Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 5 Kehilangan Sahabat


__ADS_3

Tepat pukul sembilan Lindsay dan Silly sudah berada di apartemen Alea.


Ternyata Alea masih terlelap.


''Ya ampun Lea. Kenapa dia masih tidur di waktu seperti ini? Padahal aku sudah bilang akan menjemputnya tepat waktu,'' ucap Lindsay kesal sambil berkacak pinggang karena melihat Alea masih tertidur bahkan tidak terusik sama sekali dengan suaranya.


Semenjak Gie pergi, Alea memberi kode sandi pintu apartemennya kepada para sahabatnya jadi saat mereka datang ia tak perlu lagi membukanya.


Silly naik ke ranjang Alea lalu mengguncang tubuh Alea. Sementara Lindsay langsung menyiapkan baju untuk Alea agar saat dia bangun langsung mandi dan tidak harus berlama-lama memilih baju untuk dikenakannya.


''Alea, ayo bangun!!" Teriak Silly.


"Astaga ada apa denganmu, Sill? Ini masih terlalu pagi kenapa sudah teriak-teriak seperti orang gila sih?" Kesal Alea yang kaget dari tidurnya bahkan sampai melompat karena teriakan Silly yang nyaring.


"Hei, apanya yang masih pagi?" Ini sudah pukul setengah sepuluh, kita sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu janjiannya. Apa kau lupa dengan ucapan Lindsay semalam ya?" Tukas Silly, kesal juga dengan kelupaan Alea.


"Ya ampun, maaf aku lupa!" Alea menepuk jidatnya karena lupa dengan perjanjian mereka, sambil tersenyum dengan semanis mungkin untuk meluluhkan ekspresi wajah Silly yang cemberut kesal padanya.


"Ya sudah cepat mandi!" ucap Silly seraya bangkit dan berjalan menuju sofa yang ada di kamar Alea dan duduk di situ .


Sementara Alea langsung bangkit menuju kamar mandi berpapasan dengan Lindsay yang hendak keluar dari walk in closet karena baru selesai menyiapkan baju untuk Alea.


Alea tersenyum menatap Lindsay dan berkata," maaf Say, aku baru bangun."


"Mau marah juga percuma. Jadi cepat mandi, aku sudah menyiapkan baju untukmu biar kau lebih cepat siapnya. Waktumu lima menit dari sekarang. Tidak usah dandan karena kita akan melakukan treatment wajah okay?"Tegas Lindsay, mimik wajahnya serius tanpa ada senyuman.


"Siap laksanakan Nyonya Chloe!" Alea memberi hormat pada Lindsay sengaja menggodanya karena melihat ekspresi sahabatnya yang seperti komandan sedang memerintah bawahannya.


Lindsay tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu lalu berlalu meninggalkan Alea yang juga langsung masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit waktu yang digunakan Alea untuk menyiapkan diri. Ia hanya memakai pelembab wajah dan liptint di bibirnya. Tak lupa menyemprotkan parfum mahal miliknya. Meski begitu aura cantiknya tetap kelihatan.


Ya tanpa riasan yang berlebihan pun ia sudah cantik natural dari sananya, ditambah dengan warna matanya yang indah dan langkah yakni green eyes.


Karena tidak seperti Alea yang biasa butuh waktu lama urusan menyiapkan diri membuat kedua sahabatnya melongo karena tak percaya.


''Apa setelah putus cinta, kau mulai malas mengurus dirimu?'' Tanya Silly.


Alea mengedikkan bahunya seraya berkata,'' tanyakan pada Nyonya Chloe yang tiba-tiba menjadi galak!''


''Lagipula aku sudah sangat cantik dari lahir, jadi tak perlu berlebihan,'' lanjutnya lagi dengan penuh percaya.


Lindsay dan Silly memutar malas bola matanya mendengar ucapan Alea yang penuh percaya diri meski tak dapat mereka pungkiri bahwa Alea memang cantik.


