
Matahari berganti shift dengan Bulan. Ditemani oleh bintang, bulan menerangi kegelapan langit malam. Udara dingin menjadi alasan api unggun itu dinyalakan.
Margareth menggosokkan kedua tangannya sambil melihat kanan dan kirinya. Disebelah kanan ada para orang tua dan juga Chandra. Sedangkan di sebelah kiri ada para teman-temannya. Mereka semua berkumpul dan duduk mengelilingi api unggun.
Beberapa waktu yang lalu...
"Ini Juan, kan?"
Sosok yang tiba-tiba muncul itu membuat mereka berhamburan. Heka yang melihat sosok familiar dari kejauhan itu segera datang menghampiri, dan meninggalkan yang lainnya dibelakang sana.
"Iya, Om. Om apa kabar?" ujar Juan seraya menjabat tangan Heka.
"Baik.."
"Wah, kau sudah tubuh sebesar ini ya," tawa Heka sambil menepuk punggung Juan seperti seorang Ayah yang bangga terhadap pertumbuhan anaknya.
"Siapa itu, Ka?" tanya Albert yang baru saja sampai bersama Rosa dan Vivian.
"Dia putra walikot- ah sekarang sudah berubah, ya.." ralat Heka sambil tertawa ringan.
"Dia putra gubernur," lanjut Heka.
"Dia pengganti Kak Chan.."
Margareth tiba-tiba mengeluarkan kalimat itu. Kalimat yang membuat semua orang tertegun. Terutama orang yang baru saja datang di samping sana.
"Maksudnya, dia yang menjaga Margareth setelah Kak Chan pergi keluar negeri. Haha~"
Margareth meralat ucapannya dengan ucapan yang lebih konyol lagi. Itu bukanlah kalimat yang tepat untuk menjelaskan situasi buruk yang tidak sengaja dia bangun itu.
"Ini semua temanmu, kan?" sahut Vivian menutupi kesalahan putrinya.
"Kami berencana membakar sosis dan ikan. Mungkin lebih menyenangkan kalau kita membakar dan memakannya bersama-sama.." lanjutnya.
"Ah, jadi teringat acara camping sekolah.." sahut Rosa.
Itulah yang terjadi.
Namun, setelah acara makan-makan nya selesai, suasana kembali hening. Seperti renungan malam dalam sebuah perkemahan Pramuka.
"Mungkin akan seru kalo ada gitar disini.." gumam Albert.
__ADS_1
Dalam kesunyian itu, suara gumaman Alber dapat terdengar semua orang. Semua mata kini tertuju padanya.
"Jangan cari yang gak ada!" seru Rosa.
"Itu.." Sania menggantung ucapannya.
"Kami bawa, Om," lanjutnya.
Albert dan Heka saling menatap. Dan sebuah tawa terdengar setelah beberapa saat.
"Kenapa tidak dikeluarkan dari tadi.." ujar Albert dengan sisa tawanya.
Setelah gitar dikeluarkan, Albert menerimanya. Lalu memainkan beberapa instrumen untuk mengisi keheningan malam itu.
Ekspresi bosan terlihat jelas di wajah mereka semua setelah mendengar beberapa instrumen yang hambar itu. Suara helaan napas panjang Rosa membuat Albert menghentikan permainannya.
"Membosankan, ya?" tanyanya.
"Sangat.." jawab Chandra.
"Gimana kalo Rere yang nyanyi?" usul Rosa.
"Ayo!" sahut Sania dan Gladis secara bersamaan.
Melihat hal itu Rosa mulai heboh dan bertepuk tangan untuk meyakinkan Margareth. Diikuti oleh Vivian, dan kemudian yang lainnya mulai mengikuti. Kecuali Chandra.
Margareth memanyunkan bibirnya sambil melirik ke arah teman-temannya. Setelah menghela napas pasrah dia mengambil alih gitar dari Albert.
"Lu bisa main gitar juga?" ucap Sania yang kemudian menutup mulutnya. Sedikit kecerobohan saja akan membuat dua pasang orang tua itu curiga.
"Hehe.. hebat," lanjutnya untuk menutupi kecurigaan.
Farhan menyenggol pundak Sania untuk memperingatkan nya. Sedangkan sosok yang ada di seberang sana mulai menatap mereka tajam, kemudian menyeringai.
"Pembohong bodoh!" Chandra membuat gerakan bibir yang ditunjukkan untuk mereka berenam.
"Bocah sialan lu!" balas Julian dengan cara yang sama.
ting~
Petikan senar yang terdengar menyita perhatian mereka yang sedang beradu ucapan kasar dengan gerakan bibir.
__ADS_1
♫
Broken and blue
I sit here all alone
there’s an emptiness inside me
biding time just waiting for you
it’s all in my mind
I try to tell myself
take a breath and count to three
and you’re all that I see
when I’m without you
when you leave me on my own
minutes hours turn to days
and I just don’t know what to do
I’m nothing without you
don’t ever let me go
words of fondness is to broken hearts as nearness is to love~
♫
tes~
Sesuatu yang tak diundang datang. Bukan hujan ataupun percikan ombak. Tapi air mata Margareth.
Dia menunduk kan kepalanya saat menyadari tamu tak diundang itu datang. Segera dia meletakkan gitar nya dan beranjak dari duduk nya.
"Permisi, Rere mau ke kamar mandi dulu.." pamitnya lalu berlari pergi.
__ADS_1