Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 13 Lindsay dan Jack


__ADS_3

Dua hari lagi Alea, Lindsay dan keluarganya akan segera berangkat ke Trondheim, semalam daddy James telah memberitahu mereka tempat yang akan mereka tuju sebagai tempat tinggal mereka yang baru.


Alea, Lindsay dan kedua saudara kembarnya sempat bingung kenapa memilih Trondheim tapi pada akhirnya mereka terkagum-kagum setelah mendengar cerita sang daddy. Betapa manisnya kisah cinta kedua orang tua itu.


Sementara mommy Christine tentu saja sangat bahagia dan terharu ternyata suaminya begitu mencintai dirinya sampai-sampai candaannya dulu dibuat menjadi nyata meski tidak tepat pada momennya tapi tak jadi masalah yang penting impiannya menjadi kenyataan.


Lindsay juga sangat bersyukur karena usahanya membujuk sang daddy untuk ikut bersama Alea dan keluarganya berhasil. Awalnya ia berdebat hebat dengan daddynya. Ayah mana yang sanggup menjauh dari putri semata wayangnya tapi Lindsay tetap memohon pada sang daddy, ia berjanji akan selalu menghubungi ayahnya. Ia juga berjanji akan menjadi seorang yang sukses dan membanggakan ayahnya. Sekali lagi ia tak tega melihat rengekkan putrinya, kalau itu yang membuat putrinya bahagia ia pun harus dengan keterpaksaan yang sangat dalam memberi izin padanya. Sangat berat memang melepas kepergian sang putri tapi melihat kegigihan sang putri meminta restunya ia pun berusaha dengan ikhlas mengiyakannya.


''Baiklah daddy pegang janjimu sayang, jangan mengecewakan daddy, baik-baiklah di sana jangan sampai sakit atau pun terluka jika masih mau melihat daddymu ini hidup lebih lama,'' ancaman daddy Arthur membuat Lindsay terkekeh geli.


''Astaga dad, aku akan baik-baik saja. Daddy harus selalu bahagia dan ingat jaga kesehatan daddy karena daddy harus melihatku sukses, menikah dan punya anak-anak yang lucu sepertiku,'' Lindsay memasang mimik wajah imutnya yang terlihat lucu di mata sang daddy.


Daddy Arthur tertawa,'' daddy akan menanti hari itu sayang,'' daddy Arthur langsung menarik Lindsay ke dalam pelukannya, ia pasti akan merindukan putrinya itu tanpa sadar air matanya terjatuh.


Menyadari daddynya sedang menangis, Lindsay melepas pelukannya lalu menatap sang ayah tak lupa ia menghapus air mata di wajah daddynya.


''Aku menyayangi daddy,'' Lindsay mengecup pipi daddynya dan ikut menangis juga.


''Daddy menyayangimu juga sayang,'' balas daddy Arthur seraya menghapus air mata sang putri lalu melakukan ciuman sayang yang begitu dalam di keningnya.


Setelah dari kantor sang daddy, Lindsay langsung menuju ke kampus karena Alea sudah terlebih dahulu berada di sana untuk menemui Ben dan berpamitan dengan teman-temannya namun mereka sudah sepakat untuk tidak memberitahu tempat kepindahan mereka terkecuali Ben sang sahabat. Sebelumnya mereka sudah bertemu dan sudah memberitahunya. Ia benar-benar merasa kehilangan tapi mau bagaimana lagi, situasi dan kondisi yang membuat mereka harus berpisah.


Setengah jam berkendara ia telah tiba di kampus. Ia langsung menuju tempat dimana Alea, Ben dan teman-teman mereka sudah berkumpul.


''Maaf aku telat.''


''Tidak masalah, kami baru saja berkumpul,'' sahut Alea.


''Kalian benar-benar meninggalkanku sendirian, kalian benar-benar tega padaku,'' Ben menekuk wajah sedihnya.


''Ya kalian benar-benar meninggalkan kami, sangat di sayangkan kuliah kalian tinggal sebentar lagi,'' sahut teman mereka yang lain.


''Maaf semuanya. Tapi kami sangat bersyukur memiliki teman-teman seperti kalian,'' sambung Alea.


''Pertama Gie, lalu Silly dan setelah mereka berdua, kau dan Lindsay, kalian benar-benar kompak ya,'' ucap Carol.


''Apa setelah ini kau lagi Ben?''Tanya Carol sambil menatap Ben.


''Tentu saja tidak, aku akan menyelesaikan kuliahku,'' jawab Ben.


''Oh ya, kalian pindah kemana?'' Tanya Carol lagi.


''Belum tahu, tapi kami akan memberitahu kalian jika sudah mengetahui tempatnya,'' bohong Alea.


