
Gie telah pindah ke apartemennya yang baru, ya semenjak malam itu dia juga memutuskan untuk pindah dari apartemen lamanya untuk benar-benar memulai kehidupannya yang baru, ia juga menghubungi kedua orangtuanya perihal hubungannya dengan Alea yang sudah berakhir, daddynya telah menerimanya namun tidak dengan sang mommy yang sangat keberatan, sang mommy terus bertanya masalah apa yang membuat keduanya berpisah namun Gie tak ingin menjelaskan detail masalahnya yang hanya akan membuat mommy Britney pikiran. Alhasil sang mommy menjadi kesal dan marah padanya ditambah lagi dengan Alea dan keluarganya yang menghilang entah kemana. Masih seperti dulu ambisi sang mommy tentang keduanya agar terus bersama itu tetap melekat abadi jadi mommy Britney memutuskan akan mencari tahu sendiri.
Gie tak bisa melarang keinginan mommynya, biarlah sang mommy mengetahui faktanya sendiri dan bisa menerima semuanya dengan lapang.
Drrt
Drrt
Bunyi dering ponsel Gie memutus lamunannya. Tertera nama Jack, Gie segera mengangkat teleponnya.
''Halo Gie...''
''Ya bagaimana sudah ketemu? Kalau sudah ya cepat kembali aku sudah tak sabar ingin mencicipinya pasti rasanya sangat enak,'' Gie menelan ludahnya kasar saat membayangkan rasa kuah bakso yang segar dan gurih, salah satu kuliner favorit dari Indonesia, ia pernah berlibur bersama dengan Alea di Bali salah satu kota di Indonesia yang memiliki pusat pariwisata yang luar biasa indah.
Entahlah tiba-tiba ia jadi teringat akan makanan tersebut dan begitu menginginkannya, jadinya ia memaksa Jack untuk mencarikan makanan itu. Jack semakin kesal karena ia harus menempuh kurang lebih 3 jam setengah dengan mobil untuk mendapatkan makanan tersebut karena bakso itu hanya di jual kota New York saja.
"Kau harus bersabar, tgu 3 jam lagi! Keinginanmu ini benar-benar menyusahkanku, kau tahu, kau itu seperti wanita hamil yang sedang mengidam. Atau jangan-jangan kau telah menghamili seorang wanita? Jad...''
"Jangan sembarangan bicara, kau lupa aku tak bisa berdekatan dengan wanita? Memangnya salah kalau aku ingin makanan itu? Cepatlah kembali!'' Gie langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Diujung telepon sana, Jack sedang mengumpat jengkel sahabatnya itu,'' ck, untung aku menyayanginya kalau tidak aku sudah menaruh racun pada makanan ini!''
Hampir delapan jam Gie menunggu akhirnya ia dapat melihat wajah lelah Jack yang baru masuk ke dalam apartemen dengan membawa empat buah paperbag di tangannya, ia segera menghampirinya dengan senyum yang terkembang sempurna," terimakasih Jack, kau memang sahabat terbaikku,'' ucap Gie sambil menepuk punggung Jack.
__ADS_1
"Ck! Aku harap kau memakan semuanya, apa enaknya makanan seperti ini?'' Kesal Jack setelah menaruh semua makanan yang dibawanya di atas meja dapur dan menghempaskan bokongnya di sofa depan televisi.
''Aku akan panaskan dulu, setelah itu kau harus mencobanya, aku yakin segala perjuanganmu tak akan menjadi sia-sia setelah kau menikmati kelezatannya,'' Setelah berkata demikian, Gie lalu segera memanaskan bakso tersebut, Jack membelinya sangat banyak. Untunglah dipisahkan kuah, mie dan daging baksonya jadi sebagian dagingnya masih bisa disimpan di dalam kulkas.
Setelah beberapa saat, Gie menyajikan dua mangkuk bakso tersebut beserta dengan pelengkapnya seperti yang pernah ia makan kemudian ia memanggil Jack, namun pria itu tak menyahuti panggilannya, ia langsung menghampiri Jack, ternyata pria itu tengah tertidur sambil duduk di sofa, mungkin efek kelelahan karena perjalanan jauh yang ditempuhnya. Melihat Jack yang tertidur membuat Gie sebenarnya merasa bersalah dan iba, ia jadi tak tega membangunkannya tetapi tak enak juga jika ia makan sendirian akhirnya ia tetap membangunkan Jack juga.
Gie sedikit mengguncang tubuh Jack, membuat sang pemilik raga langsung terbangun dan langsung meminta maaf karena ketiduran.
''Maaf aku ketiduran, ada apa? Kau ingin sesuatu lagi?'' Jack memicingkan matanya setelah sepenuhnya sadar menatap curiga pada Gie, ia sedang lelah dan ia takut sahabatnya itu meminta hal aneh lagi yang akan menyusahkannya.
''Wah kau benar-benar bisa membaca pikiranku juga ya,'' Gie sengaja ingin mengerjai sahabatnya itu.
''Oh Gie, aku sedang lelah jadi kumohon kau jangan menginginkan hal aneh lagi atau aku akan berhenti menjadi sahabatmu!'' Ancam Jack.
Gie terkekeh,'' tenang saja aku hanya bercanda, cepatlah kau harus mencicipinya nanti makanannya menjadi dingin,'' Gie yang tak sabar langsung menarik tangan Jack dan menyeretnya ke meja makan, Jack pun hanya pasrah karena tubuhnya benar-benar lelah.
