
"Lu pulang aja, ini udah malem.." ujar Dion.
"Masih jam 8," jawab Margareth seraya mengompres pelipis Helmi yang terlihat mulai memar.
"Lu mau dimarahin ama bokap lu?" sahut Julian.
"Di rumah gak ada orang, mereka ke luar kota," jawab Margareth dengan ketus.
"Anak-anak habis ini pulang kerja, mereka bisa gantiin kamu.." tutur Helmi.
"Anak bandel emang~" gerutu Dion.
Margareth menatap Dion dengan tatapan tak terima, lalu membuang muka tanpa membalas ucapannya.
"Juan, anterin dia pulang!" perintah Helmi pada Juan.
Margareth menurunkan pandangannya dan menatap Helmi. Helmi mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Kamu bisa lanjutin besok.." tuturnya.
Margareth berbalik untuk menatap Juan yang sedang duduk dibelakang sana. Sama seperti Helmi, dia mengangguk pelan.
Margareth menghela napas pasrah, lalu membereskan baskom berisi air nya kebelakang. Setelah kembali, dia meraih tasnya yang tergeletak di meja.
"Aku pesenin makanan dulu, kalian belum makan malam.." ujar Margareth.
"Gue udah nitip ama Farhan," sahut Dion.
"Mending sekarang elu pulang dengan tenang, toh ya besok ketemu lagi," sahut Julian.
Margareth masih menatap Helmi tak tega. Dia merasa kekacauan siang tadi disebabkan olehnya. Tidak ada yang memberitahu nya bagaimana bisa balapan itu terjadi, hingga berakhir seperti ini.
"Maafin aku.." lirih Margareth.
"Sudah ku bilang, ini tidak ada hubungannya denganmu," tutur Helmi.
"Udah cepet pulang sana, aku baik-baik saja.. ini bukan masalah besar, aku pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini," lanjutnya.
__ADS_1
Juan bangkit dari duduknya, lalu menuntun Margareth keluar.
"Gue balik duluan.." pamit Juan.
"Tiati.." jawab mereka bertiga secara bersamaan.
"Please deh, jangan lawak," ucap Juan tanpa menghentikan langkahnya.
"Udah cepet pergi sana, bosen gue liat muka lu!" sahut Dion.
...****************...
Margareth turun dari motor Juan setelah motornya berhenti. Dia tidak mengatakan apa-apa, juga tidak segera masuk kedalam. Dia hanya diam menunduk di depan Juan.
"Ini bukan salahmu.." tutur Juan seraya mengusap kepala Margareth.
"Ada Bibi Lim, kan?" tanya Juan.
Margareth mengangguk.
"Kalau gitu cepet masuk, pergi mandi lalu istirahat. Jangan lupa makan, kau belum makan apa-apa dari siang tadi," tutur Juan.
"Kenapa?"
"Kau ingin ku peluk? dulu kau selalu minta dipeluk kalau lagi sedih," ujar Juan sambil tertawa kecil.
Margareth memanyunkan bibirnya, lalu memukul pelan pundak Juan.
"Kemarilah.." panggil Juan.
"Tidak, aku akan masuk. Sampai jumpa besok.." ujar Margareth ingin melarikan diri.
Namun saat ingin melangkah pergi, langkahnya terhenti karena Juan menarik lengannya. Margareth berbalik, "Jangan menjahili ku~" protesnya.
"Aku sudah besar, aku tidak memerl~"
Ucapannya terhenti. Perasaan hangat dan nyaman itu menenangkan hatinya yang sejak tadi terasa gundah.
__ADS_1
Margareth memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada Juan. Seperti sedang mengisi daya baterai. Sedikit, kekhawatiran nya menghilang.
"Apa kau lupa, terakhir kali aku masih memelukmu seperti ini.." goda Juan.
Margareth mengangkat wajahnya dan menatap Juan dengan wajah cemberutnya.
"Itu kan waktu aku SMA, sekarang aku sudah kuliah.." protesnya.
"Hei anak kecil, meski begitu itu masih beberapa bulan yang lalu," ujar Juan sambil menjentikkan jarinya di kening Margareth.
Juan terkekeh pelan saat Margareth mengerutkan keningnya.
"Kau tidak ingin melepas pelukanmu?" tanya Juan sambil merentangkan kedua tangannya, sementara tubuhnya yang masih dirangkul erat oleh Margareth.
"Dasar jahat!" seru Margareth sambil memukul dada bidang Juan.
Juan semakin terkekeh dengan kelakuan lucu Margareth.
"Kau sudah melukai keningku, dan sekarang membodohi ku!"
"Apa kening mu masih sakit?" tanya Juan disela tawanya.
"Masih sangat sakit!"
"Kemarilah, aku akan menyembuhkannya.."
Margareth menatapnya curiga, lalu menggeleng dan memundurkan langkahnya. Senyum Juan mulai memudar, kini hanya tersisa ekspresi serius di wajahnya.
Dia mendekat pada Margareth, lalu meletakkan telapak tangannya di kening Margareth. Margareth melirik ke atas, melihat tangan besar yang ada di atas matanya itu.
"Bimsalabim.." gumam Juan lalu menarik kembali tangannya, dan..
cup~
Sebuah kecupan mendarat di kening Margareth.
"Sudah tidak sakit, kan?" ujar Juan dengan senyum tak berdosa nya. "Aku pulang, selamat malam.." lanjutnya.
__ADS_1
"Kau membodohi ku lagi!" teriak Margareth di belakang sana.