Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 38 Berbaikan 1


__ADS_3

Alea kembali ke penthouse, tiba di depan pintu ternyata sudah ada Lindsay yang tengah menunggunya.


''Kau baru pulang? Kemana saja kalian berdua? Ayo, katakan padaku, apa saja yang kalian lakukan?'' Goda Lindsay.


Alea memutar malas bola matanya,'' apa sih, Say! Tidak ada yang kami lakukan, kami hanya mengobrol saja,'' Alea masuk melewati Lindsay, ia tidak ingin cerita apa yang dialaminya tadi.


Sementara Lindsay yang tidak tahu apa pun terus menggoda Alea.


''Ishh, apa sih, Say, sudah kubilang kami tidak melakukan apapun, kau ini aneh, kau kan tahu kalau aku dan Antony itu hanya berteman.''


''Iya, iya... Lea ku sayang, aku tahu kalian hanya berteman saja, oh iya, aku hampir lupa, tadi Arion menghubungiku katanya nomor ponselmu tidak aktif, Apa ponselmu mati?'' Tanya Lindsay mengakhiri godaannya dengan mengalihkan pembicaraan tentang Arion karena wajah Alea yang telah terlihat kesal.


''Astaga, Say. Daya ponselku habis tadi. Tunggu aku mengisinya dulu,'' Alea bergegas mengisi daya baterainya setelah mengeluarkan ponselnya dari weistbagnya.


''Aku pinjam ponselmu, Say.'' Alea bergegas kembali mengambil ponsel Lindsay untuk menghubungi Arion.


Alea duduk di samping Lindsay sambil menghubungi Arion menggunakan ponsel Lindsay, mereka hanya berdua saja, sedangkan anggota tim yang lain telah terlelap dalam tidur mereka.


Lindsay yang belum bisa tidur merasa gabut di tempat duduknya menunggui Alea yang sedang melakukan panggilan video bersama Arion, walaupun sesekali ia ikut menimpali pembicaraan mereka namun ia juga merasa bosan, akhirnya ia meminta izin Alea pergi keluar sebentar dengan memberikan isyarat.


Alea mengangguk ke arah Lindsay, kemudian Lindsay masuk ke kamar mengambil slim bag nya lalu keluar dari penthouse setelah pamit pada Alea, mungkin menikmati segelas coklat hangat di kafe hotel akan mengurangi kegabutannya di tengah cuaca dingin malam ini.


Setelah kepergian Lindsay, Alea juga ikut mengakhiri panggilannya bersama Arion. Ia masuk ke dalam kamar lalu menyimpan ponselnya, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, ia naik ke ranjang lalu menyandarkan tubuhnya ke dashboard tempat tidurnya, pikirannya melayang pada kejadian yang terjadi bersama Gie di ruangannya, dia kembali tak habis pikir dengan sikap Gie yang selalu menghinanya setiap kali bertemu, dosa besar apa yang telah dilakukannya sampai Gie sebegitu bencinya pada dirinya, teringat lagi perkataan Gie yang memiliki bukti pengkhianatannya.


''Apa ada kesalahanku padanya yang kulewatkan?'' Monolog Alea sambil mengingat masa lalu saat ia bersama Gie.


Sesuai yang terjadi di masa lalu, tidak ada yang aneh dengan tingkah lakunya bahkan ia sangat membatasi hubungan dengan makhluk pria karena Gie yang selalu over posesif dengannya hanya Ben dan itu pun masih terus diawasi oleh Gie.


Apakah ia harus mencari tahu tentang bukti yang Gie maksud? Ah, ia tak ingin lagi bertemu dengan pria itu karena setiap kali bertemu keduanya selalu berakhir dengan pertengkaran dan ujaran kebencian yang Gie lontarkan padanya. Lagipula besok ia dan timnya juga akan kembali ke Trondheim jadi mereka tak akan bertemu lagi.