''Sudah selesai mengomentariku kan? Tadi katanya harus buru-buru, ayo berangkat,'' ucap Alea seraya berjalan mendahului sahabat-sahabatnya keluar dari kamar.


Tanpa berkomentar lagi Lindsay dan Silly pun mengikuti Alea keluar dari kamar.


Hari ini mereka menggunakan mobil Lindsay.


Saat ini mereka telah masuk ke dalam mobil, kemudian Lindsay melajukan mobilnya menuju salah satu salon dan spa yang sangat terkenal di kota Cambridge.


Kota Cambridge adalah kota pelajar di Massachusetts, Amerika Serikat, yang diberi nama untuk menghormati kota pelajar Cambridge di Inggris. Wikipedia


Hampir empat jam mereka menghabiskan waktu untuk melakukan segala perawatan yang mereka inginkan, dimulai dari perawatan wajah hingga kulit mereka. Tanpa terasa sudah hampir pukul dua siang.


''Astaga aku lapar sekali, cacing-cacing di dalam perutku sudah berdemo untuk diberi makan,'' keluh Silly setelah mereka keluar dari salon.


''Ya, aku juga. Apalagi aku lupa sarapan pagi tadi. Kulit kita sudah diberi makan dengan perawatan yang mahal sekarang saatnya perut kita yang diberi makan dengan makanan yang enak,'' Timpal Alea.


''Mau makan dimana? Bagaimana kalo menu seafood?'' Tanya Lindsay


''Setuju,'' ucap Alea dan Silly serempak.


''Kita ke restoran xx saja katanya menu seafood di sana sangat enak dan lezat,'' usul Alea.


Lindsay dan Silly pun menyetujui usulan Alea. Lalu mereka masuk ke dalam mobil dan melaju menuju restoran seafood yang dimaksud.


Drrt..


Drrt..


Drrt..


Bunyi dering ponsel Alea, tanda ada panggilan masuk.


Alea mengambil ponselnya di dalam tas dan melihat layarnya, telepon dari Ben.


''Siapa?'' Tanya Silly.


''Ben,'' jawab Alea.


''Ayo diangkat,'' sambung Lindsay.


Alea segera mengangkat teleponnya.


''Hallo Ben.''


''Kau dimana?''


" Lagi di jalan bersama Lindsay dan Silly. Kita baru selesai treatment dan sekarang menuju restoran xx untuk makan siang.


Ada apa?


''Kalau begitu aku akan ke sana kebetulan aku sedang berada di dekat situ.''


''Kalo begitu kau harus mentraktir kami, karena kami baru saja mengeluarkan banyak uang untuk treatment kami,'' ucap Alea yang langsung tertawa sedangkan Silly dan Lindsay mengangkat jempolnya ke arah Alea menyetujui ucapannya.


''Astaga perawatan seperti itu tidak akan membuat kalian jatuh miskin kan?''

__ADS_1


Alea tertawa sambil berkata,'' ayolah Ben mentraktir kami bertiga juga tidak akan membuatmu jatuh miskin kan?'' Alea membalik jawaban Ben.


''Baiklah. Kalau begitu aku tutup teleponnya sampai bertemu di sana.'' Ben mengangguk pasrah di seberang telepon.


''Okay,'' jawab Alea.


Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di restoran xx. Mereka segera keluar dari mobil dan melihat Ben juga baru keluar dari mobilnya setelah memarkirkan kendaraannya itu.


Ben melambaikan tangannya seraya tersenyum menatap ketiga sahabatnya yang berjalan menuju ke arahnya.


''Ayo kita masuk bersama,'' ujar Lindsay.


Keempatnya masuk bersama ke dalam restoran tersebut. Mereka memilih tempat di bagian pojok kanan restoran.


'' Kalian pesanlah, aku minum saja. Baru selesai makan dengan temanku,'' ucap Ben


seraya duduk di sebelah Alea.


Sementara Silly dan Lindsay berhadapan dengan mereka berdua.


