Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku

Sampai Kau Jatuh Cinta Padaku
Ch.43


__ADS_3

"Benar, aku tidak datang untuk ini,"


Margareth berbalik dan menatap Chandra dengan tatapan kecewanya. Mungkin ini sudah saatnya Margareth meluapkan perasaannya.


"Kakak yang udah buat Juan babak belur, kan?" tanyanya.


Chandra memalingkan wajahnya ke arah lain. Dugaannya benar, Margareth datang untuk masalah itu. Chandra menyiah rambutnya, lalu menyeringai dan kembali menatap Margareth.


"Sudah kuduga," gumamnya.


"Kakak tidak menyangkal?"


"Padahal aku berharap kalau bukan Kakak pelakunya," lirihnya.


Chandra meletakkan kedua tangannya di pundak Margareth, lalu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Margareth.


"Kau terlalu naif," bisik nya.


"Kenapa Kakak melakukannya?"


"Apa salah mereka?"


Chandra melepas pegangannya dan menghela napas panjang. Topik pembicaraan itu terlalu membosankan untuknya. Dia juga tidak ingin Margareth tahu apa alasannya.


Chandra berbalik, berjalan ke atas untuk kembali ke kamarnya. Karena dia rasa tidak ada yang penting dengan percakapan itu.


"Jawab!" bentak Margareth.


"Kenapa Kakak menyakiti satu-persatu temanku?"


"Kak Helmi, dan sekarang Juan!"


Margareth menyusulnya ke atas dan menarik lengan Chandra untuk menghentikannya. Susah payah dia menahan air matanya agar tidak menetes.


"Jawab aku!"


"Karena aku tidak suka mereka mendekati mu! aku tidak suka kau mengandalkan mereka!"


"Apa peduli Kakak dengan hal itu?! kita tidak dalam hubungan dimana Kakak bisa membatasi ku tentang hal itu!"


Chandra terdiam.


"Aku lelah dengan semua ini. Aku menyerah. Haruskah aku meminta mereka untuk membatalkan perjodohan ini?"


"Aku tau Kakak tidak akan pernah menyukai ku. Aku tidak menginginkan lebih, aku hanya ingin kita kembali seperti dulu. Mungkin kita bisa kembali seperti dulu kalau aku menolak perjodohan ini. Kita bisa sama-sama membicarakan hal ini pada mereka,"

__ADS_1


"Mungkin mereka bisa mengerti kalau kita sama-sama menolak, bukan hanya sepihak seperti waktu itu,"


Perlahan Margareth mulai melepas genggamannya pada lengan Chandra. Secepat mungkin dia menghapus air matanya yang tak terasa sudah sampai di pipi, sebelum Chandra melihatnya.


Chandra masih membelakanginya. Dia hanya diam tak memberi jawaban. Dia masih menunggu, berharap Chandra berbalik dan berkata 'tidak'.


"Lakukan saja!"


Margareth membelalakkan matanya.


"Dengan begitu aku tidak akan terkena masalah karena hanya aku sendiri yang menolak," lanjutnya.


Margareth menggigit bibir bawahnya. Air matanya kembali berlinang tak tertahankan. Di benar-benar tak diharapkan. Tidak ada yang berubah, dulu ataupun sekarang.


"Kenapa Kakak selalu memikirkan diri Kakak sendiri?" lirihnya.


Margareth menarik kaos Chandra, lalu menarik kedua lengannya agar dia berbalik menatapnya. Dia tertunduk dihadapan Chandra. Dia tidak ingin menunjukkan hal ini, tapi dia rasa dia harus melakukannya.


"Kakak pikir hanya Kakak yang mendapat masalah?"


Margareth melepas bajunya.


"Apa kau sudah gil~"


"Jangan sentuh!" bentak Margareth.


"Itu sudah terasa sakit hanya dengan memikirkan mu, jadi Kakak tidak perlu menyentuh dan membuatnya lebih menyakitkan,"


Chandra menarik kembali tangannya dan menatap Margareth dengan khawatir. Itu sedikit memalukan harus melepas bajunya seperti itu. Tapi Margareth merasa sedikit lega, setidaknya dia bisa melihat kembali tatapan kekhawatiran itu dari mata Chandra.