Sejujurnya ia mulai lelah dengan hidupnya yang kembali terusik dengan masa lalu lagi, saatnya ia harus benar-benar membuka hatinya untuk pria lain, parsetan dengan Gie! Biarlah ia menyimpan kenangan yang baik saja bersamanya sebagai bentuk penghargaan akan kehadiran Arion di hidupnya. Segala kenangan buruk akan perkataan dan perlakuan buruk Gie akan ia kubur dalam-dalam di relung hatinya sebagai bagian dari proses hidup yang harus ia jalani.


Tak apa, memang takdir mereka seperti ini, meskipun ada sisi dalam dirinya yang sangat merindukan sosok Gie yang dulu namun ia bisa apa kalau jalan hidup yang mereka alami harus seperti ini, semoga dengan membuka hatinya untuk pria lain dapat membuatnya mengubur rasa sakit dan luka hatinya kepada Gie, mudah-mudahan ada pria baik yang mau menerima dirinya dan Arion dengan tulus.


Apakah Antony adalah sosok yang dikirim Tuhan untuknya dan Arion? Mengingat Arion yang juga langsung merespon baik kehadiran Antony ketika ia berkunjung ke Trondheim.


Semoga Tuhan memberikannya petunjuk lewat waktu yang mereka lewati bersama.


Alea mengakhiri lamunannya dengan membaringkan tubuhnya lalu menutup kedua matanya, doa yang selalu ia panjatkan dalam hatinya, 'semoga hari esok selalu ada hal baik yang terjadi baginya.'


...****************...


Sementara itu Lindsay tengah menikmati secangkir coklat hangat di taman sambil menikmati suasana taman hotel yang tampak mulai sepi. Sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, masih ada setengah jam lagi untuknya duduk di taman tersebut sebelum pukul sebelas malam.


Jack yang sedang berada di lantai dua hotel tepatnya di sebuah kamar yang menghadap ke taman terkejut melihat keberadaan Lindsay di sana saat ia berdiri di balkon.


Tak lama kemudian muncul seorang wanita cantik dari arah belakang langsung memeluk Jack yang sedang menatap Lindsay dari jauh membuat Jack kembali terkejut lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah wanita tersebut yang ternyata adalah Natalie.


''Apa yang kau lakukan, Lily?''Tanya Jack yang telah melepas pelukan Natalie.


Natalie melihat ke arah Jack dengan tatapan cinta lalu berkata,'' aku jatuh cinta padamu, Jack. Bisakah kau membuka hatimu padaku? Aku janji akan berusaha menjadi seperti yang kau mau,'' ucap Lily sungguh-sungguh karena ia sudah lama menyimpan perasaannya untuk Jack dan ia tak tahan lagi untuk menyampaikan perasaannya melihat sikap Jack yang akhir-akhir ini sedikit mengacuhkannya.


Sekali lagi Jack terkejut dengan ucapan Natalie,'' apa maksudmu, Lily? Tanya Jack untuk memastikan apa yang di dengarnya.


''Aku mencintaimu, Jack, sangat mencintaimu,'' Lily menyampaikan ulang perasaannya pada Jack sambil mendekat ke arah Jack lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Jack.


Jack masih berdiri tegak di tempatnya dan memandang Natalie yang semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Jack dan Jack membiarkannya saja ia tidak melakukan apapun untuk mencegahnya.


''Bisakah kita menjadi sepasang kekasih, Jack?'' Tanya Natalie sambil menatap ke arah bibir Jack yang tepat berada di depan bibirnya, tanpa mendengar perkataan Jack, Natalie langsung mencium bibir Jack.

__ADS_1


Lindsay terpaku di tempatnya melihat pemandangan di atas balkon itu, Jack terlihat bercumbu dengan wanita yang dipikirnya sebagai kekasih Jack.


Tanpa sadar air matanya terjatuh, hatinya sakit melihat pemandangan itu. Tak kuat melihatnya ia langsung hendak berbalik dan meninggalkan taman tersebut bertepatan dengan Jack yang melepas ciumannya dan berbalik menatap ke arahnya, cepat-cepat Lindsay menghapus air matanya, bukannya kembali ke dalam hotel ia malah berlari ke arah luar hotel.


