Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 45 Bertemu Arion


__ADS_3

Gie keluar dari kafe dengan pikiran yang kacau, hari ini adalah hari terberat yang pernah ia lewati dalam hidupnya, bagaimana tidak? Selama sepuluh tahun ini ia hidup dalam kebencian dan terombang ambing dengan perasaannya yang campur aduk pada wanita yang begitu ia cintai. Bahkan waktu yang begitu lama pun tak bisa menyembuhkan segala luka yang ia rasakan di masa lalu terlebih segala kebencian yang ia tujukan pada wanitanya itu adalah sebuah kesalahpahaman. Hati rasanya teriris melihat Alea yang mengeluarkan air mata karena dikhianati oleh sahabatnya sendiri dan difitnah oleh kekasihnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Alea pasti sangat kecewa dan mungkin akan begitu sangat membencinya.


Gie mengendarai mobilnya dan berhenti di sebuah taman. Setelah memarkirkan mobilnya ia masuk dan duduk di sebuah kursi yang ada di situ. Tak peduli dengan orang-orang yang memandang aneh terhadapnya karena saat ini penampilannya cukup kacau, rambut acak-acakan, bentuk dasi yang tak jelas, kemeja yang tak rapi ditambah dengan wajahnya yang suram walaupun tak sedikit pun melunturkan ketampanannya. Gie duduk termenung, ia tadi pergi begitu saja karena tak sanggup memandang wajah kecewa Alea padanya bahkan ia juga mungkin tak mampu mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk meminta maaf pada Alea.


''Maafkan aku, Lea. Aku yang salah, aku yang bodoh, maafkan aku. Setelah semua ini, masih bisakah aku memikirkan sebuah kesempatan untuk bisa bersama denganmu? Membayar semua pengkhianatan, penghinaan dan rasa sakitmu? Aku menyesal, Lea, teramat sangat menyesali semuanya,'' Gie bergumam sedih pada dirinya sendiri.


Ia masih menggenggam jimat penenang di tangannya sambil terus termenung.


''Uncle?'' Sebuah suara yang tak asing menyadarkan Gie dari lamunannya lalu menoleh ke arah sumber suara itu.


''Kau?''


Arion menghampiri Gie yang terlihat berantakan di pandangannya.


''Kenapa melamun di sini? Uncle punya masalah? Uncle terlihat berantakan sekali untung ketampanannya tak berkurang walaupun aku masih lebih tampan dari uncle.''


Hati Gie menghangat mendengar ocehan Arion yang sudah seperti sang mommy. Ia sedikit bergeser ke samping untuk memberikan Arion tempat duduk. Ia menghapus sudut matanya yang berair lalu tersenyum ke arah Arion.


''Kau sedang apa di sini?''Tanya Gie.


''Aku bertanya terlebih dahulu dan uncle tak menjawabnya malah balik bertanya.'' Sungut Arion.


Gie tertawa melihat wajah kesal Arion.


''Aku sedang tak baik-baik saja, seperti yang kau bilang aku punya masalah, kau bisa menghiburku?''


''Bagaimana aku bisa menghibur uncle kalau aku saja tidak tahu masalah uncle.''


''Benar juga, sebenarnya ini masalah orang dewasa kau akan sulit memahaminya kalau aku cerita padamu.''


''Uncle sedang patah hati?''


''Memangnya aku terlihat seperti itu?''


''Tidak tahu, tapi mungkin masalah orang dewasa salah satunya seperti itu.''


Gie merasa terhibur dengan semua ucapan Arion yang terlihat sangat polos.


''Hum, lebih dari patah hati, aku sedang membuat seseorang sangat kecewa padaku, mungkin saat ini dia sudah sangat membenciku.''


''Kekasih?''


''Bisa dibilang kekasih bisa juga dibilang mantan kekasih, aku bingung mengatakannya, tapi aku masih sangat mencintainya, dia seseorang yang sulit kuhapus dari hidupku.''


''Aku pusing dengan urusan uncle, tapi aku pikir uncle harus segera move on darinya.''


Gie mengerutkan keningnya, bingung dengan perkataan Arion.'' Kenapa aku harus move on darinya? Padahal di sini aku yang salah karena menuduhnya, aku sedang bingung bagaimana mendapatkan maaf darinya dan memulai semuanya dari awal lagi.''


''Kalian punya masalah, mungkin ini cara Tuhan memberitahu kalian bahwa kalian tak berjodoh.''


''Hei boy, kenapa berpikir seperti itu?''


''Mungkin saja begitu kan uncle? Mau kukenalkan mommyku pada uncle? Dia wanita yang hebat, sangat cantik, seksi, baik hati, pekerja keras dan peduli pada semua orang di sekitarnya, aku jamin uncle akan langsung lupa dengan masalahnya saat melihat mommyku.'' Arion terlihat antusias memperkenalkan sang mommy pada Gie.