"Apa yang terjadi?"


Chandra meraih baju yang ada digenggam Margareth, lalu menutupkannya pada bagian dada Margareth.


"Papa pikir dia telah salah mendidik ku sejak awal, dimana hal itu membuatku tumbuh dengan sifat ceroboh dan selalu menyusahkan. Dan Papa pikir itu alasan sebenarnya kenapa Kakak menolak perjodohannya,"


"Setiap ada kesalahan kecil Papa langsung menamparku. Dan luka ini kudapatkan saat hari itu. Hari dimana Kakak menolak perjodohannya. Papa memukulku dengan sabuknya,"


Chandra mengepalkan tangannya. Matanya mulai memerah, dan terlihat rahangnya juga sudah mengeras.


Ingatan saat dia menghempas tubuh Margareth hingga tersungkur pun kembali menghantui nya. Ingatan itu baru saja pergi beberapa bulan yang lalu saat dia kembali dari luar negeri dan melihat Margareth tumbuh dengan baik.


Saat itu dia tidak benar-benar sengaja melakukan hal itu. Untuk menolongnya pun dia merasa gengsi. Dia benar-benar menyesal karena saat itu dia meninggalkan nya begitu saja.


"Maafkan aku,"

__ADS_1


Chandra menarik Margareth kedalam pelukannya. Air matanya pun juga mulai tumpah. Laki-laki kaku itu menitikkan air mata.


"Kakak menangis?"


"Jangan asal bicara kau!"


"Tapi pundak ku basah,"


Chandra langsung mengusap air matanya dengan lengannya, lalu melepas pelukannya.


"Apa kau berhalusinasi? lihat, apa mataku basah?" ucapnya dengan ketus.


Dia memalingkan wajahnya. Lalu kembali menatap Margareth. "Apa itu masih sakit?" tanya Chandra dengan nada rendah sambil mengusap bekas luka di pinggang Margareth itu.


"Tidak,"


"Kau selalu merawat luka orang lain, tapi kau tidak bisa merawat lukamu sendiri! urutannya itu diri sendiri baru orang lain!" tutur Chandra.


"Aku menyembunyikan luka ini dari Mama saat Mama memaksa untuk memeriksa ku. Bukankah ini terlihat keren?"


Chandra meraih baju Margareth dan melempar itu ke wajahnya. "Keren kepalamu?! cepat pakai bajumu!"


"Kau tidak boleh melakukan hal itu didepan pria lain!" tegas Chandra.


"Apa kau gila? aku tidak akan pernah melakukannya! Aku melakukan hal ini karena itu Kakak!" ucap Margareth seraya memakai kembali bajunya.


"Apa kau bodoh? aku ini juga seorang pria!"


"Dan juga, siapa yang bilang kalau aku tidak akan pernah menyukai mu?"


Margareth terdiam. Otaknya mulai bekerja keras mencerna ucapan Chandra barusan. Dia tidak ingin salah paham dengan apa yang sudah dia artikan didalam pikirannya.


"Bukankah Kakak membenciku?" gumam Margareth.


Chandra mengulurkan tangannya dan menyelipkan nya dibelakang leher Margareth. "Kalau aku membencimu, aku tidak akan membiarkan mu melakukan hal ini sampai dua kali,"


Sebuah kecupan mendarat di bibir Margareth. Melihat Margareth yang tidak menunjukkan perasaan tidak suka, diapun melanjutkannya. Kali ini ciuman yang sebenarnya. Chandra menekan tengkuk Margareth dan memperdalam ciumannya.


"Hmpph~"


Margareth memberontak dan memukuli dada bidang milik Chandra, hingga akhirnya Chandra melepas ciumannya.


"Aku tidak ingin Kakak merasa bersalah dengan apa yang sudah aku alami. Aku tidak ingin Kakak berubah hanya karena alasan itu. Jadi kau tidak perlu terlalu memaksakan diri," ucap Margareth dengan napasnya yang terengah-engah.


"Kau bisa melihatnya nanti. Apakah ini hanya rasa iba, atau memang tulus,"

__ADS_1


__ADS_2