
''Maaf, aku tak bisa menungguimu di sini karena ada meeting penting yang tak bisa diwakilkan, padahal pesawatmu masih satu jam lagi,'' sesal Antony karena ia harus meninggalkan Alea sendirian di bandara.
''Jangan khawatir, aku tidak apa-apa sendiri, pergilah dan terimakasih sudah membantuku selama ini, maaf, kalau aku selalu merepotkanmu.''
Cup..
Alea mencium pipi Antony lalu memeluknya. Pertama kalinya ia mencium pria lain selain mantan kekasihnya, Alea memang sengaja melakukannya karena ia melihat Gie berdiri tak jauh dari mereka sambil memandang tajam ke arahnya.
Sementara Antony diam tak tahu harus bahagia atau merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Alea, ia begitu terkejut dan jantungnya mulai berdetak tak beraturan.
''Apa kau tak mau membalas pelukanku? Kita mungkin tak akan bertemu dalam kurun waktu yang lama lho,'' ucap Alea yang masih memeluk Antony, ia dapat merasakan debaran jantung Antony yang luar biasa.
''Eh, a-pa tidak masalah bagimu?'' Tanya Antony tapi tangannya langsung reflek balas memeluk Alea.
Alea tertawa di dalam pelukan Antony,'' tentu saja tidak ada masalah, ini pelukan antara adik dan kakak yang akan berpisah,'' Alea berucap seperti itu, tapi dalam hatinya ia meminta maaf pada Antony karena sudah memanfaatkan dirinya.
Antony ikut tertawa dalam pelukan Alea tanpa sadar ia semakin mengeratkan pelukannya, kembali lagi hatinya merasa kecewa.
''Aku akan mengunjungimu, kalau kau mengijinkannya,'' kata Antony.
''Tentu saja kalau kau punya waktu, kau bisa berkunjung ke rumahku.''
Antony mengangguk senang.
Dari jauh, wajah Gie terlihat memerah menahan rasa marah, entah kenapa setelah kembali dipertemukan dengan Alea, ia semakin tak bisa mengontrol emosinya saat melihat Alea bersama pria lain apalagi ini pertama kalinya ia melihat Alea mencium seorang pria di hadapannya ada rasa tak terima melihatnya dan lagi ia buru-buru mencabut infusnya ketika Jack datang dan memberitahunya bahwa Alea akan pergi, tiba-tiba ia merasa tak rela jika Alea pergi.
Setelah selesai berpelukan, Alea menyuruh Antony untuk segera pergi, meski berat meninggalkan Alea namun waktunya juga sudah tak banyak lagi, akhirnya ia pun pergi dari situ.
Alea melambaikan tangannya kepada Antony ketika ia berbalik dan tersenyum pada Alea, lalu Alea pun kembali duduk pada bangku yang ada di situ, ia merasa Gie sedang mengawasinya tapi ia tak ambil pusing, mungkin saja Gie sedang ingin berangkat ke suatu tempat. Ia sebenarnya merasa bingung kenapa pria itu harus bepergian, bukankah dia berada di rumah sakit? Ah, masa bodoh lah bukan urusannya.
Alea sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan ditumpanginya mengalami delay, keberangkatannya ditunda hingga empat jam ke depan karena ada kendala teknis.
Ia menghela panjang nafasnya, lalu bangkit berdiri, sepertinya ia harus mencari hotel di sekitar bandara untuk beristirahat.
__ADS_1
Untunglah segala barangnya masih di dalam troli jadi ia hanya mendorongnya saja tanpa harus ribet memegangnya. Ia keluar dari bandara dan mencari taksi, meski ada hotel terdekat tapi barangnya sangat banyak jadi sangat tidak mungkin ia berjalan kaki.
Setelah menemukan taksi, ia pun memasukkan barang-barangnya lalu segera masuk ke dalam taksi dan taksi tersebut melaju meninggalkan bandara menuju hotel terdekat.
Lima menit berkendara, ia pun sampai di hotel, setelah membayar biaya taksi dan menurunkan barang-barangnya, ia lalu memanggil seorang bell boy yang datang menghampirinya dengan membawa troli untuk membantu Alea.
Alea langsung menghampiri resepsionis dan memesan sebuah kamar deluxe, setelah mendapatkan kartunya ia lalu melangkah bersama bell boy yang membawakan barang bawaannya menuju lift.
Sampai di kamar, Alea segera membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan bell boy tersebut untuk meletakkan barang-barangnya.
Setelah bell boy pergi, Alea hendak menutup pintu kamarnya tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan pintunya dan menerobos masuk lalu menarik pintu dari tangan Alea dan menutupnya dengan keras.
Alea begitu terkejut melihat Gie yang saat ini sedang berhadapan dengannya, keduanya saling menatap dengan tatapan penuh kemarahan.
''Apa kau tidak punya pekerjaan lain, selain menjadi penguntit?! Kau sangat tidak sopan tuan, masuk ke kamar orang asing tanpa izin! Sekarang keluar dari sini, atau aku akan menghubungi pihak keamanan!" Ucap Alea marah sambil menunjuk pintu, mengusir Gie keluar dari kamarnya.
Tanpa berkata apapun, Gie langsung menarik Alea lalu melemparnya ke atas ranjang, Alea berusaha bangkit berdiri namun Gie lebih gesit darinya karena ia langsung menindih tubuh Alea serta memegang kedua tangan Alea dan menariknya ke atas lalu melepas kasar dasinya dengan sebelah tangannya dan langsung mengikat kedua tangan Alea yang terus memberontak sambil meludahi wajah Gie yang tepat di depan wajahnya.
