
Margareth mengatupkan kedua tangan nya sebelum menginjakkan kaki di lantai bangunan kampus. Dia berharap hari ini akan berjalan lancar dan tidak ada masalah.
Belum dia membuka matanya, seseorang dari belakang menarik rambutnya, lalu menyeretnya.
"Lepasin!" teriak Margareth.
Margareth menendang orang yang menarik rambutnya itu, membuat dia merintih dan melepaskan jambakan nya.
Namun seseorang yang baru saja datang itu menangkap Margareth dan menamparnya hingga tersungkur.
"Gue udah peringatin elu, jangan deketin Chandra!" teriak Fara didepan wajah Margareth.
"Apa urusannya sama Kakak!" teriak balik Margareth.
Fara tersenyum miring, tanpa basa-basi lagi dia mulai menarik baju Margareth dan menariknya yang masih tersungkur di lantai.
"By, panggil Dea ama Manda!" seru Fara pada Gaby.
Perlawanan terus Margareth berikan, namun semakin dia melawan, semakin dia kesakitan. Bagaimana tidak, Gaby akan menendangnya setiap kali dia melawan.
Anak-anak yang melihat hal itu tidak bisa membantu apa-apa. Mereka tau bagaimana kejamnya Fara dan Gengnya. Mereka enggan jika harus terlibat dengan Fara.
"Kalian akan menyesal! aku akan menuntut kalian!" ancam Margareth yang hanya di sahuti tawa oleh Fara dan Gaby.
Lagi-lagi tempat yang mereka pilih adalah kamar mandi. Fara melepas cengkeramannya pada baju Margareth, lalu menginjak tangan Margareth dengan sepatunya.
"Argh! sakit!" teriak Margareth.
Ini sungguh mengerikan, lebih mengerikan dari apa yang Ayahnya lakukan. Dia meringkuk memeluk lututnya, rasa takut mulai menyerang dirinya.
"Kenapa? jangan nangis dong.." tutur Fara sambil menepuk-nepuk pipi Margareth.
Tidak lama kemudian, kedua anak buah Fara yang lainnya datang. Dea dan Manda.
__ADS_1
"Mau apa kalian?!" teriak Margareth saat melihat gunting di tangan anak-anak itu.
"Tenang aja, kita cuma mau dandanin elu biar cantik. Biar anak-anak F4 sama Chandra makin suka sama elu," ujar Gaby.
Fara mengambil gunting itu dan mendekat pada Margareth. "Kalian berdua pegang tangannya!" perintahnya.
"Lepasin! kalian mau apa?!" Margareth terus meronta.
Gaby mengeluarkan peralatan makeup nya, lalu mulai mencoret-coret wajah Margareth. Tawa jahat dari empat anak itu menggema didalam kamar mandi.
"Dasar jal*ng sial*n, lu gak pantes deket-deket ama ayang Juan gue! berani-beraninya elu berangkat bareng dia!" cetus Gaby.
"Memang dia siapa Kakak? Juan pastinya juga gak mungkin kenal sama orang jahat kayak Kakak!" tegas Margareth sambil menyeringai.
Terprovokasi, Gaby pun menampar wajah Margareth. Dan kini, giliran Fara. Dia menarik rambut panjang terurai Margareth yang acak-acakan karena jambakan Fara tadi.
Tanpa rasa ampun dia memotong rambut Margareth dengan tak karuan. Suara jeritan dan isakan tangis menyatu dengan tawa mereka.
brak!
"Jal*ng sial*n lu!" bentak Chandra.
Chandra menarik Fara dan Gaby dengan kasar. Dea dan Manda sudah melepas pegangannya setelah mendengar suara gebrakan pintu, lalu menyingkir dari sisi Margareth.
Matanya memerah seperti orang kesetanan, tangannya gemetar hebat. Setitik air menetes dari atas sana saat Margareth memanggilnya dengan suaranya yang gemetar.
"Kak Chan~"
Chandra menariknya kedalam dekapannya. Dibalik punggung Margareth, Chandra mengusap air matanya.
"I-ini sal- salah mu, karena kau sudah memberi harapan palsu padaku, lalu tiba-tiba saja kau sangat dekat dengannya.." gumam Fara.
Chandra melepas pelukannya, lalu berdiri dan menatap Fara dengan penuh amarah. "Lu tau, gue gak mukul cewek!"
__ADS_1
Tidak sesuai dengan ucapannya, Chandra melayangkan tangannya dan menampar Fara. Suara yang cukup keras itu membuat Margareth membelalakkan matanya.
"Dia tunangan gue bangs*t!"
"Dan kapan gue kasih elu harapan? elu yang ngejar-ngejar gue sial*n!"
Fara terlimbung di lantai, telinganya berdengung, pipinya terasa perih. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menangis.
"Simpen air mata elu buat persidangan! lu bakal menghadapi keluarga Hekamartha!"
"Bukan hanya dia, tapi kalian semua!"
Fara membelalakkan matanya. Keluarganya bisa berjaya berkat dukungan keluarga Hekamartha. Dimana Ayahnya adalah teman masa sekolah kepala keluarga Hekamartha.
"Lu bohong, kan? kenapa... kenapa gue harus menghadapi keluarga Hekamartha?" tanya Fara disela isakan tangisnya.
Chandra tak menghiraukan, dia sibuk membopong tubuh Margareth.
"Jawab gue!" teriak Fara sambil memegang kaki Chandra saat dia hendak pergi.
"Karena dia putri tunggal keluarga Hekamartha!" jawab Chandra seraya menghempas Fara.
Dunianya serasa hancur dalam seketika. Dia sudah berhadapan dengan orang yang salah. Entah apa yang akan terjadi pada hidupnya.
"Semua ini gara-gara elu, Far.. gue gak mau dipenjara," ujar Gaby.
"Elu juga ikut-ikutan! jangan salahin gue!" bentak Fara.
"Gue cuma pegangin dia, gue gak ada hubungannya dengan ini," ucap Manda.
"Gue juga," sahut Dea.
"Sejak awal ini emang salah elu, Far. Elu yang aniaya dia, lu main tangan, kasar!" lanjut Dea.
__ADS_1
"Pergi lu!" bentak Fara sambil menggebrak pintu.