
Beberapa saat yang lalu di arena balapan..
Ini sudah hampir 15 menit, tapi salah satu dari mereka belum ada yang terlihat. Dan beberapa saat kemudian dua sosok yang mereka tunggu-tunggu muncul di ujung sana.
Sorakan meriah kembali terdengar.
Pertandingan semakin sengit. Sementara seseorang yang diberi tugas untuk memberi kabar pun mulai mengangkat ponselnya, dan menelepon orang yang mengutusnya.
'Halo, Dion? Gue punya firasat kalo balapan ini bakal berakhir dengan buruk..' ujar Julian.
'Balapan?'
'Taruhannya Margareth..' ucap Julian.
'Terus gue kudu gimana? kabarin si Beton?'
'Terpaksa iya,'
brakkk!~
Julian menoleh pada sumber suara itu dengan harapan apa yang dipikirkannya sejak tadi tidak terjadi. Harus mengecewakannya karena tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginannya.
'Suara apaan itu?'
'Halo, Jul?'
'Nanti gue hubungi lagi, tuuuuttt~' Julian memutus sambungan teleponnya.
Dia berlari menghampiri Helmi yang tergeletak di tengah jalan. Serpihan kaca spion dan beberapa bagian motornya berserakan di jalan.
__ADS_1
Helmi hampir mendekati garis finish, namun Chandra yang tidak menginginkan hal itu terjadi pun nekat mengambil resiko. Dia menabrak Helmi dari belakang. Dia juga terluka, tapi tidak separah Helmi.
"Lu gak apa? apa kepala lu pusing?" tanya Julian panik sambil memapahnya ke tepi jalan.
"Gue gak apa.." ujar Helmi.
Sedangkan Chandra yang ada didepan sana sedang tersenyum miring kearahnya. Helmi tidak bisa menerima cara kotor seperti ini.
"Gue haus, tolong beliin gue air.." ucap Helmi pada Julian.
"Gue bakal segera balik.." ujar Julian lalu melesat pergi.
Dengan tubuh yang sempoyongan itu dia menghampiri Chandra, lalu menarik kerah jaketnya. "Lu sengaja, kan?!"
"Kalo iya lu mau apa?" Chandra menyeringai.
"Lu bener bener bajing*n gila!" umpat Helmi seraya mengguncang tubuh Chandra.
Chandra mencengkeram tangan Helmi dan menghempasnya. Dia membenarkan jaketnya yang berantakan, lalu mendekat ke arah Helmi dan berbisik.
"Ternyata kebiasaan lu tetep gak berubah, ya? merusak hubungan orang!"
Helmi membelalakkan matanya. Kejadian beberapa tahun yang lalu kembali terlintas di kepalanya. Tahun dimana hubungannya dan Chandra hancur karena sebuah kesalahpahaman.
"Lu gak mengelak? apa beberapa tahun terakhir ini lu merenungi nya dan merasa bersalah?" Chandra memprovokasi.
"Tutup mulut elu!"
"Gue gak bakal pernah mengakui kesalahan yang gak gue lakuin!" tegas Helmi.
__ADS_1
Chandra menyeringai.
"Terus kalo bukan karena elu, karena apa lagi? Angel ngajak gue putus setelah dia ketemuan sama elu!" bentak Chandra.
"Gue udah pernah bilang, Angel sengaja ngerusak hubungan kit~"
bugh!
Belum dia menyelesaikan ucapannya, dan Chandra menghentikannya dengan pukulan keras yang menghantam pelipisnya.
"Omong kosong!" Chandra melanjutkannya dengan menarik kerah Helmi.
"Lu masih tenggelam di masalalu.." gumam Helmi.
"Gue jadi kasian ama Margareth, dia pantes dapet yang lebih baik dari elu!"
Satu pukulan lagi mendarat di wajah Helmi. Dia mengusap sudut bibirnya yang mulai berdarah. Lalu menyeringai.
"Saat dia nangis, saat dia sedih, siapa yang ada di depannya? Juan! Dan elu? elu dibelakangnya, sebagai penyebab rasa sakitnya!"
Sekali lagi tinju Chandra mendarat di wajah Helmi. Tapi Helmi masih diam tak membalas.
"Asal elu tau, bukan gue yang gak pantes buat dia. Tapi sebaliknya, dia yang gak pantes buat gue!"
bugh!
Akhirnya Chandra berhasil memprovokasinya. Helmi memukulnya dengan kekuatan penuh. Sekali pukulan yang cukup menciptakan luka di pelipis Chandra.
Tidak cukup. Emosinya bertambah, dia menjadi ketagihan. Beberapa pukulan dia daratkan di wajah Chandra.
__ADS_1
"Elu boleh ngehina gue, tapi jangan Margareth!"