Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.15


__ADS_3

"Ada apaan sih? ganggu gue lagi tidur aja!" seru Gladis yang keluar dengan acak-acakan khas bangun tidur.


Dia mengucek matanya masih terasa berat itu, kemudian berjalan ke arah Dion dan Helmi.


"Apaan sih, berisik banget?"


"Ini nih, dia buat tuh bocah kematian nangis.." ucap Dion dengan penuh semangat.


Seketika mata Gladis terbuka lebar setelah mendengar pernyataan itu. Rasa kantuknya seketika juga menghilang.


"Margareth maksud lu?"


Dion mengangguk dengan penuh keyakinan.


plak!


Gladis memukul kedua lengan Helmi dan mencengkeramnya, lalu menggeser tubuhnya untuk menghadapnya.


"Lu tau apa artinya?" Gladis menatap Helmi dengan serius.


"Berarti orang yang buat cewek beton nangis itu seorang kriminal.."


"Bwahahaha~"


Ucapan Gladis di sambut tawa renyah oleh Dion. Gladis pun juga ikut tertawa setelahnya.


Meskipun itu hanya candaan, tapi Helmi sadar kalau yang Gladis ucapkan itu memang benar. Dia seorang penjahat karena telah melampiaskan emosi pribadinya pada Margareth yang tidak berbuat salah.


Dia semakin frustasi dengan kebodohannya sendiri.


...****************...


"Kamu beneran gak apa?" Hana sudah bertanya yang ke sekian kalinya setelah Margareth mengantar Hana hingga rumahnya.


Jawaban Margareth tetap sama. "Iya, aku beneran gak apa,"


"Aku balik dulu ya, hari ini aku capek banget. Bye~" pamitnya pada Hana.

__ADS_1


Hana menatap kepergian Margareth. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya setahun atau dua tahun mereka berteman. Tapi sepuluh tahun. Itu bukan waktu yang singkat untuk mengenal Margareth. Hana sangat mengenal bagaimana sifat Margareth.


Margareth melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan dia ditemani oleh air mata yang terus mengalir dan menggenang di dagunya.


Dia masih tak percaya, rasanya seperti mimpi. Dia tidak menyangka bahwa Helmi baru saja membentak nya.


Bukan kekanakan. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa rasanya sakit sekali. Air mata yang tidak pernah dia keluarkan juga tiba-tiba saja memaksa keluar.


Dia menambah kecepatan motornya. Semakin dipikirkan, dia semakin merasa kesal.


Margareth menghentikan motornya di lampu pemberhentian. Dia membuka kaca helmnya lalu mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam.


Dia menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan berat. Namun siapa yang sangka aksinya itu menarik perhatian seseorang dalam mobil dengan kaca terbukanya.


Margareth menoleh karena merasa seseorang sedang menatapnya.


tak~


Dia menutup kaca helmnya, setelah melihat orang yang ada dalam mobil itu. Chandra.


"Dia tidak mengenaliku, kan?" gumam Margareth.


Tidak ingin ketahuan lagi, Margareth sedikit memajukan motornya di depan mobil Chandra. Lalu menarik gas nya setah lambu berubah warna.


"Semoga saja dia tidak melihatku," gumam Margareth.


...****************...


Margareth menjagang motornya di depan sebuah bengkel besar. Kedatangannya langsung disambut oleh Sania dan Farhan.


"Lu pakai motor si Sania lagi?" ujar Farhan.


Margareth hanya menunduk, lalu mengangguk pelan. Sedangkan Sania yang lebih tinggi dari Margareth itu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menelisik wajah Margareth.


Dia mengulurkan tangannya, lalu mengangkat dagu Margareth dengan pergelangan tangannya, karena telapak tangannya penuh dengan noda oli.


"Kau habis menangis?" tanya Sania khawatir.

__ADS_1


Farhan yang tadinya hendak pergi pun kembali lagi setelah mendengar ucapan Sania.


"Menangis?" seru Farhan.


"Siapa yang membully mu? katakan padaku, aku akan menghancurkan kakinya!" seru Farhan dengan wajah garangnya.


Mendengar ucapan Farhan membuat Margareth tertawa, juga membuat kedua orang itu menatapnya heran.


"Tidak, aku tidak menangis. Dari tadi kaca helm nya ku buka, makanya banyak debu yang masuk ke mata," jelas Margareth untuk meyakinkan mereka berdua.


"Beneran?" tanya Sania tak percaya.


"Iya, kakak," jawab Margareth seraya menyerahkan kunci motor ditangannya pada Sania.


"Kamar mandinya sebelah mana? aku mau ganti baju,"


Margareth segera pergi setelah Sania menunjukkan arah dimana kamar mandi berada.


"Gue gak percaya," ujar Farhan pada Sania setelah Margareth pergi.


"Apa mungkin dia jatuh?" gumam Sania curiga.


Dia langsung menghampiri motornya untuk mengecek. Namun tidak ada tanda-tanda kalau dia habis jatuh. Farhan mengambil helm yang tergeletak di atas jok.


"Basah," lirihnya.


"Dia beneran nangis, San. Nih, helm nya aja basah!" ujarnya dengan kesal.


"Awas aja kalo gue tau siapa pelakunya, gak selamet tuh orang!" lanjutnya.


"Aku bisa mendengarnya..."


Sania dan Farhan menoleh.


"Sudah ku bilang, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," Margareth menekan ucapannya.


"Kalian tidak perlu khawatir. Aku pulang dulu, selamat bekerja.." pamit Margareth.

__ADS_1


"Gue anterin," ujar Sania.


Namun Margareth tak menghentikan langkahnya dan hanya melambaikan tangan. Sania dan Farhan saling menatap, mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Margareth sudah menegaskan ucapannya.


__ADS_2