Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 4 Berjalan Tanpanya


__ADS_3

Setelah keluar dari kafe, Alea tidak lagi kembali ke kampus tapi ia kembali ke apartemennya. Sepanjang perjalanannya ia terus terisak.


Hiks... hiks.. hiks...


Tak sanggup menerima kenyataan bahwa Gie benar-benar meninggalkan dirinya.


Sampai di apartemen, ia langsung masuk ke kamarnya. Melempar tasnya ke atas ranjang dan ikut membanting tubuhnya ke ranjangnya.


''Jahat sekali Gie! Kau benar-benar jahat padaku! Kau pembohong! Katamu tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi! Tapi apa ini sekarang hah? Kau pergi tanpa penjelasan apapun! Semua yang kau ucapkan waktu itu kau ingkari!'' Alea menangis, meracau sambil memukulkan tangannya pada bantal, mengingat perkataan Gie waktu mereka masih bersama.


Flashback on


Mereka baru saja selesai bercinta. Masih saling berpelukan.


''Gie..''


''hmm..iya sayang? kenapa?'' Tanya Gie yang sedang memejamkan mata seraya menghirup aroma wangi rambut milik Alea.


''Berjanjilah kalau kau tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi,'' kata Alea sambil memainkan jari-jarinya di dada Gie.


Mendengar ucapan ALea, Gie tersenyum. Ia mendorong tubuh Alea menjadi terlentang, masih dalam posisi tangannya yang dipakai sebagai bantalan kepala Alea.


Ia lalu sedikit mengangkat tubuhnya menyamping menghadap ke arah Alea yang telentang dan sedang menatapnya, mencondongkan tubuhnya mengecup kening dan bibir Alea lalu kembali mengangkat kepala dan tersenyum hangat pada wanita yang sangat ia cintai.


''Kenapa berkata seperti itu, hm? Kau tahu kan sayang kalau aku sangat mencintaimu. Kita berada sampai di titik ini karena kekuatan cinta kita yang begitu luar biasa. Kamu segalanya bagiku, hanya milikku," ucap Gie sambil kembali memeluk ALea dan mengecup puncak kepalanya berulang kali.


Alea juga ikut memeluk Gie sambil berkata," entahlah sayang aku merasa takut kalau kau akan meninggalkanku suatu saat nanti, mungkin ketika kamu telah bosan denganku atau karena--


''Ssst... Jangan berkata seperti itu sayang, berapa pun umur yang Tuhan berikan padaku untuk bernafas di dunia ini, sebanyak itu aku akan hidup bersamamu, menemanimu, membahagiakanmu bersama dengan anak kita kelak jika Tuhan mempercayakannya pada kita.'' Gie mengatakan seperti itu dan memeluk erat tubuh Alea serta membenamkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala wanitanya itu.


''Aku mencintaimu, Lea. Sangat mencintaimu jadi jangan berpikir seperti itu lagi. Mari jalani hubungan kita dengan bahagia. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku karena aku tak bisa tanpamu,'' ucap Gie lagi sambil melepas pelukannya dan menatap Alea dengan penuh senyuman sayang.


''Aku juga sangat mencintaimu Gie dan aku janji tidak akan pergi darimu,'' Ucap Alea membalas ucapan Gie dengan senyuman manisnya seraya mengecup bibir sang kekasihnya itu.


Flashback off


''Brengsek kau Gie! Aku membencimu! sangat membencimu, pembohong!" Alea terus meracau hingga ia terlelap karena lelah menangis dan memaki Gie.


...****************...


Seminggu telah berlalu setelah kepergian Gie...

__ADS_1


Apartemen ALea


Saat ini Alea sedang duduk bersama Lindsay sambil menonton televisi.


Silly dan Ben tidak ikut bergabung karena mereka ada keperluan lain.


"Say, aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Alea, meski sedang menonton tapi pikirannya menerawang jauh memikirkan dirinya setelah tanpa Gie.


"Maksudmu? Lindsay balik bertanya dengan bingung pada Alea.


Alea menarik nafas pelan dan membuangnya pelan.


