
Sepanjang jalan Margareth hanya diam. Tatapannya kosong. Helmi yang berjalan disampingnya berulang kali menarik lengannya karena Margareth yang entah sudah berapa kali tersandung.
Ingin menghibur, tapi dengan cara apa. Siapa yang tidak sakit hatinya saat melihat tunangannya berpelukan dengan wanita lain. Terlebih pertunangan mereka masih hangat.
Masih belum setengah jam setelah Chandra mengatakan kalimat mengharukan atas rasa cintanya.
Tapi..
"Mau ikut balapan gak?" tanya Helmi yang berhasil mengalihkan perhatian Margareth.
"Balapan?" tanya balik Margareth.
"Hmm.." Helmi mengangguk seraya menggulung lengan kemejanya.
"Boleh? bukannya Kakak melarang ku buat ikut balapan?" tanya polos Margareth.
"Khusus buat hari ini doang," jawab Helmi dengan mempercepat langkahnya mendahului Margareth.
Margareth memanyunkan bibirnya. Kemudian berlarian kecil untuk mengejar Helmi. Pukulan kecil mendarat di punggung Helmi sebagai bentuk protes.
"Sekalian gak usah dikasih kesempatan aja!" gerutu Margareth.
"Ya udah.." tantang Helmi seraya mempercepat kembali langkahnya.
"Iya..iya.. gak protes lagi!" rengek Margareth sambil menarik lengan Helmi.
Helmi tersenyum tipis sambil melirik Margareth yang fokus dengan jalannya. Perlahan senyumnya mulai memudar. Karena dia tahu Margareth sedang menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Mungkin dia juga tidak bisa banyak membantu.
'Sejak bocah dia selalu bergantung padaku. Aku tau dia takut dan merasa tidak nyaman dengan yang lainnya pada saat itu. Tapi bukannya terbebani, aku malah menikmatinya..'
__ADS_1
'Andai saja saat itu Mama tidak keguguran, mungkin aku sudah punya adik perempuan sebesar dirimu,'
Helmi asyik bergumam dalam hatinya sendiri, yang tak terasa mereka sudah sampai di parkiran.
"Yang lain tidak disini?" tanya Margareth.
"Tidak, mereka masih di dalam. Aku akan menghubunginya," ujar Helmi seraya berjalan sedikit menjauh.
Margareth mengedarkan pandangannya untuk mencari kendaraan yang teman-temannya naiki. Tapi dia tidak menemukannya. Satu motor pun tidak ada di sana.
"Dimana motornya?" tanya Margareth saat Helmi kembali.
"Kamu gak masalah kalo kita datang ke pestamu dengan motor seperti anak urakan?" jawab Helmi dengan senyum miring.
"Siapa peduli.." jawab Margareth acuh.
Seolah tidak ingin kehilangan momen, Juan dengan langkah dan napas yang tersengal-sengal itu menghampiri mereka berdua.
Juan mengatur napasnya sambil melirik Helmi tajam. Dia menyiah rambutnya, kemudian mendekat pada Margareth.
"Ada apa?" tanyanya.
Helmi mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sepupunya itu. Heran sekaligus kagum.
'Perasaan gue gak bilang apa-apa..' batin Helmi.
Margareth menengadahkan kepalanya, menatap Juan yang beberapa senti lebih tinggi darinya itu. Kemudian mengerutkan bibir dan alisnya, merajuk seperti anak kecil yang akan menangis.
Kerutan nya semakin dalam. Perlahan dia mulai mendekat pada Juan dengan kedua lengannya yang terbuka lebar.
__ADS_1
Hinggap lah dia pada tempat amannya.
Helmi dibuat tak habis pikir dengan dua orang aneh yang ada dihadapannya itu.
Juan membalas pelukan Margareth, mengusap lembut pundak Margareth sambil membisikkan kalimat yang menenangkan Margareth.
"Tidak apa, semuanya akan baik-baik saja.."
"Udah..udah.. geli gue liatnya," seru Helmi sambil memisahkan mereka berdua yang tidak mempedulikan sekitar.
"Kalian itu Anak ama Bapak atau gimana sih? mana ikatan batinnya kuat banget lagi.." gerutu Helmi sambil bergidik geli.
pukk!
Lagi-lagi pukulan kecil Margareth mendarat di tubuh Helmi. Ditambah lagi dengan tatapan tajam yang seolah dapat melubangi matanya itu.
"Jahat! Kakak sendiri gak mau meluk aku, malah ngeledekin terus. Sekarang seenaknya sendiri misahin.." protes Margareth.
"Kau minta ku peluk?"
"Bilang dong.."
"Makanya jangan sok kuat!"
"Kalau kau pasang wajah baik-baik saja terus, aku mana tau kalau kau gak lagi baik-baik saja," cerocos Helmi sambil berjalan mendekat pada Margareth, kemudian memeluknya.
Margareth pun tersentak dengan aksi Helmi itu. Tidak hanya Margareth. Tapi lelaki yang berdiri di depan sana juga. Juan.
"Monyet sialan lu!!" seru Juan seraya menarik tubuh Helmi untuk menjauh dari Margareth.
__ADS_1
Tawa puas Helmi pun mulai terdengar. Membuat sepupunya itu semakin kesal dibuatnya.