Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.8


__ADS_3

Gemercik air mancur menjadi latar belakang suara dalam keheningan diantara mereka berdua. Keduanya duduk bersampingan di kursi depan air mancur.


Kebiasaan memainkan kuku masih menjadi ciri khas dari Margareth saat dia bingung harus melakukan apa.


Jika hanya saling berdiam diri, mengapa mereka memilih untuk duduk berdua? Memang orang-orang yang sulit untuk di tebak.


Diam-diam Margareth melirik Chandra yang entah sedang fokus melihat apa.


Garis rahangnya yang jelas, hidung mancung, bulu mata yang lumayan panjang untuk seukuran pria, bibir tipis, juga sesuatu yang menonjol di lehernya.


'Itu lebih seksi dari bibirnya..apa lagi saat itu bergerak..' batinnya.


plak!


Margareth menampar pipi nya pelan untuk menyadarkan diri nya.


'Sadar Margareth!! dia itu pria kaku yang menyebalkan!' gerutunya dalam hati.


Sekali lagi Margareth terang-terangan melihatnya, namun pria di sampingnya itu sama sekali tak bergeming. Entah memang tidak merasa sedang diperhatikan, atau memang sengaja tidak menghiraukan.


Margareth menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di tubuh kursi. Dia menatap beberapa pasangan yang tampak mesra di depan sana.

__ADS_1


Jika dilihat lebih dekat lagi, mereka bahkan tidak cocok untuk di sebut sebagai adik dan kakak. Apa lagi pasangan kekasih. Mereka lebih terlihat seperti sepasang musuh.


Margareth tersenyum getir saat sebuah memori terlintas di kepalanya. Chandra dulu memang sangat jahil padanya, tapi Margareth kecil dan polos itu malah menyukainya karena sisi lembutnya.


'Andai saja mereka tidak melakukan itu, apa sampai sekarang hubungan kami akan tetap baik seperti dulu?' batinnya.


Margareth memejamkan matanya, 'aku merindukan nya, merindukan saat-saat dia memanggil ku dengan sebutan itu..'


'Babi gulung,'


'Andai masa lalu bisa diubah..'


Dia membuka matanya dan tersenyum pahit. Kenangan memilukan itu membuat hatinya nyeri.


Tapi sekarang, mustahil baginya untuk mendapatkan perlakuan spesial itu lagi. Dia sudah menjadi orang yang dibenci.


Tanpa sadar pipinya mulai basah. Dia tidak mengharapkan hal itu terjadi. Tapi dia juga tidak dapat menghentikannya.


"Apa kau lupa? aku sudah peringatan kau, aku benci dengan air matamu. Dan aku tidak akan terpengaruh dengan air matamu itu!" tegas Chandra.


"Meskipun mereka masih mengharapkan pernikahan itu, tapi aku tidak akan pernah setuju!" lanjutnya.

__ADS_1


Margareth tercengang dengan ucapan yang baru saja didengarnya itu. Dia tidak percaya, bahwa Chandra sudah benar-benar berubah.


Dia menoleh dan menatap datar Chandra. Kemudian bangkit dari duduknya dan pergi tanpa sepatah katapun. Tentu saja Chandra merasa tak senang dengan hal itu.


Dia bangkit dan mengejar Margareth dengan langkah cepatnya. Dia meraih lengan Margareth, namun Margareth menghempasnya.


Tatapan dingin dia dapatkan dari Margareth. Dia bukan lagi gadis kecil yang dapat sesuka hati dia ancam seperti dulu.


'Halo, Juan? Tolong jemput aku di Hotel Marriott,'


Sudah dua kali dia menelepon sejak dia bangkit dari duduknya tadi, dan tidak ada jawaban. Syukurlah Juan mengangkat teleponnya di saat yang tepat.


Dia melanjutkan langkahnya menuju ke lift. Tapi lagi-lagi Chandra menarik lengannya dan membuatnya berhenti.


"Dengan siapa kamu bicara? mau pergi ke mana kamu?" tanyanya dengan ketus.


Margareth hanya menatapnya datar tanpa memberi jawaban.


"Kau tau sendiri kan seperti apa sifat Ayahmu? dia tidak akan membiarkan mu begitu saja.." lanjut Chandra.


"Bukan urusan kakak," ujar Margareth ketus, kemudian menarik kembali tangannya dari genggaman Chandra dan melesat pergi memasuki lift yang sudah terbuka.

__ADS_1


Dari sela pintu yang hampir tertutup rapat, Margareth mengangkat kepalanya dan menatap Chandra yang masih berdiri mematung di luar sana.


"Apa aku terlalu kasar?" gumamnya.


__ADS_2