
Sejak mendengar perkataan Silly, Alea menjadi penasaran dengan apa yang di dengarnya, ia pun memutuskan pergi ke Amerika untuk mencari tahu segalanya, meski ia masih merasa berat untuk menginjakkan kakinya di negara tersebut.
Ia membawa serta Arion dengannya, ia juga telah menghubungi Ben dan Emily sekalian ia ingin ikut menemani Emily yang akan melahirkan tiga minggu lagi menurut perkiraan dokter.
Kebetulan Lindsay juga sedang berada di sana untuk menjenguk sang daddy jadinya mereka bertiga akan bertemu. Rencananya Alea dan Arion akan tinggal bersama Ben dan Emily.
Mereka baru saja memasuki mansion Ben dan Emily yang disambut dengan senyum penuh kerinduan oleh Emily.
Arion yang lebih dulu memeluk Emily dan mencium perut buncitnya lalu Alea pun ikut memeluk Emily dan membelai lembut kandungannya.
Mereka saling merangkul di belakangnya ada Ben yang sedang menurunkan koper Alea dan Arion dari dalam mobil dibantu oleh asistennya.
''Bagaimana kandunganmu, apakah baby membuatmu kesulitan?''Tanya Alea setelah mereka duduk di ruang televisi.
''Tidak, baby sangat pengertian dengan mommynya,'' jawab Emily.
Alea bisa melihat luapan kebahagiaan di wajah Emily akan kehadiran bayinya dan Ben.
''Ya, baby sangat pengertian dengan mommynya tapi mommynya kadang menjadi rewel dengan daddynya,'' timpal Ben yang duduk di samping Emily sambil mengelus perutnya.
''Daddy, memangnya mommy Ely anak kecil yang dibilang rewel?'' Tanya Arion yang tidak mengerti dengan maksud Ben yang sedang menggoda Emily.
''Hu'um, setelah hamil mommy Elymu menjadi seperti anak kecil, boy.'' Jawab Ben.
Emily mencubit perut Ben yang terus menggodanya.
Auchh...
''Honey, sakit sekali cubitannya,'' ringis Ben.
''Makanya jangan menggodaku terus, sayang,'' Emily terlihat kesal.
Alea tertawa melihat pasangan bucin di depannya sedangkan Arion hanya menggelengkan kepala dan terus memeluk Emily di samping karena masih merindukan Emily.
Mereka berbincang- bincang sebentar lalu makan malam bersama setelah itu mereka masih sedikit berbincang-bincang sebelum akhirnya masuk ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Keesokan harinya Lindsay datang ke Mansion Ben, ia tidak sempat datang tadi malam karena ada jamuan makan malam bersama keluarga Jack.
Alea, Ben dan Emily bahkan Gie sudah mengetahui hubungan keduanya dan mereka sangat mendukung mereka berdua untuk menjalin hubungan ke arah yang lebih serius namun Lindsay masih ingin menikmati masa-masa pacaran terlebih dahulu.
Daddy Lindsay dan kedua orangtua Jack juga sudah mengetahui hubungan mereka jadinya Jack sudah tidak lagi dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Kini ia sudah berani datang mengunjungi keluarganya dengan membawa Lindsay namun ia belum kembali ke perusahaan sang daddy karena masih ingin mendampingi Gie apalagi ia sedang berusaha mencari tahu masalah Gie dan Alea.
Alea telah memberitahu mereka perihal perkataan Silly tempo hari jadinya mereka telah sepakat untuk membahasnya di kafe biasa tempat tongkrongan mereka dulu.
Alea telah sampai lebih dahulu di kafe tersebut, ia merotasi ke sekelilingnya telah banyak mengalami perubahan.
Saat sedang melihat-melihat, matanya menangkap sosok yang dikenalnya, karena Lindsay dan Ben belum tiba maka ia memutuskan untuk menghampiri sosok yang dikenalnya itu.
''Justin!'' Alea sedikit berteriak sambil berlari kecil menghampirinya.
Pria yang bernama Justin itu sangat terkejut melihat keberadaan Alea ia terkesan sangat gugup karena Alea semakin dekat dengannya.
''Boleh aku duduk?'' Tanya Alea setelah tiba di meja Justin.
Justin mengangguk setuju, sebisa mungkin ia menetralkan degup jantungnya.
''Apa kabar? Kau masih ada di sini? Kupikir kau telah kembali ke Paris,'' Alea bertanya pada Justin sambil duduk didepannya.
''A-ku ba-ik saja, a-ku memang telah kembali ke sana, aku kesini karena ada sedikit urusan setelah itu aku akan kembali lagi,'' jawab Justin.
Alea merasa aneh dengan tingkah Justin, ia pun bertanya,'' apa kau sedang sakit?''
Justin menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kikuk. Untuk memastikan sesuatu ia pun ingin memberanikan diri untuk bertanya karena ia melihat bahwa Alea terlihat tak ada tanda-tanda marah padanya.
''Bagaimana kabarmu juga? Oh, ya, bagaimana juga dengan kabar Gie kekasihmu itu?''
