Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 44 Tak Menyangka


__ADS_3

Setelah mendengar cerita Justin, mereka semua syok terlebih Alea dan Gie.


Silly benar-benar gemetar di tempat duduknya, ia tak kuasa menahan rasa takutnya lagi. Kali ini mungkin Gie dan Alea tak akan membiarkannya lolos begitu saja.


Dengan marah, Gie kembali menghajar Justin dengan membabi-buta.


''Brengsek! Kali ini kau akan mati di tanganku, berani sekali kau menyentuhnya!''


Bugh!Bugh!Bugh!Bugh!Bugh


Gie terus menghajar Justin yang tak mampu melawannya lagi.


Alea dan Lindsay histeris melihat Gie yang begitu brutal menghajar Justin yang mulai tak berdaya.


Ben dan Jack langsung maju menahan Gie, jangan sampai Gie membunuhnya.


''Hentikan, Gie! Kau akan membunuhnya,'' teriak Ben.


''Bukan begini caranya, Gie, masih banyak hal yang harus kau selesaikan, cukup dulu menghajarnya, kau tidak ingin menyelesaikannya dengan wanita sia-lan itu yang selama ini telah meracuni pikiranmu dengan membuatmu membenci Alea?'' Timpal Jack yang bersama Ben tengah berusaha menahan pergerakan Gie untuk terus menghajar Justin.


Gie berhenti memberontak lalu melepas Justin dan menghadap ke arah Silly yang gemetar di tempatnya karena sedang berhadapan dengan Alea yang tengah menatap marah padanya.


Plak!Plak!Plak!Plak!


Alea berulang kali menampar pipi Silly.


''Kau wanita tak tahu malu, kau sangat hebat, merencanakan semuanya dengan begitu apik, sepuluh tahun ini kau begitu nyaman hidup dengan kebohonganmu, menghancurkan semua impian dan harapanku, aku salah apa padamu, Silly? Aku selalu berada di depanmu menjadi sahabat sejati yang hadir untuk menolongmu saat kau membutuhkan bantuan, tapi berani sekali kau merencanakan hal busuk seperti itu padaku! Aku ingin sekali membunuhmu wanita ja-lang!'' Alea begitu geram, bahkan tubuhnya juga bergetar hebat karena emosinya yang semakin meningkat, air matanya terus jatuh.


Semua membiarkan Alea mengeluarkan rasa marahnya pada Silly, termasuk Gie yang hanya diam membeku di tempatnya, menyesal? Sudah pasti ia menyesal sekarang, kenapa ia begitu bodoh dulu tak mencari tahu terlebih dahulu, sekarang ia hanya bisa melihat kemarahan yang terpancar di mata wanita yang masih menguasai seluruh relung hatinya itu.


Dengan sekuat tenaga Silly berdiri dihadapan Alea, ia ketakutan namun ia masih ingin melawan Alea.


''Rencanaku berhasil kan? Kau dan Gie berpisah, seharusnya kau juga jangan hanya marah padaku tapi marahlah pada mantan kekasihmu itu yang mencaci maki dirimu lalu meninggalkan dirimu begitu saja tanpa mencari tahu kebenarannya, dia begitu naif mempercayai semuanya, itu artinya dia meragukan kesetiaanmu kan? Dia tak sepenuhnya percaya padamu padahal kalian telah sangat lama bersama.''


Silly berusaha meracuni pikiran Alea, setidaknya jika hubungannya dan Gie berakhir, Alea dan Gie pun tidak dapat bersama lagi karena Alea membencinya.


Mendengar perkataan Silly yang menyudutkan dirinya, Gie tak terima, ia tidak akan membiarkan Silly meracuni pikiran Alea untuk semakin membencinya, ia pun maju dan mencekik leher Silly.


''Wanita brengsek, sia-lan, kali ini aku tidak akan memaafkanmu, Silly. Cukup selama ini kau meracuni pikiranku untuk membenci Alea tapi aku tidak akan membiarkan dirimu meracuni pikiran Alea untuk terus membenciku! Aku memang bodoh dan naif terlalu percaya dengan omong kosongmu!'' Gie semakin mengeratkan tangannya untuk mencekik leher Silly.


