
Margareth berdiri di depan pintu kediaman Keluarga Nugraha dengan sekeranjang buah ditangannya.
Tadi dia benar-benar menolak ide Hana, namun siapa yang sangka saat pulang Vivian menyodorkan sekeranjang buah itu padanya. Dan, menyuruhnya pergi menjenguk Chandra.
Dia mengangkat tangannya dan ragu-ragu untuk menekan bel nya. Kemudian menoleh kebelakang menatap penjaga yang ada di belakang sana.
"Ck~" decak nya.
klak~
"Rere?"
Suara itu mengagetkannya setengah mati. Hampir saja keranjang yang dibawanya terjatuh saking kagetnya.
"Mau jenguk Chandra, ya?" ujar Rosa seraya menggandeng Margareth masuk.
"Aduh, Tante capek sama anak bandel itu. Dibilangin ngeyel terus, bukannya nurut tapi malah semakin menjadi.." Rosa mengeluh.
"Ma, sudah siap semua?" terdengar suara Albert yang baru saja turun dari tangga.
"Lo, Rere disini?"
"Sore, Om.." sapa Margareth.
"Mm, Om sama Tante mau keluar?" tanyanya kemudian.
"Ada masalah mendadak, Om sama Tante mau pergi ke Kota Shark," jawab Albert.
Para pelayan terlihat sibuk memindahkan dua koper yang ada di sebelah sana ke dalam mobil. Margareth menoleh dan mendapati mobil mereka telah siap di depan.
"Chandra ada di kamarnya, kamu masih ingat kamarnya yang sebelah mana, kan?" ujar Rosa seraya membelai kepala Margareth.
Margareth mengangguk menjawab pertanyaan Rosa.
"Kami minta maaf ya, karena kami harus segera pergi," ujar Albert.
"Tidak, Om, tidak apa-apa.." jawab Margareth sambil melambaikan kedua tangannya.
"Hati-hati dijalan, Om, Tante.." ujar Margareth mengantar kepergian Albert dan Rosa.
Margareth menghela napas beratnya. Senyumnya mulai memudar. Dan dia mulai mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
'Padal tadi aku berencana langsung pulang setelah meletakkan keranjang buah ini. Tapi kenapa malah jadi begini?' gerutunya dalam hati.
"Ada apa, Non?" tanya Paman Su, kepala pelayan di keluarga ini.
Margareth menggaruk tengkuknya malu. Dia lupa kalau ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Tidak apa-apa.." jawabnya.
__ADS_1
"Mari, saya antar ke kamar Tuan Muda," tuturnya kemudian memandu Margareth.
"Saya akan kembali ke ruangan saya," ujar Paman Su setelah sampai di depan pintu kamar Chandra, kemudian melesat pergi.
Sama seperti tadi, dia berdiri mematung dengan pikiran macam-macam nya. Dia tidka berani mengetuk pintunya, atau bahkan memanggil namanya.
Tapi dia sudah terlanjur bergerak sejauh ini. Dia tidak mungkin meninggalkan keranjangnya di sana begitu saja.
Margareth memejamkan matanya, lalu menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
'Bersiakap seperti tidak punya malu saja. Kamu pasti bisa, Margareth!' dia menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
tok tok tok~
Dia hanya mengetuknya, tanpa mengatakan apa-apa. Tentu saja ketukan itu terdengar seperti sebuah teror. Sementara Chandra yang sedang bermain game di dalam sana sudah mulai kesal dengan pintu yang terus di ketuk itu.
tok tok~
"Sudah ku bilang jangan menggangguku!" tegas Chandra saat membuka pintunya.
"Kau? ngapain kau disini?" cetusnya setelah melihat sosok yang berdiri didepan pintu kamarnya itu.
"Ku dengar Kakak terluka, jadi aku datang untuk menjenguk mu," jawab Margareth dengan santai.
Dibalik cara bicaranya yang santai itu, tersembunyi ketakutan yang sangat besar didalam dirinya.
Chandra menyeringai.
Seperti yang dia katakan pada dirinya sendiri, bersikap seperti tidak punya malu. Margareth mendorong Chandra yang menghalangi pintu itu, kemudian menerobos masuk ke kamarnya.
