
"Si Dion mana?" tanya Helmi sambil celingak-celinguk kebelakang.
"Entah, tadi jalan ke arah sono.." jawab Farhan sambil menunjuk dengan dagunya.
Helmi mencoba mengikuti arah yang ditunjuk Farhan, namun dia tidak melihat ada Dion di sana. Dia mulai membuka ponselnya untuk menghubungi Dion. Tapi, sebelum dia mengirim pesannya, sebuah pesan masuk.
^^^'Kalo kalian mau pulang, pulang duluan aja. Gue mau liat sebentar lagi..'^^^
Isi pesan dari Dion.
Sementara Dion yang berada di sebelah sana sedang menahan dirinya dari asap rokok dan 3 perempuan yang mengelilinginya. Ingin sekali dia mengusir perempuan-perempuan itu untuk pergi, tapi jika mereka pergi, dia akan ketahuan.
Saat ini dia sedang mengawasi seseorang. Seseorang yang sedang diperlakukan seperti seorang raja disebelahnya itu. Alfan.
Entah sudah berapa banyak putung rokok yang Alfan habiskan. Melihat saja membuat Dion ingin muntah. Hal yang paling membuat Dion muntah adalah saat Alfan memberikan ciuman satu-persatu pada perempuan yang mengelilinginya. Sesekali dia juga meraba tubuh perempuan itu.
"Bener bener bajing*n!" gumam Dion.
Sejauh yang dia lihat dari tadi, sudah jelas kalau Alfan bukanlah lelaki yang baik. Tapi bagaimana bisa Hana yang selalu memberi dinding itu bisa membukakan hati untuknya. Dipikirkan sedalam apapun Dion tidak bisa memahaminya.
Dia menghela napas panjang, lalu melihat layar ponselnya yang sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari. Diapun memakai helmnya bersiap untuk pergi, karena sejak tadi dia tidak mendapat apa-apa.
__ADS_1
'Selagi gue udah dapet beberapa foto betapa bajing*nnya dia, itu udah cukup buat nyadarin Hana,' batin Alfan kemudian menghidupkan kuncinya.
"Oi, apa kabar bro?" dua orang laki-laki datang menghampiri Alfan.
Alfan hanya tersenyum miring sambil melayangkan tos nya.
Melihat beberapa laki-laki itu menghampiri Alfan, Dion kembali mematikan kuncinya. Dia akan tinggal sedikit lebih lama lagi, mungkin saja dia akan memperoleh sesuatu.
"Gimana? berhasil?" tanya salah satu laki-laki itu.
"Berhasil dong, gue gitu.." jawab Alfan dengan bangga.
"Jangan lupa taruhannya!" lanjut Alfan.
"Segampangan apa emangnya tuh cewek?"
Alfan tertawa setelah mendengar pertanyaan dari temannya itu. Sedangkan Dion yang mulai mengerti apa yang sedang mereka bicarakan pun menahan diri untuk tidak melakukan kebodohan. Dibawah sana kedua tangannya sudah mengepal kuat, siap menerjang.
"Lu tau? dia itu temen SMP gue, dan beruntungnya lagi gue pernah nolongin dia. Terus gue buat dia merasa bersalah, gue bilang kalo gue demam seminggu gak ada yang jagain setelah nolongin dia. Gue ngarang cerita yang sedih tentang keluarga gue. Percaya.."
Alfan tertawa puas setelah menceritakan cara apa yang telah dia gunakan.
__ADS_1
"Terus dia bilang kalo dia bakal menebus semuanya dan bakal turutin kemauan gue.. sepolos itu,"
"Terus apa yang elu minta?" tanya temannya.
"***?" ujar Alfan disela tawanya.
klang!
Dion memukul tanki motornya. Itu lebih baik daripada pukulan itu melayang ke wajah Alfan. Ini belum saatnya dia maju.
broommm...
Dion melajukan motornya pergi dengan kecepatan tinggi, yang disahuti sorakan dari anak-anak yang berkumpul ditempat itu.
"Lah? bocah sial*n! ditungguin malah ninggal!" umpat Julian.
Helmi hanya menghela napas panjang setelah melihat Dion lewat. Dia membuka ponselnya.
'Dilihat. Pasti ada apa-apa..' batin Helmi.
^^^'Gue tungguin, kita pulang bareng-bareng,'^^^
__ADS_1
^^^'Nanti hubungi gue. Atau nggak langsung ke tempat awal kumpul tadi aja,'^^^
Isi pedan Helmi pada Dion.