
Alea tersadar dari tidurnya, ternyata hari sudah sore, ia menoleh ke samping untuk melihat jam di dinding kamarnya. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Ternyata ia sudah tertidur sangat lama. Tiba-tiba terbayang akan kejadian tadi pagi, mulai menatap langit-langit kamarnya, cairan bening mulai menganak di pelupuk matanya.
Satu kata yang terucap dari mulutnya," Gie..."
Jatuh lagi air matanya saat menyebut dan mengingat nama kekasihnya itu. Ia bergumam lagi," Kau dimana? Kenapa jahat sekali padaku? Aku pikir ini hanya mimpi buruk tapi ternyata ini benar-benar terjadi, kau pergi tanpa alasan yang jelas. Bisakah kau kembali dan jelaskan apa salahku? Aku akan memperbaikinya bila benar-benar salah. Kumohon kembalilah Gie...hiks..hiks..hiks." Alea terisak sambil terus menatap langit-langit kamarnya.
Drrt..
Drrt..
Drrt..
Bunyi dering telepon selulernya.
Dengan tubuh yang lemah, ia mencoba bangkit dan duduk bersandar sebentar di dashboard tempat tidur, memejamkan mata seraya menghapus air matanya yang jatuh kemudian memegang kepalanya yang terasa pusing luar biasa.
Ia menoleh ke samping nakas dekat tempat tidurnya, melihat ke arah telepon selulernya yang sudah berhenti berdering, lalu memajukan tubuhnya untuk meraih telepon selulernya tersebut. Ia menyalakan teleponnya, tampilan layarnya menunjukkan ada begitu banyak panggilan dari para sahabatnya dan beberapa pesan teks. Tapi tak ada nama sang kekasih, yang diharapkan sama sekali tak menghubunginya. Sekali lagi, ia mendial nomor telepon sang kekasih, sama seperti tadi pagi, nomornya tetap tidak aktif.
Hfftt... membuang nafas dengan kasar.
Drrt..
Drrt..
Drrt..
Tak lama kemudian telepon selulernya berdering, tertera nama Ben dilayarnya.
Ia menekan tombol hijau, mengangkat panggilan dari sang sahabat.
"Ha..llo Ben? Alea menyapa Ben dengan sedikit terbata karena suaranya sudah sangat kacau.
" Hallo, Lea. Astaga suaramu benar-benar kacau!" Kata Ben.
" Ma..af. Ada apa? Alea meminta maaf dan bertanya.
" Aku, Lindsay dan Silly di depan pintu apartemenmu. Boleh kami masuk?" Tanya Ben meminta izin pada Alea untuk masuk ke dalam apartemennya.
Alea mengangguk walau sedang menelpon.
" Baiklah, tunggu sebentar." Jawab Alea.
Meski mereka sahabat Alea, tapi Gie tidak memperbolehkan Alea untuk memberikan kode sandi apartemennya kepada mereka. Alasannya bahwa mereka akan lupa diri dan lupa waktu bertamu. Dan itu akan mengganggu keintiman mereka berdua. Alea yang notabenenya sangat mencintai sang kekasih, hanya menurut saja dengan keputusan Gie.
Perlahan-lahan, Alea turun dari tempat tidurnya karena masih merasa sangat pusing. Berdiri sebentar untuk sedikit meringankan rasa pusing di kepalanya. Kemudian berjalan membuka pintu kamar dan terus berjalan menuju pintu apartemennya. Ia masih sangat berantakan, mata sembab, bengkak nyaris hampir tertutup saking lamanya ia menangis, bahkan ia sedikit kesulitan melihat apa yang ada di depannya. Tak ada lagi waktu hanya untuk sekedar membasuh wajahnya, ia merasa kasihan kepada sahabat-sahabatnya yang sudah menunggu di depan pintu apartemennya.
Sampai di pintu, Alea segera membukanya.
ceklek!
" Hai, semuanya." Alea menyapa sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
" Astaga Alea, lihat dirimu benar-benar sudah tak berdaya. Wah, pengaruh Tuan Gie memang sangat luar biasa sekali pada anda ya, Nona Lea.." Kata Silly yang begitu kaget melihat penampilan Alea yang tak seperti biasanya.