Jack yang melihat Lindsay berlari keluar dari hotel menjadi panik, ia seperti sedang kedapatan selingkuh dengan wanita lain dihadapan kekasihnya. Ia pun bergegas pergi untuk mengejar Lindsay namun sebelumnya ia berbalik menghadap ke arah Natalie dan berkata,'' Maaf Lily, aku tidak bisa karena aku tidak mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik tidak lebih, maafkan aku.''


''Ken--''


Belum sempat Natalie bertanya, Jack telah berlalu pergi meninggalkan dirinya yang masih tetap berdiri di tempatnya dengan perasaan yang sedih karena ditolak oleh Jack.


Jack berlari cepat keluar dari hotel, beberapa karyawan yang melihat tangan kanan sang bos itu menjadi heran dengan tingkahnya, beberapa orang yang masih terlihat lalu lalang di depan hotel juga menatap heran padanya, ada apa gerangan dengan pria itu yang berlari seperti orang yang kesetanan. Tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya Jack terus berlari keluar.


Jack tiba di jalan depan hotel, ia merotasi matanya ke segala arah dengan nafasnya yang ngos-ngosan, Lindsay tak ada dimanapun, suasana di luar hotel masih sangat ramai.


Setelah mengatur nafasnya, ia mulai menimbang- nimbang harus pergi ke arah kiri atau ke arah kanan, sialnya ia tidak membawa ponselnya untuk mengakses CCTV di depan hotel jadinya ia tidak tahu kemana arah Lindsay berlari. Akhirnya ia memutuskan ke arah kiri karena di sana terdapat sebuah taman, mudah-mudahan Lindsay berhenti di sana. ia kembali berjalan menelusuri jalan menuju ke taman tersebut sambil terus merotasi matanya ke segala arah.


Sepuluh menit kemudian ia sampai ke taman, ternyata lelah juga, mungkin efek dari tiga minggu ini ia tak pernah berolahraga sama sekali karena segala kesibukannya, ia mulai mengumpat dirinya yang benar-benar lelah, iapun duduk di sebuah kursi taman yang ada di situ untuk mengistirahatkan sebentar tubuhnya.


Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan dari arah kanan tempatnya duduk, ia pun menoleh ke asal suara yang sangat ia kenali itu sedang duduk meringkuk di atas rumput dengan wajah yang menunduk ke bawah.


Jack menarik nafas lega setelah memastikan bahwa itu adalah Lindsay. Ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Lindsay.


''Apa yang kau lakukan disini?'' Jack pura-pura bertanya kepada Lindsay.


Mendengar suara Jack, Lindsay terkejut dengan keberadaan pria itu di situ, ia langsung mendongak menatap ke arah Jack sambil mengusap air matanya, ia ingin memastikan apakah ia sedang berhalusinasi atau benar-benar nyata, bukankah pria itu sedang bermesraan dengan kekasihnya tadi?


''Ka-kau se-sedang apa di sini?''Tanya balik Lindsay dengan terbata-bata.


''Aku yang seharusnya bertanya padamu, sedang apa kau malam-malam seperti ini di sini?'' Jack juga balik bertanya.


Lindsay bangkit berdiri dan menatap ke arah Jack,'' bukan urusanmu, bukannya kau sedang bermesraan dengan kekasihmu tadi?''


''Siapa yang menguntitmu? Aku tidak sengaja melihatnya,'' bela Lindsay.


''Apa kau cemburu melihatnya sampai kau berlari sampai ke sini untuk menangis? Jack langsung to the point di depan Lindsay sehingga membuat wajah sembab Lindsay yang tadinya merah karena menangis semakin merah karena malu.


