Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 6 Sakit


__ADS_3

Genap satu bulan setelah kepergian Gie..


Apartemen Alea.


Alea sedang bersandar di dashboard tempat tidurnya sambil memijit kepalanya yang sedang pusing. Setelah bangun tidur, entah kenapa dia merasa kepalanya sangat pusing. Sesaat ia pejamkan matanya mencoba menahan nyeri yang luar biasa di kepalanya.


''Kenapa kepalaku pusing sekali dan tubuhku lemas begini? Perasaan semalam aku baik-baik saja, apa karena terkena gerimis hujan kemarin sore, ya?'' Gumam Alea bertanya pada dirinya sendiri.


Ya, kemarin sore Alea memang terkena gerimis hujan saat akan menyebrang jalan ke apartemennya setelah pulang dari toko buku. Kebetulan mobilnya rusak dan sedang berada di bengkel jadi ia terpaksa bepergian dengan taksi. Ia tidak enak kalau harus menyusahkan Ben atau Lindsay.


Lagipula ia merasa sudah semakin mandiri dan bebas sekarang, kalau dulu ia selalu dimanjakan oleh Gie sehingga apapun yang ia inginkan akan dengan mudah tersaji di depan matanyanya bahkan Gie terkadang terlalu mengekang dirinya, melarangnya pergi sendirian kalau tidak ditemani olehnya atau Lindsay dan Silly. Kecuali Ben, Gie melarang keras untuk terlalu dekat dengan Alea.


Ia berusaha bangun dari ranjangqnya, tapi saat bangun kepalanya semakin berputar-putar, membuatnya kembali mendarat di ranjangnya.


Bugh..


''Oh, ya Tuhan, apa yang terjadi denganku pagi ini?'' Tanya Alea pada dirinya sendiri seraya kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, kemudian secara perlahan menggeser tubuhnya ke arah kiri ranjang untuk mengambil telepon selulernya di atas nakas.


Ia ingin mengirim pesan pada Lindsay agar meminta izin pada dosennya, hari ini ia tidak bisa mengikuti mata kuliahnya karena sedang tak enak badan saat ini.


''Say, tolong izinkan aku pada Mrs. Gwen ya, aku sedang tak enak badan. Terimakasih


Setelah mengirim pesan singkat pada Lindsay, ia kembali meletakan telepon selulernya di atas nakas.


Kemudian ia memandang langit-langit kamarnya mengingatnya lagi pada kenangan saat ia masih bersama Gie, jika ia sakit seperti ini Gie pasti akan over protektif padanya.


Flashback on


''Lea sayang kenapa turun dari ranjang, hm? Kau kan masih pusing, seharusnya berbaring saja di ranjang, atau jika ingin sesuatu seharusnya memanggilku, honey,'' ucap Gie terlihat khawatir melihat Alea yang sedang sakit bangun dari ranjang.


Ia baru saja masuk ke kamar membawa nampan berisi bubur gandum kesukaan Alea yang diberi topping buah raspberry dan blueberry. Ia lalu meletakkan nampan di atas nakas dan segera menghampiri Alea yang sedang memegang ujung ranjangnya untuk menopang tubuhnya yang agak limbung karena pusing.


''Sudah kubilang kan jangan turun dari ranjang!" Tukas Gie.


''Maaf sayang, aku ingin buang air kecil,'' ucap Alea.


Tanpa banyak bicara, Gie langsung sigap menggendong Alea ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.


Akhh..


''Astaga Gie, turunkan aku, aku masih bisa jalan sayang, bukan lumpuh! Lagipula aku kan berat,'' kata Alea yang terkejut dengan tindakan Gie yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya walaupun itu bukan hal baru baginya tapi tetap saja tak enak kalau harus menyusahkan Gie.


''Ssst, diamlah sayang, jangan banyak bicara!'' ucap Gie seraya menurunkan Alea tepat di depan closet lalu ia mengangkat ke atas lingerie tipis yang dikenakan Alea dan hendak membuka segitiganya tapi ditahan oleh Alea.


''Jangan sayang, keluarlah, yang ini aku bisa sendiri, jadi tunggu aku di luar saja ya?'' Ujar Alea tidak ingin jika Gie yang membuka dalaman bagian bawahnya itu.