Alea tersenyum kecil lalu berkata,'' aku baik-baik saja dan hubungan ku dan dia sudah berakhir dari sepuluh tahun yang lalu.''
Justin terkejut ternyata hubungan mereka benar-benar berakhir.
__ADS_1
"Jadi rencana Silly berhasil. Astaga, kasihan sekali Alea. Maafkan aku, Alea, aku tak bermaksud membuat kalian berpisah, saat itu aku butuh uang jadi aku terpaksa melakukannya." Batin Justin sambil memandang Alea, tampak ada kesedihan yang tergambar di wajahnya saat mengatakan hal tersebut.
Alea merasa heran dengan Justin yang menatap lekat dirinya.
''Kenapa?'' Tanya Alea.
''Maafkan aku,'' ucap Justin.
Alea mengerucutkan dahinya tanda tak mengerti dengan permintaan maaf Justin.
''Maaf? Untuk apa?'' Tanya Alea bingung.
''Ah, ma-maksudku maaf, aku tak bisa lebih lama menemanimu di sini karena aku masih ada urusan lain,'' Justin berkelit karena keceplosan mengucapkan kata maaf pada Alea.
'' Tidak apa-apa, aku sedang menunggu sahabatku kebetulan aku melihatmu jadi aku menghampirimu untuk sekedar menyapamu saja,'' Alea lalu bangkit berdiri dan hendak pergi saat Justin bertanya mengenai Silly.
"Ah, sedikit menahanmu, Lea. Bagaimana kabar Silly? Sudah lama kami putus kontak, aku kesulitan untuk menghubunginya.''
Bu.
Wajah Alea menjadi masam mendengar Justin menyebut nama Silly.
''Aku juga sudah putus kontak dengannya dan tidak tahu apapun atau tepatnya aku tidak ingin apapun tentangnya karena hubungan persahabatan kami telah berakhir.''
''Kalian bertengkar?'' Tanya Justin.
''Lebih dari bertengkar, hubungan kami sangat buruk.''
Jawaban Alea membuat Justin meyakini satu hal bahwa Silly telah merebut Gie dari Alea. Ia pun benar-benar mengacungkan jempol untuk Silly ambisinya memang luar biasa.
Saat masih berbincang-bincang tiba-tiba seseorang dari arah samping langsung memukul pipi Justin dengan kepalan tangannya.
Bugh!
Alea dan Justin dibuat terkejut dengan kehadiran Gie di situ.
Ia malah menghadiahkan sebuah pukulan lagi di pipi sebelah Justin.
Bugh!
"Brengsek, sudah lama aku mencarimu, akhirnya kau muncul juga, ya. Pria sia-lan!"
Bugh! Bugh!
dua kali lagi Justin dihajar oleh Gie, pelipisnya robek.
Justin begitu pucat melihat kemarahan di wajah Gie, ia bahkan tak bisa melawan karena tubuhnya seakan lemas tak bertenaga.
Alea menjadi panik, ia melihat ke sekeliling untuk meminta bantuan namun ia baru menyadari bahwa tak ada satupun pengunjung di situ, petugas keamanan dan para pelayan juga seakan menghilang entah kemana.
Apa yang terjadi?
Alea kembali mendekati Gie dan menariknya lagi.
''Apa yang kau lakukan brengsek, apa kau sudah gila lalu memukul orang dengan sembarangan?!'' Alea sangat marah dengan tindakan Gie yang tiba-tiba menjadi aneh.
Gie menoleh ke arah Alea yang terus menerus marah dan memaki dirinya. Ia melepaskan pegangannya terhadap Justin setelah mengikat kedua tangan dan kakinya dengan dasi miliknya dan Justin agar pria itu tidak lari.
Ia berdiri dan menghadap ke wajah Alea, melihat wajah Gie yang merah padam karena marah, Alea memundurkan tubuhnya ia jadi merasa takut sekarang.
''Kenapa kau membelanya? Apakah kau datang ke sini untuk bernostalgia dengannya? Mengulang malam panas menjijikan yang kalian lakukan dulu di belakangku? Ataukah memang selama ini kalian masih menjalin hubungan? Hubungan seperti apa yang kalian jalani? Hanya untuk saling memuaskan satu sama lain?!Katakan padaku Alea!!''
Alea terkejut dan sangat marah dengan pertanyaan-pertanyaan tuduhan Gie namun ia mencoba menahan gemuruh dalam dadanya karena ia merasa ada kaitan dengan apa yang ingin diketahuinya. Pasalnya Justin adalah sahabat Silly, mereka beberapa kali bertemu, terkahir bertemu saat Silly mengajaknya ke apartemen barunya, di sana sudah ada Justin yang menunggu mereka. Silly hanya mengajak Alea waktu itu karena Silly mengatakan ia sedang menjalin hubungan dengan Justin dan belum ingin sahabat mereka yang lain tahu soal hubungan mereka jadi hanya Alea saja yang diajak untuk bertemu dengan Justin.
