Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 43 Kebenaran 2


__ADS_3

Silly terpaku di tempatnya berdiri, rasa gugup, panik dan takut bercampur dalam dirinya, jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya melihat Justin yang babak belur dihadapannya. Apakah Justin telah mengatakan semuanya? Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Semua menoleh ke arah Silly, terlebih Gie dan Alea yang terlihat murka dengannya.


''Apa yang kalian lakukan pada teman ku?'' Silly pura-pura bertanya untuk memastikannya.


''Menurutmu?'' Alea balik bertanya.


''Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!'' Silly masih terlihat angkuh.


''Kalau begitu bersiaplah karena kebenaran sedang akan terungkap,'' jawab Alea santai.


''Aku tidak pernah menyangka kita pernah berbagi banyak hal dengan wanita licik sepertimu,'' Lindsay maju selangkah ke arah Silly lalu menamparnya.


Plak!


Rasa panas sekaligus terkejut dirasakan oleh Silly karena tidak pernah menyangka Lindsay akan menamparnya bahkan belum sempat ia menekan keterkejutannya Lindsay kembali menampar pipi sebelahnya lagi.


Plak!


Silly merasa geram dengan tamparan Lindsay.


"Kau-!


''Tamparan yang kuberikan padamu bahkan belum cukup untuk membayar apa yang telah kau lakukan pada, Lea! Lindsay memotong pembicaraan Silly yang hendak memarahinya bahkan Silly hendak balik menampar Lindsay namun tangannya kembali ditahan oleh Jack, ia tidak akan membiarkan Silly menampar wanita kesayangannya itu.


"Jangan sekali-kali menyentuh wanitaku atau aku akan mematahkan tanganmu!" Jack menepis tangan Silly dan memperingatkannya.


"Wanita sia-lanmu itu seenaknya menampar ku, brengsek!" Maki Silly pada Jack.


"Kau pantas mendapatkannya bahkan seperti kata, Say, seharusnya lebih dari itu!" Balas Jack.


Sementara Alea menghapus sudut matanya yang basah karena terharu melihat Lindsay membalasnya, ia juga sangat terkejut saat Lindsay menampar Silly tadi.


Gie hanya diam di tempatnya, ia sebenarnya mulai dilanda rasa takut sekarang, bagaimana kalau selama ini ia yang salah paham dengan semuanya? Alea pasti akan sangat membencinya. Tidak! Kalau benar hanya salah paham berarti ia juga adalah korban di sini.


Ia menoleh ke arah Justin yang diam tak bergerak sedikitpun di tempatnya.


Jack menarik Silly kasar untuk mendekat ke arah Justin.


"Katakan Silly kalau kau yang telah merencanakan semuanya untuk menjebak Alea, sepuluh tahun yang lalu," Justin langsung melemparkan perkataan pada Silly setelah Jack membawa Silly ke hadapannya.


Silly menghempaskan kasar tangan Jack dan menatap Justin tajam,'' jangan sembarangan menuduh ku, kalian berdua yang bermain api di belakang kami tapi malah menuduh ku yang merencanakan semuanya!''


''Sampai sejauh ini aku belum mengerti sedikitpun dengan semuanya ini, tolong diperjelas apa yang sebenarnya terjadi, Justin !'' Alea maju dan melihat ke arah Justin meminta penjelasan karena ia masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.


''Aku bilang jangan berbicara sembarangan, Justin!!'' Silly menghardik Justin.


Justin tersenyum miring pada Silly. Ia dapat merasakan ketakutan yang terpancar dari wajah Silly saat ini namun ia juga tak dapat mundur sekarang apalagi lari dari situ atau ia akan mati di tangan Gie. Ia tahu seberapa kejam Gie jika sudah marah. Setidaknya jika ia membuat pengakuan sekarang ia akan mendapatkan keringanan untuk tetap hidup walau harus babak belur dihajar.


''Maaf Silly, sudah saatnya mereka semua tahu tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu.''


''Aku bilang--


''DIAM!!!!!''


Gie membentak Silly dan Justin, semua yang ada di situ dibuat terkejut dengan suaranya yang menggelegar.


''Kalian berdua terlalu bertele-tele! Cepat jelaskan apa yang terjadi!'' Hardik Gie.


''Gie, jangan percaya apa yang dikatakan oleh si brengsek ini, dia hanya ingin merusak hubungan kita, mereka berdua pasti sudah bersekongkol untuk menghancurkan hubungan kita,'' ucap Silly mencoba mengacaukan pikiran Gie.


