Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.20


__ADS_3

Margareth menuruni tangga dengan kakinya yang sedikit pincang. Semua pasti tahu kalau luka di lutut itu sangatlah sakit.


"Kenapa kamu turun dari sana? Dari mana kamu?"


Lagi-lagi suara yang membuatnya mengerutkan kening. Margareth menghindar dan melewatinya, tanpa menggubrisnya.


Namun, bukan Chandra namanya kalau tidak bersikap kasar. Dia menarik paksa pergelangan tangan Margareth, lalu menyeretnya keluar dari aula.


"Kakak mau membawaku kemana?" tanya Margareth memberontak.


Chandra tak memberi jawaban dan terus menarik Margareth hingga sampai di depan motornya. Dia meraih helmnya dan memakainya. Kemudian mengambil satu helm lagi yang digantungkan di belakang motornya, lalu melemparnya pada Margareth. Membuat Margareth menangkapnya dengan kewalahan.


"Cepet naik!" seru Chandra setelah dia menaiki motornya.


Margareth masih berdiam diri sambil memegang erat helmnya. Setelah mendengar perintah Chandra, dia menunduk menatap pakaiannya.


Dengan dress pendek yang lumayan ketat itu, bagaimana bisa dia naik dengan pakaian seperti itu.


Tiba-tiba saja ucapan Juan terngiang di kepalanya. Beberapa minggu lalu dia juga mengalami hal yang sama seperti ini. Tapi bedanya, Juan melingkarkan jaket di pinggangnya untuk menutupi pahanya.


Tidak seperti seseorang.


Margareth tersenyum miris. Seseorang yang dulu sangat menjaganya, kini telah berubah sepenuhnya. Margareth tak tahu, bagaimana cara untuk mengembalikan Chandra seperti dulu lagi.


'Apakah dengan membatalkan perjodohan itu bisa membuatmu kembali seperti dulu lagi?' batin Margareth.


"Tunggu apa lagi kau? cepat naik!"

__ADS_1


Margareth mendongak menatap Chandra. Dia menatapnya sedikit lama, lalu menyeringai.


tak~


Margareth meletakkan helm yang dibawanya di atas tanki motor Chandra. Lalu melesat pergi tanpa sepatah kata.


"Margareth!" panggil Chandra dengan kasar.


Emosinya semakin memuncak. Dia turun dari motornya dan mengejar Margareth. Sekali lagi dia menarik lengan Margareth dengan kasar.


Malam itu, sudah berapa kali Margareth menerima perlakuan kasarnya.


"Tidak bisakah kau berhenti kekanakan!?" bentak Chandra.


Margareth memalingkan wajahnya, menatap Chandra membuat hatinya sakit. Karena wajah itu, orang itu, laki-laki yang dikenalnya sejak dia bisa berjalan, dia sudah bukan orang yang sama lagi.


"Belajarlah untuk mendengarkan ucapan orang lain!"


"Tau apa Kakak?" kini Margareth menatap Chandra. Rasa sakit terlihat jelas pada tatapannya itu.


"Kau berani menjawab saat orang lain menasihati mu!?" tukas Chandra.


Margareth masih tak melepas tatapannya. Dan, Chandra yang dibutakan oleh amarah itu mulai tak tahan lagi. Dia kembali menarik paksa Margareth.


Namun, Margareth menghempas tangannya.


"Tidak, aku tidak mau ikut!" tolaknya.

__ADS_1


"Semakin dewasa, kau semakin berani membantah, ya?"


Lagi-lagi dia mencengkeram pergelangan tangan Margareth. Kali ini lebih keras lagi agar dia tidak bisa memberontak.


"Bagaimana bisa kau menasihati ku sedangkan dirimu sendiri lebih buruk dari itu?"


Cetus Margareth di belakang sana yang membuat Chandra menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa katamu?" tanya Chandra sambil menggertak kan giginya.


"Kau yang tidak bisa mengerti orang lain! kau yang tidak bisa mendengarkan ucapan orang lain! kau yang selalu membantah pendapat orang lain!" teriak Margareth.


Dirinya sudah mulai berderai air mata, dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di dalam sana lagi. Hatinya sangat sakit.


"Aku memakai gaun pendek! kau bahkan tidak peduli akan hal itu dan terus memaksaku untuk naik ke motor mu!"


"Bagaimana bisa aku naik ke atas sana dengan pakaian pendek seperti ini!?"


"Sudah ku bilang jangan tunjukkan air matamu di hadapanku!" bentak Chandra.


"Cukup!!" teriak Margareth.


Tangis Margareth semakin pecah. Dia berjongkok sambil menutup kedua telinganya. Dia sudah muak dengan ucapan Chandra.


"Tidakkah kau tau? gadis yang tidak pernah meneteskan air mata sepertinya, jika dia sering meneteskan air matanya dihadapan mu, berarti kau adalah penjahatnya. Kau, adalah alasannya untuk ME-NANG-IS!"


"Kak Helmi?" lirih Margareth.

__ADS_1


Helmi melepas jas nya dan memakaikannya pada Margareth. Kemudian membantunya berdiri.


"Pikiran hal itu baik-baik.. kawan lamaku!" tegasnya sekali lagi pada Chandra, lalu membawa Margareth pergi dari sana.


__ADS_2