Setelah saling mengucapkan salam perpisahan dengan teman-teman mereka, ketiganya langsung kembali karena Alea dan Lindsay harus mengurus segala urusan mereka untuk keberangkatan mereka nanti.


Saat di tengah jalan, mereka bertemu dengan Jack yang langsung menghampiri mereka dengan nafas yang tersengal-sengal karena habis berlari.


''Kau habis olahraga lari ya?'' Celetuk Lindsay.

__ADS_1


''I-iya, olah-raga la-ri mengejar cin-taku yang a-kan per-gi mening-galkanku tan-pa pa-mit,'' Jawab Jack ngos-ngosan membuat Lindsay memutar malas bola matanya sedangkan Alea dan Ben terkekeh geli mendengarnya.


''Kita harus bicara!" Jack bicara dengan nada serius pada Lindsay, ia begitu panik saat mendengar anak-anak yang lain berkata bahwa Lindsay dan Alea sedang berpamitan dengan teman-temannya membuatnya lari seperti maling sedang dikejar warga.


''Bicara soal apa?'' Tanya Lindsay dengan bingung.


''Soal apalagi, soal kepergianmu dan soal kita!'' Jawab Jack ketus, ia langsung meraih tangan Lindsay yang masih menatapnya bingung dan menariknya pergi meninggalkan Alea dan Ben yang masih berdiri tenang di tempatnya memandangi mereka berdua.


''Aku pinjam sebentar teman kalian,'' teriak Jack sambil terus menarik Lindsay yang sedang mengomelinya sepanjang Jack menariknya.


''Aku akan mengantar Alea pulang lebih dulu,'' teriak Ben sambil menggandeng tangan Alea dan pergi dari kampus.


''Hei Jack lepaskan tanganku, kau mau bawa aku kemana?! Aku harus pergi membereskan barang-barangku!'' Omel Lindsay.


''Ssst diamlah Say! Aku kan sudah bilang kalau kita harus bicara!'' Tanpa pusing mendengar omelan Lindsay, Jack akhirnya membawa Lindsay ke taman.


Jack mengajak Lindsay duduk di kursi taman dan Lindsay dengan wajah kesalnya menuruti kemauan Jack soalnya ia juga capek diajak tarik paksa oleh Jack ditambah tangannya yang memerah dan sakit karena ulah Jack.


Maaf, apa tanganmu sakit? Tanya Jack merasa bersalah melihat tangan Lindsay yang lecet karena ulahnya. Ia meraih tangan Lindsay tapi langsung ditepis oleh pemiliknya.


Dengan wajah kesalnya Lindsay berkata ketus,'' katamu mau bicara tadi, maka bicaralah sekarang karena waktuku untukmu tak banyak!''


Jack menghela nafasnya kasar, Lindsay selalu menguji kesabarannya kadang lembut kadang kasar padahal wanita itu pada dasarnya lembut tapi kalau moodnya kurang bagus ia selalu menjadi objek kekasarannya jika bertemu. Tapi hal itulah yang semakin membuatnya jatuh cinta karena selama bersamanya ia belum pernah melihat wanita itu kasar pada yang lain. Aneh bukan, Jack malah semakin jatuh pada pesona seorang Lindsay.


''Boleh aku bertanya, kenapa sikapmu selalu berubah-ubah padaku? Kadang kau lembut tapi kebanyakan kasarnya kalau aku ingat seperti sekarang ini.''


''Menurutmu?'' Lindsay balik bertanya pada Jack.


''Memangnya apa yang baik darimu? Kau itu sangat menyebalkan dan selalu saja mengusikku, tidak pernah membuatku nyaman,'' Lindsay sedikit berbohong dengan kata-katanya, nyatanya ia sangat nyaman di dekat pria itu. Ia akan merasa sepi saat pria itu tak mengusiknya sehari saja, entah sejak kapan perasaan nyaman itu ada bahkan jantungnya dari tadi berdetak dengan sangat cepat.


''Jujur aku sedih mendengarnya ternyata kau tak nyaman saat di dekatku. Tapi boleh aku mengatakan sesuatu? Tanya Jack.


''Apa?''Masih dengan nada ketus Lindsay berkata untuk menyamarkan rasa gugupnya.


Jack memposisikan dirinya menghadap Lindsay, ia lalu menatap Lindsay dengan dalam membuat yang ditatap semakin gugup namun ia berusaha memasang wajah kesalnya.


''Aku ingin jujur tentang perasaanku padamu, Say. Aku mohon jangan menyelaku saat aku bicara. Aku sedih saat mendengar kau akan pergi, aku tadi berlari seperti orang kesetanan karena takut tak bertemu lagi denganmu...'' Jack berhenti sejenak lalu meraih kedua tangan Lindsay.