''Jangan terlalu mengada-ada, Silly! Aku tidak sepicik dirimu, atau kau takut kebohonganmu akan terbongkar? Kau memang wanita tak tahu diri!'' Alea mencengkram kerah baju Silly lalu memaksakannya untuk duduk di kursi berhadapan dengan Justin.


''Ceritakan Justin!'' Titah Alea.


Justin menarik nafasnya,'' Baiklah.''


Justin mulai menceritakan kejadian waktu itu sambil menatap Silly yang menggelengkan kepalanya berharap Justin tak membuka segala kebohongannya, hancur sudah segala impiannya.


Flashback on


"Aku butuh uang, Silly. Bisakah kau pinjamkan untukku?" Tanya Justin.


Saat ini keduanya tengah berada di apartemen baru Silly.

__ADS_1


Silly tersenyum lebar ke arah Justin dan berkata,'' aku bukan hanya sekedar meminjamkannya untukmu tapi kau tak usah mengembalikannya padaku, jumlahnya sangat besar asal kau mau membantuku.''


Justin terlihat senang lalu bertanya,'' apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, aku akan membantumu sebisaku."


"Benarkah?''


Justin mengangguk,'' tentu saja.''


''Kalau begitu bantu aku memisahkan Alea dan Gie, bantu aku membuat Gie membenci Alea dan pergi meninggalkannya.''


APA???!!! KAU GILA???!!!'' Justin berteriak kaget dengan perkataan Silly.


Ia tak habis pikir bagaimana bisa Silly memiliki hal jahat seperti itu di pikirannya? Bukankah Alea adalah sahabatnya?


''Jangan berteriak seperti itu padaku, Justin! Apa ada yang salah dengan perkataanku?'' Silly kesal dengan teriakan Justin.


''Bukankah Alea sahabatmu? Kenapa kau mau menghancurkan hubungannya dengan Gie? Kau pikir kau masih waras memiliki rencana seperti itu? Jangan gila Silly!''


Silly menatap tajam mata Justin, ia tidak terima dengan perkataan Justin seperti itu.


"Aku masih sangat waras, Justin! Aku tidak ingin bersahabat dengan wanita sok berkuasa dan sok cantik seperti dia, dia selalu membuat dirinya dominan di antara kami, merasa dirinya hebat, lagipula aku juga telah jatuh cinta dengan Gie, menurutku Gie lebih pantas bersamaku daripada wanita murahan sepertinya, aku rasa Gie hanya bertahan di sisinya karena tubuh murahannya itu.''


" Astaga Silly, jadi kau iri dengan Alea?''


"Aku iri dengannya?'' Silly tersenyum miring.


"Tentu saja tidak! Aku hanya ingin memberinya pelajaran, agar lebih menghargai orang-orang di sekelilingnya.'' Silly tetap mempertahankan egonya bahwa ia sebenarnya tak iri dengan Alea.


''Dilihat dari manapun, kau sebenarnya iri dengan Alea,'' Justin tetap yakin dengan persepsinya.


Silly mencebik kesal,'' sudahlah, jangan bertele-tele, itu menjadi urusan pikiranku, kau hanya perlu menjawab tawaranku.''


"Kalau begitu aku menolaknya, meski aku baru bertemu dengan Alea beberapa kali saja dan tidak mengenal Gie lebih dekat hanya sekedar tahu tentang sosoknya yang tempramen itu, tetapi aku sudah menganggap Alea adalah temanku dan tak ingin Gie mencincangku hidup-hidup, jadi maaf Silly, aku tidak bisa menghancurkan hubungan mereka.''


''Kau yakin, tidak membutuhkan uang untuk keperluanmu? Aku akan memberimu uang tiga kali lipat dari yang kau butuhkan. Bagaimana?''


Justin terkejut dengan tawaran Silly, dilema menghantuinya, posisinya serba salah, ia tampak berpikir keras.


Silly menatap Justin dari tempat duduknya, ia berharap Justin menyetujuinya.


''Baiklah, aku terpaksa setuju membantumu, karena aku sangat butuh uang,'' Justin telah berencana setelah menuruti keinginan Silly, ia akan kembali ke negaranya, jadi ia tak perlu lagi terlibat dengan masalah Silly. Apalagi kalau harus bertemu Alea terlebih Gie.


Silly tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Justin mau membantunya, ia telah memiliki rencana menjebak Alea dan ia yakin rencananya akan berhasil.


