Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 39 Berbaikan 2


__ADS_3

Jack dan Lindsay masih menyusuri jalan menuju hotel.


''Tadi kau ke taman jalan kaki juga?'' Tanya Lindsay.


Jack mengangguk.


''Kenapa tidak bawa mobil saja?''


''Tidak sempat, takut bidadari nya mendadak hilang.''


Lindsay mengerutkan keningnya,'' bidadari?''


''Hm, bidadari hatiku hilang kendali karena cemburu, aku takut dia makin salah paham denganku,'' Jack melihat ke arah Lindsay yang masih belum paham.


Sejurus kemudian, Lindsay menepuk jidatnya, ia baru paham kalau yang dimaksud Jack adalah dirinya.


Dia tersenyum malu,'' kalau aku tidak lari, kita tidak akan seperti ini kan?''


''Hm, benar juga, tapi cukup yang tadi saja larinya kali ini jangan lari lagi dariku, kau paham sayang?'' Jack berhenti sejenak lalu menghadap ke arah Lindsay yang juga berhenti dan melihatnya.


''Iya, aku paham, jangan khawatir, kita kan bisa saling mengabari dan bisa bertemu kalau ada waktu.''


Jack mengangguk dan mencium kening Lindsay lalu mereka melanjutkan perjalanannya.


Sepanjang jalan itu mereka terus bercerita tentang kehidupan mereka selama sepuluh tahun ini.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di hotel, Lindsay hendak kembali ke penthouse namun Jack belum ingin berpisah darinya apalagi besok Lindsay sudah harus kembali ke Trondheim di tambah mereka yang baru saja menjadi sepasang kekasih, jadi malam ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama Lindsay.


Jack pun menarik tangan Lindsay dan memasuki sebuah lift khusus setelah itu ia menekan angka dua puluh tiga. Jack tidak membawa ke kamar yang tadi karena ia tak ingin Lindsay mengingat kejadian dirinya bersama Natalie.


Tiba di depan kamar, Jack memasukkan kartu kuncinya, pintu terbuka dan menampilkan ruangan kamar yang besar di dalamnya terdapat ruang televisi juga ada dapur minimalis yang langsung terdapat meja makan hanya untuk dua orang, terdapat satu ruang kamar lagi di dalamnya. Yang membuat Lindsay tercengang adalah deretan foto dirinya dari masa high school hingga kuliah terakhir foto dirinya saat berada di acara pagelaran busana tempo hari, Jack menyusunnya dalam sebuah lemari hias di kamarnya.


''Ini ruangan pribadiku, kau adalah orang kedua yang masuk ke sini setelah Gie, bahkan aku membersihkannya sendiri tanpa bantuan housekeeping.


''Benarkah? Lalu bagaimana dengan foto-foto itu? Lindsay menunjuk deretan foto dirinya.


Melihat itu Jack tersenyum lalu berkata,'' karena aku masih sulit melupakanmu, saat merindukanmu aku hanya akan memandang semua foto itu untuk mengobati rasa rinduku, tapi sekarang aku bahagia, tidak hanya fotonya saja yang bisa ku pandangi tapi orangnya juga sudah kumiliki,'' Jack langsung maju ke depan Lindsay kemudian langsung me-***** bibirnya.

__ADS_1


Mereka kembali berciuman dengan dalam dan ini adalah ciuman panas ketiga mereka.


Lindsay membalas lu-matan bibir Jack dengan ikut me-magut bibir tebal Jack yang membuat Jack semakin terbakar gairah, ia pun semakin memperdalam ciumannya pada Lindsay bahkan tangan sebelahnya sudah me-re-mas salah satu squisy Lindsay yang membuat Lindsay mengeluarkan desahannya.


Asshh...


Jack menggendong Lindsay dan membawanya ke atas ranjang king size-nya, ia mendorong Lindsay perlahan untuk tidur telentang tanpa melepas pagutannya lalu ia terus mencium bibir Lindsay kemudian turun ke area leher mengecupnya kuat sehingga menimbulkan tanda merah di leher Lindsay.


Jack terus menyusuri area leher putih mulus Lindsay sambil membuka kancing kemeja Lindsay. Setelah semua kancing terlepas terpampanglah kedua buah squisy Lindsay yang besar masih terbalut bra hitam.


Lindsay merasa malu ketika Jack terus memandang kedua buah squisynya itu, ia pun berniat menutup kembali kemejanya namun Jack menahannya kemudian kembali me-***** bibir Lindsay sambil membuka kancing bra Lindsay dari belakang, setelah terlepas, Jack langsung menarik bra tersebut sekalian dengan kemeja Lindsay dan membuangnya sembarang, kini Lindsay telah dalam pose setengah telanjang, lantas Lindsay cepat menutup bagian dadanya ketika Jack membuka baju bagian atasnya juga.


Entah kenapa Lindsay menikmati semua hal yang tengah terjadi saat ini padanya padahal sebelumnya ia belum pernah sama sekali seintim ini bersama pria manapun. Namun rasa penasarannya juga dorongan kedewasaan dalam dirinya membuatnya terus menikmati keadaan ini apalagi setelah melepas atasannya, Jack langsung melepaskan kedua tangan Lindsay dan langsung menyambar salah satu squisy Lindsay, mengulum pucuk pink-nya sambil me-re-mas satu squisy Lindsay yang sebelah.


Asshh...


Lindsay kembali mengeluarkan suara indahnya dan tanpa sadar menekan kepala Jack untuk terus melakukannya.


