
"Gimana? enakan kayak gini, kan?" tanya Juan sambil fokus pada kendalinya.
"Aku pengen naik motor!"
"Aku pengen naik motor!"
Ucap Helmi dan Margareth secara bersamaan. Juan melirik Helmi dari spion nya. Lalu menoleh pada Margareth sekilas.
"Jangan-jangan Geng abal-abal yang selalu kamu ceritain itu Gengnya dia?" Juan membuat wajah tak percaya.
"Hei! jaga mulut lu.."
"La kan emang abal-abal,"
Margareth memutar bola matanya dengan malas. Lalu menutup kedua telinganya. Dia ingin sebuah hiburan karena suasana hatinya yang buruk, tapi bukan dengan Tom & Jerry dalam kehidupan nyata seperti ini. Mereka berdua terlalu berisik.
Namun, Margareth tersenyum tipis setelahnya. Dia merasa sangat beruntung. Setelah Chandra yang dulu selalu menjaganya pergi, Tuhan mengirim Helmi dan Juan. Mereka berdua orang yang selalu ada untuk Margareth. Orang yang selalu membuat Margareth tenang.
Tidak hanya mereka. Farhan, Julian, Gladis, dan juga Sania. Tuhan menggantinya dengan banyak orang. Dia kehilangan satu, namun kemudian dia mendapatkan tujuh pengganti untuk satu orang.
"Terima kasih," ucap Margareth yang membuat kedua laki-laki itu diam.
"Buat apa?" tanya Juan.
"Segalanya.." jawab Margareth yang penuh dengan teka-teki.
Helmi dan Juan saling menatap di spion. Suasana kembali tenang dan hening. Kedua laki-laki itu mengira Margareth sedang menyindirnya.
Namun bukannya semakin tenteram, suasananya malah semakin aneh. Margareth menoleh kebelakang, kemudian menatap Juan yang fokus dengan kendalinya.
__ADS_1
Dan, tiba-tiba saja dia tertawa. Juan menghentikan mobilnya karena sudah sampai pada tujuannya.
"Kau kenapa?" tanya Helmi.
"Kalian lucu," ujar Margareth kemudian turun dari mobil dan berlari ke arah ayunan.
Juan pun segera turun dari mobilnya dan menyusul begitupun juga dengan Helmi. Mereka berdua secara berdampingan berjalan ke arah Margareth.
Merasa ada sesuatu yang terada aneh, mereka menghentikan langkahnya dan saling menatap.
"Hiiihh~" seru mereka bergidik ngeri, kemudian menjauh dari satu sama lain.
Saat mereka menghampiri Margareth yang duduk di ayunan, Margareth malah pergi dan kini bermain perosotan. Lagi-lagi mereka saling bertatapan sambil bergidik.
Sedangkan sosok yang melihat dari sebelah sana saat ini sedang tertawa puas. Margareth sengaja melakukan hal itu karena dia senang melihat ekspresi keduanya saat bersama.
Helmi menoleh, lalu mengerutkan keningnya. Dia sadar kalau Margareth sengaja mempermainkan mereka berdua. Dia menyeringai, lalu menarik kerah baju Juan.
"Dia sengaja mempermainkan kita," bisik Helmi kemudian melayangkan tinjunya.
Juan terlimbung, dan Helmi menghampirinya lagi untuk melayangkan tinjunya. Margareth yang melihat hal itupun langsung berlari ke arah mereka sambil berteriak.
"Hentikan!"
Tidak. Juan tidak benar-benar terluka. Dia mengerti ucapan Helmi dan bekerja sama dengannya untuk mengelabuhi Margareth.
Saat dia sampai di sana dan tidak melihat satupun luka di wajah Juan, dia menatap tajam Helmi. Sesaat kemudian dia menatap tajam Juan. Lalu berbalik dan pergi dari sana.
"Ini semua karena ide buruk mu itu!" ucap Juan sambil menoyor kepala Helmi lalu menyusul Margareth.
__ADS_1
Helmi yang tak terima pun menyusulnya, lalu membalas menoyor kepalanya.
"Bodoh! kau juga kenapa menurut saja.."
Mereka berlari menyusul Margareth yang ada di depan sana, kemudian menghadang langkah Margareth dan berlutut dihadapannya sambil mengangkat kedua tangan mereka.
"Kami salah~" seru mereka berdua.
"Kalian harus membayarnya dengan es krim!"
"Dimana ada orang menjual es tengah malam begini?" ujar Helmi.
"Mini market," jawab Margareth sambil memalingkan wajahnya.
Juan mendorong Helmi, "Kau yang beli! kau kan yang membuat sandiwara konyol itu," ujarnya.
"Lu pengen gue hajar beneran?" seru Helmi yang mendapat pelototan dari Margareth.
"Iya..iya, aku pergi. Mana kunci mobilnya?"
Juan melempar kunci mobilnya pada Helmi.
Margareth kembali berjalan ke arah ayunan setelah Helmi pergi, diikuti oleh Juan dibelakangnya.
"Kenapa kau bersamanya? apa laki-laki itu membuat masalah lagi?" tanya Juan tepat sasaran.
Margareth hanya menjawabnya dengan senyuman kecil. Juan mengepalkan tangannya setelah melihat reaksi kecil dari Margareth itu.
Jika punya kesempatan untuk berhadapan langsung dengan Chandra, dia ingin sekali menghajarnya hingga sadar. Bahwa dia sudah cukup menyakiti Margareth.
__ADS_1