Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 8 Kedatangan Mommy dan Daddy


__ADS_3

Sinar matahari masuk melewati celah jendela kamar apartemen Alea, mengusik tidur sang pemilik kamar tersebut.


Alea menyipitkan matanya karena silau matahari yang mengenainya. Setelah mengubah posisinya agar sedikit terhindar dari matahari, ia menoleh ke sisi kanannya, Lindsay masih terlalu nyenyak dengan tidurnya.


Ya, sejak pulang dari rumah sakit dan mengetahui Alea hamil, Lindsay memilih tinggal bersama Alea karena merasa khawatir dengan kondisi psikis sang sahabat apalagi sempat tercetus dari mulut Alea untuk menggu-gurkan kandungannya karena tak ingin hamil anak Gie.


Tentu saja ia dan Ben sangat tidak setuju atas perkataan Alea, janin yang dikandungnya tidak bersalah kenapa janinnya yang harus menanggung semua dosa kedua orang tuanya? Pikirnya.


Akhirnya ia membujuk sang daddy untuk tinggal bersama Alea, awalnya sang daddy sangat keberatan mengingat ia adalah anak semata wayang dari mendiang istri pertamanya yang sangat dicintainya itu.Tapi akhirnya sang daddy mengijinkannya juga, ia tak sanggup melihat rengekkan putrinya dengan catatan putrinya harus menjaga dirinya baik-baik. Hubungan dengan ibu tirinya dan adik tirinya juga kurang baik jadi itu juga menjadi salah satu pertimbangan sang ayah.


Ya, ibu kandung Lindsay telah lama meninggal ketika Lindsay berusia 5 tahun. Setelah Lindsay berusia 18 tahun, daddynya menikah lagi dengan seorang janda yang juga memiliki seorang anak perempuan yang usianya sama dengan Lindsay. Daddynya hanya ingin menikah untuk menghabiskan waktu masa tuanya tanpa ada lagi anak di antara mereka karena baginya Lindsay sudah cukup.


Alea duduk bersandar di dashboard ranjangnya, tangannya terangkat untuk menyentuh dan mengelus perutnya yang masih rata.


'Hai nak, apa yang harus mommy lakukan sekarang? Mommy takut tak bisa menjagamu? Kau tahu kan, mommymu sendirian saja tanpa daddymu yang sudah pergi entah kemana?'


Alea berbicara pada janinnya dalam hati.


Ia termenung, memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada kedua orangtuanya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?Aku harus sesegera mungkin bilang pada mommy dan daddy. Ya Tuhan bantu aku, berikan aku kekuatan untuk mengatakan semuanya pada mereka'. Batinnya lagi.


Tiba-tiba perutnya bergejolak. Alea segera melompat dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi.


Pergerakannya yang buru-buru itu mengagetkan Lindsay yang sedang tidur. Lalu ikut berlari menghampirinya.


''Hoek..hoek...hoek....''


Perutnya bergejolak hebat tapi yang keluar hanyalah lendir kuning dan air dari mulutnya.


Lindsay dengan setia memijit tengkuk Alea.


Hoek...hoek...hoek...


Alea kembali mual dan memuntahkan lendir kuning lagi. Tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga.


''Astaga sesulit inikah jika hamil?'' Alea memijit pelipisnya, saat ini ia sedang duduk bersandar di sofa dalam kamarnya setelah membersihkan mulut dan dirinya yang dibantu oleh Lindsay.


Lindsay datang menghampiri Alea membawakannya dua gelas air hangat, susu hamil dan empat potong besar sandwich.


''Kau harus mengisi ulang energimu, Lea,'' ucap Lindsay sambil meletakkan nampan di atas meja.


''Maaf selalu merepotkanmu, Say. Tapi aku belum mau makan, aku takut kalau makan nanti mual dan muntah lagi,'' ucap Alea lemah.


''No, kau harus makan, aku yakin kali ini tidak akan seperti itu lagi. Lihat dirimu begitu lemah dan lemas. Sekarang minum dulu air hangatnya.'' Lindsay menyodorkan air hangat ke arah Lea.


''Say, aku makan sandwichnya saja ya, aku tidak suka susunya, please..,'' mohon Lea memelas pada Lindsay.


