
Keesokan harinya Alea kembali ke hotel Gie. Antony telah menghubunginya untuk sarapan bersama di restoran hotel dan Alea mengiyakan permintaannya.
Saat ini keduanya tengah menikmati sarapan mereka.
''Maaf untuk tadi malam,'' Antony meminta maaf di sela-sela kunyahannya sambil menatap Alea.
Alea tersenyum mengangguk lalu bertanya,'' so, apa alasannya?''
Wajah Antony menjadi murung,'' aunty selalu menuntutku untuk segera menikah atau ia akan menjodohkanku dengan anak sahabatnya, jadi aku malas dengan segala usaha aunty dan mommy, itulah alasanku mengaku seperti itu, sekali lagi maafkan aku karena telah sengaja memanfaatkan dirimu.''
Alea tertawa,'' aku mengerti, tidak apa-apa. Kau sama sepertiku juga yang sering dijodohkan oleh orangtuaku tapi aku sering menolaknya juga.''
''Kalau begitu kita berjodoh saja, bagaimana?'' Tanya Antony sambil tertawa.
''Tidak, kau lebih cocok jadi kakakku saja,'' tolak Alea cepat dan tertawa lagi.
Antony juga ikut tertawa,'' aku hanya bercanda, mohon jangan terbawa perasaan,'' Antony berkata seperti itu tapi entah kenapa hatinya merasa kecewa mendengar penolakan Alea, mungkinkah ia sudah tertarik dengan wanita di depannya itu? Tapi, ya sudahlah daripada ia berkata serius dan Alea tak mau berteman lagi dengannya lebih baik seperti ini saja sudah cukup baginya, toh, kalau jodoh mereka pasti akan bersama juga pada akhirnya.
Alea tersenyum dan mengangguk. Mereka lalu meneruskan sarapannya tanpa bicara lagi.
Masih ada waktu satu jam untuk pertemuan terakhir mereka bersama dengan yang lainnya, hari ini mereka akan mengambil keputusan akhir dari setiap rangkaian rancangan acara pagelaran busana nanti, setelah itu semuanya akan kembali ke negara mereka masing-masing untuk mempersiapkan diri dan karya mereka.
Antony dan Alea berpisah di lobi hotel setelah selesai sarapan karena Antony harus mengurus sesuatu di perusahaannya yang ada di situ.
Saat ini Alea tengah berjalan ke arah lift sambil memainkan ponselnya ia tengah berbalas pesan dengan sang putra tanpa ia sadari ia masuk ke lift khusus corporate owner yang sedang terbuka saat itu dan tidak sadar kalau Gie sedang ada di dalamnya sambil menatap dirinya yang tengah tersenyum menatap ponselnya.
__ADS_1
Setelah selesai membalas pesan Arion, ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas lalu mengangkat wajahnya, ia terkejut ketika melihat pantulan wajah mantan kekasihnya pada pintu lift yang terbuat dari kaca tersebut.
Ia lalu memperhatikan sekelilingnya, ia baru sadar bahwa ini lift khusus, ah betapa bodohnya dia tak memperhatikannya sama sekali, sialnya lagi ia harus terjebak bersama pria yang tadi malam telah menyakiti hatinya itu.
Sebisa mungkin ia bersikap acuh dan pura-pura tak melihat, ia berharap cepat sampai ke lantai ke dua puluh tujuh dan menghilang dari pandangan pria brengsek itu.
Sementara Gie, dadanya bergemuruh hebat, ia ingin mengucapkan sesuatu tapi bibirnya terasa kelu dan akhirnya ia hanya memandang Alea dari samping dengan tatapan yang sulit diartikan, tiba-tiba goncangan hebat terjadi di susul dengan lampu lift yang mati- hidup lalu lift berhenti melaju.
Alea dan Gie menjadi panik, Alea yang berada sedikit di depan langsung menekan tombol alarm disusul dengan tombol berhenti, lift saat ini diam, ia langsung mengambil ponselnya hendak menghubungi Antony namun sialnya bertambah karena daya ponselnya habis.
