
Perlahan-lahan Alea membuka matanya. Ia merotasi matanya, keningnya berkerut bingung karena merasa asing dengan ruangan yang ditempatinya sekarang.
''Aku dimana?''
Saat hendak bangun, ia merasa punggung telapak kirinya sakit.
''Akkhh...''
Ia menoleh dan terkejut,'' Aku di infus?''
Saat ia masih dalam mode terkejut, suara pintu terbuka.
ceklek
Muncul Lindsay dan Ben yang langsung menghampiri Alea.
''Lea..'' Panggil Lindsay sambil membantu Alea untuk duduk bersandar di ranjang pasien. Setelah itu, ia langsung memeluk sahabatnya itu.
''Bagaimana perasaanmu sekarang?'' Tanya Ben yang berdiri di samping ranjang sebelah kiri Alea.
Lindsay melepas pelukannya saat Ben bertanya pada Alea lalu duduk disebelah Alea dan ikut menatapnya dengan khawatir.
''Bagaimana bisa aku ada di sini dan diinfus? Apa terjadi sesuatu padaku?'' Bukannya menjawab pertanyaan Ben, Alea malah balik bertanya.
''Kau tidak ingat apa yang terjadi padamu?'' Tanya Lindsay.
Alea menatap Lindsay bingung lalu mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.
''Oh, ya ampun, tadi itu aku hendak ke dapur membuat bubur gandum saat aku mengambil mangkuk berisi oatmeal tiba-tiba kepalaku berputar-putar dan pandanganku menjadi gelap dan... Astaga, apa aku jatuh pingsan tadi? Tanya Alea pada kedua sahabatnya.
Lindsay dan Ben mengangguk.
''Aku dan Ben baru tiba di kampus dan hendak meneleponmu, tapi notifikasi pesanmu masuk. Kau bilang sedang tak enak badan membuat kami khawatir jadi kami memutuskan untuk datang ke apartemenmu dan meminta tolong pada Serena untuk memberitahu pada Mrs Gwen.'' Ucap Lindsay.
''Saat tiba di apartemenmu kami langsung masuk ke kamar mencarimu tapi kau tidak ada di dalam. Jadi aku dan Lindsay mencarimu di dapur, ternyata kau sedang tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan semangkuk oatmeal yang berserakan,'' sambung Ben.
''Kau membuat kami sangat khawatir dan panik. Ben langsung menggendongmu dan kami segera membawamu ke sini. Kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya kalau kau sedang sakit? Tanya Lindsay bernada kesal.
Alea menatap kedua sahabatnya dengan tatapan bersalah, lalu berkata,'' Maafkan aku, sudah membuat kalian khawatir, aku juga baru merasa sakit saat bangun tidur tadi.''
Ben dan Lindsay menghela nafasnya.
''Jadi, apa yang dokter katakan? Apa aku menderita penyakit yang parah? Tanya Alea ikut khawatir dengan kondisinya sendiri.
''Diagnosa awal tadi dokter bilang kau hanya kelelahan saja. Tunggu sedikit lagi, dokter sudah mengambil sampel darahmu untuk di cek, hasilnya akan keluar satu jam lagi.'' Jawab Lindsay.
Setelah tiga puluh menit kemudian. Suara pintu dibuka.
ceklek
Muncul dokter dan seorang perawat.
''Selamat pagi,'' sapa dokter sambil tersenyum.
''Selamat pagi juga dok,'' ucap ketiganya serempak.
''Bagaimana perasaan anda sekarang Nyonya? Tanya dokter lagi sambil memeriksa detak jantung dan suhu tubuh Alea.
''Aku sudah lebih baik, dok. Apa aku punya penyakit serius, dok?'' Tanya Alea penasaran dengan hasil pemeriksaannya.
Sang dokter tersenyum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Nyonya, anda baik-baik saja, itu merupakan gejala awal bagi ibu hamil.
''Eh, tunggu dulu, ma-maksud dokter?'' Tanya Alea begitu terkejut mendengar ucapan sang dokter, begitu juga dengan kedua sahabatnya yang tak kalah terkejut juga.
Mereka menatap bingung sang dokter, apa mereka yang salah dengar atau dokternya yang salah bicara.
''Selamat Nyonya, usia kandungan anda sudah mencapai enam minggu, anda harus banyak istirahat dan menjaga pola makan anda agar janin anda selalu sehat,'' ucap sang dokter menjawab raut kebingungan di wajah mereka.
''Hah???'' Alea menganganga masih menatap pada dokter.
__ADS_1
''Maksud Anda, Lea hamil? Tanya Ben yang masih gagal paham dengan ucapan dokter atau tepatnya ia juga ikut syok mendengar ucapan sang dokter.
Sedangkan Lindsay pun ikut lemas mendengar kehamilan Alea, tapi ia lantas menggenggam erat tangan Alea. Ia tahu perasaan sahabatnya itu pasti hancur saat ini.