Alea mengambil buku menu dan melihat menu apa yang paling enak di restoran tersebut. Setelah sepakat mereka memesan menu yang sama.


Ben hanya memesan minuman karena ia sudah makan sebelumnya.


''Mmm, lobster taco dan fish taconya sangat enak,'' ucap Alea.


Lindsay dan Silly mengangguk setuju.


''Ben kau mau mencobanya?'' Tanya Alea pada Ben yang sedang memainkan ponselnya.


''Tidak, aku sudah kenyang,'' ucap Ben seraya menatap Alea.


Setelah ini, bagaimana kalau kita ke pantai menunggu sunset?'' lanjut Ben sambil menatap ketiga sahabatnya bergantian untuk meminta persetujuan.


''Setuju,'' jawab ketiganya serempak.


''Sudah lama kita tidak pergi bersama ke sana,'' sambung Lindsay.


Akhirnya, mereka telah selesai makan siang.


Sekarang keempatnya telah keluar dari restoran setelah Ben membayar billnya.


''Aku akan menemani Ben,'' ujar Alea setelah mereka sudah sampai di tempat parkir.


Silly dan Lindsay setuju.


''Baiklah sampai ketemu di sana,'' ucap Silly setelah ia dan Lindsay masuk ke dalam mobil kemudian melaju duluan meninggalkan Alea dan Ben yang juga beranjak masuk ke mobil dan mengikuti mobil Lindsay.


Setelah setengah jam berkendara, mereka telah sampai di pantai. Hari sudah sore, beberapa saat lagi matahari akan terbenam.


''Ah, suasana pantai memang menyenangkan di sore hari,'' ujar Alea senang.


Selesai makan malam mereka saling pamit. Ben mengantar Alea pulang dan Lindsay mengantar Silly kembali ke tempatnya.


...****************...


Dua minggu kemudian..


Alea sedang merias wajahnya, sore ini Silly mengajak mereka untuk berkumpul di kafe favorit mereka karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


Entahlah hal penting apa yang ingin disampaikan sahabatnya itu. Suaranya terdengar serius di telepon.


''Sudah selesai. Aku memang sangat cantik,'' Alea memindai semua penampilannya di cermin yang terlihat sempurna dan memuji dirinya sendiri.


Tiba-tiba ia teringat lagi dengan Gie, memandang kembali wajahnya di cermin dengan sendu.


''Gie..kau lihat sekarang aku sudah bisa tanpamu, aku pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik darimu,'' gumamnya.


Padahal ia masih sering menangisi pria itu kala mengingatnya, apalagi ia masih tinggal di apartemennya yang penuh dengan kenangan mereka.


Sebenarnya, ia ingin segera pindah dari apartemen tersebut agar bisa melupakan pria itu, tapi ia belum bisa melakukannya karena belum mengatakan yang sebenarnya pada keluarga mereka.


Mengenai perkataannya tentang mencari pria lain, itu hanya untuk menguatkan hatinya untuk melupakan Gie. Kenyataannya ia telah menutup hatinya untuk pria lain. Ia hanya akan fokus pada masa depannya. Entah kapan ia akan membuka hatinya lagi.


Drrt..


Drrt..


Drrt..


Bunyi dering telepon selulernya membuyarkan lamunannya. Ia menatap ke layar ponselnya


Silly's calling..


"Hallo Sill, aku baru akan keluar dari apartemen,'' ucap Alea.


''Baiklah, aku sudah di kafe, Ben dan Lindsay sedang dalam perjalanan.'' ujar Silly di seberang telepon.


''Okay,'' jawab Alea seraya menutup teleponnya dan keluar dari kamar.


Setelah dua puluh menit berkendara Alea tiba di kafe. Ia memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam kafe.


Dari jauh ia melihat Ben dan Lindsay sudah lebih dulu tiba sedang melambaikan tangan ke arahnya. Alea lalu menghampiri mereka.


