Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.30


__ADS_3

"Enggak! Chandra gak mau ikut, Papa sama Mama aja yang pergi.." seru Chandra dihadapan kedua orang tuanya.


"Mama sama Papa sudah bela-belain mengosongkan jadwal buat bisa pergi bersama, tapi kamu malah tidak menghargai kami!" ujar Rosa sambil membenamkan wajahnya di bahu Albert, seolah dia sedang menyembunyikan kesedihannya.


Chandra menyiah rambutnya dengan gusar. Dia menatap kedua orang tuanya sejenak, lalu beranjak dari duduknya.


"Kirimkan lokasinya padaku, aku akan menyusul nanti," ujarnya.


"Tidak, pantai yang akan kita kunjungi letaknya lumayan jauh," ucap Rosa seraya bangkit dari duduknya.


"Pokoknya kirimkan padaku. Aku pergi dulu,"


...****************...


Margareth menatap dirinya dalam pantulan kaca besar dihadapannya. Kabar mengejutkan baru saja dia dengar. Sudah lama sejak terakhir kali kedua keluarga itu rekreasi bersama.


"Terakhir kali saat aku berusia 10 tahun, kan?" gumam Margareth.


Kini mereka berdua telah dewasa, dan ceritanya pun tak akan sama seperti dulu. Apalagi mengingat hubungan mereka yang tak sebaik dulu.


Margareth mengatupkan tangannya, "Semoga semuanya baik-baik saja.." gumamnya.

__ADS_1


klak~


"Mama panggilin gak ada sahutan, Mama kira kamu tidur," ujar Vivian.


Margareth yang masih memasang ekspresi kaget itu segera menurunkan tangannya. Namun terlambat karena Vivian sudah terlanjur melihatnya.


"Kamu membuat harapan?"


Vivian tersenyum tipis melihat reaksi panik putrinya itu. Dia menghampiri Margareth, lalu membelai rambutnya.


"Mama tau apa yang kamu khawatirkan, karena Mama juga pernah ada di posisimu.."


Sepenggal kata tanpa penjelasan itu cukup membuat Margareth membelalakkan matanya. Dia mengerutkan keningnya, menatap Vivian dengan tatapan meminta penjelasan.


Namun satu hal yang masih membuatnya bingung. Vivian masih menatap Margareth dengan tangannya yang tak berhenti membelai rambutnya.


Senyum tipisnya semakin memudar, matanya mulai berkaca-kaca. Margareth semakin khawatir melihat Ibunya. Dan tak lama kemudian, bulir bening jatuh dari matanya.


"Mama?" panggil Margareth dengan nada khawatir.


Dia tidak pernah melihat Ibunya seperti itu sebelumnya. Bahkan membelai rambutnya seperti saat ini pun hampir tidak pernah dia lakukan. Sejak kecil hanya Bibi Lim yang merawatnya, karena Vivian yang selalu mengikuti suaminya kemanapun dia pergi.

__ADS_1


"Maafin Mama.." lirih Vivian.


"Maaf karena Mama tidak pernah bisa membela mu didepan Papa. Mama takut Papamu akan berpaling dari Mama kalau Mama tidak menurutinya,"


"Ma?"


Vivian segera menghapus air matanya setelah mendengar suara Heka.


Pintu kamar Margareth terbuka, dan sosok Heka muncul dari balik sana dengan dua paper bag di tangannya.


"Ma, lihat. Ini sandal pantai yang kamu inginkan waktu itu.." serunya sambil membuka salah satu paper bag ditangannya, dan mengeluarkan barang yang dimaksud dari dalam sana.


"Ini buat kamu," lanjut Heka seraya menyodorkan paper bag satunya lagi pada Margareth.


Margareth melihat isinya, sebuah blazer berwarna putih. Margareth tersenyum tipis merasa puas dengan pemberian Ayahnya itu.


Saat mengangkat kepala hendak mengucapkan terima kasih, dia melihat pemandangan yang membuat otaknya berputar keras. Heka dan Vivian sedang bercanda tawa.


'Sepertinya Mama tidak perlu mengkhawatirkan tengang Papa yang akan berpaling darinya. Karena selama ini pun aku belum pernah melihat Papa marah ke Mama.' batinnya.


Margareth memanyunkan bibirnya saat kedua orang itu keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apa-apa. Mereka terlalu asyik sendiri, hingga membuat Margareth seperti barang transparan.

__ADS_1


"Apa aku bisa seperti Mama? Memenangkan hati pria pujaan.." gumamnya.


__ADS_2