''Kau terlalu berlebihan untuk memastikan sesuatu, aku sedang sedih karena hal lain bukan karenamu, pergilah kau hanya menganggu saja! Lindsay langsung berbalik setelah berkata seperti itu untuk menutupi rasa malunya.


Namun Jack menahan langkahnya lalu membalikkan tubuh Lindsay ke arahnya.


Jack menatap wanita di hadapannya sejenak, wajah sembab yang amat sangat dirindukannya walaupun ia berkata membencinya dulu tetapi kenyataannya waktu tak dapat mengubah perasaan cintanya menjadi benci pada cinta pertamanya itu apalagi setelah bertemu lagi setelah sekian lama dan saat ini mereka sedang berada dengan jarak yang sangat dekat membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


Tak kalah cepat dengan jantung Jack, jantung Lindsay juga tak aman karena tatapan Jack padanya. Jantungnya memang memalukan! Batinnya.


Setelah sepersekian detik saling bertatapan, akhirnya Lindsay memberanikan diri untuk bertanya pada Jack,'' kau mau apa?''


''Jawab pertanyaanku, apa kau cemburu melihat aku dan Lily tadi?'' Tanya Jack penuh harap.


''Kenapa? Apa kau berharap aku cemburu melihatnya?'' Lindsay balik bertanya, padahal dalam hatinya ia mengumpat mulutnya yang ingin menyangkali isi hatinya yang terbakar cemburu melihat adegan tadi.


''Aku bertanya padamu, seharusnya kau menjawabnya bukan balik bertanya padaku, aku tanya sekali lagi, apa kau cemburu melihat aku dan Lily?''


Lindsay menatap dalam ke arah Jack,'' kalau aku bilang aku cemburu melihatnya apa yang akan kau lakukan?'' Lindsay tak dapat membohongi hatinya lagi.


Jack tersenyum, ada rasa lega yang menyeruak dalam hatinya, apa Lindsay baru saja mengungkapkan perasaannya? Ia cemburu berarti ia juga mencintai dirinya? Apakah berarti selama ini dia juga menyimpan perasaan yang sama untuknya? apakah ia boleh mengambil kebahagiaannya sekarang?


''Apa yang akan kau lakukan?'' desakan pertanyaan Lindsay semakin membuat Jack tersenyum lebar.


''Menurutmu?'' Jack masih tersenyum dan terus membalikkan pertanyaan Lindsay.


''Ck!'' Lindsay berdecak kesal melihat Jack yang terus tersenyum menatapnya.

__ADS_1


''Kalau kau tidak menjawabnya aku akan pergi,'' ancam Lindsay dan mulai membalikkan tubuhnya namun Jack kembali menahannya.


''Mau kemana?''


''Mau kemana lagi tentu saja kembali ke hotel!'' Ketus Lindsay.


Jack tertawa, dia merasa de ja vu dengan sikap Lindsay saat ini, Lindsaynya kembali kepada Lindsay yang dulu, selalu berkata ketus dengannya setiap kali bertemu dan hanya lembut dengan orang lain.


''Kau ini aneh, apa kau sedang kerasukan jin?'' Tanya Lindsay yang melihat Jack tertawa.


Hu'um,'' Jack kembali mengangguk dan masih tertawa namun sejurus kemudian ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius sambil menatap ke arah Lindsay.


Lindsay yang ditatap serius oleh Jack menjadi salah tingkah, ia pun menundukkan kepalanya tetapi Jack cepat-cepat menarik dagu Lindsay untuk melihat kepadanya.


Kedua mata mereka saling beradu, Jack memajukan wajahnya dan melihat bibir seksi Lindsay, reflek Lindsay menutup matanya.


Melihat Lindsay menutup matanya, Jack tersenyum senang dan terus menatap Lindsay hingga Lindsay kembali membuka matanya dan wajahnya semakin merah karena malu mendapati Jack sedang menatapnya, ia pun hendak menarik wajahnya dari depan wajah Jack namun Jack langsung menyambar bibirnya.


