
Suasana kembali hening. Masing-masing dari mereka tidak tahu harus berkata apa.
Kebiasaan Margareth kembali muncul, memainkan jari. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia ingin meminta penjelasan. Tapi dia tidak tahu bagaimana memulainya.
"Kakak-"
"Kau-"
Ucap mereka secara bersamaan.
"Kakak duluan,"
"Kau duluan,"
Lagi-lagi secara bersamaan. Mereka berdua pun mulai tertawa karena kekonyolan mereka. Keheningan dalam ruangan itu mulai musnah.
"Kau duluan saja," ujar Helmi.
"Jadi, apakah tebakan ku benar kalo Kakak putra dari keluarga ini?" tanya Margareth tanpa sungkan.
Helmi menatap gadis polos di hadapannya itu. Kemudian menghela napas beratnya sambil menyiah rambutnya dengan gusar.
"Aku tidak sudi mengakuinya, tapi aku tidak bisa memungkiri kebenarannya," jawab Helmi.
"Apa kau sudah bertemu dengan pria itu? Santoso Lee," tanya Margareth.
"Aku tidak masuk ke aula," jawab Margareth.
Helmi tersenyum tipis. "Syukurlah kalo kau tidak bertemu dengannya. Karena dia adalah pria mata keranjang," ujar Helmi.
Margareth mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Helmi. Bagaimana bisa dia menyebut Ayahnya sendiri seperti itu.
"Hubungan Kakak dengannya tidak baik?" tanya Margareth penasaran.
__ADS_1
"Bukan hanya penasaran. Kalo bisa aku ingin memutus hubungan dengannya. Tapi siapa yang sangka setelah mengusirku 2 tahun yang lalu, dia memanggilku kembali,"
Kerutan di dahi Margareth semakin dalam. 2 tahun yang lalu mereka sudah berteman saat itu. Tapi mengapa Margareth tidak tahu akan hal itu.
"Apakah yang lainnya tau masalah Kakak?"
Helmi menggeleng. Dia tidak pernah memberitahukan identitas nya pada teman-temannya.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin Margareth tanyakan. Tapi apakah dia berhak untuk bertanya? Margareth takut melampaui batasannya.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Helmi seraya mengacak-acak rambut Margareth.
"Tanyakan saja, tidak apa-apa. Tapi kau harus membayarnya dengan ceritamu nanti," lanjutnya.
Margareth menyengir seperti orang kikuk. Dia baru ingat kalau dia juga berhutang penjelasan pada Helmi.
"Mengapa Kakak bisa diusir? kenapa Kakak tidak pernah cerita?" tanya Margareth.
"Hah~ aku harus memulainya dari mana ya, itu cerita yang cukup panjang. Awal mulanya 5 tahun yang lalu, sebelum aku membentuk Geng dengan anak-anak itu,"
"Intinya, Ibuku pergi dari rumah tanpa pamit. Kemudian Ayah membawa wanita lain pulang ke rumah. Aku selalu diam dan tak peduli dengan urusannya. Tapi wanita itu mengusikku. Dia memfitnah ku dengan dalih telah memukulnya. Akhirnya pria tua itu mengusirku,"
"Tapi kini tiba-tiba dia memanggilku kembali dan ingin menjadikan ku pewaris? apa itu masuk akal? aku sangat emosi setelah mendengar hal itu, dan kemudian aku tidak sengaja melampiaskannya padamu," lanjut Helmi dengan wajah bersalah setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
Margareth hanya terdiam setelah mendengar cerita Helmi. Di luar dia terlihat seperti baik-baik saja, tapi ternyata di dalam dia penuh dengan luka.
'Ku rasa, kehidupan orang kaya penuh dengan lika-liku. Mereka yang melihat kami dadi luar tidak akan tahu apa yang sebenarnya kami rasakan,'
Margareth termenung dan bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Cerita yang membosankan, bukan? bagaimana kali kita dengarkan cerita mu?" ucap Helmi membuyarkan lamunan Margareth.
"Apa?" tanya Margareth kaget.
__ADS_1
"Saatnya kau membayar," jelas Helmi sambil tertawa kecil.
"Aku putri tunggal keluarga Hekamartha,"
"Jadi putri dari keluarga Hekamartha yang misterius itu kau?" ucap Helmi terheran-heran.
"Misterius?"
"Orang bilang putri keluarga Hekamartha itu seorang genius, dia juga terkenal cantik dikalangan cerita orang-orang. Coba kau pikir, gimana kalo mereka tau orang yang terdengar sempurna itu ternyata komplotan Geng motor?" ucap Helmi kemudian tertawa.
Margareth memukul pundak Helmi sambil merengek, membuat tawa Helmi semakin keras.
"Terus, apa kau mengenal laki-laki tadi?"
Tiba-tiba raut wajahnya berubah serius. Seolah dia mempunyai dendam pad Chandra.
"Dia calon tunangan ku, orang yang dijodohkan denganku,"
"Apa kau bercanda!?"
Margareth tersenyum tipis. Setelah memejamkan mata dan menghela napas panjang, dia menceritakan tentang perjodohan itu. Juga tentang perlakuan Chandra padanya.
Mendengar hal itu membuat emosi Helmi memuncak. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak sengaja membuat Margareth menangis saja hatinya merasa tidak tenang. Hanya 3 tahun mereka saling mengenal.
Tapi Chandra sudah 15 tahun mengenal Margareth, bahkan sudah menjaganya dari kecil. Bagaimana bisa dia tega memperlakukan Margareth seperti itu. Helmi tak habis pikir dibuatnya.
Dia berperang dengan pikirannya sendiri, sampai dia tidak menyadari kalau Margareth hendak melakukan sesuatu padanya.
"Aw~" rintih nya.
Margareth menyentuh ujung bibir Helmi yang terluka dengan kapas yang diberi obat merah.
"Jangan sampai itu meninggalkan bekas di wajah tampan Kakak," ujar Margareth sambil terkekeh pelan, kemudian bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Terima kasih,"
"Aku pergi dulu, sampai jumpa besok di markas. Sepertinya sudah waktunya kita jujur pada mereka," lanjut Margareth kemudian meninggalkan kamar itu.