''No, jangan egois Lea, baby kita butuh nutrisi jadi mommynya tak boleh menolaknya.'' Lindsay bersikeras agar Alea tetap meminum susu hamilnya.


''Astaga, sejak kapan Lindsayku yang lembut jadi galak begini,'' keluh Alea sambil memakan sedikit-sedikit sandwichnya.


''Sejak dia juga akan menjadi mommy kedua bagi baby Alea atau tepatnya aku akan menjadi ibu baptisnya, jadi mulai sekarang kau harus menjaga baby kita dengan baik,'' cetus Lindsay tegas.


Pada akhirnya kedua sahabat itu saling tertawa dengan obrolan mereka sendiri, meski masih lemas tapi Alea merasa sangat senang saat ini, apalagi semenjak Lindsay tinggal bersamanya ia jadi banyak tertawa dan sedikit melupakan masalahnya.


''Ya ampun aku hampir lupa, sudah seminggu ini Silly sangat sulit dihubungi, apa dia baik-baik saja atau sedang ada masalah? Ponselnya sudah tak aktif lagi. Apa dia tak menghubungimu? Tanya Alea.


''Tidak, aku juga baru menghubunginya semalam tapi ponselnya tak aktif. Mungkin dia sibuk mengurus kuliahnya.'' ucap Lindsay.


Alea mengangguk seraya mencoba meminum susunya sedikit,'' Kenapa susu hamilnya rasanya aneh begini sih?'' Keluh ALea.


Lindsay hanya tersenyum dan terus melihat ke arah Alea untuk memastikan bumil itu menghabiskan susunya.


Untung setelah meminum susunya ia tidak mual lagi. Janinnya kali ini sedang berpihak padanya.


''Sudah kubilang kan baby kita sangat pengertian dengan keadaanmu,'' ucap Lindsay sambil membereskan sisa makanan mereka dan membawanya keluar. Alea juga ikut bangkit dari duduknya dan mengikuti Lindsay.


''Kau mau kemana?'' Tanya Lindsay.

__ADS_1


''Aku ingin duduk di luar saja,'' jawab Alea.


''Kalau masih lemas baring saja di ranjang, aku akan membereskan piring kotornya dan kembali untuk memijitmu.''


''Tidak Say, aku bosan di kamar terus, lagipula aku sudah lebih baik sekarang,'' ucap Alea sambil mengikuti Lindsay dari belakang.


Akhirnya Alea memilih duduk di ruang televisi sambil menonton drama Turki favoritnya. Saat sedang serius dengan dramanya, Alea mendengar bunyi bel apartemennya.


Ting tong


Ting tong


''Itu pasti Ben. Biar aku saja yang membukanya,'' sahut Lindsay dari arah dapur seraya beranjak menuju ke pintu apartemen.


Saat melihat ke layar interkom pintu apartemennya, Lindsay terkejut dengan siapa yang datang.


Lindsay tak jadi membuka pintunya, ia malah berbalik menghampiri Alea yang heran melihat dirinya yang terlihat gugup.


''Ada apa? Kenapa kau tidak membuka pintunya, Ben kan yang datang?'' Tanya Alea penasaran dengan kegugupan Lindsay.


''Bu-bukan Lea, itu yang datang...''


Bel kembali berbunyi.


Ting tong


Ting tong


''Siapa yang datang, Say? Kenapa kau terlihat gugup seperti itu? Biar aku saja yang buka pintunya,'' Alea pikir orang lain yang datang karena kalau Ben pasti sudah membukanya sendiri. Mungkin saja seseorang yang sahabatnya kenal yang membuat Lindsay jadi gugup seperti itu.


''Daddy dan mommymu Lea,'' Akhirnya Lindsay berucap juga ketika Alea melewatinya.


Deg!


Seketika itu juga langkah Alea terhenti, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya menjadi lemas.


Untung Lindsay segera menopangnya dan mendudukkannya kembali ke sofa.


Kedua orangtua Alea masih berdiri di depan pintu apartemen. Lindsay menarik nafasnya perlahan dan melepasnya. Ia juga ikut menjadi gugup dan sedikit panik.