Silly lalu menjelaskan apa saja yang akan Justin lakukan nanti, Justin sempat terkejut dengan rencana Silly, idenya benar-benar gila! Namun ia sudah terlanjur menyetujuinya jadi ia pun hanya menuruti rencana Silly saja.


...****************...


Dua hari kemudian Silly mulai menjalankan rencananya, ia sengaja mengajak Alea ke apartemen barunya tanpa Lindsay maupun Ben karena keduanya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing sementara Gie sedang pergi bersama-sama dengan teman-temannya.


Alea yang tengah gabut pun menyetujui ajakan Silly, Silly juga menyarankan agar Alea jangan memberitahu Gie karena ia takut Gie tidak akan memberikan Alea izin untuk pergi tanpanya.


Tanpa berpikir macam-macam, Alea setuju dengan saran Silly, toh, mereka juga hanya pergi sebentar untuk membantu membereskan barang-barang di apartemen baru Silly.


Tiba di apartemen Silly, ternyata sudah ada Justin yang menunggu mereka di sana.


Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka mulai membantu Silly membereskan barang-barangnya.


Silly datang membawa minuman untuk Alea dan Justin.


Keduanya pun langsung mengambilnya dan meneguknya karena mereka juga merasa sangat haus, tanpa rasa curiga sedikit pun Alea terus meneguk minumannya hingga tandas.


Selang beberapa menit, Alea merasa kepalanya terasa berat, matanya juga mulai sayu karena rasa kantuk yang hebat menyerangnya.


''Sill, kenapa aku rasanya ingin tidur?'' Tanya Alea yang tengah berusaha membuka lebar matanya yang mulai berat.


''Kau lelah? Kalau begitu istirahatlah sebentar di kamarku,'' jawab Silly sambil membimbing Alea ke kamarnya.


''Tapi pekerjaannya belum selesai.''


''Tidak apa-apa, Lea, ada Justin yang masih membantuku.''


Silly mengantar Alea ke kamarnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Justin yang hanya memperhatikan mereka berdua dari tadi.


Alea langsung menjatuhkan tubuhnya tak sadarkan diri di ranjang Silly, melihat itu Silly melebarkan senyum devilnya.

__ADS_1


''Kehancuranmu sudah di depan mata Aleandra!'' Hahaha...


Silly memanggil Justin masuk ke kamarnya, sesuai dengan rencana yang telah dibuat tempo hari mereka mulai melakukannya.


Justin masuk membawa kursi roda lalu menaruhnya di samping ranjang Silly, kemudian ia menggotong Alea dan mendudukinya di atas kursi roda, Silly langsung memakaikan Alea topi masker, sweater dan celana panjang, Alea dibuat seolah-olah tengah sakit. Setelah terlihat sempurna, mereka berdua pun membawa Alea keluar dari apartemen Silly, Justin yang mendorong kursi roda tersebut.


Mereka meninggalkan area apartemen Silly dengan menaiki mobil Justin. Tak lama kemudian mereka tiba di depan hotel Charlotte yang tak jauh dari apartemen Silly.


Setelah tiba, mereka langsung membawa Alea ke kamar yang telah dipesan Silly sebelumnya, mereka memainkan perannya dengan sangat apik, bercengkrama dan tertawa lucu agar tak ada yang curiga terhadap mereka selama mereka berjalan ke kamar.


Tiba di kamar hotel, Silly dan Justin langsung memindahkan Alea ke atas ranjang lalu melipat kursi rodanya dan meletakkannya di depan pintu.


Justin sedikit gugup namun ia sudah terlanjur melangkah sejauh ini jadi ia mencoba menepis semua perasaan yang campur aduk dalam pikirannya.


Setelah memposisikan Alea pada pose yang tepat, Silly mulai membuka atasan Alea kebetulan saat itu Alea menggunakan kemeja crop top dan celana jeans, ia juga membuka bra yang digunakan Alea untuk menutupi kedua squisynya.


Silly tersenyum jahat melihat Alea yang benar-benar tak sadarkan diri dan setengah bugil itu.


Silly turun dari ranjang menggantikan Justin yang juga sudah setengah bugil tanpa melepas celananya naik ke ranjang mendekat pada Alea, ia masuk kedalam selimut yang menutupi area bawah Alea yang masih mengenakan celana luarnya juga. Mereka terlihat seperti benar-benar te-lan-jang.


Sementara itu, Silly mengeluarkan pakaian yang lain dari dalam tas yang dibawanya, membuangnya asal, seolah-olah itu adalah milik Alea dan Justin yang telah membuka seluruh pakaian mereka.