Gie tertawa, ia mengerti sekarang kenapa bocah di depannya itu berkata seperti itu karena ia ingin menjodohkan dirinya dengan sang mommy.


''Kenapa uncle tertawa? Apa perkataanku ada yang lucu?''


''Tidak, kau ingin aku berkencan dengan mommymu?''


''Kenapa? Uncle keberatan?''


''Kalau seandainya aku jadi berkencan dengan mommymu dan kami menikah, kau mau aku menjadi daddymu?''


''Uncle tidak mau jadi daddyku?''


''Kenapa kau memilihku?''


''Entahlah, walaupun kadang uncle itu menyebalkan tapi aku menyukai uncle, jadi uncle tidak ingin berkencan dengan mommy?''


Tiba-tiba Gie menjadi senang mendengar bocah di depannya ini begitu antusias menjadikan dirinya daddy bagi bocah tersebut.


''Uncle? Kenapa tidak jawab?''

__ADS_1


Gie melihat ke arah Arion dengan serius.


''Dengar, terimakasih karena kau mau menjadikanku daddymu, aku juga sangat senang mendengarnya tapi aku minta maaf, aku tidak bisa berkencan dengan mommymu karena seperti yang aku bilang tadi, aku masih sangat mencintai wanitaku, kalau kau mau aku bisa menjadi daddy bagimu tanpa harus bersama dengan mommymu, bagaimana?''


Arion tampak sedih mendengar jawaban Gie.


''Tidak apa-apa kalau uncle tidak bisa, tapi aku juga sudah punya daddy yang tak tinggal bersamaku, aku tarik lagi semua perkataanku, aku tidak ingin uncle menjadi daddyku lagi.''


Mendengar perkataan Arion seperti itu, Gie juga menjadi sedih, entah kenapa ia juga tidak rela Arion menarik kembali kata-katanya namun ia juga tak mau melepas Alea lagi dari hidupnya, ia akan mencoba segala cara untuk membuat Alea kembali lagi dalam hidupnya.


''Kau membuatku sedih, boy.''


''Uncle juga membuatku sedih.''


Keduanya saling melirik, lalu tiba-tiba tertawa bersama, walaupun hati keduanya merasa sangat kecewa.


''Oh, ya, kita telah beberapa kali bertemu tapi tidak saling mengetahui nama masing-masing, aneh kan?''Kata Gie sambil tertawa.


Arion mengangguk setuju.


''Namaku Arion, uncle, siapa nama uncle?''


''Nama lengkap atau nama panggilan?''


''Panggilan saja, uncle.''


''Kalau begitu panggil saja aku Gie.''


''Uncle Gie?''


''Hum, namaku bagus kan?''


''Biasa saja, uncle, namaku lebih bagus dari uncle.''


Gie tertawa, tapi ia juga senang karena akhirnya bisa mengetahui nama bocah yang sudah mencuri banyak perhatiannya itu.


''Jadi, kau datang ke sini bersama mommymu atau bagaimana?''


''Memangnya kau punya berapa mommy?''


''Ada tiga.''


Gie manggut-manggut mendengar jawaban Arion.


''Mau kutraktir makan siang? Kita bisa berbicara banyak hal sambil makan.'' Tawar Gie pada Arion.


Arion nampak berpikir sebentar lalu mengangguk setuju dengan tawaran Gie namun sebelum itu ia minta izin terlebih dahulu untuk mengirimkan pesan pada mommy Emily agar tak menunggunya.


''Berikan nomor ponselmu padaku juga.''


Gie meminta nomor ponsel Arion dan Arion pun memberikannya.


Setelah bertukar pesan dan nomor ponsel, Gie mengajak Arion makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari taman.


Mereka membicarakan banyak hal saat makan, sejenak Gie benar-benar lupa dengan semua masalahnya. Tak lama ponselnya berbunyi ada notifikasi pesan yang masuk, ia mengambilnya dalam saku jas dan tanpa sadar mengeluarkan mainan Arion lalu memegangnya.


Arion yang tengah menatap Gie, merasa tak asing dengan mainan itu sepertinya itu mainan kesayangannya yang jatuh di bandara saat itu dan dipungut oleh Gie.


''Uncle itu...?''


Gie menoleh ke arah Arion yang tengah menunjuk pada tangannya.


''Ah, i-ini mainanmu yang kau jatuhkan tempo hari, maaf aku tak langsung mengembalikannya.'' Gie sedikit gugup takut Arion menuduh dirinya mencuri mainan miliknya.


