
Jack tengah serius mengotak-atik laptopnya, ia tengah mencari tahu tentang Alea dan Gie di masa lalu, ia tengah memperhatikan dengan seksama foto-foto dan juga video yang ia ambil secara diam-diam dari laptop milik Gie, padahal Gie menggunakan sandi namun ia yang seorang IT tentu saja sangat mudah baginya untuk membuka file tersebut.
Sebenarnya ia sudah curiga terhadap seseorang yang sepertinya sengaja merusak hubungan antara Alea dan Gie karena ia telah mengetahui bahwa orang tersebut yang mengirimkan foto-foto dan video yang memperlihatkan Alea tengah bersama seorang pria di sebuah kamar hotel.
Yang paling ia tak habis pikir orang itu adalah sahabat baik Alea yakni Silly, ia yakin Silly pasti begitu menyukai Gie sehingga rela melakukan segala cara untuk mendapatkannya termasuk mengorbankan persahabatan mereka atau dari awal memang ia sengaja masuk ke dalam hidup Alea hanya untuk merusak hubungannya dengan Gie.
Lebih heran lagi, bagaimana Alea tidak tahu apapun tentang kejadian itu? Kalau waktu itu ia dibius, setidaknya saat ia sadar seharusnya ia merasa janggal berada di hotel sendirian lalu dimana keberadaan Lindsay yang selalu bersama Alea? Ah, bicara soal Lindsay, ia jadi teringat akan pertemuan mereka, tapi melihat Lindsay yang cuek saja saat melihat dirinya ia jadi kesal dengan wanita itu ditambah lagi ia yang hingga kini sangat sulit mendekati wanita lain.
Kembali lagi ia memikirkan kasus Alea, Jack telah mengirim pesan pada salah satu sahabat baiknya di Cambridge untuk mencari tahu tentang CCTV sepuluh tahun lalu di hotel Charlotte, tempat dimana kejadian Alea bersama pria itu.
Meski mungkin sangat sulit karena kejadian itu telah lama terjadi namun ia mencoba yang terbaik untuk menolong Gie apalagi ia harus cepat-cepat mengumpulkan buktinya untuk mengungkapkan niat busuk Silly yang semakin hari membuatnya makin muak melihat drama yang selalu dimainkannya itu sebelum wanita ular itu menikah dengan Gie.
Ia tahu Gie masih hidup dalam bayang-bayang Alea, ia hanya ingin melihat Gie bahagia dan ia sangat tahu bahwa Alea adalah kebahagiaan Gie.
Banyak kejanggalan yang ia dapatkan dari video yang ia tonton, dimulai dari keadaan Alea yang terlihat terlelap di video itu, tidak ada pergerakan apapun yang dilakukannya, hanya sang pria yang tengah mencumbu Alea di area lehernya.
Satu lagi yang ia harus cari tahu yaitu pria yang ada di dalam video itu, ia merasa asing karena belum pernah melihatnya berkeliaran di sekitar Alea dan para sahabatnya, yang ia tahu Gie juga tak mengenal pria itu.
Lelah dengan pekerjaannya, Jack memutuskan keluar sebentar dari ruangannya. Saat ini ia sedang berada di hotel Legie setelah mengantar Gie kembali ke apartemen bersama Silly dan Elf.
Ketika ia turun ke lobby hotel ia melihat Natalie sedang berjalan keluar dari hotel, Jack pun menghampiri sahabatnya itu, satu-satunya wanita yang dekat dengannya saat ini yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
''Lily,'' panggil Jack, itu adalah panggilan kesayangan Natalie dari Jack.
''Jack? Kau di sini? Kenapa belum pulang?'' Natalie terkejut dengan keberadaan Jack yang masih berkeliaran di sekitar hotel padahal ini sudah tengah malam. Sementara Natalie sendiri bekerja di hotel Legie dan saat ini ia tengah mendapat shift malam.