Dalam hatinya ia ingin memaki nasib dirinya pagi ini, sementara Gie mulai mengeluarkan keringat dingin, saat ini ia sekuat tenaga menahan rasa sesak di dadanya, ia merasa de ja vu dengan situasinya saat ini ketika ia berumur lima tahun, ia dan Alea pernah terjebak di lift saat hendak menyusul orangtuanya di kantor. Ia begitu ketakutan sampai nafasnya terasa sesak, rasanya dunia seakan berhenti berputar, lalu di masa kini ia harus mengalaminya lagi, rupanya trauma itu nyatanya masih ada hingga sekarang.
Alea sadar dengan perubahan Gie yang mulai meringkuk di sudut lift dengan posisi mata terpejam dan nafasnya yang tersengal-sengal juga tubuhnya yang bergetar hebat, ia juga merasa de ja vu dengan situasinya, ia ikut panik namun sebisa mungkin ia mencoba tenang.
''Gie bertahanlah, jangan takut, ada aku di sini, semuanya akan baik-baik saja, sekarang atur nafasmu dan tarik secara perlahan,'' ucap Alea sambil melap lembut keringat di wajah Gie.
Gie membuka matanya kemudian mengikuti instruksi Alea, sesaat kemudian dia mulai bersikap tenang, lalu melihat ke arah Alea yang juga tengah menatapnya dalam kerlap-kerlipnya lampu lift.
Ia bangkit dari pangkuan Alea lalu duduk di depan Alea yang masih menatapnya, tiba-tiba jantung keduanya berdetak dengan sangat cepat.
Gie langsung memeluk Alea, sontak saja Alea terkejut dan langsung mendorongnya namun Gie mengeratkan pelukannya dan berbisik,'' tolong seperti ini sebentar saja, aku masih takut.''
Alea berhenti memberontak, ia hanya diam dan menutup matanya merasakan debaran jantung keduanya yang sama hebatnya tanpa membalas pelukan Gie. Ada perasaan yang tak bisa dijelaskan di antara mereka berdua.
Lima belas menit kemudian...
__ADS_1
''Aku merindukanmu, Lea, sangat merindukanmu,'' bisik Gie sangat pelan namun masih dapat didengar Alea.
Deg!
Jantung Alea kembali berdebar mendengar perkataan Gie, namun setelah itu ia mulai merasakan pelukan Gie yang mulai melemah, lalu kepala Gie terkulai di pundak Alea.
Gie pingsan!
Alea panik, ia lalu berusaha menjatuhkan tubuh Gie kembali ke pangkuannya, padahal kakinya juga mulai kram tapi ia tak mempedulikannya, ia mengguncang tubuh Gie, namun tak ada respon sama sekali, ia memegang pergelangan tangan Gie lalu memeriksa nadinya, syukurlah dia masih hidup katanya dalam hati.
Tak lama kemudian lampu lift kembali normal, sepertinya sudah selesai diperbaiki. pintu lift terbuka menampilkan Jack, Silly dan juga beberapa petugas hotel yang terlihat panik sedang berdiri di depan lift apalagi melihat kondisi Gie yang tak sadarkan diri mereka segera masuk dan mengevakuasi keduanya.
Jack dan dua orang petugas mengangkat tubuh Gie, mereka terlihat sangat tegang, sementara Silly histeris melihat kondisi Gie.
''Astaga sayang, apa yang terjadi denganmu, hah? Cepat bawa ke rumah sakit,'' teriaknya lalu kembali menatap tajam ke arah Alea yang sedang dibantu oleh salah satu petugas untuk berdiri karena kakinya mengalami kram, kemudian berkata,'' dan kau Alea, kita harus bicara setelah ini!'' Tunjuknya dan berbalik mengejar Jack dan dua petugas tadi yang telah membawa Gie ke pintu lift yang lain.
Alea hanya menatap datar ke arahnya lalu ia dibantu oleh petugas tersebut keluar dari situ, saat ini mereka sedang berada di lantai delapan hotel.
''Apa Anda baik-baik saja, Nona?'' Tanya petugas tersebut pada Alea.
''Saya baik-baik saja, Pak, terimakasih atas bantuannya, saya akan kembali ke kamar sendiri saja,'' jawab Alea setelah mereka berada di depan pintu lift yang lain.
Petugas tersebut pun mengangguk dan membiarkan Alea masuk sendiri ke dalam lift.
Alea kembali ke kamar hotelnya untuk membersihkan dirinya, satu setengah jam terjebak di dalam lift membuatnya sedikit terlambat menghadiri pertemuan terakhirnya.
__ADS_1