''Astaga uncle, aku benar-benar melupakan mainanku, padahal kita sudah beberapa kali bertemu, aku ingin menanyakannya malah lupa, tapi terimakasih, uncle, karena uncle benar-benar menjaganya dengan baik, ini adalah mainan kesayanganku dan sangat berharga.''


Arion langsung cepat mengambil mainannya dari tangan Gie dan memeluknya erat, ia begitu merindukan mainan favoritnya itu.


Gie nampak semakin gugup ketika melihat Arion begitu menyukai mainan tersebut.


''Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk-''


''Tidak apa-apa uncle, aku tidak marah pada uncle, sekali lagi terimakasih karena sudah menjaganya untukku,'' potong Arion dengan cepat.

__ADS_1


''Kenapa kau begitu menyukai mainanmu ini?''


Gie heran dengan tingkah Arion yang begitu menggemaskan memeluk lalu mencium mainan bola tersebut padahal menurutnya biasa saja, tampilannya juga tak ada yang spesial walaupun ia akui mainan itu memang seperti jimat penenang dan keberuntungan baginya.


''Karena di dalam sini ada sesuatu yang berharga bagiku, jalan aku melihat dunia dan merasakan kebahagiaan tidak ada yang berarti bagiku selain 'dia'.''


Kalimat ambigu Arion membuat Gie bingung, apa yang didalamnya? Itu hanya sebuah bola biasa saja menurutnya.


''Uncle?''


''Ya?''


''Apa uncle selalu membawanya?''


''Hum.''


''Kenapa?''


''Entahlah mainanmu seperti jimat penenang dan keberuntungan bagiku,'' ucap Gie jujur.


''Benarkah? Berarti kita sama, uncle. Aku juga merasa seperti itu, karena uncle sedang punya masalah, jadi ini aku pinjamkan lagi untuk, uncle. Semoga masalah uncle cepat selesai, ya.''


Arion mengembalikan lagi mainan bola itu pada Gie karena ia pikir Gie sangat membutuhkannya saat ini dan Gie tersenyum senang menyambut mainan itu kembali ke genggamannya lagi, ia memang masih membutuhkannya.


''Kenapa kau mau meminjamkannya lagi padaku, bukankah ini mainan kesayanganmu?''


''Karena uncle adalah temanku dan sedang punya masalah dan lagi aku hanya meminjamkannya saja pada uncle, nanti kalau masalah uncle sudah selesai, uncle harus mengembalikannya lagi padaku, tolong dijaga baik-baik, ya.''


Gie kembali tersenyum mendengar perkataan Arion.


''Baiklah, aku akan menjaganya dengan sangat baik, terimakasih karena kau mau meminjamkannya lagi padaku.''


Arion mengangguk lalu mendadak berdiri dari tempat duduknya.


''Terimakasih untuk traktirannya, lain kali aku yang akan mentraktir uncle lagi. Maaf, aku harus pergi.''


''Kenapa cepat sekali? Tidak bisakah kita bicara sebentar saja lagi?'' Gie tampak tak rela Arion pergi lagi, ia masih belum puas dan masih ingin mengenal Arion lebih jauh apalagi ia merasa nyaman sekali berbicara dengan bocah itu.


''Lain kali saja ya uncle, aku harus pergi sekarang.''


''Kalau begitu, aku akan mengantar dirimu.''


''Tidak perlu repot-repot mengantarku uncle, aku bisa sendiri. Sudah ya. Bye uncle.''


Arion langsung berlari meninggalkan Gie yang baru hendak menghentikan langkahnya.


''Eh, tungg-''


''Astaga anak itu, kenapa hobinya buru-buru terus sih,'' gerutu Gie sambil duduk karena tadi ia sempat berdiri hendak menahan Arion namun sejurus kemudian ia teringat akan nomor ponsel yang Arion berikan padanya. Gie mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Arion.


'Hati-hati di jalan, kalau nanti kau tidak sibuk, aku ingin meneleponmu.'


Setelah mengirim pesan pada Arion, Gie memanggil pelayan dan memesan segelas coffee latte, ia masih ingin duduk di situ. Kemudian ia mengambil mainan bola Arion dan mengamatinya karena ia teringat akan perkataan ambigu Arion.


Setelah ia amati baik-baik, ia baru sadar bola tersebut ternyata bisa dibuka. Karena penasaran dengan isinya, ia pun pelan-pelan membuka mainan bola tersebut.


Dan...


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungnya berdetak dengan sangat cepat melihat apa yang ada di dalam mainan tersebut.


A-Alea?


Ya, di dalam mainan bola tersebut ada sebuah foto dan wanita dalam foto itu adalah Alea yang tengah merangkul Arion dengan sayang. Dan yang membuatnya gemetaran adalah tulisan di belakang foto tersebut.


'*Me and Mom'...


Mungkinkah*....

__ADS_1


__ADS_2