Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab 18 Bertemu Ben


__ADS_3

Gie dan Jack tengah berada di sebuah bar. Seharian ini mereka kesana-kemari mencari informasi tentang Alea namun hasilnya nihil. Ia ke rumah Lindsay dan bertemu dengan ayah Lindsay tetapi jawaban pria paruh baya itu menjengkelkan hatinya. Ayah Lindsay mengatakan tidak ada informasi untuk pria tak bertanggungjawab sepertinya, ia disuruh berusaha sendiri mencari tahu keberadaan Alea. Tanpa banyak bertanya, ia dan Jack langsung pergi dari rumah Lindsay. Ia juga sempat singgah ke rumah Silly dan ternyata Silly telah pindah ke Jerman, untungnya pelayan di rumah itu memberikannya nomor Silly yang baru, ia langsung menghubunginya. Sekali lagi ia harus menelan kekecewaan karena Silly pun sudah lama putus kontak dengan ketiga sahabatnya.


Tak patah semangat ia pergi ke rumah Ben yang merupakan harapan terakhirnya dan hasilnya tetap saja sama, si pria kulkas itu juga tak ada di rumah karena sedang berkunjung ke rumah neneknya.


Jack yang melihat sahabatnya menjadi lesu akhirnya mengajaknya pergi ke bar tempat mereka biasanya berkumpul bersama sahabat mereka yang lain.


''Sudahlah jangan sedih, kita belum bertemu juga dengan Ben kan. Siapa tahu setelah bertemu dengannya kita bisa dapat informasi tentang Alea. Sekarang ayo kita nikmati suasananya dulu. Sudah lama kita tidak melakukan hal seperti ini bersama,'' ajak Jack.


Mereka sedang berada di dalam ruangan VIP yang dipesan oleh Jack. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul dua wanita seksi sambil membawa minuman, keduanya langsung mengambil posisi di samping Gie dan Jack.


Tidak seperti Jack yang langsung merangkul salah satunya, Gie langsung melompat menghindar, kali ini ia tidak ingin mual-mual lalu muntah, ia tak ingin dirinya jatuh lemas di saat belum ada kejelasan tentang keberadaan Alea.


Lagipula ia juga sangat heran, sejak kapan sahabatnya itu suka menyewa wanita seksi untuk menemaninya minum, setahunya Jack sangat anti berdekatan dengan wanita lain karena ia hanya ingin Lindsay yang menjadi wanita pertama dan terakhir yang boleh menyentuhnya, namun apa yang ia lihat saat ini berbanding terbalik dengan ucapan Jack selama ini, apakah ini efek patah hatinya terhadap Lindsay?


Melihat pergerakan Gie yang seperti itu membuat Jack dan kedua wanita seksi tersebut terkejut.


''Kenapa denganmu?'' Tanya Jack heran. Dia memang tak pernah melihat Gie dekat dengan wanita manapun bahkan ia selalu memasang wajah datar dan dinginnya jika ada yang mencoba mendekatinya. Tetapi saat ini mereka berdua tengah patah hati, tidak apa-apa kan kalau hanya sekedar ditemani minum.


Kalau boleh jujur ini adalah salah satu bentuk pelampiasan Jack untuk rasa patah hatinya namun entah kenapa ia juga tak bisa berbuat lebih dari sekedar merangkul bahkan sekedar dicium di pipinya saja ia tak mau karena selalu terbayang akan wajah Lindsay.


Terkadang ia juga sangat marah, kenapa bayangan wanita yang dibencinya itu masih berkeliaran di otaknya. Benar-benar menyebalkan!


" Suruh mereka keluar dari sini!" Perintah Gie semakin membuat Jack heran.


"Memangnya kenapa?" Tanya Jack penasaran.


"Jangan banyak tanya, kau mau mengusir mereka keluar atau aku saja yang keluar dari sini?" ancam Gie.


Jack mengalah, ia pun lalu memberikan kode pada kedua wanita seksi itu untuk segera keluar dan merekapun bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan wajah cemberut menahan kesal. Padahal tadi mereka sudah sangat senang mendapatkan dua pria tampan malam ini tetapi pada akhirnya mereka harus dibuat kecewa oleh salah satunya.


Sepeninggal kedua wanita itu, Jack bertanya pada Gie yang telah kembali duduk di sampingnya,'' ada apa denganmu?''

__ADS_1


''Aku selalu mual dan muntah jika berdekatan dengan wanita,'' jawaban Gie membuat Jack lagi-lagi terkejut.


''Sepertinya Alea tengah mengutukmu dengan sangat keras, mungkin kau akan melajang seumur hidup jika tak bersama Alea,'' ejekan Jack membuat Gie menatap tajam ke arahnya.


''Sudahlah, kita pulang saja selera minumku telah hilang, lanjut Jack.


Setiap menyinggung Alea pasti Jack akan teringat dengan Lindsay. Kedua wanita benar-benar sangat mempengaruhi mood keduanya.


