
Gie tertegun setelah pintu apartemennya tertutup, ia memandang sekeliling ruangan di depannya, tampak rapi dan bersih tapi ada yang berubah, semua foto dirinya bersama Alea yang ia pajang di ruangan tersebut sudah tak ada lagi, tersisa satu foto dirinya yang tengah memegang medali saat memenangkan ajang pencak silat yang menggantung di ruangan itu. Terlebih apartemennya terlihat sepi tanpa penghuni.
Pikirannya tampak kalut, ia meletakkan buket bunga di atas meja, kemudian berjalan ke arah dalam, kali ini kamarnya bersama Alea yang dituju setelah ia melewati ruang televisi, dua kamar tamu dan dapur dengan perasaan campur aduk.
Ceklek
Deg!
Sekali lagi ia terkejut karena kamarnya juga tampak rapi tetapi semua halnya bersama Alea tak terlihat lagi. Ia melangkah masuk dan menuju ke walk in closet, membuka semua lemari yang ada di situ, namun ia kembali terkejut karena semua barang- barang Alea tak ada lagi, yang tersisa hanya semua barang miliknya. Ia beranjak keluar membuka kamar mandi berharap ada Alea di dalamnya hasilnya sama saja. Akhirnya ia memeriksa seluruh ruangan apartemennya bahkan sudut-sudut yang mustahil ada Alea di situ pun diperiksanya.
Ia mengusap kasar wajahnya. Kemana Alea pergi? Apa dia ikut marah dengannya atau dia telah move on darinya dan bersama dengan orang itu? Atau keluarganya marah karena telah mengetahui isi surat yang ditulisnya lalu membawa Alea pindah dari apartemennya? Banyak pikiran berkecamuk dalam otaknya sampai ia mengerang frustasi.
Aaaaakhhh.......
Ia lalu melemparkan tubuhnya ke ranjang memejamkan matanya sambil meraba-raba sisi ranjang tersebut, teringat akan momen-momen indahnya bersama Alea saat melakukan pillow talk atau saat mereka memadu kasih.
''Kamu dimana, Lea?'' Gumamnya.
Tiba-tiba ia bangkit berdiri, ia teringat akan sahabat-sahabat Alea. Satu persatu ia mendial nomor ponsel mereka, tidak ada yang bisa dihubungi.
''Kemana mereka?'' gumamnya lagi.
Akhirnya ia putuskan pergi ke kampusnya dulu siapa tahu ia bertemu mereka di sana.
Ia berjalan keluar dari kamarnya melintasi ruang tamu ia melihat buket bunga yang tadi ia pesan tergeletak di atas meja,'' sebentar aku cari pemilikmu dulu ya,'' ujarnya pada buket tersebut seakan-akan buket itu bisa berbicara dengannya.
Lima belas menit ia menaiki taksi, ia tiba di kampus. Suasananya masih sama. Dengan wajah datar ia masuk ke dalam, beberapa orang yang mengenalnya cukup terkejut dengan keberadaannya karena yang mereka tahu ia telah mengundurkan diri dari kampus.
Tak peduli dengan pandangan orang yang tengah menatapnya ia terus melangkah menuju fakultasnya.
''Gieeee.....'' Teriak Carol.
Gie menoleh dan melihat Carol yang tengah tersenyum dan berlari menghampirinya.
__ADS_1
''Lama tak bertemu, kau pindah kemana?'' Tanya Carol setelah tiba.
Tanpa menjawab pertanyaan Carol, Gie langsung menanyakan hal lain,'' Kau lihat Alea?''
Kening Carol berkerut, rasanya aneh kalau Gie bertanya Alea padanya, apa dia tidak tahu kalau Alea juga sudah pindah?
''Car?'' Gie memanggil Carol yang terlihat bingung memandangnya.
''Ah iya, kau tidak tahu? Rasanya aneh kalau kau bertanya padaku soal Alea, kalian benar-benar sudah berakhir ya?'' Pertanyaan Carol membuat Gie jengkel, ia butuh jawaban tentang keberadaan Alea bukan bertanya hal yang menurutnya tidak penting untuk ia jelaskan pada Carol.
''Jangan ikut campur apapun, kalau kau tidak tahu, ya sudah!" Gie menjawab ketus sambil berlalu dari hadapan Carol yang langsung terlihat kesal, pria ini selalu saja kasar pada semua orang hanya pada Alea saja ia akan bersikap lemah lembut.
Sambil menahan kekesalannya Carol berkata,'' Alea telah berhenti kuliah di sini sekitar empat bulan yang lalu.''
Deg!
Perkataan Carol membuat langkah Gie yang telah berjalan membelakanginya terhenti. Ia sangat terkejut, dengan dada yang bergemuruh ia berbalik lalu mendekat pada Carol.
''Maksudmu?''
''Jadi kau tidak tahu kemana Alea pindah?'' Tanya Gie, banyak pertanyaan mulai muncul di dalam benaknya.
''Ya, aku tidak tahu, waktu itu Alea berjanji akan memberitahu kami kemana ia dan Lindsay akan pindah tapi sampai sekarang mereka sangat sulit dihubungi.'' Jawaban Carol membuat Gie menahan nafasnya. Antara sedih dan juga ingin marah.
''Terimakasih atas semua infonya,'' Gie lalu berjalan meninggalkan Carol yang benar-benar kesal dengan dirinya karena langsung pergi begitu saja tanpa berbasa-basi lagi dengannya.
