
Tiga hari telah berlalu sejak kejadian brutal hari itu. Selama dua hari itu Margareth memaksa Hana untuk sementara tinggal bersamanya.
Hari keempat.
"Kenapa buru-buru pulang sih? ini kan masih pagi, kelas kamu juga masih siang nanti, kan?" ujar Margareth.
"Mau jengukin Dion. Lagian sebentar lagi kamu kan berangkat, ya masak aku tinggal sendirian dirumah kamu.."
Margareth tersenyum lega melihat sahabatnya yang sudah kembali seperti semula. Meskipun dia tahu, dia tidak bisa menelisik kedalam hati Hana. Ketakutan seperti apa yang masih dia rasakan dibalik tawa cerianya itu.
"Mas Cahyo, pelan-pelan aja ya nyetirnya.." pesan Margareth pada supir pribadinya.
Setelah mobil itu berangkat, mobil Heka sampai. Heka dan Vivian yang baru saja dari luar Kota.
"Mas Cahyo mau kemana? Mama kira itu tadi kamu," ujar Vivian.
"Nganterin Hana, tiga hari kemarin Hana nginep disini,"
Vivian hanya mengangguk paham.
"Kamu mau berangkat? sekalian biar di antar sama Pak Kasdi," ujar Heka.
"Mari, Nona.." ujar Pak Kasdi yang sudah siap membukakan pintu mobil.
__ADS_1
Margareth menatap Pak Kasdi yang tampak lelah itu. Wajar saja karena mereka baru saja sampai setelah beberapa jam perjalanan.
"Tidak usah Pak, Pak Kasdi istirahat saja," ucap Margareth sambil tersenyum sopan pada Pak Kasdi, supir pribadi Heka itu.
"Terus kamu mau naik apa?" tanya Heka.
broomm.. broomm..
Motor hitam itu berhenti dihalaman. Heka dan Vivian dibuat tercengang saat pemilik motor itu membuka helmnya. Tak terkecuali Margareth sendiri.
"Pagi Om, Tante.."
"Pagi, babi gulung.."
Entahlah, mendengar kata itu bukannya bahagia, Margareth malah ingin menangis. Sudah lama dia tidak mendengar panggilan itu dari Chandra.
"Baik Tuan, terima kasih.." jawab Pak Kasdi.
Bersama dengan Pak Kasdi yang pergi dari sana, Margareth pun ikut pergi. Setelahnya, Heka mempersilahkan Chandra untuk masuk, selagi Margareth bersiap untuk berangkat.
Dalam kamar Margareth..
Margareth sudah rapi dan siap dengan alat tempurnya ke kampus. Namun dibalik pintu itu dia masih ragu. Dia mondar-mandir seperti orang bingung.
__ADS_1
Napas berat yang berulang kali dia hembuskan itu seolah menggambarkan besar bebannya saat ini. Tidakkah perubahan Chandra terlalu cepat?
Dia masih tak percaya panggilan itu keluar dari mulut Chandra setelah sekian lama. Kedatangannya hari ini juga seperti sebuah kejutan besar baginya.
tok tok...
"Aku tau kau sedang berdiri dibalik pintu!"
"Dalam hitungan ketiga, kalau kau tidak keluar, aku ak~"
Belum Chandra menyelesaikan ancamannya, Margareth sidah membuka pintunya dan menampakkan diri.
Senyum canggung. Tidak, lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. Margareth berusaha untuk bersikap normal, tepi sepertinya itu bukan hal yang mudah.
"A-ayo ki-kita berangkat.." ucap Margareth tergagap, yang kemudian langsung berjalan mendahului Chandra.
Ujung bibirnya terangkat. Dibelakang sana, tanpa sepengetahuan Margareth, Chandra tersenyum.
"Om, Tante, kami berangkat dulu," pamit Chandra yang diikuti oleh Margareth.
Vivian dan Heka berlagak tenang seperti orang tak peduli. Tapi saat Margareth dan Chandra keluar dari rumah itu, mereka berdua mengintip dari balik gorden.
Chandra memasangkan helm untuk Margareth dengan penuh perhatian. Pertikaian kecil diantara mereka membuat Heka dan Vivian tersenyum gemas.
__ADS_1
"Enaknya jadi anak muda," gumam Vivian.
"Kita dulu kan sudah pernah seperti itu. Jadi, sekarang gantian mereka.." sahut Heka.