Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.60


__ADS_3

Acara belum dimulai, tapi bajunya sudah berantakan. Chandra melonggarkan dasi kupu-kupu nya karena perasaan mencekik yang mengganggunya sejak tadi. Tali ini bukan karena kancing kerahnya yang terlalu ketat.


Tatanan rambutnya juga mulai acak-acakan, sekacau wajahnya.


"Dia memakai baju yang paling berbeda, tapi sulit sekali menemukannya!" gerutunya kesal.


Chandra menatap pintu masuk aula yang ada di sebelah sana. Tidak mungkin jika dia masuk sendiri tanpa Margareth.


"Tapi gimana kalo dia udah masuk duluan?" dia bertanya pada dirinya sendiri.


"Dasi si*lan ini!" gerutunya seraya membenarkan bajunya dan berjalan menuju pintu masuk aula.


Di dalam sana suasananya lebih ramai lagi. Dari sekian banyaknya orang didalam sini Chandra harus menemukan satu orang.


"Lihat aja kalo ketemu.." lagi-lagi dia menggerutu.


Meskipun kesal dia masih terus mencari. Tidak tahu apa yang akan dia lakukan kalau menemukan Margareth.


Di sebelah sana. Sekilas dia menangkap bayangan wanita yang dicarinya. Dengan langkah cepatnya dia bergegas menghampiri sosok yang semakin jelas itu.


"Hei babi gulung!" panggilnya di tengah dentuman musik yang cukup keras itu.


"Ck!" decak nya saat suaranya tidak dapat mengalahkan suara musik.


Sedikit lagi..


"Hei babi gulung!"


Margareth menoleh. Namun bukannya senang karena orang itu telah repot-repot mencarinya, dia malah terlihat murung.


Tanpa menghiraukan, Margareth pergi begitu saja. Tentunya hal itu membuat Chandra tak senang. Merasa direndahkan.


"Kau mengabaikan ku?" Chandra menahan lengan Margareth, menghentikan langkahnya.


"Apa kau terang-terangan membela mereka?" lanjutnya dengan suara yang terkesan dingin.


Margareth berbalik, lalu dengan lembut melepas genggaman Chandra pada lengannya.


"Aku tidak ingin ribut.." lirihnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.


Namun sekali lagi Chandra menghentikannya.


"Tidak ingin ribut? tapi kau membuatku kacau!" Chandra meninggikan suaranya di kalimat terakhirnya.


"Mengapa kau selalu membuatku terlihat buruk dihadapan mereka?" tanya Chandra.


"Bukan aku, tapi Kakak sendiri yang membuat diri Kakak terlihat buruk.."


"Kakak menunjukkan sifat kasar Kakak dihadapan mereka," lanjut Margareth.

__ADS_1


"Karena aku tidak suka kau dekat dengan anak-anak jalanan itu!" bentak Chandra bersamaan dengan lampu latar yang menyorot ke arah mereka berdua.


Latar musiknya berhenti. Entah sejak kapan. Tapi yang pasti, perdebatan mereka barusan terlihat seperti sebuah teater.


Mereka berdua berdiri didepan panggung utama. Acara sudah dimulai sejak Chandra mengatakan 'kau membuatku kacau'. Mereka berdua asyik dengan dunianya sendiri hingga mengabaikan MC yang sudah berulang kali memanggil mereka.


Canggung.


Sang MC, Lidya, sepupu Margareth menatap Heka dan Albert yang berdiri di sebelah sana. Tidak ada yang bisa mereka lakukan juga.


Lidya menghela napas panjang, lalu dengan cerdiknya mengubah suasana canggung itu menjadi lelucon.


"Baiklah, sekian dari penampilan mereka berdua.."


"Seperti itulah mereka sejak kecil, penuh dengan pertengkaran. Namun siapa sangka hal itu berubah menjadi cinta.."


Suara tawa dan tepuk tangan mengisi keheningan sejenak dalam aula itu.


"Baiklah, tanpa basa-basi lagi, tokoh utama acara ini dipersilahkan untuk naik ke atas panggung," ujar Lidya.


Margareth mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti situasinya saat ini. Dan apa yang sedang dibicarakan Lidya, dia tak mengerti.


Margareth menatap sepupunya itu dengan menggoyangkan kepalanya sebagai isyarat. Namun Lidya yang tak peka itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Mari.." Seru Chandra yang sudah membungkuk dihadapannya sambil menyodorkan tangannya.