''Maaf terlambat,'' ucap Alea meminta maaf seraya duduk di samping Lindsay.


''Tidak apa-apa Lea,'' jawab Silly.


''Mau pesan apa?'' Tanya Silly pada Alea karena mereka sudah lebih dulu memesan makanan dan minuman untuk mereka.

__ADS_1


''Samakan saja dengan kalian,'' ujar Alea.


Silly membuka percakapan setelah pesanan Alea tiba.


''Sebenarnya..


Silly menghela nafasnya dan melepasnya lalu menatap ketiga sahabatnya yang juga menatapnya serius menantikan apa yang hendak dikatakan olehnya.


''Huuftt, sebenarnya aku mengajak kalian ke sini untuk berpamitan,'' Akhirnya keluar juga kata itu dari bibir Silly setelah dari tadi ia menahannya.


''Apa????'' teriak ketiganya serempak.


''Kau mau pergi? Kemana?'' Tanya Alea yang masih terkejut.


''Apa terjadi sesuatu, Sill?'' tanya Lindsay yang juga sama terkejutnya dengan Alea.


''Bagaimana dengan kuliahmu?'' Timpal Ben.


''Maaf semuanya, aku akan pindah ke Jerman, maaf karena terlalu mendadak memberitahu kalian tentang kepergianku. Aku juga tidak ingin pergi meninggalkan kalian dan kuliahku, tapi grandmaku di sana sedang sakit, ia ingin aku menemaninya di sisa umurnya. Aku juga tak bisa berbuat apapun, kalian tahu kan aku sangat menyayanginya dan grandma juga sangat menyayangiku. Aku tidak ingin membuatnya sedih,'' ucap Silly dengan perasaan sedih.


Alea dan Lindsay tak dapat membendung air mata mereka, Silly akan pergi meninggalkan mereka, Ben juga merasa sedih.


Terlebih Alea, setelah kehilangan Gie, kini ia juga harus kehilangan salah satu sahabat baiknya. Kenapa mendadak semua orang di sekitarnya pergi meninggalkan dirinya?


''Sayang dengan kuliahmu, Sill. Tinggal setahun lagi kita akan selesai. Apa kau tidak ingin mempertimbangkannya dulu?'' Tanya Ben.


''Ben benar Sill, pertimbangkanlah dulu,'' sambung Lindsay.


''Iya Sill, aku setuju. Sangat disayangkan kalau berhenti di sini,'' Alea menimpali.


Silly menggelengkan kepalanya lalu memandang ketiga sahabatnya seraya berkata,'' sebenarnya mommy dan daddy juga menyuruhku seperti itu, tapi aku takut tak berada di sisi grandmaku saat dia pergi. Tidak apa-apa aku akan melanjutkan kuliahku di sana.''


''Baiklah kalau itu keputusanmu, sebagai sahabat baikmu kita akan mendukung apapun keinginanmu,'' ucap Lindsay tersenyum pada Silly.


''Terimakasih untuk pengertian kalian bertiga, aku minta maaf kalau selama ini banyak salah pada kalian,'' ucap Silly dengan mata yang berkaca-kaca.


''Terimakasih juga sudah mau menjadi sahabat terbaik bagiku, selalu ada untukku di masa-masa tersulitku, selalu mendukungku dalam hal apapun,'' Tangis Silly akhirnya pecah mengucapkan kata-kata perpisahan seperti itu.


Alea dan Lindsay bangkit berdiri dari duduknya dan menghampiri Silly, seraya memeluknya. Mereka bertiga berpelukan dan menangis bersama. Tidak peduli dengan banyak pasang mata yang sedang melihat ke arah mereka. Sementara Ben hanya menatap ketiganya dengan tatapan sedih.


''Kita juga minta maaf padamu, Sill. Maaf kalau kita juga banyak salah padamu dan terimakasih kasih juga karena sudah mau menjadi sahabat terbaik bagi kita,'' ujar Lindsay.