"Kenapa? Kau masih malu denganku? Astaga sayang, yang benar saja kalau kau masih malu, aku bahkan sudah melihatnya berkali-kali dan tahu letak tahi lalatmu ada di bagian mana,'' ucap Gie sengaja menggoda Alea.


Alea mencebik, menatap kesal pada Gie yang sengaja menggodanya.

__ADS_1


Issh, apa sih! Aku takut kalau nanti kau tergoda melihatnya, nanti kalau pedangmu minta diasah bagaimana? Aku kan sedang sakit jadi tidak bisa mengasahnya, aku tidak mau kalau pagi ini sabun mandi yang menggantikan posisiku!''


Ucapan absurd Alea membuat Gie tergelak, wanitanya semakin pintar membicarakan hal-hal seperti itu.


''Kau semakin nakal ya, membicarakan hal-hal seperti itu tanpa filter,'' ucap Gie sambil menarik gemas hidung Alea dan mengecup bibirnya lalu tangannya tetap bergerak menurunkan dalaman bawah milik Alea dan segera mendorong pelan tubuh Alea ke closet untuk menuntaskan keperluannya.


Alea terpaksa pasrah pada perlakuan Gie bahkan pria itu tetap berdiri di sana menunggui Alea. Setelah itu, ia langsung kembali menggendongnya kembali ke kamar dan mendudukinya di atas ranjang.


''Terimakasih sayang, jangan bosan denganku dan maaf kalau selalu merepotkanmu,'' ucap Alea tulus.


Mendengar perkataan Alea yang seperti itu, Gie yang tadinya hendak meraih nampan berisi bubur gandum tersebut tidak jadi melakukannya. Ia duduk di depan Alea dan menatapnya, sekilas mengecup bibir wanitanya itu lalu kembali menatap wajah cantik Alea. Ia tersenyum lalu tangannya terulur membelai lembut rambut coklat Alea.


''Hei sayang, jangan bicara seperti itu! Sudah tugas dan tanggung jawabku untuk memanjakamu, membuatmu nyaman, senang dan bahagia di sampingku. Kau tahu kan, aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu,'' ucap Gie yang juga begitu tulus pada Alea.


Mendengar ucapan Gie yang sangat tulus itu membuat Alea terharu. Ia lalu mencondongkan tubuhnya, mengalungkan tangannya ke leher sang kekasihnya lalu mengecup bibirnya dan sedikit melu-matnya, Gie pun menyambutnya senang dan ikut melu-mat bibir Alea namun kemudian melepasnya.


''Ish, kenapa dilepas?Aku aku kan sedang berterima kasih dengan sebuah tindakan yang menyenangkanmu!'' cebik Alea kesal seraya melepas rangkulannya, merasa momen haru dan romantisnya jadi hilang seketika karena ulah Gie.


Gie tersenyum, ia menghapus sisa saliva di bibir Alea yang sedang cemberut lalu berkata,'' sayang, aku takut khilaf kalau seperti itu, kau kan masih sakit bagaimana kalau aku kebablasan? Aku mungkin tak akan tega denganmu tapi kau bilang tadi tidak mau kalau sabun mandi menggantikan posisimu kan?''


Alea berpikir sejenak lalu berkata,'' Benar juga, tapi jangan bilang kalau kau juga ingin jajan di luar? Alea menatap tajam ke arah Gie. Ia takut kalau Gie malah mencari wanita lain untuk memuaskan dirinya.


''Apa sih sayang? Jangan berpikir macam-macam! Cukup berpikir satu macam yaitu percaya padaku. Lagipula, kau kan tahu kalau pedangku hanya bisa diasah oleh punyamu. Kau akan tetap menjadi pertama dan terakhir untukku. Kau mengerti sayang?'' Ucap Gie pada Alea sambil tersenyum.


Alea mengangguk dan tersenyum. Ia tentu saja akan percaya pada kekasihnya itu, ia bisa merasakan cinta pria itu yang begitu besar padanya mana mungkin Gie bisa berpaling darinya. Meski begitu, ia juga berusaha membuat Gie nyaman dan bahagia berada di dekatnya.


