
"Mana Hana?"
Pertanyaan yang pertama kali Dion tanyakan setelah melihat Margareth.
Margareth menggeleng, "Kayaknya gak masuk lagi," jawabnya.
"Si*l!" umpat Dion.
"Pagi-pagi udah ngumpat!" seru Helmi dari belakang sana, lalu menjentikkan jarinya ke telinga Dion.
Mereka bertiga yang baru datang itu duduk di bangku sebelah Margareth. Secara bersamaan mereka menyilang kan tangannya didepan dada. Tatapan mengintrogasi mereka tujukan pada Dion yang masih berdiri.
"Main pergi gitu aja!" ujar Julian.
"Udah gue bela-belain nahan jijik liat cewek-cewek itu," sahut Juan.
"Udah liat pesan gue, kan?" timpal Helmi.
'Mereka pasti membicarakan balapan semalam,' batin Margareth sambil menatap anak-anak itu secara bergantian.
Saking emosinya dia melupakan teman-temannya. Ekspresi wajahnya yang tadi seperti ingin menelan manusia hidup-hidup, kini berubah. Dia menggaruk rambutnya yang tak gatal, sambil cengar-cengir.
"Ya sorry guys.." ucap Dion dengan entengnya.
"Sekarang jelasin, ada apa?" tutur Helmi.
Dion mengambil tempat di sebelah Margareth. Lalu menghela napas panjang sebelum memulai penjelasannya.
"Gue ngawasin Alfan," ujar Dion.
"Alfan?" sahut Margareth.
"Iya, gue curiga sama dia. Dan ternyata dugaan gue bener," lanjut Dion.
__ADS_1
Dia menundukkan kepalanya dan memijat pangkal hidungnya. Dia tidak bisa melanjutkan ceritanya. Amarah nya mulai menguasai dirinya.
"Fu*c!" umpatnya.
"Gue gak bisa lanjutin ceritanya, gue cuma pengen ngehancurin telur dia!" ucap Dion dengan kesal.
"Telur? jangan-jangan..." Julian menoleh ke Helmi.
"Moga-moga itu gak bener. Kalo sampe itu beneran, gue bakal potong tu terong punya dia!" cetus Dion.
"Tunggu.." dengan wajah bingungnya Margareth menoleh ke sisi empat temannya itu.
"Aku gak ngerti apa yang sedang kalian bicarakan," ucapnya dengan polos.
"Terong? telur?" Margareth menggaruk kepalanya bingung.
Keempat laki-laki itu saling menatap. Dion tidak ingin menyebutkan intinya. Mengingat ucapan Alfan saja sudah membuat kepalanya ingin meledak. Apalagi harus mengulang ucapan apa yang sudah didengarnya.
"Telur it~ humph~"
"Jangan lu nodai kuping Margareth yang masih polos ini!" serunya, lalu menarik Margareth pergi.
...****************...
Margareth semakin khawatir karena tidak ada kabar sama sekali dari Hana. Ponselnya juga tidak aktif. Akhirnya dia bertekad untuk datang ke rumahnya.
ting tong~
Dia mulai menekan bel rumahnya. Rumahnya tetap sama seperti dulu. Sepi. Sejak SMA Hana sudah tinggal sendiri. Ibunya yang menikah lagi dengan orang luar negeri, memilih ikut dengan suaminya.
Sedangkan Hana lebih memilih tinggal karena dia tipe orang yang sulit untuk menyesuaikan diri di tempat baru.
"Apa dia tidak dirumah?" gumam Margareth.
__ADS_1
Sekali lagi dia menekan bel nya. Akhirnya, suara membuka kunci pun terdengar.
"Han, ini aku, Rere," ucap Margareth.
Margareth mengerutkan keningnya saat Hana hanya membuka pintunya sedikit untuk membuat sela. Hanya matanya yang terlihat.
"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Margareth.
Tidak menjawab, Hana malah menutup kembali pintunya.
"Hana!" seru Margareth sambil mendorong pintunya sebelum Hana menguncinya.
brak!
Pintu terbuka, dan Hana tersungkur. Dengan tanggap Margareth langsung membantunya berdiri. Namun, penampakan yang dia lihat membuatnya membulatkan mata.
Sebelah pipi Hana membengkak kebiruan. Sudut bibirnya juga terluka. Kedua pergelangan tangannya juga membekas cengkeraman hingga membiru.
"Kamu kenapa, Han?" tanya Margareth mulai panik.
Tidak menjawab, Hana hanya menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Margareth hanya bisa memeluknya untuk saat ini.
Margareth melepas pelukannya, lalu menutup kembali pintunya dan menguncinya. Kemudian menuntun Hana untuk masuk dan duduk.
Dia meninggalkannya sebentar untuk mengambilkan air. Sayangnya persediaan air Hana tinggal satu gelas. Itu mungkin hanya cukup untuk saat ini.
"Minum dulu," Margareth menyodorkan segelas air itu pada Hana.
Perlahan Hana mulai menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Dia dipaksa untuk melayani kesenangan Alfan dengan ancaman akan mengirim foto tak berpakaiannya pada platform kampus.
Dia juga tidak tahu darimana Alfan mendapatkan foto tak senonoh itu. Akhirnya dia menurut.
"Dia sudah menodai mu?" gumam Margareth ditengah tangisnya.
__ADS_1
Hana menggeleng, "Ini bukti penolakan ku. Dia menghajar ku karena menolak untuk disentuhnya," ujar Hana sambil menunjuk luka diwajahnya.
"Dia benar-benar bajing*n!" umpat Margareth.