Sementara itu, Ben pun ikut melongo melihat penampilan sahabatnya itu. Alea yang selalu tampil sempurna dan menawan tidak seperti Alea yang sedang berdiri di depannya saat ini. Sedangkan Lindsay sudah paham dengan situasi Alea, jadi ia tidak kaget sedikit pun melihat penampilan sahabatnya itu.
Lindsay sudah lebih dulu masuk ke dalam apartemen Alea sambil menenteng sebuah paperbag ditangannya, sedangkan Silly dan Ben masih berdiri terpaku memandang penampilan Alea hingga Alea berkata," Apa kalian berdua tidak ingin masuk, mau berdiri terus di sini dan mengejekku? Baiklah, aku akan menutup pintunya!'' Kata Alea yang langsung sengaja ingin menutup pintunya yang langsung disambut oleh Ben dan Silly yang refleks menahan pintu tersebut.
" Eeh, tunggu dulu, mana bisa sekejam itu pada kita, kita sudah setengah jam loh berdiri di luar.'' Jawab Silly yang sedikit kesal menatap pada Alea yang tersenyum sambil berlalu masuk ke dalam diikuti Ben dari belakang. Kemudian Alea menutup pintunya dan menyusul para sahabatnya itu.
Saat muncul, ketiga sahabatnya yang sudah duduk manis di sofa langsung menatap dirinya dengan perasaan iba. Alea mengambil tempat duduk di depan mereka. Ia sedikit terhuyung saat hendak duduk karena memang masih merasa sangat pusing, ketiga sahabatnya refleks bangun dan langsung mendekatinya.
" Apa kau baik-baik saja? Perlu ke rumah sakit?" Tanya Ben yang terlihat sangat khawatir pada Alea yang ikut diangguki oleh Silly dan Lindsay yang juga sama-sama memasang wajah khawatirnya. Mereka kemudian langsung mendudukkan Alea dan melingkarinya dan terus menatap Alea dengan cemas.
" Iya Lea, apa perlu kita ke rumah sakit? tanya Silly.
" Kau sudah makan?" Tanya Lindsay juga.
Alea menggeleng kepalanya. " Tidak perlu, aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing. Terimakasih, kalian sudah mengkhawatirkan diriku. Aku belum makan, tidak ada nafsu makan meskipun sebenarnya aku sedang lapar sekarang." Jawab Alea dengan tatapan sendu kepada ketiga sahabatnya itu.
Mereka kembali ke tempat duduknya lagi.
"Ck, kau jangan seperti ini!" Lindsay berdecak karena mendengar Alea yang belum makan itu artinya sudah dari pagi sahabatnya itu tidak makan apapun dan sekarang hari sudah sore menjelang malam. Untung tadi ia sempat singgah membeli beberapa kotak pizza kesukaan Alea.
Lindsay membuka paperbag yang tadi ia bawa dan mengeluarkan isinya, beberapa kotak pizza kesukaan Alea dan beberapa minuman kaleng.
" Kita tahu kau sedang sedih, tapi Jangan lupa makan, kesehatanmu sangat penting, bagaimana bisa bangkit kalau kau seperti ini?'' Omel Lindsay.
" Say benar Lea, kau harus tetap menjaga kesehatanmu, ini sangat penting. Jangan terpuruk seperti ini!" Ujar Ben.