''Nah sekarang, saatnya kau sarapan dan minum obat. Buburnya masih hangat,'' ucap Gie yang sudah membawa nampan berisi bubur di hadapan Alea kemudian ia mulai menyuapi Alea.


Flashback off


Mengingat kenangannya sekali lagi bersama Gie, membuat Alea tersenyum miris lalu menghapus sudut matanya yang basah.


'' Kenangan kita begitu indah, Gie. Perlakuanmu setiap saat begitu manis padaku. Tapi sekarang, aku sudah tidak lagi bisa merasakan semuanya itu. Aku sudah menjadi pertama untukmu tapi bukan yang terakhir untukmu. Semua ungkapan cinta dan janjimu palsu!


''Kau pembohong!''


''Kau brengsek!''


Hiks...hiks...hiks...


''Kau tahu Gie, saat ini aku sangat merindukanmu, tapi juga sangat membencimu! Membencimu, Gie!''


Alea menangis lagi. Ingin untuk tak menangisi pria itu tapi nyatanya sangat sulit untuk melupakan kenangan yang sudah terpatri indah di setiap sisi dirinya.


Setelah lelah menangis, ia berusaha bangkit dari ranjangnya dan bersandar di dashboard. Menarik nafas seraya menghembuskannya perlahan.


''Ah, tiba-tiba aku jadi ingin makan bubur gandum,'' gumamnya.


Alea berusaha bangkit dari ranjangnya. Ia sudah lebih baik dari tadi. Walau nyeri di kepalanya masih terasa tapi setidaknya ia sudah bisa berjalan meskipun sedikit terhuyung-huyung.

__ADS_1


Alea keluar dari kamar menuju ke dapur. Karena ingin makan bubur gandum jadi ia mengeluarkan oatmeal dari salah satu laci lemari dapurnya, menuangnya ke mangkuk kemudian menyimpan sisanya kembali ke dalam laci, saat hendak mengangkat mangkuknya, tiba-tiba kepalanya kembali berputar-putar lebih hebat dari sebelumnya. Pandangan matanya menjadi gelap dan...


Brukk


...****************...


Sementara itu, jauh di sana seorang pria sedang mengamuk, membanting semua barang yang ada di ruangannya.


Prang!


Prang!


Prang!


''Kau wanita jahat!''


''Kau wanita ja-lang!''


''Kau tega sekali padaku!''


''Kenapa? Apa aku kurang baik bagimu?''


''Apa aku kurang membahagiakanmu, hah?''


''Apa aku kurang memuaskanmu?''


''Kenapa Alea?''


''Kenapa?????''


Ia menghapus air matanya yang terus mengalir.


Tubuhnya sedikit limbung, ia terhuyung berjalan ke meja, mengambil ponselnya dan membanting tubuhnya di sofa kemudian membuka galeri foto di ponselnya, melihat setiap foto yang tersimpan di situ.


Rambut coklat, mata hijau, hidung mancung, bibir tebal bervolume, terlebih senyum indah yang memperlihatkan kedua lesung pipinya selalu membuatnya candu untuk berlama-lama menatapnya.


Gie tersenyum miris menatap nanar semua foto kenangan bersama wanitanya. Saat sedang menscroll foto-fotonya, ia kembali melihat beberapa foto yang sudah menghancurkan segala impiannya.


Wajahnya berubah merah padam karena marah, rahangnya mengeras, ia hendak melempar ponselnya tapi tertahan. Di dalamnya terdapat banyak kenangan yang tak ingin ia hapus apalagi sampai hilang. Meski di dalamnya juga terdapat kepahitan yang menghancurkannya.


Ia pejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi lalu meraih botol anggur di atas meja di depannya. Ia meneguk sisa anggur yang ada di dalam botol hingga tandas, lalu melempar botol tersebut ke tembok.


Prang!


Botol itu hancur berkeping-keping dan seperti itulah perasaan seorang Georgie Alberth Clay saat ini.


Hancur karena seorang Aleandra Antonetha Port yang telah lama menguasai dunianya.


''Aku merindukanmu, Tapi aku juga sangat membencimu, Lea!'' Gumamnya sebelum kehilangan kesadaran karena terlalu mabuk.

__ADS_1


Itulah keadaan keduanya, dalam kurun waktu yang sama saling merindukan tapi juga saling membenci.


__ADS_2