
broom.. broomm..
Mungkin karena ini malam minggu, penonton balapan malam ini lebih banyak dari biasanya. Perempuan-perempuan dengan baju minim juga banyak berkeliaran ditempat itu, hal yang paling mereka benci.
Mereka berempat, tanpa Sania, Gladis, ataupun Margareth, datang ke tempat itu karena undangan dari Leo. Dan, mereka mengajak satu orang lagi.
"Duh, tempat apaan sih nih?! bukan bar, tapi kenapa banyak pelacur nya.." gerutu Juan.
"Jangan bilang Margareth juga kalian ajakin ke tempat kayak gini?!" seru Juan kemudian.
"Enggak!" jawab mereka berempat secara bersamaan.
Juan menghela napas lega.
"Tapi kita pernah kecolongan 3 kali," ceplos Farhan.
Julian menginjak kaki Farhan setelah dia keceplosan. Pelototan maut Farhan dapatkan dari Julian.
"Kenapa? apa yang kalian sembunyiin?" tanya Juan curiga.
"Margareth pernah ikut balapan, 3 kali.." jawaban jujur Helmi membuat Julian dan Farhan melongo.
"Menang?"
Jawaban Helmi sudah cukup membuat Julian dan Farhan melongo. Ditambah lagi dengan tanggapan dari Juan. Mereka berdua menggelengkan kepala tak habis pikir.
Mereka kira Juan setidaknya akan mengamuk setelah mendengar hal itu. Tidak disangka tanggapan nya malah membuat mereka menggelengkan kepala.
"Satu kali kalah. Lu tanya sendiri dia ngeluarin berapa banyak duit karena itu," ujar Helmi.
"Tu.." Helmi melanjutkan dengan menunjuk Leo yang sedang duduk di atas motornya, di sebelah sana.
Juan sontak menoleh ke arah tangan Helmi dan menatap sosok yang dimaksudkannya itu.
"Dia ketua Geng sebelah, orang yang hampir gak pernah kalah, kecuali kalo lawan gue ama Chandra,"
"Idih..PD amat lu,"
Merasa kesal, Helmi pun menoyor kepala Juan. "Gue bilang apa adanya, monyet," seru Helmi.
"Iya.. iya.. terus?" ujar Juan sambil menyiah rambutnya.
"Kalah lawan Margareth," lanjut Helmi.
Juan menyeringai setelah mendengar cerita Helmi. Dia mulai mengingat saat Margareth minta untuk membonceng dirinya. Juga mengingatkan nya pada awal mereka berinteraksi.
Flashback On.
4 tahun yang lalu.
__ADS_1
".... kalau aku tidak bisa menginjak jempol kakinya dengan ban motorku, jangan sebut aku Margareth!"
"Tunggu sampai aku tumbuh besar dan bisa menginjak perseneling!"
Juan yang saat itu dalam perjalanan pulang setelah latihan basket, tidak sengaja mendengar teriakan Margareth.
Dia menghentikan motornya dan melepas helmnya. Dia melihat sosok anak kecil yang sedang duduk tersungkur di tengah jalanan taman.
Setelah mendekatinya, Juan tersadar bahwa itu adalah bocah yang selama ini dia perhatikan. Dia bergegas membantunya berdiri.
"Apa kau baik-baik saja? kenapa duduk dijalan? apa kau terjatuh?" tanya khawatir Juan seraya menepuk pelan lengan baju Margareth yang kotor.
Tangannya terhenti saat melihat luka di ibu jari Margareth. "Kau terluka?" tanyanya panik, lalu menuntunnya untuk duduk di kursi taman.
"Sebentar.." ujarnya lalu pergi meninggalkannya untuk mengambil motornya yang terparkir dibelakang sana. Dia berhenti dia samping kursi yang Margareth duduki, lalu turun setelah menggeledah isi tasnya.
"Kemari kan tanganmu," ujar Juan.
Margareth kecil itu menatap Juan dengan tatapan kewaspadaan. Dimana hal itu membuat Juan memalingkan wajah dan menahan senyumnya.
