
Alea, Lindsay dan Arion baru saja kembali mengantarkan Ben pulang ke Amerika setelah Ben mengantar Arion kembali ke Trondheim.
Sebenarnya Alea kasihan juga pada Ben yang harus bolak-balik seperti itu, kadang-kadang ia menawarkan diri untuk menjemput Arion ke Amerika tetapi Ben selalu berkata bahwa ia tak pernah merasa terganggu atau capek melakukan hal itu karena ia sangat menyayangi Arion.
Ben tahu bahwa Alea masih sangat enggan untuk menginjakkan kakinya kembali pada tempat yang pernah memberinya kenangan indah sekaligus kenangan buruk di masa lalu itu meskipun sepuluh tahun telah berlalu.
Selama ini hanya Lindsaylah yang selalu bertemu dengan klien mereka jika klien tersebut berasal dari sana atau jika ada hal yang dikerjakan di sana.
''Grandma..,'' sapa Arion.
''Hai boy, mau berenang tidak?'' Tanya mommy Christine.
''Mau grandma,'' jawab Arion.
''Kalau begitu grandma akan membantumu ganti bajunya sayang.''
''No, thanks grandma, Arion bisa sendiri,'' tolak Arion sambil berlari ke kamarnya.
Alea, Lindsay dan mommy Christine hanya tertawa melihat tingkah Arion yang sudah mulai merasa malu jika mereka ingin mengganti pakaiannya.
''Tak terasa Arion kita sudah besar, ya,'' ucap mommy Christine terharu.
'' Iya mom.''
''Iya mom.''
Jawab Alea dan Lindsay serempak yang juga ikut terharu sambil memandang Arion yang telah hilang di dalam kamarnya.
''Ya sudah, ganti baju kalian, mommy sudah membuat jus mangga segar, segeralah bergabung bersama kami, ada daddy dan
Rian yang sedang berenang.'' Setelah berkata demikian, mommy Christine segera berlalu kembali bergabung dengan suami dan putranya di halaman belakang.
Alea, Lindsay dan Arion bergabung bersama daddy James dan Rian di kolam renang sedangkan mommy Christine hanya melihat mereka sambil menikmati jus mangga. Sesekali ia tertawa melihat suami, anak-anaknya dan juga cucunya membuat hal yang lucu.
Setelah berenang hampir tiga puluh menit, mommy Christine menyuruh mereka berhenti dan naik ke atas.
''Ayo semuanya, sudahi berenangnya ya, saatnya naik ke atas,'' ucap mommy Christine, tak lupa ia menyiapkan bathrobe untuk mereka.
Mendengar perkataan mommy Christine, mereka semua pun menyudahi acara renangnya padahal lagi asyik-asyiknya namun apa boleh buat jika ibu suri sudah bertitah sang suami pun tak bisa berbuat apa-apa atau ia yang akan jadi korban tidur di luar tanpa pelukan istrinya.
''Mommy, waktu di Amerika aku bertemu dengan uncle jahat,'' Arion berkata saat mereka sedang menikmati jus mangga.
''Uncle jahat??? Tanya mereka serempak.
Arion mengangguk dan mulai bercerita tentang pertemuannya bersama pria yang ia tabrak di bandara yang lebih nyaman ia sebut dengan uncle jahat.
Mereka jadi semakin penasaran saat Arion mengatakan wajah pria itu sangat tak asing pada pandangannya.
''Setelah di bandara, Arion juga bertemu dengannya di mall saat sedang bersama mommy Emily, Arion baru akan menghampirinya tapi uncle jahat itu tiba-tiba menghilang, jadinya Arion tak bisa mengambil bola keberuntungannya. Tapi wajah uncle jahat itu benar-benar tak asing loh, mom. Arion seperti pernah melihatnya tapi dimana ya?'' Arion terlihat berpikir.
Sementara Alea merasa jantungnya mulai tak aman, ia takut apa yang dipikirkan itu benar.
__ADS_1
Lindsay lalu bertanya,'' seperti apa ciri-cirinya boy?'' Ia penasaran jangan-jangan...
''Dia itu sangat tampan, tinggi, badannya itu tegak, warna matanya coklat, berlesung pipi, tatapan matanya itu tajam.'' Arion menjelaskan detail ciri-ciri uncle jahat itu.
Deg!
Alea tersentak, kenapa ciri-cirinya mirip dia?Ah, mana mungkin, ada banyak tipe orang yang seperti itu. Ia tetap bersikeras bahwa pemikirannya salah. Namun tak dapat dipungkiri perasaannya sedikit tak baik-baik saja.
