'' Tanya Silly pelan takut membuat Alea makin sedih jika mengingat kata-kata Gie dalam surat tersebut.
Meskipun sudah mendengar ceritanya dari Lindsay, tapi tentu rasa penasaran juga menghantui keduanya untuk membacanya secara langsung.
Alea mengangguk seraya berkata,'' Ambil di kamar di laci nakas paling atas," jawab Alea pada Silly.
Silly langsung beranjak menuju kamar Alea untuk mengambil surat tersebut. Sementara ketiga sahabatnya melanjutkan makannya dalam diam dengan pikirannya masing-masing hingga Silly kembali dengan membawa kertas di tangannya dan duduk kembali di tempatnya.
Ben bangun dari tempat duduknya menghampiri Silly untuk ikut membaca.
Sekali lagi keduanya terkejut saat membacanya padahal sudah mengetahui sebelumnya. Tak menyangka, Gie yang begitu posesif pada Alea berubah dalam sekejap. Ada apa sebenarnya? Itulah yang ada dipikiran keduanya.
Ben mengepalkan kedua tangannya. Benar-benar keterlaluan.
Brengsek kau, Gie! Tega sekali menuliskan kata-kata kasar itu pada Alea! Dasar pecundang sialan!" Batin Ben.
" Astaga, jahat sekali sih Gie! Apa kau yakin tidak membuat kesalahan?" Tanya Silly pada Alea.
Alea menggeleng. " Tidak!"
Ketiganya mengangguk. Lalu Alea dan Silly ikut membantu Lindsay.
Setelah itu, ketiganya kembali bergabung dengan Ben yang sedang memainkan ponselnya.
'' Mmm, apakah kalian yakin sudah mencari Gie ke tempat teman-temannya? Bagaimana dengan Jack? Gie sangat dekat dengannya. Mungkin Jack tahu dimana Gie berada. Aku lupa seharusnya menghubungi dia.'' Tanya Alea.
''Kami sudah mencarinya ke tempat teman-temannnya tapi mereka bilang Gie tidak ada di sana,'' ucap Silly.
''Aku juga sudah menghubungi temanku yang bekerja di Club tempat tongkrongannya. Dia akan memberi kabar kalau Gie ke sana,'' timpal Ben.
''Aku sudah menghubungi Jack, tapi dia juga tidak tahu malah bertanya apa terjadi sesuatu padaku. Aku bilang tidak ada apa-apa padanya. Malas menjelaskan apapun dengannya. Bagiku dia sangat menyebalkan.
Apa masih ada tempat yang mungkin sering kalian kunjungi tanpa kita tahu?'' Tanya Lindsay.
Alea menggeleng dan menjawab,'' Tidak ada. Itu sudah semuanya. Tidak apa-apa mungkin Ben benar, aku akan bertemu Gie besok di kampus.'' Timpal Alea.
" Baiklah, kau harus istirahat sekarang. Sudah pukul sepuluh dan besok kita ada kelas pagi bersama Mr. Anthony jangan sampai kita terusir karena terlambat saat mata kuliahnya,'' ucap Lindsay lagi.
''Mmm.. Lea apa kau mau aku dan Lindsay menginap denganmu malam ini?'' Tanya Silly.
''Tidak usah, aku ingin sendiri dulu. Tenang saja jangan khawatir. Aku sudah lebih baik sekarang, kalian pasti sudah sangat lelah hari ini. Pulanglah dan istirahat. Terimakasih sudah membantuku mencari Gie dan menghiburku serta menemaniku makan,'' ucap Alea dengan tulus.
''Baiklah kami pergi dulu. Ingat langsung istirahat dan jangan berpikir lagi. Kumpul tenagamu untuk besok,'' Timpal Ben.
Lindsay, Silly dan Ben pun beranjak meninggalkan apartemen Alea. Alea mengantar mereka sampai ke depan pintunya. " Bye...sampai bertemu besok,'' Alea berkata sambil melambaikan tangannya kepada ketiga sahabatnya itu. Kemudian berlalu masuk kembali ke dalam apartemennya.
...****************...
Keesokan harinya Alea berangkat ke kampus, ia berharap sampai di sana ia akan bertemu dengan Gie. Namun, ketika sampai di kampus, ternyata Gie tidak mengikuti mata kuliah Mr Anthony. Alea hanya menatap nanar tempat di sampingnya yang diduduki oleh Ben.
Biasanya Gie akan selalu duduk di dekatnya dan tidak akan membiarkan pria manapun duduk berdekatan dengan Alea. Gie suka menggenggam tangannya , sesekali mengecupnya kala dosen tak melihat ke arah mereka. Masa bodoh dengan teman-teman yang melihat ke arah mereka dengan tatapan yang penuh dengan makna negatif dan positif. Gie selalu tersenyum hangat padanya.
Selesai mengikuti mata kuliah, Alea mengajak Lindsay dan Silly pergi mencari teman-teman Gie. Sedangkan Ben, tidak bisa ikut karena ada keperluan lain. Mereka bertemu dengan Jack dan teman-temannya yang biasa nongkrong bersama Gie.
"Jack...,'' panggil Alea.
__ADS_1
Jack menoleh dan menghampiri Alea dan teman-temannya. tersenyum seraya berkata,'' Aku baru saja ingin menemuimu tapi malah sudah dihampiri olehmu. Pasti masalah Gie kan?'' Tanya Jack.
Alea mengangguk dengan cepat. Ia berharap akan mendapatkan informasi yang bagus dari Jack.