Setelah tangisan Silly reda, Alea dan Lindsay melepas pelukan mereka lalu menatap Silly. Alea menghapus air mata Silly dengan tangannya.


''Lea maafkan aku karena tak bisa menepati janjiku untuk selalu di dekatmu dan menghiburmu. Tapi aku percaya kau wanita yang hebat pasti bisa melewati semuanya dengan baik. Berjanjilah untuk selalu bahagia,'' Silly meminta maaf pada Alea.


''Aku mengerti, Sill. Alea yang sekarang sudah kuat kok!" Ucap Alea sambil tersenyum.


"Hei, jangan sedih lagi! Walaupun kita berpisah tapi kita masih bisa saling memberi kabar bahkan bisa saling mengunjungi kan?'' Akhirnya Ben membuka suaranya juga setelah diam menyaksikan momen haru ketiga sahabatnya.


Mereka bertiga mengangguk setuju dengan ucapan Ben.


"Benar juga kata Ben," ujar Alea.


Setelah itu Alea dan Lindsay kembali ke tempat duduknya.


"Jadi kapan berangkatnya?" Tanya Alea.


"Besok pagi," jawab Silly tersenyum.


"Astaga Sill, kenapa cepat sekali perginya?'' Tanya Lindsay.


''Maaf, mommy dan daddy sudah memesan tiketnya. Tapi aku tak ingin kalian mengantarku,'' kata Silly.


Kening mereka bertiga berkerut, menatap bingung ke arah Silly kenapa ia tidak mau diantar.


''Kenapa memangnya?'' Tanya Ben.


''Aku tak sanggup jika melihat kalian. jadi kumohon jangan mengantarku. Sebagai gantinya aku akan menelepon kalian sebelum berangkat nanti,'' kata Silly dengan wajah memelas.


''Okay, kalau itu maumu. Tapi jangan lupa menelpon kita,'' ucap Alea.


Silly mengangguk tersenyum.


Setelah itu mereka lanjut bercerita tentang kenangan-kenangan mereka yang lucu dan tertawa bersama hingga tak terasa mereka telah selesai makan.


Silly membayar billnya. Kemudian mereka beranjak keluar dari kafe.


Di tempat parkir.


''Apa kau yakin tidak ingin mampir ke tempat lain? Tanya Alea pada Silly.


Silly menggeleng dan berkata,'' maaf aku harus membereskan koperku, sekali lagi terimakasih untuk semuanya.''


Mereka berpelukan bergantian. Alea dan Lindsay kembali terisak begitu juga dengan Silly. Sementara Ben hanya terdiam ditempatnya.


Setelah berpamitan satu sama lain, mereka pun berpisah, kembali ke tempatnya dengan membawa mobil mereka masing-masing.


Keesokan harinya, Silly melakukan panggilan konferensi dengan ketiga sahabatnya setelah ia tiba di bandara diantar oleh mommy dan daddynya.


''Aku akan menelepon kalian jika sudah sampai,'' kata Silly sambil tersenyum walaupun ia sangat sedih dengan perpisahan mereka tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum agar para sahabatnya tidak terlalu sedih berpisah dengannya.


Kenyataannya, Alea dan Lindsay sudah tak bisa membendung air matanya, sementara Ben hanya terdiam. Mereka merasa sangat sedih dan kehilangan sosok Silly sahabatnya itu.


Apalagi saat Silly akan mengakhiri panggilan konferensinya karena ia harus segera berangkat.


''Sampai bertemu lagi, aku menyayangi kalian dan pasti akan sangat merindukan kalian juga,'' ucap Silly lalu mematikan panggilan teleponnya.


Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tetapi bukan untuk saling melupakan melainkan untuk saling mengukir kenangan indah saat masih bersama-sama. Jarak dan waktu tidak akan menjadi soal untuk tetap menjalin hubungan persahabatan.

__ADS_1


Itulah gambaran persahabatan Alea, Lindsay, Ben dan Silly.


__ADS_2