"Hufft...Kau tahu kan, hubunganku dan Gie sejauh mana? Apa yang harus aku katakan pada mommy dan daddy juga uncle Grey dan aunty Britney?" ucap Alea sendu.


Mengingat kedua orangtuanya dan kedua orang tua Gie yang sudah mengetahui dan merestui hubungan mereka berdua bahkan tahu kalau mereka telah tinggal bersama, ia sangat sedih.


Ia merasa bingung bagaimana harus menjelaskan pada mereka tentang hubungannya dengan Gie yang telah berakhir. Terlebih kepada orangtuanya yang sudah mempercayakan dirinya pada Gie. Alea yakin keduanya pasti akan sangat marah padanya dan Gie. Marah padanya karena sudah melangkah terlalu jauh dalam hubungan mereka.


Tapi mau sampai kapan ia harus menutupi semuanya? Sebentar lagi libur semester dan ia harus pulang karena ia telah berjanji pada mereka. Ia juga merindukan kedua orangtuanya dan kedua adik laki-lakinya itu.


"Mau bagaimana lagi, apapun yang terjadi kau harus memberi tahu mereka," ucap Lindsay sambil membelai lembut rambut coklat milik Alea yang sedang bersandar di bahunya.


"Say, jangan lupa hubungan kami berakhir dengan buruk, aku tidak mungkin memberi tahu mereka tentang alasan perpisahan kita kan? Itu akan menyakiti mommy dan daddyku juga bisa menyebabkan kesalahpahaman antara aku, orangtuaku dan kedua orang tua Gie," ucap seraya bangkit dan menatap wajah Lindsay.


"Aku takut orang tua Gie akan salah paham denganku, berpikir bahwa aku yang telah mengkhianati Gie setelah mengetahui isi surat itu, apalagi Willy bilang Gie tidak pulang ke Inggris dan tidak menghubungi mereka sama sekali. Aku sudah bilang pada Willy untuk tidak bilang pada siapapun tentang masalah kami,'' ucap Alea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ya, tiga hari yang lalu Alea menghubungi Willy, adiknya Gie untuk menanyakan keberadaan Gie setelah beberapa lama berperang melawan hatinya yang sangat tidak ingin bertanya pada mantan calon adik iparnya itu, Alea tidak ingin Willy tahu tentang hubungan Gie dan dirinya yang berakhir buruk.


Lindsay menatapnya sedih, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Ia tahu sahabatnya itu sangat terluka dengan masalahnya. Membayangkan jika dirinya di posisi Alea, ia pasti tak akan sanggup.


''Apa kau mengatakan yang sebenarnya pada Willy?'' Tanya Lindsay.


Alea menggeleng, lalu berkata,'' tidak! Aku hanya bilang aku dan Gie sudah berpisah. Dia sangat terkejut saat mendengarnya dan bertanya padaku alasan kami berpisah. Tapi aku bilang padanya kalau aku tidak bisa menjelaskan apapun. Untung dia mau mengerti dan tidak memaksaku untuk memberikan alasannya.'' Alea menjelaskan percakapan dirinya dan Willy tempo hari melalui sambungan telepon sambil mencoba menahan sesak di dadanya.


''Aku mengerti perasaanmu, Lea,'' ucap Lindsay sambil menggenggam erat kedua tangan Alea.


''Tapi bagaimana pun kau harus memberi tahu mereka tentang perpisahan kalian. Kalau kau tidak ingin menjelaskan detailnya setidaknya bilang pada mereka kalau kalian sudah tak cocok lagi agar mereka bisa mengerti walaupun mungkin akan sulit mereka terima dengan akal sehat karena di mata mereka kalian saling mencintai dan tiba-tiba memilih berpisah itu sangat fatal. Tapi aku yakin mereka akan menghargai keputusanmu. Bukankah mereka sangat menyayangimu?'' Ucap Lindsay tersenyum tulus pada Alea.


Alea mengangguk tersenyum lalu segera memeluk tubuh Lindsay dan berkata,'' Terimakasih Say. Aku bersyukur memiliki sahabat yang sangat memahami diriku sepertimu.''


