
"Apa kau bisu?! apa kau cacat?! kenapa tidak melawan balik?! bukankah kau biasanya sangat liar?!"
Tangis Margareth semakin keras saat Chandra mengomelinya dengan kalimat yang terdengar kasar ditelinga nya.
"Turunin!" teriak Margareth sambil meronta-ronta. Karena kewalahan, Chandra pun menurunkannya.
Margareth merampas tasnya yang ada di genggaman Chandra, lalu mengeluarkan ponselnya. Saat hendak mengangkat teleponnya ke telinga, Chandra merampas ponsel itu dari tangannya.
"Mau telepon siapa kamu?! Helmi? apa Juan?" tegar Chandra.
"Emang kenapa?! dalam keadaan seperti ini cuma mereka yang bisa buat aku tenang! mereka tidak akan memarahiku seperti Kakak!" Margareth meninggikan suaranya.
"Kukira Kakak benar-benar sedih saat melihatku seperti ini. Sepertinya aku salah lihat, mana mungkin orang sekaku Kakak bisa menangis hanya karena aku yang tidak ternilai ini," gumam Margareth.
Chandra menghela napas pasrah seraya menyiah rambutnya dengan gusar. Kemudian menatap Margareth yang masih menangis sesenggukan.
"Lain kali jangan mencari orang lain lagi, ada aku.." tutur Chandra yang langsung menarik Margareth kedalam dekapannya.
Chandra melepas pelukannya setelah beberapa saat, lalu menarik Margareth ke motornya. Chandra menatap helmnya, kemudian berdecak kesal.
"Aku cuma bawa satu punyaku.." ujarnya seraya memakaikan helm itu pada Margareth.
"Terus Kakak?" lirih Margareth.
Chandra tidak menjawab, hanya melirik Margareth sekilas kemudian berbalik dan menaiki motornya.
"Cepetan naik.." ucapnya dengan nada ketus seperti biasanya.
Motornya melaju kencang, dibelakang sana Margareth memeluk erat Chandra dengan matanya yang di pejamkan rapat.
Meskipun kejadian mengerikan itu sudah berlalu, tapi rasa takut masih mengerubungi dirinya. Bayang-bayang anak-anak yang menganiayanya dengan tindakan tanpa perasaan itu berputar di kepalanya.
Pegangannya pada Chandra semakin erat karena rasa takut yang masih menempel itu. Chandra yang peka akan hal itu pun membelai lembut tangan Margareth, lalu menggenggamnya.
...****************...
"Apa kau tertidur?" tanya Chandra saat motornya telah berhenti.
__ADS_1
"Tidak," jawab Margareth dengan suara lemah.
Chandra menghela napas pasrah, kemudian menepuk pelan tangan Margareth yang masih memeluk erat pinggangnya.
"Apa kau tidak berencana untuk melepaskan ku?" tanya Chandra diselingi tawa kecil yang terdengar seperti ejekan.
Margareth langsung melepas pelukannya, lalu memukul pelan punggung Chandra. "Menyebalkan," gerutunya.
Margareth membuka kaca helmnya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang terlihat asing itu.
"Dimana ini?" gumam Margareth seraya turun dari atas motor.
Diikuti Chandra yang turun dari motornya. Dia menarik lengan Margareth dan melepas helmnya, namun Margareth menahan tangannya.
"Jangan.." ujarnya.
"Aku sangat berantakan," lanjutnya seraya menutup kaca helmnya.
Chandra menatap kaca helm itu, dia tidak bisa melihat wajah Margareth, tapi dari balik sana Margareth dapat melihatnya.
Tanpa kata Chandra menarik Margareth masuk ke tempat itu. Markas nya. Dia membawanya ke kamar mandi.
Margareth terdiam. Dia tidak menjawab ataupun bergerak untuk membuka helmnya. Sedangkan Chandra yang kesabarannya mulai menipis itu berdecak kesal.
"Iya iya..aku buka sendiri," ujar Margareth.
Coretan makeup memenuhi wajahnya, tidak ada sedikitpun tempat yang tak terwarnai. Seperti topeng.
Margareth menundukkan wajahnya. Matanya mulai memanas. Dia berpikir Chandra pasti merasa jijik melihat wajahnya itu.
Namun....
Margareth mengangkat kepalanya, setelah suara tawa itu menggema dalam kamar mandi.
"Lebih menyeramkan dari joker.."
"Hantu di dalam kamar mandi ini pasti juga kabur setelah melihat wajahmu.."
__ADS_1
Mendengar ejekan itu, bukannya merasa kesal, Margareth malah merasa lega. Melihat tawa itu entah mengapa hatinya terasa tenang. Tidak ada kekhawatiran.
"Terima kasih," lirih Margareth.
"Apa kau gila?" tawa Chandra memudar dan kini hanya tersisa ekspresi heran di wajahnya.
"Bukankah itu sebuah pujian?" tanya Margareth.
"Pujian kepalamu?!" jawab Chandra seraya menangkup wajah Margareth dengan kedua tangannya.
Dia menatap secara rinci wajah Margareth. "Parah.." gumamnya, lalu melepas tangkupan nya. Dia mengambil tisu dan membersihkan wajah Margareth dengan perlahan.
Margareth menatap laki-laki dihadapannya yang sedang fokus terhadapnya itu. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya dan membelai wajah Chandra.
Chandra tersentak. Dia menghentikan tangannya yang membersihkan wajah Margareth.
"Ah- se-sepertinya itu.. itu noda oli. Iya, ada noda oli di wajah Kakak," ujar Margareth dengan kikuk.
Chandra menatap mata Margareth sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Seolah tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Itu yang terlihat. Tapi sebenarnya tidak. Dia hanya berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Aku akan membawamu ke salon setelah ini,"
"Kau pasti membawa sabun cuci muka, kan. Bersihkan wajahmu, ku tunggu di luar.." tutur Chandra lalu keluar.
Beberapa saat kemudian Margareth keluar dari kamar mandi.
Dia melihat sekeliling tempat asing itu. Sekilas suasana didalam sana terasa seperti di markasnya. Bedanya didalam sana lebih berantakan dari tempatnya.
"Apa ini markas?" tanya Margareth saat menghampiri Chandra yang sedang meneguk minumannya.
"Ya.." jawab singkat Chandra.
Chandra melempar sekaleng minuman pada Margareth.
"Kau pasti sudah mendengarnya dari anak-anak itu kan, siapa aku?"
Margareth hanya mengangguk menanggapi ucapan Chandra.
__ADS_1
"Cepat habiskan, aku akan mengantarmu ke salon, lalu pulang.."