Jack semakin terbakar gairah yang sangat membara, ia pun terus meng-hi-sap pucuk pink Lindsay kemudian mulutnya mulai turun menyusuri perut Lindsay dan berhenti di area bawah perut Lindsay yang masih dilapisi celana hot pants hitam Lindsay.


Tangan Jack mengelus bagian sensitif Lindsay kemudian ia pun menurunkan celana pendek Lindsay tersebut menyisakan segitiga renda transparan yang menutupinya, Jack langsung menurunkannya juga, sontak Lindsay mengatup kedua pahanya untuk menutupi miliknya karena malu dengan pandangan Jack.


Jack memainkan lidahnya ke dalam milik Lindsay yang mana membuat Lindsay semakin merasa geli dan nikmat sekaligus sehingga ia juga tak sanggup untuk terus menerus menahan desahannya.


Ia kembali menekan kepala Jack masuk ke dalam miliknya. Hingga sepuluh menit kemudian ia merasa tubuhnya bergetar hebat dan langsung terasa lemas, ini pengalaman pertamanya merasakan pelepasan yang menegangkan tubuhnya.


Setelah Lindsay mendapatkan pelepasannya, Jack melepas celana luar dan dalamnya.


Lindsay menelan salivanya ketika melihat pedang milik Jack yang telah tegak berdiri sempurna di hadapannya.


''Besar sekali miliknya,'' batin Lindsay sedikit bergidik ngeri.


Jack membawa miliknya dan menghadap ke bibir Lindsay kemudian ia menekan kepala Lindsay dan menyuruh Lindsay untuk mengulum miliknya.


Lindsay langsung melakukannya, Jack merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika Lindsay memaju-mundurkan mulutnya, ditambah tangan Lindsay yang juga ikut bekerja menggerakkan milik Jack.


Jack terus menekan kepala Lindsay untuk memperdalam ku-lumannya bahkan Lindsay sampai tersedak karena milik Jack yang besar itu memenuhi mulutnya hingga ke tenggorokannya.

__ADS_1


Asshh...


Jack mengeluarkan suaranya sambil menutup kedua matanya.


''Faster sayang, aku sudah tak tahan lagi,'' ujar Jack.


Lindsay pun mempercepat gerakannya hingga milik Jack mengeluarkan laharnya ke dalam mulut Lindsay sampai Lindsay terbatuk-batuk dibuatnya, mulutnya terasa kebas namun ia tetap menikmatinya.


Jack terduduk lemas di samping Lindsay kemudian menarik Lindsay ke dalam pelukannya.


''Terimakasih sayang, maaf membuatmu bekerja keras," ucap Jack lalu melepas pelukannya membersihkan miliknya di area pipi Lindsay kemudian mengecup kening Lindsay dan bibirnya.


Ia menarik Lindsay untuk berbaring keduanya masih dalam keadaan polos sehingga Jack juga menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polos keduanya.


"Kenapa tidak memasukkannya?"Tanya Lindsay.


Jack tertawa, ia memandangi wajah Lindsay dan berkata,'' aku tidak ingin merusakmu dulu, seperti ini saja sudah cukup nanti setelah kita menikah baru aku melakukannya, membawamu bersama-sama menikmati keindahannya.''


''Bukankah terlalu cepat membicarakan sebuah pernikahan?'' Tanya Lindsay.


''Tidak juga, usai kita sudah terlampau matang untuk menjangkau sebuah pernikahan, bahkan kita sudah saling mengenal, saling melihat dan bersentuhan walaupun belum sampai pada tahap itu, kalau kau izinkan aku langsung melamarmu,'' ini adalah salah satu impian Jack yakni menikah dengan Lindsay.


''Jangan terburu-buru, aku masih mau menikmati masa pacaran kita, aku belum pernah merasakannya bahkan belum genap tiga jam kita jadian,''ucap Lindsay menatap Jack.


''Tidak apa-apa kalau kau belum siap, aku masih sanggup menunggu yang penting berjanjilah padaku bahwa kau tak akan pergi dari hidupku, aku mengizinkanmu kembali ke Trondheim tapi aku tak akan mengizinkanmu pergi dari sisiku.''


Lindsay tersenyum mengangguk lalu memeluk erat tubuh Jack yang juga dibalas oleh Jack tak kalah eratnya.


''Aku janji, kali ini tak akan lagi melakukan hal bodoh dengan menolakmu,'' ujar Lindsay.


''Terimakasih sayang, aku percaya padamu.''


Jack menghujamkan banyak ciuman di puncak kepala Lindsay.


Lindsay sudah sangat mengantuk namun Jack tak ingin membiarkan Lindsay tidur, dia terus mengajak Lindsay bicara, karena beberapa jam lagi mereka harus berpisah sejenak, ia ingin ikut dengan Lindsay namun ia tak dapat meninggalkan segala pekerjaannya dan Gie.


Mereka menghabiskan waktu malam hingga hampir pagi bahkan mereka masih mengulang hal gila itu sekali lagi lalu mandi bersama dan Lindsay memakai kemeja Jac, setelah itu, Jack mengantar Lindsay kembali ke penthouse, ia mengecup bibir Lindsay lalu menyuruhnya masuk ke dalam dan ia pun berbalik pergi.

__ADS_1


Untunglah Alea dan lainnya masih terlelap jadi Lindsay langsung masuk ke kamar dan tidur kembali tapi sebelumnya ia menutupi area lehernya dengan krim dan mengganti bajunya lalu menyembunyikan baju milik Jack ke dalam kopernya, ia belum ingin cerita pada Alea soal hubungannya dengan Jack karena merasa tak enak hati.


__ADS_2