Uhuk...uhuk...uhuk...Gie to-long ja-ngan se-per-ti i-ni pa-da-ku, uhuk...uhuk...uhuk i-ngat Elf ki-ta.''


Silly mencoba menahan tangan Gie dengan kedua tangannya karena tangan Gie yang semakin kuat mencekiknya.


Melihat Silly yang mulai kesulitan untuk bernafas Alea juga menjadi tak tega, ia ingin menarik tangan Gie namun sebelum ia melakukannya Gie telah lebih dulu melepaskan cekikannya saat mendengar Silly menyebut nama Elf, putri mereka.


Alea jadi teringat akan gadis kecil itu, hatinya sakit karena banyak hal yang telah berubah setelah kebenarannya terungkap, termasuk hubungan Gie dan Silly yang telah menghasilkan seorang anak.


Alea kembali mengeluarkan air matanya, ia jatuh dan terduduk di lantai, melihat sahabatnya yang tiba-tiba seperti itu, Lindsay segera maju dan langsung ikut duduk lalu membawa Alea ke dalam pelukannya, ia tahu segala kesakitan yang Alea alami saat ini, ia juga ikut menangis bersama Alea.


Gie terpaku di tempatnya melihat tangisan Alea, hatinya ikut teriris, sudut matanya juga ikut berair, ia ingin maju dan menghampiri Alea, berlutut dihadapannya lalu membawanya ke dalam pelukannya namun ia juga takut membuat Alea semakin membencinya.


Selama ini, ia menuduh, membenci, memaki serta memperlakukan Alea secara kasar padahal kenyataannya mantan kekasihnya itu adalah korban, ia tak tahu apapun yang terjadi padanya.

__ADS_1


Ia marah pada Justin, marah pada Silly terlebih marah pada dirinya sendiri, ia pun meninju meja kayu di depannya dengan sekuat tenaga menyalurkan rasa marahnya.


Brak! Meja kayu itu patah. Semua yang ada di situ kembali dibuat kaget oleh Gie.


Silly yang tengah mengatur nafasnya dan juga memegang lehernya yang terasa sakit akibat cekikikan Gie tadi juga hampir jatuh di tempatnya. Ia sangat takut melihat Gie.


Gie membalikkan badannya, berjalan menuju Justin yang terkapar tak berdaya, sekali lagi ia menendang perut Justin dan berlalu pergi, ia butuh ketenangan sekarang, pikirannya kacau, sambil berjalan ia mengeluarkan sesuatu di dalam jasnya lalu menggenggamnya erat, jimat keberuntungannya.


Sepeninggal Gie, tinggallah Alea, Lindsay, Jack, Ben, Justin dan Silly.


''Kau puas, membuat semuanya seperti ini Silly? Ben yang dari tadi hanya diam saja akhirnya membuka suaranya juga.


Silly menoleh ke arah Ben dan berkata,'' sahabatmu ini mengacaukan segalanya, aku bahkan belum menikah dengan Gie,'' masih dengan mode angkuh.


Mendengar perkataan Silly semua yang ada di situ menjadi geram.


''Kau wanita gila, benar-benar tak waras,'' ucap Jack.


''Ya, kau memang ular berbisa, sepertinya kau harus dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa,'' timpal Lindsay.


''Aku tidak menyangka bahwa kau seperti ini, Silly, aku seperti merasa asing denganmu,'' sambung Ben.


Alea bangkit berdiri lalu melihat ke arah Silly,'' sebenarnya ada apa denganmu, Silly?'' Alea masih belum puas dengan alasan Silly melakukan semua ini padanya.


''Kau sadar, perbuatanmu telah menyakiti banyak orang? Ini adalah tindakan kriminal, Silly, Alea atau Gie bisa saja melaporkanmu pada polisi,'' ujar Jack.


