Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.29


__ADS_3

Dia sudah melewati tempat yang sama sebanyak 4 kali, namun sosok yang duduk di sudut sana belum juga beranjak. Steven, dia mulai merasa khawatir dengan teman masa kecilnya itu.


"Lu ngapain sih?" tanyanya pada Chandra seraya menyodorkan sekaleng soda padanya.


"Kenapa bibir lu? dari tadi lu mainin bibir mulu. Sariawan?" lanjut tanyanya sembarangan.


"Ck!" decak Chandra.


Dia menerima minuman itu dan membukanya, lalu meneguknya sekali tegukan hingga habis. Tidak lama setelah itu, dia kembali melamun.


Steven yang melihat hal itu semakin frustasi dibuatnya.


"Lu abis main ituan ya?" ujar Steven sambil membuat isyarat dengan tangannya.


"Ituan apaan? jangan ngaco!" pungkasnya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar markasnya.


Chandra menatap langit cerah siang itu. Dia mengangkat sebelah tangannya untuk menghadang sinar matahari yang menerpa wajahnya.


Beberapa hari ini Margareth sudah cukup memenuhi isi kepalanya. Dan hari ini, dia menambah beban pikiran Chandra dengan tindakan di luar dugaannya.


"Bocah itu membuat ku gila!" gerutunya.


...****************...

__ADS_1


"Woaahhh~"


Suara teriakan itu membuat Margareth menutup telinganya. Helmi bilang dia akan mengajaknya melihat kampus, tapi..


"Selamat atas kelulusannya.."


Helmi membawanya ke markas dan mengadakan pesta kecil-kecilan. Beberapa macam pizza yang ada di atas meja mengingatkannya pada awal dia bertemu dengan anak-anak itu.


Seperti biasa, soda kaleng dingin tidak pernah ketinggalan. Dia membuka minumannya dan menyesapnya sedikit. Kemudian menatap Hana yang mulai akrab dengan anak-anak yang awalnya dia takuti itu.


"Apa mereka membuatmu bahagia?"


Margareth menoleh. Entah sejak kapan Juan duduk disampingnya, dia tidak menyadari kedatangannya karena terlalu sibuk dengan pemandangan yang dilihatnya, juga dengan pikirannya.


Juan mengerutkan keningnya sambil memiringkan kepalanya. Dia menatap Margareth dengan heran. Margareth pun kembali menatapnya dengan tatapan yang sana.


"Apa hubungannya hal itu dengan berkenalan?" tanya Juan.


"Karena aku tidak bisa menerima makanan dari orang yang tak ku kenal," jawab Margareth dengan percaya diri.


Tatapannya berubah, dia menatap Margareth dengan tatapan tak percaya. Gadis ini benar-benar konyol, batinnya.


"Bagaimana kalo makanan itu beracun? lalu mereka akan memutilasi tubuhmu, mengambil organ mu, lalu membuang mayat mu ke hutan?"

__ADS_1


Margareth terdiam. Itu memang masuk akal. Tapi apa yang dikatakan Juan terlalu kejam untuk telinganya. Dia memanyunkan bibirnya, lalu memukul pundak Juan.


"Tidakkah kau kebanyakan nonton film-film aneh?" ujar Margareth.


"Benar! anak baik-baik kayak gue mana mungkin ngebunuh manusia? bunuh nyamuk aja gue merasa berdosa.." sahut Dion seraya menoyor kepala Juan.


"Bocah tengil, lu berani noyor kepala gue?!" seru Juan.


Margareth tertawa puas mendengar hal itu. Sudah hampir 4 tahun dia bersama Juan, namun sekalipun dia tidak pernah melihat sisi Juan yang seperti ini. Margareth masih tak percaya kalau Juan juga bisa membuat ekspresi kesal.


'Bodoh, semua orang juga bisa kesal. Sekalipun itu orang tersabar pun..' batin Margareth.


"Rencana lu selanjutnya apa? masuk universitas mana?" tanya Sania.


"Universitas Awan.." jawab Margareth dengan mantap.


"Hana..Hana..? juga masuk sana, kan?" tanya Dion dengan bersemangat.


Hana menghindari tatapan Dion, namun akhirnya di mengangguk.


buk..buk..


Dion memukul dadanya sendiri seperti seorang jagoan. Seperti seorang pahlawan dia mengajukan dirinya.

__ADS_1


"Kalian bisa bergantung padaku. Senior kalian ini akan selalu melindungi kalian.." ujarnya dengan penuh kebanggaan.


__ADS_2