''Sama-sama Lea. Aku sudah menganggap kau seperti adikku. Walaupun umur kita sama tapi aku lebih duluan melihat dunia tiga bulan darimu,'' ucap Lindsay tertawa dalam pelukan Alea.

__ADS_1


ALea juga ikut tertawa kemudian melepaskan pelukannya menatap wajah Lindsay.


'' Sebenarnya masih ada yang kutakuti, Say. Aku takut daddy akan marah pada Gie dan saat mereka bertemu daddy pasti akan menghajarnya habis-habisan. Aku tidak ingin hal itu terjadi, Say. Apalagi membayangkan wajah tampannya akan dirusak oleh daddy,'' Alea bergidik ngeri membayangkan daddynya saat menghajar Gie nanti, mengingat daddynya seorang yang sangat jago beladiri.


''Ck..Kau ini di saat dia sudah menyakitimu begitu dalam tapi masih saja membelanya! " Ucap Lindsay dengan nada kesal pada Alea.


Alea hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Jadi bagaimana selanjutnya, apa kau akan memberi tahu mommy dan daddymu?" tanya Lindsay penasaran dengan keputusan akhir Alea.


"Untuk saat ini aku belum bisa memberitahu mereka. Nanti kalau aku sudah benar-benar siap, aku akan mengatakannya," ucap Alea dengan wajah serius.


Lindsay mengangguk tanda setuju dengan keputusan Alea.


"Ya sudah, sekarang istirahatlah. Aku pulang dulu. Sampai ketemu besok, jam sembilan tepat aku dan Silly akan menjemputmu. Kita harus melakukan perawatan agar makin cantik, kau kan sekarang sudah berubah status menjadi jomblo jadi sudah bebas kemana pun tanpa harus memohon izin," Goda Lindsay lalu berdiri dari kursi dan mengambil tasnya.


Alea tertawa ikut bangkit berdiri kemudian menggandeng tangan sahabatnya itu. Ia akan mengantar Lindsay sampai di depan pintu apartemennya.


"Hati-hati di jalan,'' ucap Alea saat sudah di luar pintu apartemennya sambil memeluk Lindsay kemudian melepas pelukannya dan membiarkan Lindsay pergi.


Lindsay mengangguk. Kemudian melangkah menuju lift.


Setelah Lindsay menghilang dibalik Lift. Alea kembali masuk ke dalam apartemennya.


Sejenak ia melihat isi apartemennya, tepatnya apartemen milik Gie. Menghela nafas dan membuangnya kasar lalu berjalan ke kamarnya.


Setelah masuk ke kamarnya ia langsung membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi menuju walk in closet membuka lemari untuk mengambil piyama.


Alea terdiam melihat isi lemarinya yang penuh dengan lingerie seksi yang Gie berikan untuknya. Setelah memutuskan untuk menyerahkan tubuhnya pada Gie, mereka tidak pernah melewatkan sesi bercinta dan Alea tidak pernah absen memakai lingerie-lingerie itu untuk menyenangkan hati Gie.


Kecuali jika Alea sedang kedatangan tamu bulanannya maka ia akan memakai piyama, takut akan membuat Gie tersiksa menahan hasratnya walau tanpa lingerie pun Gie selalu berhasrat padanya.


Kembali mengingat kenangannya bersama Gie membuatnya ingin menangis lagi.


Alea menggeleng kepalanya dan bergumam,'' tidak Alea, berhentilah menangis saatnya untuk melepas segala kenangan tentang dia. Lanjutkan hidupmu, raih mimpimu untuk membayar penyesalanmu pada mommy dan daddy serta Rain dan Rian si kembar yang pasti akan kecewa padamu saat mereka mengetahui semuanya.'' Alea memejamkan matanya menahan segala perasaannya.


''Saatnya berjalan tanpamu, Gie. Dimana pun kau berada kuharap kau selalu bahagia'' Gumamnya lagi.


Tangan yang terulur untuk memakai lingerie tadi ia urungkan kemudian memilih memakai satu set piyama bercorak boneka panda kesukaannya lalu memakainya.


Selesai mengganti pakaiannya ia langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang lalu memejamkan mata dan tidur, berharap bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini.

__ADS_1


__ADS_2