Ia sudah pernah bertemu dengan kedua orangtua Alea, mereka sangat ramah dan baik. Tapi ia belum pernah melihat mereka marah terhadap Alea. Jadi wajar jika ia menjadi takut jika mereka tahu kondisi Alea saat ini.


Ceklek


''Astaga sayang, kenapa lama sekali buka pintunya,'' Omel mommy Alea ketika pintu terbuka tanpa melihat siapa yang membuka pintunya.


''Ah, Ma-maaf aunty,'' ucap Lindsay sedikit terlihat gugup di depan orang tua Alea.


''Oh, astaga Say, maaf, aunty pikir Alea tadi,'' ucap mommy Alea sambil tersenyum.


''Tidak apa-apa aunty, uncle. Silahkan masuk, Alea ada di dalam,'' Lindsay mempersilahkan kedua orang tua Alea dengan sopan.


''Terimakasih sayang,'' ucap mommy Alea seraya masuk diikuti sang daddy.


Alea tampak begitu gugup saat mendengar suara sang mommy. Saat ini ia kembali ke kamar karena tak tahu harus bagaimana menyambut kedua orangtuanya. Ia terus mondar-mandir di kamarnya, pusing yang ia rasakan tadi seperti hilang tak tersisa diganti dengan rasa takut yang menderanya.


ceklek


Pintu terbuka menampilkan sang mommy dan daddy. Saking gugupnya ia tak menyadari kalau mereka sudah tiba di pintu kamarnya.


''Astaga sayaaannggg.....'' Pekik sang mommy.


Deg!


Mommy!


Daddy!


Makin guguplah Alea melihat kedua orangtuanya, Sedangkan Lindsay ada di belakang mereka, berdiri diam karena ikut juga menjadi gugup.

__ADS_1


"Mommy dan daddymu datang dan kau hanya diam saja di kamar? Kau tak merindukan kami sama sekali ya? Daddy lihat putrimu dia benar-benar melupakan kita,'' rengek mommy sambil menatap suaminya lalu kembali melangkah ke arah Alea.


''Putri kita, honey'', ralat sang daddy yang juga ikut melangkah ke arah Alea yang berdiri mematung dengan wajah pucat.


''Iya sayang,'' sang mommy lalu langsung menyambar Alea ke dalam pelukannya ditambah sang daddy yang ikut memeluk keduanya.


''Mommy sangat merindukanmu sayang, putri mommy tambah seksi dan cantik,'' Mommy Alea semakin memeluk erat tubuh Alea begitu pula dengan sang daddy yang ikut memeluk keduanya.


Sementara itu, Alea masih dalam mode diam dan tak balas memeluk keduanya sedangkan Lindsay telah keluar dari kamar karena tak ingin mengganggu acara saling melepas rindu keluarga tersebut.


''Sayang, kenapa diam saja? Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya mommy dengan raut wajah khawatir pada Alea setelah melepas pelukannya dan menatap putrinya karena tak mendapat respon dari Alea.


Biasanya putrinya itu selalu antusias saat melihat kedatangan mereka. Tapi kali ini ada yang berbeda dengan Alea bukannya menyambut mereka dengan sukacita tapi malah terlihat pucat dan tegang.


''Sayang ada apa denganmu?'' Tanya sang daddy yang ikut khawatir melihat kondisi putri kesayangannya.


''A-aku ti- tidak apa mom, dad. I'm fine.'' Jawab Alea dengan terbata-bata.


''Tapi lihat wajahmu, nak. Kau benar-benar pucat,'' kata sang daddy dan diangguki oleh sang mommy.


''No mom, dad, I'm fine, okay? jangan berlebihan. Kenapa kalian tak mengabariku? Aku bisa menjemput mom dan dad di bandara kan?'' Tanya Alea mengalihkan pembicaraan sambil mengajak mommy dan daddynya duduk di sofa.


''Kami tadi sengaja tak menghubungimu karena ingin memberikan kejutan sayang, daddy tadi menghubungi Gie tapi ponselnya tak aktif. Oh ya, dimana anak itu? Daddy tidak melihatnya?'' Tanya sang daddy.


Deg!


Alea semakin gugup ketika sang daddy bertanya soal Gie. Apa yang harus dikatakannya? Apa ini saatnya ia harus jujur? Tapi mereka baru saja tiba, tidak mungkin ia langsung membuat mereka syok dengan pengakuannya kan?


