
Siang itu Margareth makan siang sendiri, tidak bersama Hana. Menyesal dia telah menolak ajakan teman angkatan sejurusan nya.
Sebungkus roti keju dia makan dengan tenang di taman. Tidak lupa susu strawberry yang selalu hadir.
Margareth membuka ponselnya, pesan yang dia kirim pada Hana dari pagi tadi belum juga dibacanya. Dia mencoba untuk meneleponnya, namun juga tidak diangkat.
Dia berencana menghubunginya kembali saat pulang nanti. Tapi karena lembur mengerjakan proyeknya, dan pulang malam, Margareth melupakannya.
Hingga dua hari kemudian...
"Hana.." panggil Margareth saat sosok yang dinantinya selama dua hari terakhir ini muncul di hadapannya.
Namun..
Reaksi yang diberikan Hana membuat Margareth mengerutkan keningnya tak habis pikir. Gadis yang selalu berteriak saat melihat Margareth itu kini hanya menunduk, dan secara terang-terangan menghindar.
Margareth pikir Hana tidak mendengarnya, dan bahkan tidak melihatnya. Margareth masih bisa berpikir positif. Karena hal itu bisa saja terjadi.
Namun pikiran itu tidak bertahan lama. Saat kelas selesai, dia berencana mencari Hana. Lalu secara tidak sengaja Margareth melihat Hana yang sedang sendirian di taman yang sepi dengan kepala tertunduk.
Hana tidak biasanya seperti itu. Margareth pun mulai curiga hal buruk telah terjadi padanya. Untuk memastikannya pun bergegas menghampirinya.
"Han~" Margareth menepuk pelan pundak Hana.
Dan, hal tak terduga pun terjadi. Hana menepis tangan Margareth, dan bahkan mendorong Margareth hingga terjatuh.
Margareth menatap Hana yang sedang berdiri itu dengan tatapan tajam. Tidak, bukan karena dia marah pada Hana.
__ADS_1
Tapi dia marah pada dirinya sendiri, karena dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri beberapa hari ini.
"Maafkan aku karena akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan urusan ku sendiri," ucap Margareth.
"Apa terjadi sesuatu?" lanjut tanyanya.
Hana memalingkan wajahnya. Dia juga tidak membantu Margareth untuk berdiri ataupun meminta maaf. Kemudian tanpa berkata apa-apa, di pergi begitu saja.
...****************...
"Kenapa muka lu kayak keset dilipet gitu?" tanya Gladis sambil menyodorkan minuman kaleng lada Margareth.
Sore itu Margareth ikut ke markas. Pikirannya sudah buntu, dia membutuhkan bantuan dari mereka untuk kembali menyadarkannya.
"Tumben temen cebol lu itu gak ikut?" sahut Sania.
"Hana? kenapa dia?"
Dion yang tadi bermain gitar diujung sana langsung mendekat saat mereka membicarakan Hana.
"Dia gak seperti biasanya,"
"Palingan juga lagi PMS," sahut Farhan.
"Enggak, aku kenal betul bagaimana Hana. Masak orang PMS sampe dorong orang sampe jatuh. Dia juga menepis tanganku saat aku menyentuhnya. Dan saat aku bertanya dia malah pergi begitu saja,"
Margareth menjelaskan situasi yang sedang terjadi padanya tadi. Gladis dan Sania terlihat sangat serius memikirkan hal itu.
__ADS_1
Sedangkan anak laki-laki lainnya terlihat tidak tertarik akan hal itu. Begitu pun juga dengan Helmi dan Juan. Mereka berdua malah mabar. Kecuali Dion.
"Dia punya pacar gak?" tanya Sania.
Margareth memutar matanya mengingat minggu lalu Hana diberi hadiah oleh Alfan. Tapi Margareth sendiri juga tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka berdua.
"Kayaknya sih masih PDKT," jawab Margareth ragu.
"Lah, itu dia masalahnya," sahut Gladis.
"Masak sih, Kak?" tanya Margareth tak percaya.
"Iya, udah gak usah khawatir. Palingan besok atau lusa dia bakal normal lagi," jawab Gladis seraya meneguk minumannya.
"Bener tuh.." sahut Julian yang sedang berbaring disebelah sana.
klang~
Gladis melempar kaleng bekas minumnya pada Julian, yang tepat sasaran mengenai kepalanya. Untung saja saat itu Julian sedang memakai topi.
"Wah, si*lan lu babi.." umpat Julian.
Margareth menghela napas lega. Mungkin apa yang dikatakan Gladis dan Sania itu benar, batinnya.
Tapi seseorang merasa ada yang ganjal dengan hal itu. Dia memilih untuk diam dan mengolah sendiri kemungkinan-kemungkinan itu dalam kepalanya.
'Gue bakal cari tau sendiri,' batin Dion.
__ADS_1