Gie setuju dengan perkataan Jack, mereka lalu segera keluar dari ruangan. Saat mereka hendak keluar dari bar mereka berpapasan dengan Ben yang terlihat terkejut dengan keberadaan Gie di sini. Namun Ben memasang wajah datarnya dan berlalu dari hadapan Gie dan Jack.


Mana mungkin Gie akan biarkan Ben pergi begitu saja, ia sudah hampir putus asa untuk bisa bertemu dengan pria itu jadi ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan wajah yang tak kalah datar Gie berucap,'' aku ingin bicara denganmu!"


Ben berhenti di samping Gie, masih dengan wajah datarnya,'' kau bicara denganku?''Tanya Ben pura-pura tidak tahu.


Gie terlihat kesal, ia menoleh ke arah Ben yang sedang menatapnya,'' ya tentu saja kau, memangnya siapa lagi yang lewat di sampingku!''


''Aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang asing!'' Balas Ben ketus sambil berlalu dari hadapan Gie. Jack hanya mengamati keduanya tanpa bicara sedikit pun, ini bukan rananya.


Saat mendengar pertanyaan Gie, langkah Ben terhenti, tangannya terkepal dengan kuat lantas ia berbalik dan menatap tajam ke arah Gie yang sedang menatap datar padanya.


''Kau bertanya padaku soal Alea? Memangnya kau siapanya?'' Tanya Ben sengaja memancing emosi Gie.


Gie terlihat mulai emosi, ia maju mendekat pada Ben dan ikut menatap tajam manik mata Ben. Jack senantiasa berjaga-jaga di belakang Gie, kalau-kalau mereka berdua adu jotos disitu ia akan segera menghadangnya.


''Aku tidak perlu mendengarkan ceramahmu, kau cukup jawab saja, dimana Alea!''


Ben tersenyum sinis,'' Aku tidak tahu! Kau cari saja sendiri!''


Gie akhirnya menarik kerah baju Ben dan Jack langsung menahan tangannya.


''Jangan emosi, ini di tempat umum, bisakah kita selesaikan dengan kepala dingin di tempat yang lebih layak,'' ujar Jack.

__ADS_1


''TIDAK!!!'' Jawab keduanya kompak membuat Jack terkekeh lucu,'' Astaga kalian kenapa tiba-tiba kompak sekali?''


Gie dan Ben menatap tajam ke arah Jack dengan posisi Gie yang masih memegang kerah baju Ben, Jack yang mendapat tatapan maut dari keduanya mengangkat tangannya,'' baiklah aku serius, Ben bisakah kau memberi tahu keberadaan Alea?''


Ben segera menghempas kasar tangan Gie,'' setelah sekian purnama kau baru muncul dan bertanya soal Alea?" Ben menatap tajam Gie yang juga tak kalah tajam menatapnya.


''Simpan basa-basimu, cukup jawab saja dimana Alea?''


Ben tersenyum sinis,'' jangan ganggu hidupnya, dia sudah sangat bahagia dengan pilihannya sekarang, bahkan semua tentangmu sudah tak tersisa lagi, dia benar-benar menghapusmu dari hidupnya. Jadi aku harap kau jangan mengusik kebahagiaannya lagi!"


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Gie berpacu dengan cepat. Benarkah Alea pada akhirnya memilih pria itu? Itukah alasan ia tak menyisakan satu apapun tentang dirinya di apartemen mereka?


Tangannya terkepal, rahangnya mengeras,'' benarkah dia telah bahagia saat ini?" sudut matanya basah tak menyangka kalau hubungannya kali ini akan berakhir dan tak akan bisa diperbaiki lagi.


"Tentu saja dia sangat bahagia, jadi berhentilah mengusik hidupnya!" Sebenarnya Ben ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tetapi mengingat betapa terlukanya Alea setelah pria di hadapannya ini meninggalkan Alea maka ia pikir akan lebih baik kalau Alea menjauh darinya dari pada mereka kembali dan Alea kembali terluka.


''Baiklah terimakasih atas informasinya, memang di antara kami seharusnya sudah selesai! Dia memang tidak pantas aku perjuangkan!" Gie merasa sakit hati ternyata kepergiannya tak ada efek kehilangan sama sekali untuk Alea tetapi wanita itu malah semakin bahagia. Apa yang tidak ia berikan untuk wanita yang telah mencuri seluruh hidupnya itu


Keputusan untuk pergi tempo hari adalah yang paling tepat dan kembali hari ini adalah kesialan baginya.


Ben cukup terkejut dengan kalimat yang Gie keluarkan itu membuatnya merasa sudah berbicara dengan benar tadi. Ia baru hendak berbicara lagi namun belum sempat mengeluarkan suaranya Gie langsung melengos pergi meninggalkannya diikuti oleh Jack dari belakangnya.


Ben terpaku sejenak, ia masih bingung dengan sikap Gie, ada apa dengan pria itu? apa mksdnya berkata seperti itu? ataukah dia yang salah bicara?


Aneh!

__ADS_1


__ADS_2