"Cepat terima tanganku kalau kau tidak mau ku gendong dihadapan semua orang!" ujar Chandra.


Mendengar ancaman itu segera dia menerima uluran tangan Chandra. Tepuk tangan meriah kembali terdengar.


"Sungguh pasangan yang sempurna.." ucap MC Lidya.


Seseorang datang dengan nampan berisikan kotak kecil.


"Para hadirin yang terhormat pasti merasa heran mengapa calon pengantin wanitanya terlihat kebingungan, kan?"


"Tunggu, pengantin? apakah saya menyebutnya dengan benar?"


Suara tawa kembali terdengar karena kekonyolan sang MC.


"Apakah anda bisa menjelaskannya, Tuan Muda?" Lidya mengalihkannya pada Chandra untuk menjawabnya.


Chandra menerima microphone dari Lidya, lalu menjawabnya dengan singkat. "Karena ini adalah kejutan.."


"Jawaban yang singkat, padat, dan jelas, ya.." ujar Lidya di sela tawa kecilnya.


"Baiklah, sesuai dengan perintah dari atasan saya, Bapak Heka, kata sambutan dari kedua pihak keluarga akan diberikan disesi acara selanjutnya. Silahkan berikan tepuk tangan kepada dua pria hebat yang sedang duduk disebelah sana, Pak Heka dan Pak Albert.."


Jauh dari kata formal, acara itu lebih pantas disebut sebagai acara lawakan. Tapi memang seperti itulah konsep yang diusung.

__ADS_1


"Ok, kembali ke tokoh utama. Langsung saja kita menuju acara inti yaitu tukar cincin antara Nona Margaretha Hekamartha dan Tuan Muda Chandra Artha Nugraha,"


"Namun sebelum pemasangan cincin, tentunya Chandra harus menyampaikan rasa cintanya kepada Margareth.." ujar MC dengan nada menggoda.


Suara tawa dan tepuk tangan para tamu berikan sebagai dukungan.


"Silahkan.."


Chandra tak mengangkat microphone yang digenggamnya, dia hanya menatap lurus pada Margareth. Dia menatap dalam-dalam Margareth, begitupun juga sebaliknya.


"Saya sempat menolak pertunangan ini," satu kalimat yang cukup membuat aula itu hening dalam seketika.


"Hal ini membuat saya kacau. Apakah pantas menjalin hubungan dengan gadis yang saya pantau sejak kecil? yang sudah seperti adik saya sendiri.." ujar Chandra yang sukses membuat Albert bangkit dari duduknya.


"Namun saya menjadi semakin kacau dan kacau saat perasaan tak biasa ini selalu mengganggu saya. Dan semakin membesar saat dia melakukan hal ini.."


cup~


Sorakan para tamu undangan mengisi keheningan dalam aula saat Chandra mengecup bibir Margareth.


"Gadis kecil nakal ini berani melakukan hal itu pada saya!" ujar Chandra sambil menghadap ke arah tamu undangan.


"Pak Heka, apa yang harus saya lakukan pada Putri Bapak ini?"


Tempat itu benar-benar berubah menjadi acara guyonan.


"Jangan dilepaskan!" sahut salah seorang tamu undangan yang membuat semua tamu tertawa.


"Saran yang bagus.." gumam Chandra seraya menatap Margareth.


"Bagaimana? apa kamu mau bertanggung jawab?" tanya Chandra.


Margareth tersenyum malu mendengar semua perkataan Chandra. Dengan matanya yang berkaca-kaca itu dia menatap Chandra.


"Kau tidak sedang berpura-pura, kan?" lirih Margareth.


"Kakak tidak perlu bertindak sejauh ini hanya untuk membuatku kapok," lanjutnya.


"Aku harus membuktikan seperti apa lagi? seburuk itukah aku dimata mu?"


"Aku akan pergi jauh kalau kali ini Kakak main-main denganku.."


Margareth meraih microphone digenggam Chandra. "Aku akan bertanggung jawab.." ucapnya.


Tepuk tangan meriah kembali terdengar. Chandra mengambil kotak kecil di nampan yang dibawa oleh orang disampingnya.


Dua cincin silver menampakkan dirinya saat kotak itu dibuka. Tanpa memakan waktu lagi, Chandra langsung memasangkan cincin itu di jari manis Margareth. Selanjutnya Margareth.


"Cincin yang kini melingkar di jari mereka merupakan simbol terikatnya kedua insan yang menandakan keduanya serius untuk melangkah ke jenjang berikutnya,"

__ADS_1


__ADS_2