''Lea sayang?'' Kenapa ditanya kau malah melamun?'' Tanya sang mommy.


''Eh mom, sorry. Itu...''


Ceklek


''Maaf aunty, uncle. Aku menganggu. Ini minumannya, silahkan diminum,'' ujar Lindsay yang membawakan minuman untuk kedua orangtua Alea.


Alea akhirnya bisa bernafas lega karena setidaknya kemunculan Lindsay dapat memberinya jeda waktu untuk menjelaskan pada mereka.


''Terimakasih sayang, maaf aunty dan uncle merepotkanmu.'' Ucap mommy Alea.


''Tidak apa-apa aunty, tidak merepotkanku sama sekali.'' Lindsay tersenyum sambil membalas ucapan mommy Alea.


''Mom, dad, kalian tidak bawa apapun untukku?'' Alea mengalihkan pembicaraan lagi.


''Maaf sayang, mommy dan daddymu tidak membawa apapun karena terburu-buru ke sini, mendadak daddymu ada perjalanan bisnis.'' Jawab sang mommy.


''Oh, ya ampun sudah waktunya sayang, kita harus pergi,'' Ajak sang daddy pada mommy Alea setelah melihat waktu pada jam tangan mahal yang melingkar di tangan kirinya.


''Astaga dad, baru beberapa menit kalian duduk loh, kenapa langsung ingin pergi? Alea pura-pura cemberut karena kedua orang tuanya baru tiba tapi harus pergi lagi padahal ia merasa sangat senang saat mendengarnya. Meski jauh di lubuk hatinya ia sangat sedih dan merindukan mereka.


''Maaf sayang, sebenarnya kami ingin langsung ke hotel tempat meetingnya berlangsung tapi karena kami sangat merindukanmu jadi kami mampir terlebih dahulu untuk melihatmu. Sekarang kami harus pergi dulu, kita akan bertemu saat makan malam nanti ya sayang? Ucap sang daddy sambil membelai lembut rambut Alea.


''Iya sayang, kau mau dibawakan sesuatu? Kami akan menginap di sini nanti malam,'' sambung sang mommy.


Alea menggeleng,'' Tidak usah mom, aku dan Lindsay akan memasak masakan yang lezat untuk kalian. Jadi kalian harus pulang tepat waktu saat makan malam nanti.'' ujar Alea dengan senyum mengembang sempurna. Ah, kali ini dia tak bisa mengelak lagi.


''Ah see dad, anak kita sudah pandai memasak sekarang sepertinya persiapan untuk menjadi nyonya Georgie sudah mulai matang,'' goda mommy Alea.


''Mom...'' Wajah Alea memerah meski malu dengan ucapan mommy tapi hatinya juga sedih dengan ucapan sang mommy yang tidak akan menjadi kenyataan. padahal itu adalah salah satu mimpinya yang sekarang ingin ia kubur.


''Ya sudah sampai ketemu nanti malam sayang.'' ucap sang mommy dan langsung memeluk dan mencium Alea diikuti oleh sang daddy.


''Sampaikan salam mommy dan daddy pada Gie,'' ujar sang Daddy setelah mereka keluar dari pintu apartemennya.


Alea hanya tersenyum. Lindsay melirik ke arah Alea lalu ikut tersenyum.


Setelah kedua orangtuanya pergi ia masuk kembali ke apartemennya disusul oleh Lindsay. Alea mendaratkan bokongnya ke sofa ruang televisi. Ia membuang kasar nafasnya.


''Huufftt, aku begitu panik tadi. Untung saja masih diberi waktu untuk bernafas.'' Ucap Alea seraya menatap ke arah Lindsay yang duduk di sampingnya

__ADS_1


''Tenang Lea, kita hadapi bersama,'' Lindsay tersenyum memberi dukungan sambil menggenggam erat tangan Alea padahal ia juga sangat gugup tapi ia harus tetap kuat dihadapan Alea agar sahabatnya itu tidak menjadi lemah.


Alea mengangguk dan tersenyum Lindsay memang benar-benar sahabat yang paling mengerti akan dirinya. Entahlah jika tak ada Lindsay ia mungkin tak sekuat sekarang menghadapi masalahnya.


__ADS_2