''Iya Tuan, Anda pasti suaminya Nyonya Alea, ya? Selamat Tuan, sebentar lagi anda akan menjadi seorang daddy, saya yakin ini pasti anak pertama kalian, kata sang dokter seraya mengangkat tangan untuk berjabat tangan dengan Ben.
Ben yang masih kaget tersenyum kikuk sambil menjawab dan menjabat tangan sang dokter yang mengira bahwa ia adalah suami Alea,'' Ah iya, terimakasih dokter.''
Sementara itu Alea tak bergeming dengan percakapan Ben dan dokter, ia masih belum mampu mengeluarkan suaranya karena begitu syok mendengar tentang kehamilannya sendiri.
Kalau wanita lain pasti akan bahagia saat tahu ia akan hamil karena itu artinya sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu atau saja jika dokter mengatakan ia hamil saat masih bersama Gie, ia juga akan menjadi wanita yang sangat bahagia karena memang ia merasa telah siap untuk hal itu.
Tapi sekarang? Tentu saja kehamilannya akan membawa kesulitan besar untuk dirinya karena keadaannya telah berubah, ia tak lagi bersama Gie. Pria itu telah pergi meninggalkannya. Bagaimana bisa ia menjelaskan pada keluarganya? Terutama pada mommy dan daddynya. Masalah perpisahannya dan Gie saja belum ia beritahu sekarang ditambah dengan kehamilannya.
Ia yakin mereka akan hancur karena ia telah menorehkan luka yang begitu dalam bagi mereka. Ia akan membawa aib yang membuat mereka menanggung malu, anak gadis kesayangan mereka hamil dan pria yang menghamilinya telah pergi.
Akan ada banyak orang yang mempertanyakan anak siapa yang dia kandung karena kini ia sendiri, semua keluarga yang tahu hubungannya dengan Gie pasti akan berpikir jika Gie pergi karena ia hamil anak pria lain dan masih banyak hal lain lagi yang akan menjadi masalah baginya.
Ia tak mungkin sanggup menghadapinya!
''Setelah air infusnya habis, Nyonya Alea sudah boleh pulang, saya sudah meresepkan beberapa vitamin untuk Nyonya, Anda silahkan menebusnya di apotik,'' ucap sang dokter lagi.
''Iya terimakasih, dok.'' Ucap Ben.
''Oh iya Maaf, saya lupa memberitahu Anda Tuan, Anda bisa membawa Nyonya untuk pemeriksaan lebih lanjut agar dapat mengetahui perkembangan bayi kalian pada dokter obgyn,'' sambung sang dokter.
''Ben masih tersenyum kikuk,'' Sekali lagi terimakasih dokter, saya akan mengantarnya ke sana.''
''Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu,'' ucap sang dokter menatap ketiganya.
Lindsay dan Ben mengangguk lalu Ben mengantar sang dokter dan perawat tersebut ke pintu.
Setelah dokter dan perawat itu pergi, Ben menutup pintunya lalu segera menghampiri Alea dan Lindsay.
Alea masih melamun memikirkan nasibnya ke depan.
Ben dan Lindsay terdiam masih menunggu Alea untuk membuka suaranya.
''Lea tenangkan dirimu,'' ucap Lindsay seraya memeluk Alea.
Ben masih menyimak.
Alea menangis di pelukan Lindsay,'' hiks..hiks..jadi ini bukan mimpi, Say? Aku benar-benar hamil anak si brengsek itu? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa, Say! Aku tidak ingin hamil!''
TIDAAAAKKK!!! AKU TIDAK INGIN HAMIL ANAK SI BRENGSEK ITU!!!!!''
Alea menjadi histeris dipelukan Lindsay.
Lindsay semakin memeluk erat Alea untuk menenangkannya.
Ben juga sigap menahan pergelangan tangan Alea yang terinfus karena sudah sedikit mengeluarkan darah akibat pergerakan Alea yang kasar.
''Lea tenanglah, jangan seperti ini,'' ujar Lindsay yang ikut menangis dan panik.
''Aku akan panggilkan dokter kemari, ucap Ben yang ikut panik melihat kondisi Alea yang sedang terguncang.
Saat akan menekan tombol untuk memanggil dokter, Alea menolak.
''Tidak! Jangan Ben, jangan panggil dokter lagi, aku tidak ingin bertemu dengan dokter!''
Ben mengurungkan niatnya untuk memanggil dokter seraya berkata, kalau begitu tenanglah!"
"Kau harus tenang, kau harus banyak istirahat, ingat pesan dokter,'' ucap Lindsay menghapus air matanya lalu melepas pelukannya pada Alea dan menatapnya ia juga menghapus air mata Alea.
''Jangan merasa bahwa kau akan sendiri saja menghadapi masalahmu, ada aku dan Ben yang akan selalu di sisimu untuk membantumu menghadapinya,'' hibur Lindsay sambil membelai lembut rambut Alea.