"Terserah Kakak mau menganggapnya seperti apa," ucapnya saat melewati Chandra.
"Hei! aku tidak mengizinkan mu untuk masuk!" tegur Chandra pada Margareth yang sudah duduk di ranjangnya.
"Aku mendapat izin dari Om dan Tante," lagi-lagi dia menjawabnya dengan santai.
"Tapi aku tidak!"
"Waktu Kakak masuk ke kamar ku, aku juga tidak memberi izin.." ucap Margareth yang membuat Chandra terdiam.
Chandra kembali duduk di kursi gaming nya dan melanjutkan permainan yang dia mainkan tadi. Dari samping Margareth memandangnya.
Lukanya tidak seburuk yang Margareth pikirkan. Namun terlihat sekali kalau lukanya itu tidak diobati dengan baik. Margareth beranjak dari duduknya dan mengambil kotak P3K yang tergantung di tembok sebelah sana.
Kemudian berjalan kearah Chandra, lalu memutar kursinya untuk menghadap ke arahnya. Kemudian menariknya hingga sampai di depan ranjang.
"Apa kau gila?!" teriak Chandra.
Namun Margareth hanya menatapnya tanpa rasa bersalah, kemudian duduk di atas kasur dan mulai membuka kotak P3K yang diambilnya.
__ADS_1
"Mau apa kau?" Chandra menangkap tangan Margareth, saat Margareth mendekatkan kasa yang telah diberi obat merah itu ke wajahnya.
"Lepas!" seru Margareth dengan dingin.
Chandra mengerutkan keningnya. Dia tidak suka saat Margareth memerintah nya, namun anehnya dia menurut begitu saja.
"Aw~" rintih nya saat kasa itu mendarat di bawah matanya yang terluka.
"Kalo tau rasanya bakal sakit, jangan sok-sokan jadi jagoan!" tutur Margareth.
Kerutan di kening Chandra semakin dalam. "Jangan meniru ucapan ku!" ujarnya.
"Jadi Kakak meningkatnya?"
Margareth mendekatkan wajahnya dan menatap mata Chandra dalam-dalam. Seperti sebuah sihir, Chandra terlarut dalam tatapannya itu. Namun tak bertahan lama setelah egonya membangunkannya.
"Jangan dekat-dekat!" serunya seraya mendorong kepala Margareth untuk menjauh.
Sekali lagi Margareth menyebarkan serbuk sihirnya. Dia tersenyum manis dihadapan Chandra, membuat perasaan yang aneh melintasi dada Chandra.
Chandra menatap gadis yang sedang fokus mengobati lukanya itu. Dia gadis yang sama, tapi.. Chandra menggelengkan kepalanya mengusir pikiran ngawur yang melintasi kepalanya.
"Jangan bergerak!"
Margareth menangkap wajahnya dan mencubit dagunya untuk mendekat. Luka di sudut bibirnya yang paling parah, itu pasti sangat perih saat terkena air.
Margareth menatap luka itu dengan miris. Melihat itu membuatnya teringat akan luka yang sering dia dapatkan setelah Ayahnya menamparnya.
Namun sepertinya seseorang sedang salah paham. Pipinya mulai memanas melihat Margareth yang menatap bibirnya seperti itu.
Saat hendak melanjutkan kegiatannya, Margareth dikagetkan dengan penampakan yang ada didepan matanya itu.
Dia tersenyum tipis, "Apa Kakak merasa gugup dan berdebar?"
"Untuk apa aku berdebar karena bocah sep~"
cup~
Kecupan kecil mendarat di bibirnya.
"Tidak baik berkata kasar pada wanita," bisik Margareth di telinga Chandra.
"Cepat sembuh,"
Sekali lagi, kali ini kecupan itu mendarat di pipi Chandra yang masih membeku. Segera Margareth mengambil kesempatan itu untuk kabur sebelum Chandra tersadar dan murka.
"Sampai jumpa," ujarnya kemudian melesat pergi.
Chandra mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat karena kecupan itu.
__ADS_1
"Bocah sialan!!" teriaknya.