'' kita bicara saja di kafe. Tidak enak kalau bicara di sini, iya kan Say? Kau cantik sekali hari ini,'' goda Jack pada Lindsay.
"Ck.. Lindsay mencebik kesal ke arah Jack.
Jack adalah teman yang paling dekat dengan Gie selama berkuliah di Amerika. Dia, Ben Silly dan Lindsay memang asli tinggal di situ. Sedangkan Gie dan Alea tinggal di Inggris.
Jack dan Lindsay saling mengenal karena mereka pernah satu sekolah sebelumnya dan sekarang bertemu lagi tapi berbeda fakultas. Lindsay memang lembut dan ramah tapi jika orang itu adalah Jack pria usil yang selalu membuat emosinya naik jika bertemu maka kelembutan dan keramahannya akan hilang.
''Jangan menggodaku, cepat jalan!'' Jawab Lindsay ketus pada Jack.
Jack pun hanya tersenyum sudah biasa dengan tindakan ketus Lindsay padanya, lalu berjalan mengikuti mereka yang sudah lebih dulu pergi.
Di dalam kafe.
Mereka berempat diam sejenak. Kemudian Alea memanggil waitress dan memesan minuman untuk mereka.
''Mau pesan makanan juga?'' Tanya Alea.
''Tidak! Jawab mereka serempak.
''Aku masih kenyang,'' ucap Jack.
Setelah selesai memesan minuman, sang waitress kembali untuk mengambil pesanan mereka.
Alea kembali menoleh menatap ke arah Jack yang pada saat itu juga sedang menatap padanya.
'' jadi kau tahu dimana Gie berada?'' Tanya Alea penuh harap.
Lindsay dan Silly pun menatap ke arah Jack penuh harap juga.
Jack menggeleng dan berkata,'' Aku tidak tahu!"
''Hei kalau kau tidak tahu, kenapa mengajak kami duduk di sini? Buang-buang waktu saja!'' Ucap Lindsay terlihat emosi dan diangguki oleh Silly. Sedangkan Alea langsung lemas di tempat duduknya.
Waitress datang membawa minuman mereka.
''Terimkasih,'' ucap Silly.
''sama-sama Nona. Selamat menikmati,'' jawab sang waitress.
'' Aku tidak tahu Gie kemana tapi tadi pagi aku bertemu dengan teman ayahku. Kebetulan beliau bekerja di bagian akademik. Dia memberi tahuku kalau Gie sudah mengundurkan diri dari kampus,'' ucap Jack sambil menatap mereka bergantian.
Mendengar ucapan Jack mereka bertiga sangat terkejut.
''Apa????" kata mereka serempak.
''Ma-maksudmu, Gie tidak kuliah di sini lagi?'' Tanya Ale terbata dengan mata yang berkaca-kaca. Dia begitu syok mendengar kenyataan bahwa Gie telah berhenti dari kampus. Itu artinya Gie benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
"Apa kau yakin tidak salah memberi informasi?'' Tanya Silly yang sama terkejutnya mendengar ucapan Jack.
Jack mengangguk. ''Tidak! Apa kalian punya masalah? Aku menghubunginya kemarin saat Say bertanya tentang keberadaan Gie padaku tapi nomor ponselnya tidak aktif. Bahkan pagi ini juga kuhubungi saat aku mendengar ucapan teman ayahku itu tapi tetap tak aktif,'' ucap Jack sambil menatap Alea.
Sementara itu Alea yang masih syok tidak langsung menjawab pertanyaan Jack. Ia memijit pelipisnya dan menarik nafas untuk mengontrol air matanya yang sudah hampir menetes.
''Entahlah, aku tidak tahu kenapa Gie berbuat hal ini padaku. Bisakah kau menghubungiku kalau di menelpon atau menemuimu?'' Tanya Alea.
'' Tentu saja. Tapi kurasa dia mungkin sudah pergi dari sini. Tidak mungkin kan kalau dia masih ada, dia mengundurkan diri dari kampus?'' Ucap Jack.
Ketiganya membenarkan perkataan Jack.
''Apa mungkin Gie kembali ke Inggris?'' Lindsay berkata kemungkinan kemana Gie pergi.
''Mungkin saja.'' Timpal Jack.
''Baiklah. Terimakasih Jack atas informasinya aku akan menghubungi Willy adiknya nanti. Maaf aku harus pergi,'' ucap Alea seraya bangkit berdiri setelah mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di atas meja.
''Say, Sill... Jangan mengikutiku, aku ingin sendiri!'' Ucap Alea sambil beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
''Lea tunggu!'' Teriak Silly.
''Biarkan saja Sill, Alea butuh waktu sendiri,'' timpal Lindsay seraya bangkit dari tempat duduknya lalu menarik Silly, tak lupa ia mengambil kembali lembaran uang yang ditinggalkan Alea serta menatap pada Jack dan berkata,'' kau bayar minuman kami! Kau kan yang mengajak kami ke sini!'' Ucap Lindsay kemudian berlalu bersama Silly meninggalkan Jack yang masih bingung dengan situasi saat ini.
Setelah sadar dari kebingungannya, Jack berteriak ke arah Lindsay dan Silly yang sudah beranjak pergi darinya.
__ADS_1
'' Hei Say, tunggu dulu! Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?'' Teriak Jack yang tidak diindahkan keduanya.
Ia memijit pelipisnya sambil berjalan menuju kasir untuk membayar minuman mereka dan berkata dengan kesal,'' dasar Lindsay benar-benar menguji kesabaran ku, untung aku menyukainya!"