''Ada sedikit pekerjaan yang harus aku kerjakan, mau kemana?'' Tanya Jack.
''Aku sedang istirahat dan merasa bosan di dalam jadi ingin duduk sebentar di taman,'' jawab Natalie.
''Mau kutemani? Aku juga sedang bosan dan belum bisa tidur,'' tawar Jack.
Natalie mengangguk senang, namun sebelum itu keduanya pergi ke pantry, Natalie ingin membuat susu coklat hangat untuk keduanya.
Ketika masih di lobi hotel, dari jauh Jack melihat Lindsay yang sedang berjalan ke arah mereka sambil memainkan ponselnya.
Lindsay yang sedang berjalan sambil menunduk tidak melihat Jack yang sedang berada di depannya, alhasil ia menabraknya.
Brukk
''Ahhkk,'' Lindsay meringis sambil menggosok keningnya yang menabrak dada bidang Jack.
''Nona, anda baik-baik saja?'' Natalie bertanya pada Lindsay karena ia ikut terkejut dengan kejadian itu.
Lindsay mengangkat wajahnya dan berkata,'' aku baik--''
__ADS_1
Deg!
'Jack…'
Jack menatap tajam ke arah Lindsay lalu berkata," apa kau tak punya mata, hah?!
Bentakan Jack membuat Lindsay dan Natalie terkejut.
''Ma-maaf, ak-aku tidak sengaja,'' jawab Lindsay terbata-bata.
Natalie mengelus punggung Jack," sudahlah, Nonanya tidak sengaja,'' Natalie berusaha meredam emosi Jack.
Jack menoleh ke arah Natalie, tatapannya berubah menjadi lembut," maaf, bentakanku mengagetkanmu,'' ucap Jack lembut pada Natalie.
Natalie tersenyum manis dan mengangguk lalu menoleh ke arah Lindsay yang tengah melihat interaksi keduanya.
"Maaf, Nona, Jack tak bermaksud membentakmu, jangan dimasukan ke dalam hati."
Lindsay tak menjawab juga tak mengangguk karena ia masih syok dengan sikap Jack terhadap dirinya.
''Lain kali gunakan matamu untuk melihat jalan!'' Ketus Jack pada Lindsay yang menatapnya dengan pandangan sedih.
Natalie terus mengelus punggung Jack kemudian menarik lengan Jack untuk pergi dari hadapan Lindsay.
Sepeninggal Jack dan Natalie, Lindsay masih dengan posisi berdiri di tempat yang sama, tak lagi bisa ia tahan laju air matanya yang hendak jatuh, akhirnya jatuh juga, hatinya terasa sakit mendengar Jack membentaknya dan ini untuk pertama kalinya. Sebegitu bencikah Jack pada dirinya?
Sementara Jack menemani Natalie di pantry yang sedang membuat coklat hangat untuk mereka berdua, hatinya tak nyaman setelah membentak Lindsay apalagi Lindsay yang hendak berjalan keluar dari hotel, kemana dia hendak pergi di tengah malam seperti ini? Ia ingin kembali ke lobby dan memastikan keberadaan Lindsay.
Setelah membuat coklat hangat, Natalie dan Jack kembali ke depan berjalan melewati lobby dan pergi ke taman.
Jack merotasi sekelilingnya untuk mencari Lindsay namun ia tak melihat keberadaan Lindsay.
Natalie yang melihat gelagat Jack yang seperti sedang mencari sesuatu pun bertanya,'' kau sedang mencari sesuatu?''
'' Tidak ada, hanya melihat sekeliling, sepi,'' ucap Jack beralasan.
Natalie tertawa lalu berkata,'' tentu saja sepi, kau lupa ini sudah tengah malam.''
Jack tertawa,'' kau benar, ini sudah tengah malam.''
Mereka pun berbincang-bincang sambil tertawa, tiba-tiba Jack melihat sosok wanita di ujung taman tengah duduk sambil menghapus sesuatu di wajahnya, sepertinya dia sedang menangis.