Justin meneguk salivanya melihat ke arah kedua squisy Alea yang sangat menantang jiwa kelaki-lakiannya itu. Ia masih terus memandangi tubuh setengah polos Alea menatap kagum pahatan indah yang tersaji di depannya itu.


''Kenapa? Kau tertarik dengan tubuh murahannya itu?'' Pertanyaan Silly membuyarkan lamunan Justin yang langsung menoleh ke arahnya.


''Pantas saja Gie begitu menggilainya, dia begitu hot hanya sekali pandang saja,'' ujar Justin.


Silly terlihat sewot dengan perkataan Justin,'' sudah, jangan banyak bacot! Lakukan tugasmu sekarang, kau boleh mencicipinya, me-re-masnya atau kalau kau sudah tidak tahan kau bisa memasukinya, jangan sia-siakan kesempatan yang sudah ada di depan matamu!''


Justin terkejut dengan ucapan Silly, wanita gila pikirnya, walaupun ia sangat mengagumi Alea namun ia tak akan bertindak jauh terhadap Alea, ia harus menekan hasratnya.


Justin mulai melakukan tugasnya, ia mengecup bibir Alea lalu turun ke arah leher dan terus turun ke arah dada Alea namun ia berhenti dan memandang ke arah Silly.


Silly yang tengah merekam pun menjadi heran lalu bertanya,'' kenapa?''


''Aku tidak bisa melakukan lebih untuk area ini, aku rasa dengan sedikit merekam awalnya saja sudah bisa membuat Gie pasti sangat marah, kan?''


Silly terlihat berpikir sejenak lalu menyetujui permintaan Justin, ia akan mengeditnya nanti.


''Kalau begitu, posisikan dirimu agar terlihat sangat intim aku akan mengambil gambar kalian.''


Justin mengangguk, lalu mulai berpose seperti yang diminta oleh Silly.


Setelah puas mengambil gambar, Silly pun meminta Justin untuk berhenti, mereka harus kembali ke apartemen sebelum Alea bangun dari tidurnya.


Justin turun dari atas ranjang, memungut kemejanya lalu memakainya kembali begitu juga dengan Silly yang langsung memakaikan kembali kemeja Alea, ia mendandani Alea seperti saat mereka tiba tadi, keduanya lalu menaikkan Alea kembali ke kursi roda dan pergi dari kamar hotel tersebut.


Seperti saat pertama mereka datang ke hotel tersebut, tidak ada yang curiga sedikit pun saat mereka keluar dari hotel itu menuju ke mobil.


Rencana mereka berhasil, hingga tiba kembali ke apartemen Silly, Alea belum juga sadar, Silly langsung menyuruh Justin untuk mengangkat tubuh Alea dan menaruhnya di ranjang Silly. Ia membuka semua atribut yang tadi di pakaikan pada Alea, setelah itu ia membiarkan Alea tidur dengan pulas di ranjangnya.


Silly terus melebarkan senyum penuh kemenangannya, akhirnya semuanya berjalan sesuai ekspektasinya.


''Sudah puas?'' Tanya Justin.


Silly mengangguk,'' terimakasih Justin atas kerjasamanya, kau sangat luar biasa.''


''Mana bayaranku,aku harus pergi sekarang, selamat menjalankan misi selanjutnya, semoga berhasil, ingat jangan pernah melibatkanku, urusan kita telah selesai,'' peringat Justin pada Silly.


''Tenang saja, jangan khawatir. Aku akan mentransfer bayaranmu sekarang ke nomor rekeningmu.''


Silly menyambar ponselnya lalu mengetik sesuatu, tak lama kemudian ponsel Justin berbunyi, ia langsung mengecek notifikasi yang masuk ternyata pemberitahuan transaksi dari Silly untuknya, ia tersenyum senang melihat angka nominalnya, benar-benar fantastis.


''Aku tambahkan sedikit bonus lagi untukmu, bagaimana kau puas dengan bayarannya?'' Tanya Silly.


''Tentu saja, terimakasih Silly, aku pergi, selamat tinggal.''


Justin pergi meninggalkan apartemen Silly. Silly berbalik dan menatap Alea yang pulas.


''Setelah hari ini, kau akan kehilangan cintamu dan aku yang akan menggantikan dirimu di hati Gie, selamat menikmati kehancuranmu Aleaku tersayang.''


Silly tertawa dan membayangkan rencana selanjutnya yang akan berhasil.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2