
Larangan adalah sebuah perintah bagi Margareth. Dion memberitahu nya dengan satu syarat, yaitu tidak menanyakan kebenarannya pada sang pelaku. Tapi, namanya juga Margareth.
^^^'Maaf, Re, Tante sedang diluar Kota,'^^^
^^^'Chandra di rumah sendiri, sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Pengurus rumah baru saja memberi kabar kalau sore tadi mereka semua disuruh pergi,'^^^
Balasan pesan dari Rosa yang baru saja dia baca. Pantas saja rumah ini terlihat sepi dari luar, batin Margareth.
tok..tok..tok..
Margareth mengetuk pintu besar dihadapannya. Dia sudah mencoba untuk yang kedua kalinya, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Benar-benar seperti rumah kosong.
Sekali lagi dia mencoba mengetuk pintu itu dengan sedikit lebih keras dari tadi. Bel juga terus-menerus dia tekan.
Dia berharap seseorang yang sedang ada didalam sana akan kesal dan segera membuka pintunya. Dia juga berharap seseorang yang akan muncul dari balik pintu itu menunjukkan kemarahannya. Agar Margareth bisa dengan mudah menegurnya atas apa yang telah dia lakukan pada Juan.
tak!
Margareth menyiapkan kalimatnya saat suara membuka kunci terdengar. Dia mengepalkan tangannya dengan alis yang hampir menyatu.
"Ada apa?"
__ADS_1
Semua dialog yang sudah dia siapkan menghilang. Mulutnya seolah tergembok dengan rapat. Keningnya kembali merata. Kepalan kecilnya itu juga mulai melemas.
Seketika dia melupakan tujuan sebenarnya dia datang ke kediaman Nugraha, setelah melihat wajah Chandra.
Tidak seperti dugaannya. Chandra membuka pintu dengan wajah datar, bahkan setelah mencoba membuatnya kesal. Dia juga merendahkan suaranya.
Dan yang membuatnya lemah adalah beberapa luka ditubuh dan wajahnya.
"Ada apa denganmu?" lirih Margareth.
Chandra menyeringai.
"Apa peduli mu? pedulikan saja teman laki-laki mu itu!" ujarnya lalu hendak menutup kembali pintunya.
"Kau harus mengobatinya.." tutur Margareth.
"Izinkan aku masuk, aku akan merawat mu,"
Chandra hanya menatapnya lewat celah pintu, dia juga tidak memberi tanggapan apapun. Setelah beberapa saat, dia melepas pegangannya pada pintu dan berbalik masuk.
Merasa sudah diberi izin, Margareth pun masuk dan mengikutinya sampai ke kamar. Karena dia sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya, diapun langsung menuju ke tempat kotak P3K tergantung. Tapi sayangnya benda itu tidak ada ditempatnya. Margareth berusaha mencarinya, namun percuma.
__ADS_1
"Dimana kotak obatnya?" tanyanya pada Chandra.
"Ku buang, aku tak membutuhkannya," jawabnya dingin setelah merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kakak bilang tidak membutuhkannya? dengan rupa Kakak yang seperti ini?!" tegas Margareth.
Chandra kembali memainkan ponselnya dan tak peduli dengan ocehan Margareth itu.
Margareth kembali merapikan isi laci yang sempat dia acak-acak, lalu berjalan keluar kamar. "Aku akan pergi sebentar untuk membelinya," pamitnya lalu melesat pergi.
"Bocah itu membuatku gila!" gumam Chandra sambil mengusap wajahnya gusar. Dia bangkit dari rebahan nya dan menyusul Margareth yang barus saja keluar.
Margareth masih berada di tangga. Dengan sedikit berlari Chandra mengejarnya, lalu meraih lengannya. "Sudah ku bilang tak usah pedulikan aku!" tegasnya.
Margareth berbalik dan menghempas tangan Chandra. "Itu hak ku," jawab singkat Margareth lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Kau tidak datang untuk ini, kan?"
Tepat sasaran. Kalimat itu membuat Margareth menghentikan langkahnya dan membeku.
"Aku sempat melihat ekspresi penuh dengan dendam saat membuka pintu,"
__ADS_1
"Kau tidak perlu merubah arah tujuanmu,"