''Iya Lea, kau tak sendiri, ada kita di sini, jadi kumohon tenangkan dirimu dan jangan berpikir terlalu banyak untuk saat ini, fokuslah pada kesehatanmu itu yang terpenting. Kalau kau sehat, pikiranmu akan lebih jernih untuk menghadapi masalahmu,'' Ben ikut menimpali sambil mengangkat tangan Alea dan menggenggamnya, menyalurkan kekuatan bahwa ia pasti sanggup melewati masa-masa sulitnya saat ini.
Alea akhirnya sedikit tenang setelah mendengar ucapan kedua sahabatnya itu, ia menarik nafas dalam-dalam lalu melepasnya pelan. Setelah itu, ia tersenyum ke arah mereka.
__ADS_1
''Terimakasih untuk semua perhatian kalian padaku. Aku sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkanku sahabat-sahabat yang luar biasa seperti kalian.''
Ben dan Lindsay terkekeh. Mereka lega mendengar ucapan Alea yang mulai tenang.
''Oh, ya, kau bilang ingin makan bubur gandum kan? Kalau kau masih menginginkannya, aku akan keluar sebentar untuk membelinya atau kau mau yang lain?'' Tanya Ben.
Alea mengangguk,'' masih, Tapi apa aku tidak merepotkanmu?'' Tanya Alea
Ben tersenyum lalu berkata,'' Aku siap direpotkan olehmu kapan saja, jadi jangan sungkan padaku.''
Alea tersenyum mengangguk,'' Baiklah bersiaplah aku akan sering merepotkanmu.''
''Baiklah aku pergi dulu,'' ucap Ben lalu keluar dari ruangan Alea.
Sepeninggal Ben, Alea bertanya pada Lindsay,'' Say, menurutmu apa aku sanggup?''
''Tentu saja Aleaku sanggup, dia wanita yang sangat kuat,'' ujar Lindsay menyemangati Alea.
Alea tertawa, kau sengaja berkata seperti itu hanya untuk menyemangatiku kan? Padahal kenyataannya aku begitu rapuh, Say. Aku--
''Hei jangan bicara seperti itu lagi, kau tetap Aleaku yang hebat dan kuat,'' ujar Lindsay sambil menggenggam erat tangan Alea.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, pintu terbuka.
Ceklek
Muncul Ben dengan membawa dua paperbag. Ia lalu meletakkannya di meja.
''Kau cepat sekali Ben.'' Kata Alea.
Ben tersenyum,'' Ya penjual bubur gandum ternyata ada yang dekat dengan rumah sakit ini.'' Kata Ben seraya membuka salah satu paperbag dan mengeluarkan dua mangkuk bubur gandum, satunya ia berikan untuk Lindsay dan satunya masih ia pegang.
''Aku akan menyuapimu,'' ucap Ben pada Alea.
''Lalu kau bagaimana?'' Tanya Alea.
''Aku masih sangat kenyang, jangan khawatirkan aku,'' ujar Ben lalu membuka tutupan mangkuk tersebut dan mulai menyendokkan isinya kemudian menyuapi Alea.
Begitu pula Lindsay yang mulai memakan buburnya.
''Bagaiman rasanya, enak tidak?'' Tanya Ben.
Alea mengangguk,'' rasanya sangat enak.''
''Hu'um, bubur gandumnya sangat enak,'' timpal Lindsay.
Sepuluh menit kemudian mereka telah selesai makan, Ben membuka paperbag yang satunya lalu mengeluarkan air mineral dan beberapa vitamin Alea yang tadi sempat ia tebus di apotik.
''Minum vitaminmu dulu,'' Ben menyodorkan vitamin untuk Alea.
Alea mengambilnya lalu menelan vitamin tersebut.
''Setelah ini kau istirahatlah, kami akan menungguimu hingga selang infusmu dicabut.
Alea mengangguk, lalu ia dibantu oleh Lindsay untuk kembali berbaring.
...****************...
Setelah selang infus dicabut, Alea dan kedua sahabatnya bersiap kembali ke apartemen. Alea juga sudah terlihat sehat dan segar.
Saat melewati ruang dokter obgyn, Alea berhenti sejenak, ia memegang perutnya yang masih rata tersebut, menimbang-nimbang apakah ia harus memeriksanya atau tidak.
''Kau ingin memeriksanya?'' Tanya Lindsay.
Alea menggelengkan kepalanya,'' tidak, ak-aku belum siap melihatnya, Maaf.'' Nada suaranya terdengar sedih tapi memang ia belum siap untuk memeriksakan kandungannya.
''Tidak apa-apa, kita akan datang lagi kalau kau sudah siap,'' ucap Ben seraya menepuk bahu Alea.
Alea mengangguk dan tersenyum pada kedua sahabatnya.
__ADS_1
Saat ini perasaannya masih abu-abu untuk menerima kondisinya. Bahkan terlintas pikiran jahat untuk menggu-gurkan kandungannya saja. Entahlah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia masih belum mau memikirkannya. Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ada perasaan hangat menyelimuti dirinya kala mengingat ada makhluk kecil yang Tuhan titipkan di rahimnya apalagi itu ada adalah buah cintanya bersama pria yang sudah menorehkan luka dihatinya tapi yang juga masih bersemayam indah di sana.