"Tenang saja, aku bukan orang jahat," tutur Juan.
"Kebanyakan orang jahat bilang kalau mereka bukan orang jahat,"
Pertahanan nya hancur. Juan tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak tertawa.
"Aku hanya ingin mengobati lukamu," ujarnya di sisa tawanya.
"Margareth," ucapnya yang membuat Juan mengerutkan kening.
"Aku tidak bisa mempercayai orang yang tidak ku kenal," lanjutnya.
Juan memalingkan wajahnya, dan menutup bibirnya dengan kepalan tangannya untuk menahan tawa yang serasa ingin meledak saat itu juga.
"Baiklah, aku mengerti. Aku Juan.." Juan menyodorkan tangannya, dan disambut oleh tangan mungil Margareth.
"Jadi, apakah aku sudah bisa mengobati lukamu?" tanya Juan yang dijawab anggukan oleh Margareth.
Dia mulai menuang obat merah tepat di atas luka Margareth. Takut itu mungkin akan terasa sakit, Juan meniup tangan Margareth.
Melihat perlakuan lembut Juan itu, membuat Margareth menitikkan air matanya.
"Hei, kenapa? apakah begitu sakit?" tanya Juan khawatir.
Margareth menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Ada debu yang masuk," dia membuat alasan.
"Kau ingin aku meniupnya untukmu?"
"Tidak..tidak.." Margareth melambaikan kedua tangannya saat Juan meraih wajahnya.
__ADS_1
Tiupan terakhir, lalu dia menutup lukanya dengan hansaplast. "Kau harus membersihkannya lagi saat sampai dirumah, takutnya nanti infeksi. Tanganku tidak steril.." jelas Juan.
Margareth tertawa ringan. "Apa Kakak seorang dokter?"
Juan tersenyum tipis melihat Margareth yang akhirnya menurunkan kewaspadaannya.
"Itu cita-cita ku," jawab Juan.
Margareth mengangguk-angguk. Dia tidak pandai membuat topik pembicaraan. Tidak mungkin juga dia langsung pergi begitu saja.
Dia melirik motor Juan yang terparkir di sebelahnya. Lalu menatap Juan yang membereskan P3K nya.
"Bisakah Kakak mengajariku naik motor?"
"Tidak!" sontak jawab Juan setelah mendengar hal itu.
Margareth memanyunkan bibirnya setelah mendengar jawaban langsung dari Juan. Juan pun menghela napas panjang melihat Margareth yang tampak tak senang itu.
Dia meraih tangan Margareth. "Tapi aku akan membiarkan mu memperhatikan ku saat menaiki motor," ujar Juan seraya menarik Margareth menuju motornya.
"Naik, aku akan mengantarmu pulang.." ujar Juan setelah naik keatas motornya dan memasang helmnya.
"Katanya memperhatikan?" tanya Margareth.
"Iya, perhatikan dari belakang sana,"
Margareth menatap motor Juan dengan rinci. Dia juga sedang berpikir bagaimana cara untuk naik keatas sana.
Seperti orang yang bisa membaca isi pikirannya, Juan tertawa kecil. Lalu menepuk pijakan kaki motornya. "Pijak ini, dan naiklah," tutur Juan.
Margareth pun mendekat dan mulai memijakkan kakinya sesuai instruksi dari Juan.
"Pegang pundak ku biar gak jatuh!"
Margareth menghela napas lega saat sampai di atas sana. Lalu tersenyum tipis. Juan menginjak perseneling nya, "Pegangan!" seru Juan, lalu menarik gasnya setelah Margareth melingkarkan lengannya di pinggang Juan.
"Beruntung lah kau, karena kau menjadi orang pertama yang menaiki motorku ini," ucap Juan.
"Terima kasih, Juan.."
"Apa kau bilang? panggil aku Kakak!"
Flashback Off.
plak!
Sebuah pukulan mendarat di punggung Juan.
"Ngapain lu nyengir nyengir gak jelas?" seru Julian.
__ADS_1
Bukannya marah atas pukulan itu, Juan malah tertawa kecil.
"Kesambet tuh anak," gumam Julian.