''Please jangan menarik tanganmu saat kugenggam,'' mohon Jack saat Lindsay hendak menarik tangannya. Akhirnya Lindsay pun membiarkannya saja yang semakin membuat jantungnya tak aman.


''Aku menyukaimu, Say. Saat pertama kita bertemu di high school, maafkan aku, selama ini aku sengaja mengusikmu karena aku hanya ingin mencari perhatian darimu saja. Aku tahu aku pria yang menyebalkan tapi aku benar-benar menyukaimu, Say. Tidak aku sudah jatuh cinta padamu,'' Jack memandang Lindsay yang terkejut mendengar pengakuan nya.


Dengan spontan Lindsay menarik tangannya dari genggaman tangan Jack dan membuang pandangannya ke arah lain.


''Ka-kau ini bicara apa?Aku tidak mengerti maksudmu!'' Lindsay berkata dengan gugup tanpa memandang wajah Jack. Jantungnya semakin tak aman.


''Say, aku serius, aku mencintaimu Lindsay Ashley Chloe,'' Jack berkata seraya berlutut di di depan Lindsay. Lindsay menganga tak percaya melihat Jack yang sedang menatapnya tersenyum dengan penuh cinta.


''Bangunlah Jack, jangan seperti ini. Lagipula aku tak bisa, sebentar lagi aku akan pergi dalam jangka waktu yang sangat lama,'' Lindsay berdiri dan ikut menarik tangan Jack untuk berdiri.

__ADS_1


Namun perkataan Lindsay membuat Jack tersenyum senang, ia merasa Lindsay juga menyukainya hanya saja ia akan pergi.


Lindsay yang merasa aneh dengan senyuman Jack berhenti menarik tangannya,''kenapa kau tersenyum? Memangnya ada yang lucu?'' Tanya Lindsay heran.


Jack bangkit berdiri, ia menatap wajah Lindsay yang juga sedang serius menatap wajahnya,'' jadi masalahnya karena kau akan pergi kan? Kau juga menyukaiku kan? Kalau begitu aku akan ikut denganmu saja. Kemana kau akan pindah? Tanya Jack masih dengan wajah senyum penuh cinta pada Lindsay.


''Eh, kata siapa aku menyukaimu? Aku tidak bilang begitu, lagipula aku tidak bisa memberitahumu aku akan pergi kemana. Memangnya kau siapa, kau tak penting bagiku.'' Lindsay berkata sambil membuang wajahnya. Ia tak mau Jack membaca kegugupannya.


Lain di mulut lain pula di hati. Dalam hatinya Lindsay merasa senang dan bahagia mendengar ungkapan cinta Jack. Entahlah perasaan apa ini, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Tapi ia juga merasa sedih karena mungkin tak akan melihat pria itu lagi setelah ia pergi bersama Alea. Ia pasti akan merindukan banyak hal darinya.


''Benarkah? Tapi aku merasa kau juga punya perasaan yang sama denganku, lihat aku bisa mendengar detak jantungmu dengan sangat jelas,'' Jack tertawa sambil menunjuk ke arah dada Lindsay.


Spontan, Lindsay langsung menyilangkan tangan di area dadanya. Benarkah bunyi detak jantungnya sangat keras sampai membuat Jack bisa mendengarnya? Ah, benar-benar memalukan!


Jack makin merasa lucu dan terus tertawa membuat Lindsay semakin jengkel dengannya, ia akhirnya langsung berbalik dan hendak pergi saat tangannya ditarik kembali oleh Jack dan...


Hmmpt...


Saat berbalik Jack langsung menyambar bibirnya membuat matanya membola sempurna. Ia memberontak hendak melepaskan diri tapi Jack sangat kuat menahan tubuhnya bahkan menarik tengkuknya untuk menyempurnakan ciumannya.


Jack melu-mat bibir Lindsay dan sedikit menggigit bibirnya agar Lindsay membuka mulutnya, ia ingin mengeksplor lebih dalam mulut Lindsay, mengabsen setiap barisan gigi Lindsay. Lindsay yang awalnya menolak kini ikut terbuai dan ikut larut dalam permainan lidah Jack. Tanpa sadar ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Jack. Keduanya memejamkan mata dan saling menye-sap merasakan manisnya bibir masing-masing. Setelah dirasa mereka sama-sama hampir kehabisan nafas akhirnya mereka menyudahi ciuman panjang dan panas itu.


hah...hah...hah...


''Kau mencuri ciuman pertamaku!'' Tunjuk Lindsay dengan wajah merah menahan malu setelah mengatur nafasnya.


