
ring ring~
Dering ponsel Helmi menghancurkan momen haru sore itu. Helmi meringis sambil menggaruk tengkuk, kemudian berdiri dan mengangkat teleponnya.
Setelah sambungan teleponnya terputus, dia kembali ketempat duduknya dan menyambar jaketnya.
"Udah ditungguin Geng sebelah," ujar Helmi.
Farhan dan Julian langsung bergegas memakai jaket mereka. Kemudian membuntut di belakang Helmi. Mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari markas mereka.
Namun belum sampai mereka di depan pintu, mereka menghentikan langkahnya dan berbalik. Satu anggota mereka masih berdiam diri di tempatnya duduk sambil menatap Hana.
Julian menghela napas beratnya, kemudian menghampiri Dion dan menariknya untuk berdiri.
"Lu mau natap tuh anak sampe wajahnya bolong?" sindir Julian, lalu menariknya pergi.
"Lu juga ikut!" Helmi menempeleng kepala Juan dan menariknya pergi.
"Gak mau! gue mau disini sama Margareth!"
Juan memberontak. Namun tatapan tajam dari Sania dan Gladis membuatnya menelan ludah. Diapun akhirnya menurut begitu saja.
Di dalam markas itu kini tinggal para perempuan saja. Sania meneguk cola dinginnya, kemudian melepas jaketnya yang menampilkan tubuh dengan otot-otot kecil itu.
Hana mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian melirik Margareth duduk dengan tenang di sampingnya.
__ADS_1
"Mm~ Kak, apa itu tindik asli?" tanya Hana pada Gladis.
Gladis yang tadinya menunduk memainkan ponselnya, setelah mendengar ucapan Hana dia mendongak dan meliriknya.
Gladis menyeringai seraya menyentuh tindik kecil yang ada di hidungnya.
"Kenapa? sekarang kau merasa takut dengan kami?" ujarnya.
Hana hanya menyengir malu.
"Apa nih?"
"Akhirnya tuh bocah songong dapet karma juga!" seru Sania heboh sambil tertawa puas.
"Kenapa?" tanya Gladis dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Kepala suku?" gumam Hana bingung.
Margareth menatap Sania bingung. Nama Geng itu, dia pernah mendengarnya sekali saat mengikuti balapan beberapa minggu yang lalu. Katanya Geng itu terkenal bengis, dan tak tanggung-tanggung untuk berbuat kekerasan.
"Si Chandra, semalem dia balapan sama Leo, terus kalah. Abis itu mereka adu pukul, tapi si Leo menang banyak.." ujar Sania dengan gembira.
"Chandra?!" teriak Hana membuat Sania dan Gladis tersentak kaget. Tidak seperti Margareth yang hanya diam membeku setelah mendengar nama itu disebut.
"Apaan sih lu bocil!" tegur Sania.
__ADS_1
"Re, Chandra, Re.." ujar Hana sambil mengguncang tubuh Margareth.
"Kenapa emangnya? kalian kenal sama tuh bocah songong?" tanya Sania.
"Dia tunangan- eh maksudnya calon tunangan Rere,"
"What?!" teriak Gladis dan Sania secara bersamaan.
Hari ini benar-benar penuh dengan kejutan, bagi kedua orang itu khususnya. Mereka tidak pernah menyangka akan berada diantara anak-anak orang kaya yang penuh dengan kerumitan itu.
Mereka semakin dibuat pusing setelah mendengar kisah Margareth dan Chandra dari Hana.
"Re, kayaknya ini kesempatan deh.." ujar Hana.
"Kesempatan apa maksud mu?" tanya Margareth tak paham.
"Kesempatan buat buktiin ucapan lu ke dia. Lu bilang, lu nantang buat dapetin dia. Dan ini langkah awalnya," tutur Hana.
Semakin Margareth memikirkannya, semakin ucapan itu terdengar masuk akal. Namun mengingat kejadian kemarin, mungkinkah dia bisa menatap Chandra.
Egonya berkata 'tidak', namun hatinya memaksa untuk pergi. Dalam hati kecilnya dia masih sangat peduli dan mengkhawatirkan Chandra.
"Sebenernya elu masih ada perasaan sama dia, kan?" tanya Gladis.
Margareth mendongak menatap Gladis, namun tidak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
'Entahlah.. aku juga tidak tau bagaimana cara memastikannya,' batin Margareth.