Jack menyadari bahwa itu adalah Lindsay, perasaannya semakin tak nyaman, apakah Lindsay menangis karena bentakannya tadi? Rasanya ia ingin mendekatinya namun perasaan gengsi dalam dirinya menahan keinginannya untuk menemui Lindsay maka ia pun kembali fokus berbicara dengan Natalie.
Tak lama kemudian, Lindsay bangkit dari duduknya, ia berjalan kembali masuk ke dalam hotel namun tidak melewati tempat Jack dan Natalie duduk.
__ADS_1
Dari tempat duduknya Jack merasa lega meski ia sedang berbicara dengan Natalie namun ekor matanya mengawasi kepergian Lindsay yang telah menghilang ke dalam hotel.
...****************...
Lindsay kembali masuk ke penthouse rupanya Alea tengah duduk menunggunya.
''Dari mana?'' Tanya Alea.
''Dari taman, mencari udara segar. Kenapa bangun?''
''Aku tadi ingin buang air kecil, saat bangun kau tidak ada di sampingku, kenapa kau tidak menjawab ponselmu?''
''Kau menghubungiku?''
Alea mengangguk.
''Maaf tadi aku asyik melihat taman jadi tidak melihat ponselku dan lagi ponselku dalam mode hening jadinya aku tidak tahu kalau kau menghubungiku.''
Alea merasa aneh dengan Lindsay karena dari tadi Lindsay duduk menjauh darinya dan berbicara pun juga tak menatapnya. Alea lalu mendekat pada Lindsay dan duduk di sampingnya.
''Say, coba lihat aku, kau punya masalah?'' Tanya Alea sambil menangkup wajah Lindsay, ia terkejut melihat mata Lindsay yang sedikit bengkak bahkan kembali memerah dan akhirnya air mata Lindsay jatuh lagi saat menatap Alea yang cemas melihat perubahan Lindsay.
''Ada apa?'' Tanya Alea lagi.
Lindsay langsung memeluk Alea, lalu menceritakan tentang kejadian tadi kepada Alea.
Alea mengelus punggung Lindsay untuk menenangkan dirinya. Ia juga merasa kasihan padanya mungkin Jack masih kecewa dengan Lindsay.
''Dia menepati janjinya untuk membenci diriku sebanyak dia hidup, Lea. Hatiku sakit, ak-aku merindukan Jack yang dulu, Lea.'' Lindsay memang selalu jujur pada Alea tentang perasaannya pada Jack.
Selama sepuluh tahun ini ia tidak bisa menggantikan Jack dengan pria lain apalagi rasa bersalahnya pada Jack yang sangat mendalam.
Alea melepas pelukannya lalu menatap Lindsay, tangannya menghapus air mata Lindsay.
''Kenapa tidak menemuinya saja dan mengatakan perasaanmu yang sebenarnya, bilang padanya ini adalah sebuah pengakuanmu yang tertunda.''
Lindsay menggeleng, ia tak mau mengganggu kebahagiaan Jack saat ini.
''Dia telah memiliki seseorang di sampingnya, aku tak ingin merusak kebahagiaannya saat ini, Lea.''
''Apa kau yakin itu kekasihnya?'' Tanya Alea.
''Tentu saja, mereka sangat dekat, untuk apa tengah malam seperti ini mereka masih bersama bahkan mereka sangat mesra di hadapanku.''
Alea tersenyum,'' mau kubantu memastikannya?'' Tanya Alea lagi.
__ADS_1
Lindsay kembali menggeleng,'' tidak usah, aku tidak ingin kita berurusan lagi dengan mereka, sekarang kita harus tidur, besok kita akan berkeliling sebelum kembali ke Trondheim apalagi Antony akan menjemput kita pagi sekali.''
Alea mengangguk lalu bangkit berdiri dan merangkul pundak Lindsay serta masuk ke kamar.