" Iya Lea, kau harus tetap semangat dan bahagia meski tanpa Gie. Jalan hidup mu masih panjang. Untuk apa memikirkan pria seperti dia, aku percaya kau akan menemukan yang lebih baik darinya. Kau__
" Apa??? Hei, come on guys, aku berkata seperti ini karena menyayangi Alea, aku ingin Alea membuka matanya, masa depannya masih panjang, masih harus mengejar mimpi-mimpinya, kalau dia seperti ini bagaimana membuktikan pada Gie kalau dia akan baik-baik saja meski tanpanya? Kita bahkan sudah mencarinya kemana-mana, sahabat-sahabatnya juga tidak ada yang tahu dimana dirinya. Bukankah itu artinya dia memang berniat meninggalkan Alea? Lalu untuk apa Alea terus memikirkan dirinya? Kalau dia benar-benar mencintai Alea, Gie tidak akan mungkin kan melakukan ini padanya?" Ujar Silly panjang lebar pada sahabat-sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Silly, Alea tak mampu menahan air matanya. Cairan bening itu kembali luruh membasahi kedua pipinya. Sesaat ia terdiam, menarik nafas dan membuangnya secara perlahan untuk menetralkan degup jantung yang mulai tak beraturan karena tingkat emosionalnya yang naik.
Lindsay sigap bangkit begitupun Silly, mereka mendekat pada Alea dan memeluk dirinya, dan ikut menangis merasakan kesedihan sahabatnya.
Sementara Ben hanya menatap ketiganya dengan kedua tangannya yang terkepal menahan perasaan marahnya pada Gie yang telah membuat sahabatnya hancur seperti itu.
'' Brengsek kau, Gie! Kalau aku menemukanmu, aku akan menghajarmu habis-habisan!" Batinnya.
'' Maafkan aku karena terlalu bicara sefrontal itu padamu, aku hanya ingin kau tetap kuat meski terluka, kembali fokuslah pada kuliahmu, kita akan selalu bersamamu, menjadi penyemangatmu. Percayalah, kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu meski tanpa dirinya." Ujar Silly yang masih saling memeluk.
Hiks..hiks..hiks..
" Maaf kalau aku membuat kalian khawatir, aku hanya belum siap menerima saja, ini masih terasa seperti nightmare." Kata Alea.
" Aku yakin kau bisa, Lea!" Ucap Lindsay.
'' Boleh ikut memeluk kalian? sepertinya jadi aku yang merasa sendiri di sini!" Tanya Ben yang sengaja mencairkan suasana.
Mereka bertiga sontak melepas pelukannya, dan menatap pada Ben.
__ADS_1
''Tidak boleh! ini edisi para wanita, yang pria cukup melihat saja!'' Jawab Silly sambil tersenyum.
Lindsay dan Alea juga ikut tersenyum, Alea bangkit berdiri menyeka air matanya lalu menatap pada Ben dan berkata,''
" Kemarilah, aku juga ingin dipeluk olehmu.'' Panggil Alea pada Ben yang merentangkan tangannya sambil tersenyum.
Ben mendekat pada Alea dan akhirnya memeluknya. Ini adalah pertama kali bagi Ben memeluk ALea dan pertama kali juga bagi Alea mendapat pelukan dari pria lain karena Gie sangat posesif dan tidak ingin Alea melakukan kontak fisik dengan lawannya selain bicara saja.
" Jangan sedih lagi, ini masih hari Minggu, masih ada hari esok, Gie pasti masuk kuliah kan? Kau tahu dia tidak pernah absen dari mata kuliah apa pun. Mungkin saat ini dia berada di suatu tempat yang kita tidak ketahui. Percayalah semua akan baik-baik saja.'' Ucap Ben sambil menepuk-nepuk punggung Alea, meski begitu marah pada Gie tapi dia masih berharap pada hal yang positif untuk hubungan mereka.
Alea mengangguk dalam dekapan Ben. Setelah itu melepas pelukannya.
Ben menghapus air mata Alea dan tersenyum hangat pada wanita yang pernah disukainya saat awal bertemu tanpa tahu bahwa ternyata Alea sudah memiliki kekasih. Bisa dibilang Alea cinta pertama yang langsung terhempas begitu saja darinya. Tapi pada akhirnya dia berdamai dengan hatinya dan memilih bersahabat dengan Alea. Setidaknya itu bisa mengobati perasaannya yang belum berjuang tapi sudah harus menyerah.
''Ehemm, sudah pelukannya kan?'' Tanya Lindsay.
'' Hmm..'' Alea mengangguk dan Ben hanya tersenyum kikuk.