Ciuman yang penuh dengan emosi itu begitu menuntut, Alea mengeluarkan air matanya menahan sakit di hatinya, belum pernah Gie memperlakukannya seperti ini.
Gie terus mencium bibir Alea dengan kasar, ia baru melepaskannya ketika Alea menggigit bibirnya dengan kuat hingga berdarah.
Nafas keduanya tersengal akibat ciuman panjang itu, Gie melihat air mata Alea namun itu tak mampu meluluhkan hatinya yang masih dikuasai oleh emosi.
Gie kembali mencium Alea, kali ini ia mencium leher dan menggigitnya membuat Alea mendesis kesakitan.
Belum puas memberi banyak tanda di leher Alea, ia menyusupkan tangannya ke dalam baju Alea lalu me-re-mas kedua squisy Alea yang di rasanya semakin membesar dari terakhir ia menyentuhnya.
''A-pa ka-u su-dah gi-la? Ku mo-hon hen-ti-kan,'' Alea mencoba berbicara meski terbata-bata, antara menahan hasratnya dan juga amarah karena Gie memaksanya.
Sebagai wanita dewasa yang telah melewati tahap seperti itu hingga memiliki seorang putra ia pasti akan berhasrat ketika mendapatkan sentuhan di titik-titik sensitifnya, meski Gie kasar tetapi jauh di lubuk hatinya ia merindukan sentuhan pria itu.
Gie tersenyum sinis melihat Alea yang mulai terpancing hasratnya,'' sepertinya kau benar-benar menikmati sentuhanku? Munafik di awal, kenapa? Apa Antony tak memberimu jatah sebelum berpisah? Atau kau mau aku menyentuhmu lebih dari ini? Berapa hargamu sekali kupakai? Aku tidak ingin mencicipi tubuh ja-langmu dengan gratis, jadi katakan berapa yang kau mau?'' Tanya Gie dengan kata-kata yang sangat menusuk hati Alea sambil terus memainkan tangannya pada kedua squisy Alea.
__ADS_1
Mendengar perkataan pedas Gie, hati Alea sangat sakit, hasrat yang tadinya ia tahan langsung hilang tak bersisa, air matanya jatuh semakin deras.
Ia meludahi wajah Gie sekali lagi dan berkata dengan suara keras,'' APA SALAHKU BRENGSEK? KAU YANG MURAHAN BUKAN AKU! KAU YANG BERKHIANAT, LALU PURA-PURA MENYALAHKANKU! LEPASKAN AKU SIALAN!" Teriak Alea sambil berusaha memberontak.
Gie mencengkram mulut Alea seraya berkata," kau mau membalikkan faktanya? Kau mau aku menunjukkan buktinya? Kenapa Alea, kenapa kau tega padaku, hah? Apa aku kurang baik bagimu? Kau menghancurkan hidupku, Alea, saat itu aku begitu mencintaimu tapi kau benar-benar mengkhianati ketulusanku padamu, KENAPA ALEA???!!!!!" Gie juga berteriak di depan wajah Alea sambil menangis.
Alea memutar wajahnya untuk melepaskan cengkraman tangan Gie dari mulutnya," Aku mengkhianatimu? Sejak kapan aku melakukannya? Bukankah kau dan Silly yang menusukku dari belakang, lalu sekarang kau balik menuduhku? Apa kau masih waras?"
Gie tertawa," sudah sepuluh tahun Alea, tapi kau masih terus menyangkalnya! Dan balik memfitnahku! Kau mengenalku dengan sangat baik kan Alea?!"
"Dan kau juga mengenalku dengan sangat baik, tuan Gie! Sekarang lepaskan aku, kau tidak lupa kan dengan apa yang kau tulis waktu itu?"
Gie tertawa lagi," aku memang tidak lupa! Baiklah kita adalah orang asing, aku akan menawarkan tubuh ja-langmu ini dengan harga yang mahal, satu milyar, bagaimana? Sekarang kau harus puaskan aku," Gie mulai merobek baju Alea, kebetulan Alea memakai baju santai, kaos oblong dipadukan dengan celana jeans.
"AKU BUKAN WANITA JA-LANG!!! LEPASKAN AKU, KAU PRIA GILA, TAK WARAS! LEPASKAN AKU," Teriak Alea sambil berusaha mengguncang tubuhnya untuk terlepas dari kungkungan Gie, namun sia-sia karena Gie benar-benar kuat menekan dirinya.
"Teruslah berteriak Alea, tidak akan ada yang mendengar suaramu, ruangan ini kedap suara! Ini salah satu hotelku juga, kau tak memperhatikan nama hotelnya?" Gie tersenyum mengejek.
"Aku mohon Gie, tolong lepaskan aku, kenapa kau berubah seperti ini, Gie? Kenapa kau jadi jahat seperti ini? Aku mohon lepaskan aku, hiks... hiks.." Alea terus menangis.
Melihat Alea yang menangis putus asa dihadapannya, Gie mulai tersadar, perlahan ia turun dari atas tubuh Alea, lalu melepas ikatan dasinya dari tangan Alea.
Alea langsung melompat turun dari ranjangnya dan meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh setengah telanjang, kaos yang ia gunakan telah terlepas dari tubuhnya karena robekan Gie yang hebat.
Gie menyugarkan rambutnya ke belakang lalu berjalan mendekati Alea, namun Alea segera bangkit dan menampar pipinya.
Plak!
Aku membencimu, sekarang keluar dari sini!" Alea mendorong tubuh Gie yang mendadak kaku setelah mendapat tamparan dari Alea, ia menjadi pasrah ketika Alea menggiringnya keluar dari kamar hotel tersebut.
Blum!
Alea membanting pintu setelah berhasil mengusir Gie kemudian ia kembali menangis hebat dengan apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1