''Kau ini seperti orang kelaparan, pelan-pelan saja kenapa? Tidak ada yang akan mengambil makananmu itu, lagipula sejak kapan kau suka makan banyak cabe, Bukannya kau itu sangat tidak bisa makanan yang terlalu pedas? Bagaimana kalau perutmu bermasalah lagi? Tanya Jack yang penasaran sekaligus khawatir, sejak kapan sahabatnya itu bisa makan makanan pedas? Bukankah dia pernah dilarikan ke rumah sakit gara-gara makan makanan pedas demi Alea waktu itu?
Sejenak Gie berhenti mengunyah makanannya, ia juga heran kenapa dirinya akhir-akhir ini menyukai makanan pedas biasanya perutnya akan langsung bereaksi namun sudah keseringan ia makan yang pedas-pedas tapi tak ada reaksi apapun bahkan ia juga tak merasa kepedesan. Ah, sudahlah yang penting ia masih aman saat ini dan keinginannya tersalurkan.
''Habiskan makananmu, jangan cerewet seperti mommy, sangat disayangkan kalau kau membuang makanan seenak ini,'' ujar Gie tak ambil pusing dengan pertanyaan Jack.
Jack hanya menghela nafasnya kasar, terserahlah, mau bagaimana lagi Gie itu keras kepala dan kadang suka seenaknya juga menyebalkan tapi ia sangat nyaman bersahabat dengannya. Ia lalu melanjutkan makannya meski sudah tak ingin lagi dan mereka pun makan dalam diam sampai makanan mereka ludes.
__ADS_1
Dan hari-hari selanjutnya Gie begitu merepotkan Jack. Selama hampir tiga bulan ini ia selalu meminta permintaan yang aneh-aneh pada Jack layaknya perempuan hamil yang lagi mengidam, mulai dari ingin makan sushi di Jepang, pergi melihat kincir angin raksasa di Belanda, naik balon udara di Kapadokia, tak jarang juga ia bersikap manja pada Jack yang membuatnya kadang-kadang menjadi takut berdekatan dengan Gie, bahkan hal paling konyol yang Gie pernah minta padanya adalah pergi ke kebun binatang dan bertingkah layaknya anak kecil yang senang pergi ke sana.
Jack mulai berpikir, mungkin Gie mengalami gangguan jiwa karena pisah dari Alea walaupun aktivitasnya normal-normal saja seperti sudah benar-benar melupakan Alea tapi ia tahu bahwa setiap malam sahabatnya itu diam-diam selalu memandangi foto Alea kadangkala ia melihat Gie sampai menitikkan air matanya, mungkin ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya itu.
Ia pernah mengajak Gie pergi ke psikiater tapi Gie menolaknya bahkan Jack juga mengajaknya ke dokter untuk memeriksa kepalanya yang mungkin saja terbentur sesuatu yang membuatnya jadi aneh begitu namun Gie menjadi kesal padanya dan hampir menghajarnya karena ia dikira gila oleh Jack padahal ia sendiri juga merasa aneh dengan perubahan dirinya.
Setelah rentetan kejadian aneh itu berlalu, Gie kembali ke setelan aslinya menjadi Gie yang dingin, datar dan tak berperasaan bahkan menjadi tak tersentuh oleh siapapun, hanya Jack yang masih setia bersamanya menjadi sahabat rasa saudara yang mulai terbiasa dengan segala macam tingkah laku Gie karena ia juga memutuskan ikut kemana saja Gie berada, ia sudah seperti asisten Gie juga yang selalu melakukan apa saja yang Gie perintahkan padanya.
...****************...
Sementara nun jauh di sana seorang wanita muda tengah berjuang mengeluarkan seorang bayi dari dalam perutnya.
''Dorong terus nyonya...tarik nafasnya lalu hembuskan secara perlahan,'' instruksi dari sang dokter.
Keringat mengucur dari dahi Alea, ia terus berusaha mengeluarkan bayinya, Lindsay dan mommy Christine berada di sampingnya dan memegang erat kedua jemari Alea menyalurkan kekuatan pada Alea yang mulai kelelahan mengejan,'' ayo sayang kau pasti bisa, tahan sebentar lagi, ucap mommy Christine memberi semangat yang diangguki oleh Alea.
Sekali lagi Alea berusaha mendorong keluar bayinya dan akhirnya...
''oek...oek...oek.....''
Alea menitikkan air matanya setelah mendengar suara sang bayi yang menangis dengan nyaring setelah itu ia menutup matanya karena benar-benar kelelahan.
Daddy James dan si kembar yang begitu tegang tadi kini menjadi lega dan bahagia saat mendengar suara bayi Alea.
__ADS_1
Alea yang telah berjuang mengandung bayinya selama sembilan bulan dengan melewati berbagai tantangan kini berhasil mengubah statusnya menjadi seorang ibu begitu juga kedua orangtuanya yang juga telah menjadi kakek dan nenek bagi cucu pertama mereka, pun dengan si kembar dan Lindsay yang juga telah menjadi paman dan bibi bagi keponakan mereka.
Mereka akan memulai babak baru dalam hidup mereka dengan status masing-masing yang pastinya penuh warna dan kebahagiaan.