Sebenarnya Jack sudah lebih dulu tahu segalanya karena penyelidikannya berhasil, karena ia mendapatkan beberapa potong CCTV yang menunjukkan rencana Silly, ia baru saja ingin memberitahukannya pada Lindsay, Ben dan Alea makanya ia juga ikut serta bersama Lindsay untuk bertemu dengan Alea. Meski banyak yang telah Silly hilangkan namun ada beberapa CCTV yang Silly lewatkan waktu itu dan bisa dijadikan bukti untuk menjerat Silly, ia akan memberikannya pada Gie nanti.


''Aku sudah tak peduli, semuanya telah hancur sekarang dan semua ini karenamu, Alea!'' Tunjuk Silly pada Alea.


''Silly, minta maaflah pada Alea dan sadarlah akan apa yang telah kau lakukan, kau harus ingat pada putrimu, Elf.''


Ucapan Jack yang menyebut nama Elf membuat Silly ingat akan putrinya itu.


''Oh ya ampun putriku, aku harus menjemputnya, Gie akan sangat marah padaku kalau aku terlambat menjemput putri kami.'' Silly langsung pergi dari hadapan mereka dengan wajah bengkak berantakan, leher lebam, penampilannya benar-benar kacau saat ini.


Silly melewati Justin yang begitu sekarat, semuanya jadi melupakan keadaan Justin setelah fokus mereka beralih pada Silly.


''Dasar pria tak berguna!'' Umpat Silly lalu kembali menendang perut Justin dan pergi dari situ.


''Akhh... Wanita sia-lan, ja-lang murahan, awas kau!'' Umpat balik Justin pada Silly.


Alea tak menahan Silly karena ia baru sadar bahwa Silly itu memiliki penyakit mental jadi semuanya percuma, setidaknya ia lega sekarang karena semuanya telah jelas. Ah, ia jadi teringat akan Gie, kemana dia pergi? Dia memang pria bodoh! Ia sangat kecewa, benar-benar amat kecewa dengan Gie, entahlah ia bisa memaafkan pria itu atau tidak mengingat semua yang telah menimpanya.


''Kau tidak menahannya?'' Tanya Lindsay.


''Untuk apa, Say? Percuma, dia itu sakit mental, dia tak akan merasa dirinya salah, kau lihat kan, tidak ada penyesalan dalam dirinya sedikit pun setelah menyebabkan segala kekacauan ini,'' jawab Alea.


''Kau tidak ingin melapornya? Aku bisa membantumu,'' sambung Jack.


''Tidak perlu, Jack. Setidaknya aku sudah lega mengetahui kebenarannya agar lain kali sahabatmu yang bodoh dan brengsek itu, tidak lagi menghinaku.''


''Dia juga sangat terpukul dan hancur, Lea. Aku tahu dia sangat bodoh di masa lalu tapi asal kau tahu di--''

__ADS_1


''Cukup Jack, aku tidak ingin mendengar pembelaanmu tentangnya, bagiku semuanya telah jelas, hubunganku dengannya juga telah berakhir, aku sudah tak ada lagi hubungan dengannya lagi selanjutnya akan terus seperti ini, kami tetap akan menjadi orang asing.''


''Tapi Lea--''


''Sayang, sudah cukup, bisakah kau menghargai keputusan, Lea. Hidup yang dijalaninya sudah sangat berat. Jadi, biarkan dia bebas untuk menentukan jalan hidupnya sendiri,'' Lindsay mengingatkan Jack.


Jack pun hanya mengangguk, ia tak ingin membantah perkataan Lindsay atau hubungannya yang dipertaruhkan.


Ben hanya menyimak, ada perasaan bersalah kala mengingat perkataannya pada Gie, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa Gie semakin salah paham saat mendengar perkataannya waktu itu. Seandainya waktu itu, ia memberitahu Gie tentang keberadaan Alea, mungkinkah keadaannya tak akan seperti ini? Tapi saat itu ia juga sangat marah melihat situasi Alea yang cukup mengalami depresi berat karena ulah Gie.


