
"Tumben banget tu anak-anak ayam gak kesini?" ujar Hana.
Margareth hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatnya itu. Tapi, sebenarnya dia juga penasaran.
Dia mengedarkan pandangannya, berharap akan menemukan sosok yang ditunggunya. Namun hasilnya pun nihil.
"Re, sorry banget.. gue harus balik ke kelas. Gue lupa nanti presentasi tugas," ujar Hana.
Margareth mengangguk. "Ya, aku juga mau balik ke kelas.." ujarnya.
"Gue duluan, ya. Bye bye.." Hana melambaikan tangannya, lalu berlari pergi.
Senyumnya perlahan mulai memudar. Dia menghela napas panjang, kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
Tidak lama kemudian, langkahnya kembali terhenti karena ponselnya berbunyi. Margareth merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Salah satu nama yang tidak lama ini sedang dia pikirkan, muncul di layar ponselnya. Dion. Segera dia mengangkat panggilan itu.
'Lu cepetan kesini!'
Suara yang cukup keras itu membuat Margareth menjauhkan ponsel dari telinganya.
'Kesini kemana?' jawab Margareth.
'Jalan Baru. Cepetan! Helmi ama di Chandra songong itu lagi tanding..' seru Dion dari seberang sana.
Margareth menahan ponselnya di telinga, dia mendengarnya, tapi tidak menjawab setelah mendengar ucapan terakhir Dion. Hingga panggilan itu terputus.
__ADS_1
Mungkin akan lebih baik jika dia memegang kunci motor saat ini. Dia bisa langsung meluncur ke tempat itu tanpa pikir panjang. Tapi masalahnya, itu tidak ada padanya saat ini.
"Ck!" decak nya.
Dia bergegas keluar kampus dengan berlari sekencang mungkin. Beruntung nya, dia langsung mendapat taksi saat sampai di luar gerbang.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk.." gumamnya.
...****************...
Asap dan gaungan motor menyambut kedatangannya. Margareth berdehem pelan karena asap knalpot yang cukup tebal itu menyengat indra penciumannya.
"Woooo~ pukul terus!"
Suara sorakan itu terdengar dari depan sana. Margareth mulai mengernyitkan keningnya. Dia terlalu naif karena masih berpikir kalau semuanya baik-baik saja.
Margareth membelalakkan matanya saat sebuah celah memperlihatkannya pada sebuah pemandangan yang cukup mengejutkannya.
Dia berlari dengan tatapan dan pikiran yang hanya tertuju pada penampakan dihadapannya. Dan, akhirnya hanya rasa sakit yang dia dapatkan. Dia terjatuh, dan kakinya keseleo.
"Berhenti!" teriaknya sambil berusaha untuk berdiri.
Namun suaranya tidak dapat mengalahkan suara sorakan yang cukup keras itu.
Sepatu dengan hak 3 senti itu akhirnya dia lepas. Dengan menahan rasa sakitnya, dia kembali berlari ke gerombolan orang yang ada didepan sana.
"Berhenti!"
__ADS_1
Degup jantung yang sangat cepat dia rasakan dipunggung nya. Sepasang lengan melingkar di pinggang nya dengan sangat erat. Emosinya menjadi berkurang setelah mendengar suara yang cukup serak itu.
Helmi meraih lengan itu dan melepas rangkulannya dengan lembut, lalu berbalik menatap pemilik sepasang lengan itu.
"Ku mohon berhentilah, Kak~"
Dengan tangannya yang lecet itu, Helmi mengusap air mata Margareth. Senyum kecil menghiasi wajahnya yang babak belur.
Tangis Margareth semakin menjadi setelah melihat karya seni di wajah Helmi itu.
Sedangkan seseorang dibelakang sana emosinya semakin membara karena melihat pertunjukan yang membuatnya merasa kalah.
Tanpa menoleh sedikitpun Margareth memapah Helmi pergi. Dan membiarkan Chandra sendiri dengan perasaan aneh yang mengganggunya.
"Kau tidak melihatnya? aku juga terluka!" teriak Chandra.
Kemunculan Margareth semakin membuat anak-anak Geng lain penasaran. Semua tatapan tertuju pada Margareth saat ini.
"Bubar lu semua!" bentak Chandra.
"Gue bilang bubar!"
Tidak ingin mendapat masalah, mereka semua mulai berhamburan.
"Kau tidak mendengar ku?" Chandra menarik lengan Margareth dan membuatnya berhenti.
Margareth memejamkan matanya sejenak, lalu menghela napas panjang. Dia melepas pegangannya pada Helmi, lalu berbalik. Tatapan datar dan dingin dia tunjukkan pada Chandra, seolah tak peduli apa yang terjadi dengannya.
__ADS_1
"Aku sudah pernah mengatakannya, kan? jangan membuatku semakin membencimu, Kak.."