Hummpt-


Lindsay terkejut Jack mencium bibirnya, ia masih terdiam dan tak membalasnya sampai Jack menggigit kecil bibirnya ia pun langsung membuka mulutnya dan tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya pada leher Jack dan mulai ikut menikmati ciuman itu dengan membalas ciuman Jack. Mereka terus berciuman, saling melu-mat melepas segala kerinduan yang tak bisa lagi dibendung apalagi disampaikan dengan kata-kata.


Ciuman yang terus dilakukan itu semakin lama semakin menuntut, tangan kanan Jack sudah mulai menelusup masuk ke dalam kemeja panjang yang Lindsay pakai, memegang salah satu squisy Lindsay yang ternyata begitu pas di tangannya sementara tangan kirinya menahan tengkuk Lindsay untuk semakin memperdalam ciumannya.


Asshh...


Tanpa sadar Lindsay mengeluarkan suaranya di sela-sela ciuman mereka, membuat Jack semakin brutal mencium bibirnya hingga Lindsay mendorong tubuh Jack karena dirinya mulai hampir kehabisan nafas.


Jack pun melepas ciumannya, membiarkan Lindsay dan dirinya meraup udara sebanyak-banyaknya.


Setelah nafas keduanya mulai teratur, Jack menarik Lindsay ke dalam pelukannya dan berkata,'' aku merindukanmu, Say, sangat,'' Jack mengeratkan pelukannya.


Lindsay juga ikut mengeratkan pelukannya,'' maaf untuk semua yang aku katakan waktu itu, maaf karena membuatmu hidup dalam kebencian padaku selama ini, maafkan aku karena membohongi perasaanku padamu, semua karena keadaan yang membuat aku harus melakukannya, aku juga sangat merindukanmu,'' ada perasaan lega yang Lindsay rasakan setelah mengatakan perasaannya pada Jack.


Jack melepas pelukannya lalu menatap Lindsay yang juga ikut melepas pelukannya dan membalas tatapan Jack yang sedang tersenyum padanya.


Jack menghujamkan banyak ciuman ke wajah Lindsay, kini ia sangat lega karena akhirnya ia kembali pada cinta pertamanya yang amat sangat sulit ia lupakan itu.


''Terimakasih untuk kejujuranmu sayang, bisakah kita memulainya dari awal walau masih ada jarak diantara kita?'' Tanya Jack.


Lindsay tampak berpikir, ia jadi teringat dengan wanita yang tadi bersama Jack. Astaga, ia sampai lupa apa dia sedang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka?


''Say? Kenapa diam?'' Jack mulai khawatir dengan perubahan ekspresi wajah Lindsay.


''Bagaimana dengan kekasihmu?''


''Maksudmu, Lily?''


Lindsay mengangguk.


Jack tertawa, ia yakin Lindsay pasti akan berpikir kalau Natalie adalah kekasihnya namun dalam hati ia juga merutuki dirinya yang tadi membiarkan Natalie menciumnya, sebenarnya ia hanya ingin memastikan perasaannya saja tadi dan ternyata ia benar-benar tak bergetar sedikitpun pada Natalie.


''Kami tidak punya hubungan apapun selain berteman, aku minta maaf soal ciuman tadi, Lily mengungkapkan perasaannya padaku dan langsung menciumku, aku membiarkannya karena ingin memastikan perasaanku saja, jadi maafkan aku sayang.''


Lindsay cemberut, karena ternyata Jack sudah berciuman dengan wanita lain.


''Jangan marah, ya, please, Say,'' mohon Jack, ia takut jika Lindsay menolaknya lagi dan kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang.


''Hum, baiklah untuk saat ini aku percaya padamu tapi aku butuh penjelasan detailnya, ayo sekarang kita kembali ke hotel, aku takut Lea belum tidur dan mencariku.''


Jack pun mengangguk senang lalu segera mengecup singkat bibir Lindsay dan menggandeng tangannya pergi dari taman tersebut menuju hotel.

__ADS_1


__ADS_2