
Margareth, sore itu dia berjalan dengan ditemani sekaleng cola. Dari cara berjalannya saja sudah terlihat kalau dia kehabisan tenaga.
"Dasar si Hana gak setia kawan.. bisa-bisanya dia lebih milih gebetannya daripada sahabatnya sendiri!" gerutu Margareth di sepanjang jalannya. Ini pertama kalinya dia pulang sendirian tanpa Hana.
Margareth mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Juan, karena pagi tadi dia sudah berjanji akan mengantarnya pulang.
'Halo? kau dimana?' tanya Margareth pada sambungan telepon itu.
'Maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantar mu pulang. Aku akan memesan taksi online untukmu,' jawab Juan.
'Kenapa?'
'Bukankah jadwal mu sampai jam 3 tadi? tidak mungkin ada kelas dadakan, kan?' tanya Margareth curiga sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 4 sore.
'Ada proyek yang belum aku selesaikan,'
Margareth terdiam. Dia menghela napas panjang kemudian mengedarkan pandangannya. Tatapannya berhenti pada satu sosok.
'Kau dimana sekarang?' tanya Margareth.
'Di luar, di studio milik temanku..'
'Baiklah, aku akan menutup teleponnya,'
Margareth memutus panggilannya sebelum Juan sempat menjawab. Dia mengepalkan tangannya dan mulai berjalan ke arah seseorang yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Kenapa kau berbohong.." gumamnya.
Rasa kecewa, marah, dia rasakan. Satu hal yang paling dia benci adalah kebohongan. Dan, saat ini, orang yang paling dia percaya sedang membohonginya.
Tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di hadapannya. Namun, sesuatu telah membuatnya menghentikan langkah. Margareth membelalakkan matanya.
Sosok laki-laki didepan sana sedang berurusan dengan beberapa luka di wajahnya.
"Bag~ hmmph~"
Dari belakang, seseorang membungkam mulutnya dan menariknya pergi. Margareth terus memberontak sambil memukuli pemilik tangan itu.
"Duhhh~ lu gak bisa diem sebentar apa?"
plak~
"Dasar bocah nakal!" serunya.
"Kakak yang nakal! lagian kenapa sih pake narik segala? aku kira tadi penculik tau gak!" omel Margareth.
"Siapa yang mau nyulik anak nyusahin kayak elu, yang ada tuh penculiknya langsung tobat!"
Adu mulut pun mulai berlangsung. Margareth membuang muka karena merasa kesal dengan Dion yang tiba-tiba menariknya paksa dengan cara yang membuatnya tidak nyaman.
"Ya udah deh, gue salah. Maaf.." ucap Dion sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang yang menyerahkan diri.
__ADS_1
"Sama-sama.." jawab Margareth kemudian melangkah pergi.
"Mau kemana lagi lu?" Dion menghentikannya dengan menarik tasnya.
"Nyamperin Juan. Kayaknya tadi wajahnya luka-luka, dia juga udah bohongin aku.." jawab Margareth dengan kesal mengingat Juan telah membohonginya.
"Lu gak peka banget sih, dia tuh bohong karena gak mau terlihat kacau didepan elu. Jadi, ngerti dikit napa.." tutur Dion.
Mendengar hal itu membuat Margareth mengerutkan keningnya. Rasa kesal, khawatir, dan juga penasaran, bercampur aduk menjadi satu.
Pagi tadi mereka masih bersama, dan Juan juga masih baik-baik saja. Hanya beberapa jam saja dan, Juan sudah berubah menjadi seperti itu.
"Apa dia habis berantem?" tanya Margareth.
"Berantem apanya? di keroyok iya.."
"Si*l!" gumam Dion seraya berbalik untuk melarikan diri.
"Pake keceplosan segala!" gerutunya.
"Tunggu! Kakak mau kemana? apa maksudnya dikeroyok?" Margareth menarik lengan Dion untuk meminta penjelasan.
"Nggak, gue salah bicara," jawab Dion seraya melepas lengannya dari cengkeraman Margareth.
Otaknya mulai berpikir keras, Juan bukan tipe orang yang akan mencari masalah. Jadi, apa maksudnya dengan dikeroyok. Dia semakin frustasi dibuatnya. Dion pun sudah jauh didepan sana.
__ADS_1
"Aku akan tanya sendiri padanya!" teriak Margareth yang sukses menghentikan langkah Dion.
Segera Dion berbalik dan berlari ke arah Margareth yang telah melangkahkan kakinya. "Iya..iya, gue kasih tau!" serunya.