Begitu pula dengan Lindsay dan lainnya namun mereka juga menepisnya karena kalau ada yang janggal, Ben pasti sudah memberitahu mereka.
''Tapi di masa depan Arion ingin mommy punya suami yang seperti uncle jahat, jadi Arion akan punya daddy juga seperti dia, pasti seru!'' Arion tersenyum girang sambil mengingat wajah uncle jahat itu.
Semua yang mendengar perkataan Arion tampak bingung, kenapa Arion jadi aneh?
''Sayang, katanya unclenya jahat tapi kenapa Arion mau punya daddy yang seperti dia?'' Tanya Lindsay yang diangguki oleh semua orang dewasa di situ.
''Entahlah ma, walaupun unclenya menyebalkan tapi Arion ingin punya daddy sepertinya, padahal kemarin Arion mau menawarkan perdamaian dengannya,'' jawab Arion lesu.
Hahhhh???
Semua kembali menganga dibuat Arion. Ada apa dengan anak ini, kok semakin aneh? Pikir mereka.
''Perdamaian apa, boy?'' Tanya daddy James makin penasaran.
''Melupakan masalahku dan dialah granpa, aku ingin mengenalkannya pada mommyku yang cantik ini, siapa tahu mommy suka, iya kan mom?''
Alea hanya tertawa menanggapi ucapan sang putra, meski dalam hatinya merasa sedih karena putranya ternyata merindukan sosok ayah sampai ingin menjodohkannya juga.
''Daddy Ben kan jauh dan sudah memiliki mommy Emily, uncle, sebentar lagi sudah mau punya baby juga, Arion maunya daddynya tinggal sama kita jadi Arion tidak akan merepotkan daddy Ben lagi.''
Semua orang dewasa itu menarik nafasnya terlebih Alea yang baru mengetahui keinginan putranya, tapi bagaimana lagi hatinya seakan telah mati rasa dengan namanya cinta, trauma itu nyatanya masih ada sampai saat ini, ia mencoba untuk membuka hatinya dan memulai suatu hubungan namun ia tak bisa padahal banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi kekasihnya.
''Mommy mau tidak?'' Tanya Arion sekali lagi.
Alea menghela nafasnya, lalu menatap semua yang ada di situ, sepertinya mereka juga penasaran mendengar jawaban Alea, terlebih mommy dan daddynya yang berulang kali menyuruhnya membuka hati untuk cinta.
''Sayang, uncle jahat itu kan orang asing, belum tentu kita akan bertemu dengannya lagi,'' Alea mencoba memberikan alasan.
Arion tampak sedih,'' coba saja daddy Arion tidak meninggal, pasti sekarang kita sedang duduk bersamanya.''
Sekali lagi perkataan Arion membuat semuanya kembali terkejut.
Alea menjadi sedih melihat putranya yang ingin sekali memiliki seorang daddy di sisinya, apakah ini saatnya ia membuka hatinya? Ia juga semakin sedih karena harus terus menutupi kebohongan tentang daddy kandung Arion.
''Maafkan mommy sayang, ini yang terbaik untuk kita.'' Batin Alea.
''Boy, jodoh itu di tangan Tuhan, kalau Arion ingin seorang daddy, Arion harus berdoa pada Tuhan untuk mengirimkan seorang pria baik untuk mommy,'' mommy Christine memberi saran pada Arion.
''Benarkah grandma? Kalau begitu Arion akan melakukannya.'' Arion kembali riang membuat semuanya tersenyum lega.
Percakapan yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi Alea itu akhirnya berakhir setelah bibi Else mengingatkan mereka untuk segera membersihkan diri karena sebentar lagi makan malam telah siap.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu jauh di sana, duduk seorang pria di kursi kebesarannya sambil memegang sebuah bola di tangannya, ia menggenggam erat bola tersebut sambil mengetuk-ngetuk genggamannya di meja, ia terlihat sedang berpikir.
''Kau itu sedang memikirkan apa????'' Bisik Jack di telinga bosnya karena dari tadi ia memanggilnya namun bos sekaligus sahabatnya itu tak mendengarnya sama sekali.
Gie terlonjak kaget sampai melompat dari kursinya karena itu bukan bisikan lagi melainkan teriakan yang memekakkan telinganya.
''Apa kau itu sudah bosan hidup, hah?!''
