Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.50


__ADS_3

plung~


Chandra langsung memasukkan helm itu pada kepala Margareth. Alhasil, rambutnya pun berantakan tak karuan, bahkan menutupi wajahnya. Risih tentu saja dia rasakan.


Sempat dia berteriak karena rambutnya terjepit saat Chandra mengaitkan strap helmnya.


Seperti anak kecil yang meronta, dia memukuli tangan Chandra. "Aku bisa memasangnya sendiri!" seru Margareth seraya melepas kembali helmnya.


Tawa kecil muncul di wajah Chandra melihat kelakuan lucu Margareth. Tapi kemudian menghilang setelah Margareth menyadarinya.


"Ehemm~" dehem nya.


"Cepetan!" ucapnya ketus seraya naik ke motornya dan memasang helmnya.


Margareth mencibirkan bibirnya kesal. Kepalan kecilnya pun mulai dia angkat, geram. Ingin memukul, tentu saja.


Tapi akhirnya kepalan itu tidak menjadi pukulan, melainkan cengkeraman. Dia mencengkeram bahu Chandra, lalu melompat naik ke atas motornya.


"Aw~ kau sengaja, kan?" tegur Chandra.


"Enggak!" Margareth mengelak.


Chandra menghela napas kesal. Suara perseneling mulai terdengar. "Pegangan!" seru Chandra.


Bukan tidak mendengarnya, tapi Margareth sedang ragu-ragu. Dia tidak tahu harus berpegang pada apa. Akhirnya ujung jaket Chandra menjadi sasarannya.


Rasa kesalnya semakin bertambah. "Apa kau berniat membuatku naik darah?" seru Chandra.

__ADS_1


"Pegangan yang bener!" lanjutnya.


Margareth semakin cemberut, tidak menyangka orang yang sudah lama tidak berinteraksi dengannya ternyata menjadi secerewet ini.


"Iya..iya.."


Margareth mulai melingkarkan lengannya di pinggang Chandra. Dengan sengaja juga dia membentur helm Chandra untuk melampiaskan kekesalannya.


Namun Chandra hanya menggelengkan kepala menanggapi gadis itu. Tidak berlama-lama lagi, dia pun melajukan motornya.


Cemberutnya berubah menjadi senyuman kecil. Di balik punggung Chandra itu, Margareth sedang menyembunyikan kebahagiaannya.


...****************...


Parkiran Kampus..


"Apa?" sahut Margareth seraya berbalik dengan menghentakkan kakinya kesal.


Chandra mengangkat jari telunjuknya, lalu melambaikannya sebagai isyarat agar Margareth megndekat.


Sudah berdiri dihadapannya, Chandra tidak mengatakan maksudnya dan hanya mengulurkan tangannya dihadapan Margareth.


Margareth yang tidak mengerti apa maksudnya hanya diam menatap telapak tangan Chandra itu. Dan, entah pikiran seperti apa yang ada didalam kepalanya hingga membuatnya meletakkan tangan di atas telapak tangan Chandra seperti sebuah tos.


Chandra memalingkan wajahnya menahan tawa. "Apa kau seekor anak anjing?" ujar Chandra dengan tawa yang tak tertahankan lagi.


"Sudah lama aku tidak melihat tawa Kakak.. aku merindukannya,"

__ADS_1


Keceplosan, Margareth mengekspos isi kepalanya sendiri. Merasa malu, diapun langsung membalikkan badan dan lari.


"Hei, babi gulung bodoh!" seru Chandra.


"Kenapa Kakak mengikuti ku?!" teriak Margareth didepan sana.


"Berhenti kau, bodoh!"


"Tidak!"


Adu mulut sambil kejar-kejaran pun terjadi.


Dewasa ini, ini pertama kalinya Chandra dibuat kuwalahan. Jika ini dulu, dia tidak akan mengeluh. 'Tapi bocah itu sudah kelewatan bodohnya..' gerutu Chandra dalam hati.


Tidak tahan lagi, saat jarak mereka sudah dekat, dengan sebelah tangannya Chandra meraih pinggang Margareth dan menariknya. Seperti seorang putri di pesta dansa, tubuh mungilnya berputar, berbalik dan menabrak tubuh Chandra.


"Kau belum melepas helm mu, bodoh!" ujar Chandra.


Tidak mengandalkan Margareth yang terbengong, Chandra melepas sendiri helmnya.


"Kau akan terlambat masuk kelas kalau terus bengong seperti itu.."


Chandra menjentikkan jarinya di kening Margareth dan sukses membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Dasar penjahat!" seru Margareth lalu pergi dengan wajah cemberutnya.


Dia tersenyum miring. Kemudian menatap helm di tangannya. "Tidak buruk," gumamnya sambil menatap kembali punggung Margareth yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2