Jack tersenyum gemas dengan kepolosan Lindsay.


Ia lalu membawa Lindsay dalam pelukannya. Anehnya Lindsay tak menolak sama sekali juga tak membalas pelukannya padahal ia ingin memarahi pria itu karena mencuri ciuman pertamanya walaupun ia juga ikut terhanyut tadi. Lindsay dapat merasakan detak jantung Jack yang berdetak dengan sangat cepat. Irama detak jantung keduanya ternyata sama.


''Kau dengar kan? Detak jantung kita sama, dan asal kau tahu, ini juga ciuman pertamaku. Ini adalah waktu yang kutunggu memberikan ciuman pertamaku untuk cinta pertamaku yaitu kau, Say. Tidak apa-apa kalau aku harus menunggumu, maka aku akan menunggu sampai kau kembali.'' Bisik Jack kemudian melepas pelukannya dan menatap wajah Lindsay yang semakin merona dan itu membuatnya terlihat semakin cantik.


Lindsay terpaku sejenak. Ia harus jawab apa? Hatinya semakin bahagia dan juga ternyata ia menyadari bahwa pria itu telah mencuri hati dan perasaannya, tetapi ia tidak ingin Jack menunggunya karena ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Membatalkan kepergiannya? Itu mustahil, ia sangat ingin mendampingi Alea di masa-masa sulit kehamilannya itu, akhirnya ia harus menyimpan perasaannya dan dengan berat, ia berkata lain dari mulutnya yang sangat bertentangan dengan hatinya.


Ia menatap Jack dan berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya,'' jangan menungguku karena itu akan menjadi sia-sia! Jangan salah paham dengan ciuman kita tadi, anggap saja kita tidak pernah melakukannya. Aku benar-benar tidak menyukaimu.'' Terimakasih sudah menyimpan perasaan selama dan sedalam ini untukku. Tapi sekali lagi aku katakan bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun untukmu! Jadi jangan pernah menungguku!''


Sakit? Tentu saja Jack merasa sakit hati mendengar ucapan wanita yang sudah sangat lama mencuri hati, pikiran dan jiwanya itu. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk dapat menyampaikan perasaannya tapi dalam sekejap saja wanita pujaannya menghancurkan segala harapannya dengan kata-kata yang menyakitkan. Padahal ia bersedia menunggu jika sang wanita sedikit membalas perasaannya, apalagi mereka baru saja melakukan ciuman panas yang menggetarkan seluruh jiwa raga, walaupun wanita itu bilang jangan menunggu ia akan tetap menunggunya. Tapi kini sudah tak tersisa lagi harapannya. Tanpa sadar air matanya terjatuh.


Lindsay yang melihat air mata Jack, sebenarnya tak tega. Ia berusaha menahan perasaannya yang juga ikut hancur dengan kata-katanya sendiri. Tapi hanya ini caranya untuk mengakhiri hubungan yang bahkan belum dimulai itu.


''Maafkan aku, silahkan membenciku kalau itu bisa membayar rasa sakitmu,'' Tak tahan dengan situasi mereka saat ini Lindsay akhirnya memilih pergi dari hadapan Jack yang masih menatapnya dengan perasaan hancur itu.


''Pergilah, aku tarik kembali kata-kataku yang ingin menunggumu! Terimakasih untuk ciumannya tadi dan terimakasih juga untuk rasa sakit yang kau tinggalkan untukku. Seperti katamu, aku akan membencimu sebanyak aku hidup karena hanya dengan itu aku bisa melupakan rasa cintaku padamu,'' Jack membuka suaranya setelah Lindsay membalikkan tubuhnya meninggalkan dirinya. Ia masih berharap Lindsay berbalik dan mengubah semua perkataannya. Tapi sekali lagi harapannya sirna.


Langkah Lindsay memang berhenti saat mendengar kata-kata Jack yang juga terasa menyakitkan baginya. Air matanya terjatuh, tapi ia tidak ingin menoleh, ia yakin keputusannya adalah yang terbaik.


Ia terus melangkahkan kakinya yang terasa berat itu, meninggalkan Jack dengan segala kekecewaannya.


''Maafkan aku, tapi aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, aku juga menyukaimu dan mungkin juga telah jatuh cinta padamu,'' gumamnya sambil menyeka air matanya seraya mempercepat langkahnya untuk sampai ke apartemen dan bertemu Alea untuk mencurahkan segala isi hatinya. Tak peduli pandangan orang-orang yang menatapnya aneh.

__ADS_1


Perpisahan yang benar-benar menyakitkan. Hubungan yang belum dimulai tapi harus berakhir dengan rasa sakit dan benci di hati keduanya.


__ADS_2