''Setidaknya dia tahu berterima kasih,'' gumamnya sambil menatap kepergian Gie. Meski kesal ia mencoba memaklumi sikap pria itu.
Sementara itu Gie terus berjalan mengitari fakultasnya berharap dapat bertemu dengan Ben, hanya pria itu yang menjadi harapannya untuk bisa menemukan Alea atau setidaknya ia mendapatkan alasan yang jelas tentang kepindahan Alea, apa karena dirinya atau karena hal lain.
Namun sudah dua puluh menit berjalan kesana kemari, ia tak bertemu juga dengan Ben. Capek juga kesal itulah yang dirasakan oleh Gie, apalagi ia harus membalas sapaan orang-orang yang mengenalnya. Ia akhirnya memilih duduk di taman sambil meneguk minuman mineral yang sempat dibelinya tadi.
''Gie?''Suara seseorang yang tak asing memanggilnya dari arah belakang. Ia menoleh dan mendapati Jack sedang melangkah ke arahnya.
__ADS_1
''Astaga, benarkah ini kau Gie? Aku benar-benar merindukanmu,'' ucap Jack sambil merangkul Gie yang juga balas merangkul sahabatnya itu.
''Kemana saja kau, dude? Kenapa kau sedikit kurus? Apa yang terjadi denganmu?'' Dan...''
''Astaga kenapa kau makin cerewet setelah aku pergi?'' Gie segera menghentikan pertanyaan-pertanyaan Jack yang malas untuk dijawabnya. Ia sedang pusing dan tak mau menjelaskan hal yang dianggapnya tak penting saat ini.
''Kau tahu kemana Alea pindah?''Gie bertanya pada Jack dan berharap Jack mengetahui sesuatu tentang mantan kekasihnya itu karena setahu dirinya Jack sangat menyukai Lindsay, mungkin saja mereka telah jadian saat ia pergi.
Mendengar pertanyaan Gie, Jack menekuk wajahnya, mendadak jadi suram, membuat Gie menghela nafasnya kasar karena pasti sahabatnya itu telah dibuat patah hati oleh Lindsay.
Hufft...
''Jadi kau juga tidak tahu ya? Kemana lagi aku harus mencarinya,'' gumam Gie sambil menatap ke langit.
''Ya kau benar, aku tidak tahu dan tak ingin tahu! Biarlah mereka pergi yang jauh!'' Jawab Jack ketus. Ada rasa marah dalam ucapannya.
''Kenapa? Lindsay menolakmu?'' Tanya Gie penasaran.
''Hmm, aku sampai sekarang masih bingung kenapa Lindsay mendadak ikut bersama Alea? Sebenarnya aku sempat mencari informasi tentang kepindahan mereka tapi itu sangat sulit, mereka benar-benar menghilang tanpa jejak.'' Jawab Jack. Ia memang kecewa dan bilang akan membenci Lindsay tapi kenyataannya ia terus mencari tahu tentang pujaan hatinya itu, ada perasaan rindu yang begitu besar meski ia membencinya.
''By the way, ada juga hal penting yang masih membuatku bingung sampai detik ini, yakni hubunganmu dengan Alea. Kenapa kau tiba-tiba pergi? Masalah apa sampai kau begitu tega meninggalkannya? Kau tahu, dia seperti orang gila mencarimu kesana kemari, aku pernah dengar dari Lindsay bahwa ia benar-benar stres dan selalu menangisimu,'' perkataan Jack membuat Gie terkejut.
Benarkah Aleanya sampai seperti itu? Tapi tiba-tiba ia teringat lagi alasan kepergiannya dulu membuat ia kembali menghela nafas kasar.
Hufft...
Gie kemudian menceritakan segalanya pada Jack. Sebenarnya ia tak ingin memberitahu siapa pun tapi Jack adalah orang yang dapat dipercayai karena ia juga butuh seseorang yang bisa memahaminya. Cerita Gie membuat Jack sangat terkejut. Tapi ia merasa tidak yakin Alea bisa berbuat seperti itu pasalnya Alea sangat mencintai pria dihadapannya ini.
''Apa kau yakin itu adalah Alea? Bisa saja ada seseorang yang tak menyukai hubunganmu dan Alea lalu sengaja mengeditnya.''
''Foto itu asli, ada videonya juga. Tapi aku sudah mengikhlaskannya, aku akan berdamai dengan masalah itu, kenyataannya rasa cintaku sangat menyiksaku dibandingkan dengan rasa benciku padanya.''
Jack dapat memahami keadaan Gie. Ia juga seperti itu tetapi ia memilih untuk memupuk rasa bencinya agar dapat melupakan rasa cintanya juga pada Lindsay.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang, Jack memutuskan untuk menemani Gie mencari informasi tentang Alea juga keberadaan Ben saat ini.
Gie terlihat senang, ia juga tidak kesulitan jika mondar-mandir mencari informasi karena ada Jack dan mobilnya karena mobil yang biasanya ia gunakan dulu adalah mobil Alea, waktu itu mereka tinggal bersama jadi Gie memilih menjual mobilnya dan memakai satu mobil saja yaitu milik Alea. Mungkin Alea telah menjualnya karena ia telah menanyakannya pada pihak pengelola apartemen dan mereka bilang tak ada mobil yang ditinggalkan.