''Ben? Kau baik-baik saja?'' Alea bertanya karena melihat Ben yang tengah melamun.


''Ah, tidak apa-apa, bagaimana dengan Justin? Dia sangat kesakitan,'' Ben mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan keadaan Justin yang masih terkapar tak berdaya di lantai.


''Aku akan mengantarkannya ke rumah sakit, jangan khawatir, aku akan membereskan segala kekacauan di sini. Sayang, temani Lea untuk mencari sesuatu yang dapat menyegarkan kembali pikirannya, share lokasi kalian jika sudah menemukan tempat tersebut, aku akan menyusul setelah membereskan segalanya.'' Ujar Jack.


Lindsay setuju dengan ide Jack.


''Kalau begitu aku akan kembali ke mansion untuk menemani Emily makan siang, Arion menghubungi Emily tadi katanya dia akan makan siang dengan temannya,'' Timpal Ben.


'' Dia punya teman di sini?'' Tanya Alea.


Arion juga tadi sempat minta izin padanya dan Lindsay untuk jalan-jalan sebentar mengunjungi beberapa tempat, ia tidak ingin Emily menemaninya karena kandungan Emily yang mulai membesar. Ia juga tak ingin dikawal karena merasa sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri.


Ben tertawa,'' tentu saja, Lea, dia punya banyak teman di sini.''


''Hei, Lea, kau pikir kesayanganku itu tak pandai bergaul?'' Lindsay pura-pura kesal pada Alea yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Alea.


''Siapa Arion?''Jack memandang tajam ke arah Lindsay setelah mendengar Lindsay menyebut kata 'kesayangan' pada seseorang yang bernama Arion, tentu saja ia cemburu sekaligus kesal dengan seseorang yang bernama Arion itu.


Mereka bertiga baru menyadari ada Jack di antara mereka. Jack memang belum tahu apapun soal Arion karena Lindsay tak pernah memberitahunya atas permintaan Alea.


''Jangan salah paham pada, Say. Arion adalah putraku,'' jawab Ben.


''Putramu? Bukankah istrimu baru saja hamil?''


''Putra angkat tepatnya,'' jawab Ben mantap dengan melirik Alea yang hanya diam karena gugup.


''Sayang, kalau kau ingin memiliki baby, kita bisa membuatnya, kenapa harus bilang kesayangan pada milik orang lain?''


Lindsay memukul gemas punggung Jack sedangkan Alea dan Ben memutar malas bola matanya karena kecemburuan Jack yang tak masuk akal pada anak kecil.


''Issh, kau ini, jangan berlebihan, dia masih kecil, lebih baik sekarang bereskan kekacauan ini dan bawa Justin ke rumah sakit sebelum ia tewas mengenaskan di sini dan urusannya makin rumit, aku dan Lea pergi dulu.''


Setelah berkata seperti itu pada Jack, Lindsay langsung menarik tangan Alea namun Jack menarik kembali tangan Lindsay menghadap ke arahnya lalu mengecup bibir Lindsay dan sedikit me-lu-matnya.


Alea dan Ben segera berlalu pergi karena merasa kesal dengan pasangan bucin yang melupakan keberadaan mereka berdua di situ.


Setelah beberapa saat, Jack melepas pagutannya,'' jangan lupa share lokasinya,'' Jack berkata sambil menghapus sisa saliva di bibir Lindsay.


Lindsay mengangguk lalu hendak mengajak Alea pergi namun ia sudah tak menemukan Alea dan Ben di situ, ia mencebik kesal ke arah Jack karena terlalu lama menciumnya padahal ia juga ikut menikmatinya.


Jack hanya tertawa lalu sekali lagi mengecup kening dan bibir Lindsay lalu melepaskan wanitanya itu pergi.

__ADS_1


Kemudian ia mulai menghubungi pelayan untuk segera membereskan semuanya lalu ia membawa Justin ke rumah sakit.


__ADS_2