'' Baiklah, sekarang Ben kau duduk di sini dulu, aku dan Silly harus menyeret Nona galau ini untuk mandi terlebih dahulu sebelum makan, apa kau tidak mencium aroma-aroma tak sedap darinya?'' Lindsay sengaja menggoda Alea seraya mendekat bersama Silly dan langsung memegang kedua tangan Alea lalu menyeretnya ke kamar dan Ben kembali duduk di sofa sambil tertawa melihat Alea yang diseret oleh Silly dan Lindsay.
'' Hei, jangan sembarangan bicara, walaupun belum mandi dari pagi tapi aku masih wangi!'' Ucap Alea narsis sambil sedikit memberontak.
Silly dan Lindsay tetap tak mempedulikan perkataan Alea dan tetap menyeretnya ke kamar. Sampai di kamar mereka mendorong Alea masuk ke kamar mandi dan ikut masuk bersamanya. Mereka segera melucuti pakaian sahabatnya itu yang masih memakai piyama tidurnya.
" Hei, kalian mau apa? Kenapa jadi seagresif ini? Aku masih lurus loh, meski patah hati! Lagipula, kenapa kalian ikut masuk denganku? Aku bisa mandi sendiri!'' Ucap Alea yang bingung melihat aksi kedua sahabatnya yang ikut masuk ke kamar mandi dan melucuti pakaiannya itu.
'' Sssttt, diam Lea! kita akan memandikanmu! Kau terlihat masih pusing, kita takut kalau kau terjatuh saat mandi nanti. Jadi jangan banyak bicara, turuti saja, okay? '' Ucap Silly.
Alea pun mengangguk pasrah, karena memang dirinya masih merasa pusing di kepalanya belum begitu reda ditambah lemas karena belum makan dari pagi
Lindsay telah selesai menyiapkan air hangat di bathtub dan menuangkan aroma terapi yang dapat merileksasikan tubuh.
Apartemen yang dihuni Alea dan Gie adalah apartemen mewah. Jadi area kamar mandinya pun luas dan fasilitasnya lengkap. Itu adalah apartemen milik Gie. Maklum orang tua Gie adalah pengusaha Real Estate yang sangat terkenal di Inggris jadi wajar jika Gie hidup dalam kemewahan.
" Wow! Lihat Say, sahabat kita sepertinya sedang alergi, banyak sekali ruam merah di kulitnya, astaga bahkan sampai ke area bawahnya!'' Sindir Silly yang melihat banyak bekas kissmark yang ditinggalkan Gie semalam ditubuh Alea.
Mereka sudah sering mandi bersama jika sedang berkumpul di apartemen Lindsay, jadi Alea tidak malu-malu lagi saat tubuh polosnya dilihat oleh sahabatnya. Toh, mereka sama-sama wanita dan memiliki bentuk tubuh yang indah.
" Isssh, apaan sih!" Alea mencebik mendengar sindiran Silly.
Lindsay hanya menanggapi dengan senyuman dan membawa Alea masuk ke dalam bathtub.
" Ayo masuklah, aku akan menggosok punggungmu." Ucap Lindsay.
Alea menurut pada Lindsay masuk ke dalam bathtub. Setelah masuk Alea sengaja menciptakan air ke arah Lindsay dan Silly sambil tertawa.
" Ya, ampun Lea, kita sudah mandi loh, masa disiram?'' Kata Silly menatap kesal pada Alea.
'' Iya Lea, kita jadi basah kan?'' Ucap Lindsay menimpali.
ALea terkekeh.
__ADS_1
'' Aku memang sengaja menyiram kalian. Ayo, kita mandi bersama. Sudah lama kan kita tidak seperti ini? Ini juga satu hiburan untukku.'' Ucap Alea tanpa dosa.
Akhirnya, mereka pun ikut mandi bersama Alea, saling melempar candaan sambil menggosok punggung satu sama lain seperti yang biasa mereka lakukan jika mandi bersama, melupakan Ben yang sudah mulai bosan menunggu mereka seorang diri di luar.