''Kenapa diam, hah?! JAWAB ALEA!!!!'' Suara Gie menggelegar di dalam kafe tersebut dengan menatap nyalang ke arah Alea.
Alea pun tersadar dari pikirannya. Sebelum ia menjawab, Justin telah lebih dulu membuka suaranya setelah beberapa saat diam.
''Lepaskan ikatannya aku akan menjelaskan semuanya padamu, jangan menyudutkan Alea ia tak bersalah di sini.''
__ADS_1
Alea dan Gie menoleh ke arah Justin. Gie mendekat pada Justin sedangkan Alea masih berdiri di tempatnya.
''Kau mau kabur?'' Tanya Gie.
''Tidak, aku ingin menjelaskan semuanya,'' jawab Justin.
''Aku tidak percaya padamu, brengsek!''
Bugh!
Sekali lagi Gie meninju pipi Justin dan Justin terlihat kesakitan karena pukulan itu.
Alea benar-benar tidak tahan dengan situasi tersebut, ia lalu kembali menarik Gie dan berkata,'' katamu kau ingin penjelasan kan? Kenapa tidak turuti saja permintaan Justin? Aku juga ingin mendengarnya. Selama ini kau selalu saja menuduh dan menyudutkan ku dengan alasan yang tak jelas jadi berikan Justin kesempatan untuk menjelaskan apa yang kalian ketahui tentang masa lalu.''
Gie memandang Alea yang telah berkaca-kaca di hadapannya.
Akhirnya Gie pun membuka ikatannya lalu membiarkan Justin menyeka darah yang keluar dari pelipis dan mulutnya.
''Aku ingin duduk.''
Gie sedikit mundur agar Justin bangkit berdiri, Alea hendak membantunya namun Gie menarik Alea ke sampingnya sehingga Justin melakukannya sendiri.
''Kau sudah duduk kan? Sekarang jelaskan apa yang harus kau jelaskan!'' Gie terus menatap tajam ke arah Justin.
''Semua itu ada hubungannya dengan Silly,'' Justin menjeda ucapannya lalu menatap Alea yang tengah mengerutkan dahi ke arahnya.
Saat ia ingin melanjutkan perkataannya, muncul Ben, Lindsay dan juga Jack dari arah belakang Gie dan Alea.
Mereka terlihat bingung dengan keadaan kafe yang sepi dan hanya ada satu pelayan kafe yang sedang berjaga di depan, dia hanya mengenal Jack dan mempersilahkan Jack untuk masuk diikuti oleh Lindsay dan Ben.
Ben dan Lindsay terkejut melihat keberadaan Justin apalagi wajahnya yang terlihat lecet dan berantakan, mereka memang mengenalnya sebagai salah seorang teman Silly, lain dengan Jack yang terlihat santai melihat keadaan di depannya.
''Apa yang terjadi di sini?'' Tanya Lindsay.
Gie dan Alea menoleh ke belakang untuk melihat sahabat-sahabat mereka.
Alea hanya menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah Gie yang kemudian balik menatap ke arah Justin.
Ben merasa yakin ada yang tidak beres di situ. Ia juga ikut mendekat ke arah Justin.
Justin melihat mereka satu persatu ia kemudian menghela nafasnya.
''Aku minta maaf aku--
''Aku bilang jangan bertele-tele, langsung ke intinya saja, brengsek!"
Gie mendekat dan menarik kerah baju Justin, sontak Ben dan Jack mendekat dan menahannya.
"Kendalikan emosimu, dude," ucap Jack.
"Jangan pakai emosimu, dengarkan dulu perkataannya." Timpal Ben.
Gie melepaskan diri dari genggaman Jack dan Ben dengan menghempaskan tangan mereka dari tubuhnya.
"Itu semua hanya rekayasa dan itu juga adalah ide licik Silly karena iri dengan Alea terlebih ia juga sangat terobsesi dengan Gie jadi ia merencanakan semuanya untuk menghancurkan Alea. Aku membantunya saat itu karena sedang membutuhkan uang dan Silly menawarkan uang yang sangat besar untukku, aku-
"Tunggu dulu, aku tidak paham dengan penjelasanmu, rekayasa apa yang kau maksudkan?'' Alea menyanggah penjelasan Justin karena bingung dengan apa yang di katakannya.
Tak terkecuali Ben dan Lindsay yang juga ikut menjadi bingung dengan perkataan Justin.
Dari pintu masuk, Silly menerobos masuk ke dalam kafe karena ia sempat ditahan oleh pelayan yang berjaga di depan.
Silly terkejut ada Alea, Ben dan Jack, tadinya ia ingin mendatangi Gie karena rupanya diam-diam ia memasang GPS di mobil yang digunakan oleh Gie.
Ia geram melihat keberadaan Alea di samping Gie, selalu Alea lagi yang berada di sekeliling mereka namun ia juga heran, apa yang sedang mereka lakukan? Ia pun langsung menghampiri mereka.
Saat mendekat, ia dibuat terkejut dengan keberadaan Justin yang terlihat berantakan.
''Justin?''
__ADS_1