
Lindsay dan kedua orangtua Alea saat ini tengah mondar-mandir depan ruang tindakan Alea.
Kecemasan benar-benar meliputi ketiganya karena saat ini mereka belum mengetahui dengan pasti kondisi Alea.
Ceklek
Pintu terbuka, dokter keluar dari ruangan Alea. Ketiganya langsung menghampiri sang dokter.
''Bagaimana keadaan putriku, dok?'' Tanya Daddy James dengan raut wajah khawatir.
'' Jangan khawatir, kondisi putri anda sudah stabil, untung anda segera membawanya segera ke sini jadi janinnya bisa selamat. Saat ini putri anda hanya butuh istirahat, jangan membuat dirinya tertekan dengan hal-hal yang berat karena jiwanya sedikit terguncang,'' penjelasan sang dokter membuat daddy James terkejut.
''Ha-hamil? Putriku hamil maksud anda?''
''Ya tuan, Nona Alea saat ini sedang hamil enam minggu,'' tutur sang dokter.
Daddy James menjadi lemas sedangkan mommy Christine menutup mulutnya sambil menangis karena keyakinannya tentang sang putri memang benar.
''Anda semua sudah bisa menjenguknya. Kalau begitu saya permisi dulu,'' sang dokter akhirnya meninggalkan orangtua Alea yang tiba-tiba diam membisu.
Lindsay dapat melihat luka di mata kedua orangtua Alea.
''Uncle, aunty, tolong maafkan Lea. Dia juga sangat tertekan dengan kehamilannya. Tapi dia begitu berusaha menerimanya,'' Lindsay berusaha memberikan pengertian pada kedua orangtua sahabatnya itu.
''Sayang, masuklah bersama Lindsay, temani Lea di dalam. Aku di luar sebentar,'' ujar daddy James pada istrinya tanpa mendengarkan permohonan Lindsay.
Tanpa berkomentar lagi, mommy Christine masuk ke dalam ruangan Alea diikuti oleh Lindsay.
__ADS_1
Alea masih tertidur dengan nyenyak. Melihat keadaan putrinya, mommy Christine kembali menitikkan air matanya. Ini seharusnya menjadi kabar bahagia bagi mereka karena sebentar lagi mereka akan memiliki seorang cucu namun saat ini harus berubah menjadi kabar duka karena hal ini harus terjadi di waktu yang tak tepat.
Putrinya harus hamil tanpa seorang suami. Entah apa masalahnya sampai mereka harus berpisah setelah mereka telah sampai pada tahap ini dan apa yang membuat putrinya tak ingin Gie bertanggung jawab atas kehamilannya. Memikirkannya saja membuatnya pusing. Apa yang harus ia lakukan?
Sementara itu, daddy James sedang duduk termenung di taman rumah sakit. Ia juga tak kalah sedihnya mengetahui kenyataan yang dialami putrinya. Sebagai seorang ayah ia merasa gagal menjaga putri satu-satunya, putri yang selalu ia banggakan.
Meski ia begitu kecewa pada Alea, namun ia lebih kecewa dan marah pada dirinya sendiri yang begitu saja percaya dengan menyerahkan putrinya pada laki-laki yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu, untuk dijaga, dilindungi dan dicintai tetapi ternyata laki-laki itulah yang menyakiti putrinya.
Tangannya terkepal, amarahnya memuncak kala mengingat wajah Gie. Ia segera merogoh saku celana, hendak mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi keluarga Gie, namun ia urungkan mengingat putrinya yang memohon untuk tak ingin lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.
Daddy James meraup kasar wajahnya. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan Alea dan Gie.
Drrt
Drrt
Drrt
''Ya sayang?
''Kau dimana? Cepat kesini Alea histeris!''
'AKU TIDAK INGIN HAMIL !!! AKU TIDAK INGIN ANAK INI!!! AKU MEMBENCINYA!!!'
'BUAT DIA PERGI DARI PERUTKU, NANTI DADDY MARAH PADAKU!!!'
'PERGILAH SEPERTI DIA!!!'
__ADS_1
'Lea tenanglah... Please jangan berkata seperti itu...'
Daddy James terkejut mendengar suara histeris sang putri dan Lindsay yang tengah menenangkannya.
Ia segera menutup teleponnya lalu bergegas kembali ke ruangan Alea. Saat tiba di sana sudah ada sang dokter yang tengah menyuntikkan cairan ke dalam infus Alea.
''Apa yang terjadi dengan putriku, dok?'' Tanyanya.
''Saat ini putri anda sedang mengalami tekanan hebat, saya sarankan jangan sampai membuatnya memikirkan hal-hal yang bisa menyebabkan dirinya stres karena itu akan berdampak pada perkembangan janin dan kondisi psikis putri anda yang bisa mengalami depresi,'' ujar sang dokter panjang lebar.
''Saya mengerti, terimakasih atas penjelasannya, dok,'' jawab daddy James seraya mengantarkan sang dokter keluar ruangan setelah memberikan suntikan penenang bagi Alea.
Daddy James kembali menghampiri istri dan putrinya. Mommy Christine begitu sedih, meski sudah tak menangis lagi tapi tersirat luka yang dalam di wajahnya.
Lindsay tengah duduk di sebelah ranjang Alea yang kembali tertidur sambil menggenggam tangan Alea.
Matanya juga ikut sembab karena ikut menangisi keadaan sahabatnya itu.
Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Dan lagi, ia membuat sang putri tertekan. Ia memang ayah yang payah!
''Maafkan aku membuat putri kita tertekan, aku memang daddy yang payah. Di saat dia butuh sandaran aku malah membuat dirinya terguncang karena emosiku,'' Daddy James meminta maaf kepada istrinya.
''Tidak. Ini bukan salahmu dad, jangan bicara seperti itu, ini salahku sebagai seorang ibu aku lalai menjaga putriku, seharusnya aku lebih memperhatikannya, tapi aku membiarkan putri cantik kita...''
''Sst..., tenanglah sayang, setelah Alea sadar kita akan membawanya pergi jauh dari sini, ke tempat yang akan membuatnya tenang dan bahagia.'' Daddy James mencoba menghibur sang istri yang tengah duduk di sofa. Ia membawa wanitanya itu ke dalam pelukannya sambil membelai lembut rambut sang istri.
Ya, setelah melihat kondisi putrinya yang memprihatinkan, ia telah mengambil keputusan untuk membawa jauh sang putri dari semua hal yang dapat memicu kondisi psikis sang putri. Tidak apa-apa kalau putrinya harus hamil tanpa seorang suami, ia berjanji akan menjadi ayah dan kakek siaga bagi putri dan cucunya.
__ADS_1
Dia yang tadinya sudah berjanji untuk mencari tahu masalah putrinya tidak jadi lagi ia pikirkan. Persetan dengan hal itu! Yang terpenting putrinya harus bahagia.