''Lagipula ini masih di kantor kenapa tak sopan pada bosmu?!''
Kau mau kukirim kembali supaya uncle dan aunty menjodohkanmu lagi?'' Omel pria itu yang tak lain adalah Gie sambil mengusap-usap telinganya yang masih mendengung.
''Eh jangan tuan, saya hanya bercanda lagipula tadi saya sudah memanggil anda tapi anda tidak menyahuti panggilan saya tuan. Apa terjadi sesuatu?'' Jack sebenarnya kesal dengan Gie yang selalu menyebalkan tapi ia harus tetap menurut padanya biar posisinya aman, mana mau ia dikirim kembali ke Amerika, pada saat ini ia dan Gie sedang berada di Australia karena Gie telah membangun bisnisnya di sana.
Gie akhirnya kembali duduk di kursinya, lalu kembali memainkan bola yang ada di tangannya,'' aku sedang penasaran,'' jawabnya.
''Penasaran tentang apa? Dan lagi bola apa itu? Sejak dari Amerika kau menjadi aneh dengan membawanya kemana-mana, apa itu sebuah jimat keberuntungan?'' Jack penasaran juga dengan mainan itu dari waktu melihatnya ia ingin bertanya tetapi selalu lupa.
''Banyak sekali pertanyaanmu!'' Omel Gie.
"Salah lagi!" Dengus Jack dalam hati.
Gie menarik nafas," Hufft, entahlah aku bertemu dengan seorang anak kecil di bandara, matanya, wajahnya, senyumnya dan sikapnya benar-benar mirip dia, seperti ada sesuatu yang membuatku tertarik untuk mendekatinya.''
Gie lalu bercerita tentang pertemuannya dengan bocah yang sudah membuat pikirannya akhir-akhir ini terganggu. Saat ia lelah atau stres, ia mulai membayangkan wajah bocah tersebut pasti ada kedamaian yang ia rasakan apalagi setelah menggenggam mainan bola milik bocah, ia semakin merasa itu adalah jimat keberuntungannya.
Beberapa kali ia menghadapi kesulitan dalam bisnisnya namun saat menggenggam mainan bola yang selalu ia bawa dibalik saku jasnya tersebut pasti ada saja keajaiban yang ia dapatkan sehingga dalam beberapa hari ini perusahaannya berkembang pesat. Semua proyeknya berjalan dengan lancar.
Sungguh aneh memang, kalau ada yang mendengar ceritanya pasti mereka mengatakan bahwa itu hanya suatu kebetulan namun tidak bagi Gie itu semua karena bocah dan mainannya itu. Lalu siapa bocah itu? Awalnya ia berpikir, mungkinkah dia adalah anak wanita itu? Tapi saat ia mendengar bocah itu memanggil mommy pada wanita yang dilihatnya di pusat perbelanjaan ia bernafas lega sekaligus kecewa.
Kecewa? Tidak, ia tidak kecewa hanya saja...ah, ia jadi pusing dengan perasaannya sendiri. Biarpun begitu ia tetap saja masih penasaran jadi ia ingin mendekatinya, saat sedang berjalan menghampiri bocah tersebut tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama sang putri di layarnya sehingga membuatnya senang lalu mengangkatnya makanya juga ia jadi melupakan tujuan mendekati bocah tersebut yang sepertinya ingin menemuinya juga, ia jadi berbelok arah. Setelah ia selesai menerima panggilannya, ia baru sadar bahwa ia ingin menemui bocah tadi. Ia berlari kembali ke tempat tadi namun bocah itu sudah pergi, akhirnya ia kembali dengan penuh kekecewaan.
Setelah mendengar cerita Gie, Jack juga menjadi penasaran dengan bocah itu,'' siapa dia? Kenapa tidak bilang waktu kita disana? Kita kan bisa mencari tahunya.''
''Pertemuannya terlalu singkat, aku berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengannya, setidaknya untuk saat ini, aku punya jimat mainannya.''
Jack mengangguk setuju.
''Ngomong-ngomong, bagaimana pertunanganmu? Apa kau yakin bertunangan dengannya?'' Tanya Jack.
''Hm, hanya demi Elf.'' Gie berkata sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
''Bagaimana dengan mommymu yang menentangnya?''
''Aku tidak peduli, aku ingin melihat Elf bahagia, hanya itu yang kupikirkan saat ini.''
''Kalau begitu terserah padamu, bersiaplah dua hari lagi acara pertunangan kalian.''
''Hm.''
__ADS_1